Rusia dan China Blokir Permintaan AS Soal Sanksi Tambahan Korea Utara

Rusia dan China Blokir Permintaan AS Soal Sanksi Tambahan Korea Utara

Rusia dan China Blokir Permintaan AS Soal Sanksi Tambahan Korea Utara

NEW YORK – Rusia dan Cina sudah memblokir permintaan AS untuk menambahkan bank Rusia ke daftar hitam sanksi PBB berbarengan dengan seorang pejabat Korea Utara.

Departemen Keuangan AS pekan lalu meminta komite sanksi PBB untuk memberlakukan pembekuan aset di Agrosoyuz Commercial Bank sebab diduga membantu Korea Utara menghindari pembatasan transaksi keuangan. Ini juga menargetkan wakil wakil dari Bank Perdagangan Luar Negeri Korea Utara dan dua entitas Korea Utara.

Rusia menolak tudingan kepada Bank Central Agrosoyuz Rusia, dan menjelaskan nggak ada “info yang cukup”.

“Kami ingin menggarisbawahi bahwa permintaan peruntukan yang diusulkan kpd komite wajib dibuktikan secara memadai oleh info yang memadai,” kata misi Rusia ke PBB.

Ini ialah kedua kalinya dalam 3 minggu bahwa Rusia dan China keberatan dengan permintaan AS untuk memperketat sanksi kepada Korea Utara.

Moskow dan Beijing sudah meminta PBB untuk mempertimbangkan pengurangan sanksi kepada Korea Utara selaku tanggapan atas pembukaan dialog dengan AS dan menghentikan uji coba rudal.

Tetapi, Washington bersikeras mempertahankan “tekanan maksimum” pada Korea Utara, dan menekankan pada “denuklirisasi pertama”.

Pyongyang sudah mendesak Washington untuk mengambil tindakan timbal balik atas niat baik, termasuk secara resmi mengumumkan diakhirinya Perang Korea dan menghapus sanksi.

Korea Utara mengkritik keras desakan AS kepada sanksi

Korea Utara pada hari Kamis mengkritik keras seruan AS untuk memberlakukan sanksi internasional dan menjelaskan kemajuan janji denuklirisasi nggak dapat diinginkan kalau Washington mengikuti “naskah akta yang ketinggalan jaman”.

Kementerian Luar Negeri Korea Utara menjelaskan langkah-langkah baik yang dikerjakan oleh Pyongyang termasuk penyetopan uji coba nuklir dan rudal, membongkar satu tempat uji coba nuklir dan mengembalikan sisa-sisa mayat dari beberapa pasukan AS yang meninggal dunia dalam Perang Korea 1950-53.

Tetapi Washington “merespon harapan kami dengan menghasut sanksi dan tekanan internasional” kata Kementerian Luar Negeri.

“Selama AS menolak bersikap sopan kpd mitra dialognya dan berakting dengan akting yang telah ketinggalan zaman yang sebelumnya sudah dicoba dan gagal oleh seluruh pemerintahan sebelumnya, orang nggak dapat mengharapkan kemajuan apa pun,” tambah kementerian itu.

Pernyataan Korea Utara itu menyusul komentar pekan ini oleh para diplomat top Amerika yang menekankan perlunya Pyongyang mengambil langkah tambahan ke denuklirisasi.

Penasihat keamanan nasional Trump, John Bolton, menjelaskan pekan ini bahwa Pyongyang nggak mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk denuklirisasi sementara Duta Besar AS untuk PBB, Nikki Haley menjelaskan Washington “nggak mau menanti berlebihan lama.”

Bolton, yang berbicara pada hari Selasa, menjelaskan Presiden AS Donald Trump siap untuk berjumpa lagi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un saban waktu.

Kedua pemimpin menggelar perjumpaan bersejarah pada bulan Juni untuk membicarakan cara-cara untuk menuntaskan krisis berkepanjangan di Semenanjung Korea atas program nuklir dan rudal balistik Korea Utara. [ARN]


Source by Ahmad Naufal

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

KOLOM KOMENTAR ANDA :