Rusia Basmi Teroris Jadi Mimpi Buruk Recep Tayyip Erdogan

Keberadaan Rusia untuk membasmi kelompok-kelompok teroris, jadi mimpi buruk yang menghantui Recep Tayyip Erdogan dalam waktu yang terus berputar. Rusia dengan segala keperkasaan selaku negara Adidaya Baru memang pantas menolong Suriah untuk terbebas dari belenggu terorisme selama 5 tahun ….

 

 

 

Islam-Institute, ANKARA – Telah jadi makin terang, siapa memihak siapa dalam krisis Suriah. Kubu-kelompok teroris bersenjata makin terpojok di berbagai daerah dan desa, baik yang didukung Turki maupun yang didukung Saudi di Barat Laut Suriah. Serdadu Suriah dan sekutunya yang didukung oleh serangan udara Rusia membikin anggota milisi kocar-kacir. Dan Suriah pun menaklukan kota-kota dan desa-desa dari cengkeraman ISIS atau kubu teroris lainnya.

Semenjak sukses di Lattakia, teroris kembali ofensif pada bulan November 2015, Ankara dan sekutunya berusaha untuk melemahkan serbuan udara Rusia. Nggak cuma itu, Washington dan propaganda media Barat berulang kali menuduh Rusia cuma membom “Pemberontak Moderat” dan membiarkan ISIS.

Tentu saja, mereka tak pernah sanggup memberikan bukti apapun atas pengakuan murahannya itu, dan tak pula mereka sanggup membuktikan apakah “pemberontak moderat” sungguh-sungguh ada, atau cuma sekedar mitos yang dibuat-buat. Washington dan beberapa media Barat mencoba untuk memperlihatkan peta yang tak sama di mana serbuan udara Rusia berlangsung, untuk memperkuat pengakuan bahwa Rusia tak menargetkan ISIS.

Kurang info dengan mudah akan termakan propaganda busuk ini, sebab sebagian besar orang menyaksikan konflik Suriah terlalu membingungkan dan kompleks. Namun bagi orang yang mengikuti perang ini, nampak terang bahwa peta yang ditunjukkan Washington berada di daerah yang dikendalikan oleh Al-Qaeda. Di sisi lain, Erdogan terus mendukung invasi Suriah dengan beberapa dalih seperti; “menciptakan zona penyangga di Suriah utara” dan “membela minoritas Turkmen.”

Pada akhir November 2015, jet Turki melakukan tembakan jatuh sebuah jet perang Rusia yang terbang di atas wilayah Suriah. Kejadian ini, lalu berubah jadi krisis diplomatik antara Ankara dan Moskow. Satu-satunya problem ialah bahwa pesawat Rusia masih di wilayah udara Suriah. Namun tentu saja, dalam pandangan Presiden Turki Erdogan, Suriah utara sekarang wilayah udara Turki. Benar kalau Vladimir Putin mangatakan “Apa yang terjadi hari ini ialah kami ditusuk dari belakang oleh kaki tangan teroris (Turki). Saya tak dapat mendeskripsikannya dengan kata-kata lain,” dilansir dari website Reuters, Selasa (24/11/2015).

Tanggapan Turki tak rasional, agresif dan bermusuhan. Alih-alih cepat memanggil rekan-rekannya di Rusia dan mencoba untuk menuntaskan insiden secara diplomatis, Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu malah menyerukan perjumpaan mendesak NATO. Apakah dia mengharapkan konfrontasi lebih detail? Ini bersama-sama dengan penolakan Turki untuk meminta maaf atas insiden itu. Hal ini makin memperjelas siapa Turki sesungguhnya dan berpihak ke siapa?

Semenjak insiden pada 24 November, Rusia merespon dengan mengekspos keterlibatan Ankara dengan terorisme, terutama ISIS. Rusia bersumpah tak akan pernah lagi membiarkan insiden itu terulang kembali dengan memperkuat posisi mereka dengan beberapa peralatan pertahanan berat untuk melawan ancaman Turki, seperti penempatan S-400.

Terang, rencana Erdogan membenturkan Rusia dengan NATO gagal total, sebab selaku sekutu NATO Ankara belum tertarik berkonfrontasi langsung dengan Rusia.

Baru-baru ini serbuan teroris kembali gencar ke Latakia, sesudah sebelumnya terputus dari beberapa bala sokongan yang terlalu dibutuhkan. Pertanyaannya, dari mana mereka datang? Bukankah Latakia berbatasan langsung dengan Turki?

Erdogan mengambil keputusan untuk melaksanakan apa pun, untuk menghentikan usaha konstan Suriah dan Rusia dalam memerangi teroris dukungannya. Ini artinya kita dapat mengharapkan usaha Ankara dalam menyabotase kemajuan Suriah dan Rusia dalam melawan terorisme.

Pekan lalu, Maria Zakharova Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, mengumumkan bahwa para teroris masih mengalir dari Turki ke Suriah, tentu untuk memperoleh posisi yang menguntungkan menjelang pembahasan damai Suriah pekan ini.

Akhir pekan ini, Ankara menuduh Rusia membikin pangkalan udara di kota timur laut Suriah, Qamishli. Erdogan mengancam Rusia lagi dengan menjelaskan “Kami tak akan membiarkan hal seperti itu terjadi di Suriah utara”.

Ini masih wajib dianalisa lagi, apa langkah seterusnya yang akan diambil Erdogan, sebab ia dikenal selaku seorang Presiden yang tak menentu dan sembrono.

Apapun pilihannya, konfrontasi antara Rusia dan Turki tampaknya enggak terelakkan. Dengan pembebasan kota Salma dan Al-Rabia di Barat Laut Suriah, Provinsi Latakia, dari anggota milisi Front Al Nusra dan Harakat Ahrar al Sham, maka jarak Turki – Suriah jadi lebih dekat. Kami percaya bahwa Erdogan dan NATO tak akan mundur dan membiarkan hal itu terjadi.

Sementara itu serbuan Suriah-Rusia terang bahwa mereka akan terus maju dan membebaskan daerah-daerah yang lebih beberapa lagi dari tangan teroris ISIS, Jabhat Al-Nusra, Ahrar Al-Sham, Jaish Al-Islam dan lainnya.

Bola panas ada dalam genggaman Ankara, yang akan membikin mimpi buruk Recep Tayyip Erdoğan jadi kenyataan. Ya, waktu terus berputar, Mr. Erdogan.  (AL/ARN/AU/Almasdar)

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :