Rocky Gerung, Ahok, dan Pesan Nestor

Rocky Gerung, Ahok, dan Pesan Nestor

Pengumuman terbuka Rocky Gerung di Indonesia Lawyers Club (ILC) banyak waktu lalu mengenai kitab suci dan fiksi, yang sampai sekarang masih sebagai bahan perdebatan, mengingatkan kita pada ungkapan: “Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan”. walau ungkapan ini ialah ajakan yang baik guna menyaksikan isi atau substansi perbincangan dibandingkan tokoh yang berbicara, belajar dari kasus Rocky, ungkapan tersebut tak sepenuhnya terlaksana.

Kenyataannya semenjak dulu kala, tokoh yang berbicara sebagai amat penting guna menentukan persepsi orang terkait apa yang dibicarakan. Kita dapat belajar dari penggalan cerita mitologi Yunani yang diceritakan oleh Homerus dalam buku dua puisi wiracarita The Iliad mengenai hal ini.

Dalam kolom sebelumnya, Homerus menceritakan dalam buku satu The Iliad bagaimana Akhilles marah terhadap Raja Agamemnon dan menolak guna ikut dalam tempur Troya. Akhilles lantas memohon terhadap ibunya, Dewi Thetis guna berdoa terhadap Dewa Zeus supaya suku Akhaia diberi kekalahan dan merindukan kehadirannya dalam medan tempur. Dewa Zeus lantas mengabulkan doa tersebut dengan mengirimkan mimpi palsu terhadap Agememnon. Mimpi tersebut memberi petunjuk terhadap Agamemnon bahwa suku Akhaia bakal memenangkan tempur Troya. Gembira dengan berita tersebut, Raja Agamemnon langsung mengumpulkan seluruh pasukannya dan menyampaikan mimpi yang ia dapatkan semalam.

Di antara pasukan besar tersebut, sesosok pria tua bijak yang dihormati bernama Nestor, Raja Pilos, menghimbau pasukan Akhaia guna mendengarkan apa yang disampaikan oleh Agamemnon. “Teman-teman, raja-raja Akhaia, para pemimpinku! Kalau yang menyampaikan mimpi ini ialah orang Akhaia lainnya, kita dapat menyebut itu palsu dan mengabaikannya. Namun lihat, pria yang memperoleh mimpi itu dapat mengakui dirinya paling hebat, orang Akhaia paling heroik yang kita miliki. Mari, kita persenjatai pasukan Akhaia guna melaksanakan penyerbuan,” ujarnya (2.94-99).

Pesan Nestor di atas papar mempertunjukkan bahwa mimpi tersebut dapat dinilai selaku kebenaran sebab disampaikan oleh Raja Agamemnon, pemimpin tertinggi suku Akhaia. Tentu saja kebenaran mimpi tersebut tak dapat diverifikasi sebab cuma dialami oleh Agamemnon sendiri. Namun sekali lagi, sebab hal ini disampaikan oleh sosok yang seperti itu dihormati dan mempunyai kredibilitas di kalangan suku Akhaia, maka benar atau tidaknya mimpi tersebut tak dipertanyakan lagi.

Berlebihan naif rasanya kalau kita mengumumkan ketokohan semacam ini telah tak relevan dalam konteks kekinian. Toh, kasus Rocky Gerung yang menyebutkan bahwa kitab suci ialah fiksi mempertunjukkan terhadap kita bahwa ia dinilai sosok yang mempunyai kredibilitas dalam ilmu filsafat sehingga ia pantas berargumen begini di ILC. Hal itu yang lantas tak mendukung gelombang massa turun menuju jalan dan menuntutnya sebab menista agama dan kitab suci. Persoalan apa yang disampaikannya itu tepat atau mengada-ada merupakan hal lain.

Rocky telah menang satu poin sebab gelar dosennya tersebut. Enggak tidak banyak orang yang akhirnya memanggil Rocky dengan sebutan profesor. Lain cerita dengan Ahok.

Sayangnya, Ahok tak seberuntung Rocky Gerung soal kredibilitas. Ahok dinilai tak mempunyai kredibilitas guna menyampaikan pendapatnya soal ayat 51 surah Al-Maidah dalam Al-quran. Ahok yang berasal dari kalangan double minority lantas dituduh menista agama. Tak sama dari Ahok yang lantas dituntut hukuman bui dengan demonstrasi besar-besaran setidaknya 3 kali (1410, 411, dan 212), pada 2016, dalam kurun waktu 3 bulan, Rocky malah memperoleh pembelaan dari kubu yang sama.

Kasus Rocky Gerung dan kasus Ahok cuma dua dari beberapa kasus yang mempertunjukkan perlunya “siapa” dalam mengumumkan pandangan. Fakta ini menyedihkan sebab isi perbincangan tak memperoleh perhatian selayaknya.

Memang penekanan pada tokoh tak sepenuhnya salah. Dalam beberapa bidang keilmuan, kita menemukan beberapa ahli yang ahli dalam bidangnya masing-masing. Akan tetapi itu tidak artinya pandangan yang disampaikan pasti benar. walau ia ahli sekalipun, ia tetap wajib sanggup mempertanggungjawabkan pendapatnya.

Selain menyedihkan, fakta bahwa beberapa orang yang masih mementingkan siapa yang berbicara pun berbahaya. Karena, yang terjadi ialah serbuan personal guna meruntuhkan kredibilitas orang tersebut. Itu akhirnya dialami oleh Rocky Gerung yang diserang sebab gelar akademiknya mandek pada tingkat sarjana (S1). Ahok pun memperoleh serbuan serupa sebab back-ground etnis dan agamanya. Haknya selaku penduduk negara guna berpendapat juga diabaikan sebab serbuan berbau SARA.

Saat fokus utama cuma soal siapa, pandangan seseorang—sebagus apapun itu—bakal runtuh saat kredibilitasnya selaku sesosok tokoh juga runtuh. Sebab itu, fokus utama wajib beralih sebagai soal isi.

Enggak peduli muda-tua, perempuan atau laki-laki, kaya-miskin, guru besar atau maha siswa, enggak peduli dosa-dosa yang pernah ia perbuat, kalau pendapatnya benar dan masuk akal, maka itu wajib diterima. Kalau tak setuju dengan pandangan tersebut, debat dan dialog sebagai sarana paling tepat guna mengungkapkannya. Tidak dengan cara meremehkannya cuma sebab “siapa”.

Pesan Nestor bisa jadi penting dalam konteks ketika itu. Akan tetapi dalam penggalan cerita ini juga, kita dapat mengetahui bahwa mimpi berupa petunjuk yang didapatkan Agamemnon ialah strategi Dewa Zeus guna mengalahkan pasukan Akhaia dalam tempur Troya. Pelajaran penting yang dapat diambil ialah kepercayaan keterlaluan kepada tokoh tak tepat guna dilanjutkan sampai masa sekarang.

Di era modern sebagaimana ketika ini, dialog dan perdebatan wajib dikedepankan guna menemukan jalan penyelesaian atas beberapa persoalan. Fanatisme ketokohan wajib mulai ditanggalkan.

Tsamara Amany

(geotimes.co.id/ suaraislam)

Rocky Gerung, Ahok, dan Pesan Nestor

Source

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :