Risalah Bid’ah dan Dahsyatnya Konsekwensi menjelaskan: ” Ini-Itu Bid’ah ! “

Bid’ah – Bagi kaum  muslimin ahlussunnah waljama’ah, menjatuhkan hukuman  bid’ah kepada amaliah sesama muslim tidaklah perkara mudah diucapkan. Ibaratnya perlu berpikir ‘seribu kali’ sebelum menjatuhkan vonis bid’ah. Ada beberapa pertimbangan dan barometer  yang  yang rumit dan memerlukan ‘ilmu selangit’ untuk sanggup mengoprasikannya. Karena kalau salah mengoprasikannya, bukan hukum yang dihasilkannya, tapi nggak lebih dari sekedar tudingan. Dan celakanya, bisa-bisa tudingan itu berbalik kpd diri sendiri.
Istilahnya  jika dalam cerita silat itu Senjata makan Tuan. Bukan pihak lain yang ahli bid’ah, malah dia sendiri yang terbukti ahli bid’ah. Ini sungguh-sungguh terbukti! Contoh nyata ialah  Tawassul yang dibilang bid’ah, ternyata itu ialah amalan ahlussunnah. Baca Al-Qur’an di kuburan divonis haram, tapi akhirnya terbukti nggak haram. Para peziarah kubur dihina  selaku penyembah kuburan (musyrik), faktanya ziarah kubur ialah amalan ahlussunnah.
Kita nggak usah pusing, akan senantiasa ada kubu orang-orang semacam ini sampai datangnya hari kiamat….

Supaya Jangan Sembarangan Mengakui Ahli Bid’ah Kpd Orang Lain (Hakekat Bid’ah Lengkap)

Oleh: Abou Fateh

Pengertian Bid’ah

Bid’ah dalam pengertian bahasa ialah:

مَا أُحْدِثَ عَلَى غَيْرِ مِثَالٍ سَابِقٍ
“Sesuatu yang diselenggarakan tanpa ada contoh sebelumnya”.

Seorang ahli bahasa terkemuka, Ar-Raghib al-Ashfahani dalam kitab Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an, menuliskan selaku berikut:

اَلإِبْدَاعُ إِنْشَاءُ صَنْعَةٍ بِلاَ احْتِذَاءٍ وَاقْتِدَاءٍ. وَإِذَا اسْتُعْمِلَ فِيْ اللهِ تَعَالَى فَهُوَ إِيْجَادُ الشَّىْءِ بِغَيْرِ ءَالَةٍ وَلاَ مآدَّةٍ وَلاَ زَمَانٍ وَلاَ مَكَانٍ، وَلَيْسَ ذلِكَ إِلاَّ للهِ. وَالْبَدِيْعُ يُقَالُ لِلْمُبْدِعِ نَحْوُ قَوْلِهِ: (بَدِيْعُ السّمَاوَاتِ وَالأرْض) البقرة:117، وَيُقَالُ لِلْمُبْدَعِ –بِفَتْحِ الدَّالِ- نَحْوُ رَكْوَةٍ بَدِيْعٍ. وَكَذلِكَ الْبِدْعُ يُقَالُ لَهُمَا جَمِيْعًا، بِمَعْنَى الْفَاعِلِ وَالْمَفْعُوْلِ. وَقَوْلُهُ تَعَالَى: (قُلْ مَا كُنْتُ بِدْعًا مِنَ الرُّسُل) الأحقاف: 9، قِيْلَ مَعْنَاهُ: مُبْدَعًا لَمْ يَتَقَدَّمْنِيْ رَسُوْلٌ، وَقِيْلَ: مُبْدِعًا فِيْمَا أَقُوْلُهُ.اهـ

“Kata Ibda’ artinya merintis sebuah kreasi baru tanpa mengikuti dan mencontoh sesuatu sebelumnya. Kata Ibda’ kalau dipakai pada hak Allah, maka maknanya ialah penciptaan kepada sesuatu tanpa alat, tanpa bahan, tanpa masa dan tanpa tempat. Kata Ibda’ dalam makna ini cuma berlaku bagi Allah saja. Kata al-Badi’ dipakai untuk al-Mubdi’ (artinya yang merintis sesuatu yang baru). Seperti dalam firman (Badi’ as-Samawat Wa al-Ardl), artinya: “Allah Pencipta langit dan bumi…”. Kata al-Badi’ juga dipakai untuk al-Mubda’ (artinya sesuatu yang dirintis). Seperti kata Rakwah Badi’, artinya: “Bejana air yang unik (dengan model baru)”.

Seperti ini juga kata al-Bid’u dipakai untuk pengertian al-Mubdi’ dan al-Mubda’, artinya berlaku untuk makna Fa’il (pelaku) dan berlaku untuk makna Maf’ul (obyek). Firman Allah dalam QS. al-Ahqaf: 9 (Qul Ma Kuntu Bid’an Min ar-Rusul), menurut satu pandangan maknanya ialah: “Katakan Wahai Muhammad, Saya bukan Rasul pertama yang belum pernah didahului oleh rasul sebelumku” (artinya penggunaan dalam makna Maf’ul)”, menurut pandangan lain makna ayat tersebut ialah: “Katakan wahai Muhammad, Saya bukanlah orang yang pertama kali menyampaikan apa yang saya katakan” (artinya penggunaan dalam makna Fa’il)” (Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an, h. 36).

Dalam pengertian syari’at, bid’ah ialah:

اَلْمُحْدَثُ الَّذِيْ لَمْ يَنُصَّ عَلَيْهِ الْقُرْءَانُ وَلاَ جَاءَ فِيْ السُّـنَّةِ.

“Sesuatu yang baru yang nggak terdapat penyebutannya secara tertulis, baik di dalam al-Qur’an maupun dalam hadits”. (Sharih al-Bayan, j. 1, h. 278)

Seorang ulama bahasa terkemuka, Abu Bakar Ibn al-‘Arabi menuliskan selaku berikut:

لَيْسَتْ البِدْعَةُ وَالْمُحْدَثُ مَذْمُوْمَيْنِ لِلَفْظِ بِدْعَةٍ وَمُحْدَثٍ وَلاَ مَعْنَيَيْهِمَا، وَإِنَّمَا يُذَمُّ مِنَ البِدْعَةِ مَا يُخَالِفُ السُّـنَّةَ، وَيُذَمُّ مِنَ الْمُحْدَثَاتِ مَا دَعَا إِلَى الضَّلاَلَةِ.

“Perkara yang baru (Bid’ah atau Muhdats) nggak pasti tercela cuma sebab secara bahasa disebut Bid’ah atau Muhdats, atau dalam pengertian keduanya. Melainkan Bid’ah yang tercela itu ialah perkara baru yang menyalahi sunnah, dan Muhdats yang tercela itu ialah perkara baru yang mengajak kpd kesesatan”.

Macam-Macam Bid’ah

Bid’ah terbagi jadi dua bagian:

Pertama: Bid’ah Dlalalah. Disebut pula dengan Bid’ah Sayyi-ah atau Sunnah Sayyi-ah. Yaitu perkara baru yang menyalahi al-Qur’an dan Sunnah.
Kedua: Bid’ah Huda atau disebut juga dengan Bid’ah Hasanah atau Sunnah Hasanah. Yaitu perkara baru yang sesuai dan sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah.
Al-Imam asy-Syafi’i berkata :

الْمُحْدَثَاتُ مِنَ اْلأُمُوْرِ ضَرْبَانِ : أَحَدُهُمَا : مَا أُحْدِثَ ِممَّا يُخَالـِفُ كِتَابًا أَوْ سُنَّةً أَوْ أَثرًا أَوْ إِجْمَاعًا ، فهَذِهِ اْلبِدْعَةُ الضَّلاَلـَةُ، وَالثَّانِيَةُ : مَا أُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَ خِلاَفَ فِيْهِ لِوَاحِدٍ مِنْ هذا ، وَهَذِهِ مُحْدَثَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَةٍ (رواه الحافظ البيهقيّ في كتاب ” مناقب الشافعيّ)

“Perkara-perkara baru itu terbagi jadi dua bagian. Pertama: Perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, Sunnah, Ijma’ atau menyalahi Atsar (sesuatu yang ditunaikan atau dikatakan sahabat tanpa ada di antara mereka yang mengingkarinya), perkara baru semacam ini ialah bid’ah yang sesat. Kedua: Perkara baru yang baru yang baik dan nggak menyalahi al-Qur’an, Sunnah, maupun Ijma’, maka sesuatu yang baru seperti ini nggak tercela”. (Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang Shahih dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i) (Manaqib asy-Syafi’i, j. 1, h. 469).

Dalam riwayat lain al-Imam asy-Syafi’i berkata:

اَلْبِدْعَةُ بِدْعَتَانِ: بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّـنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمٌ.

“Bid’ah ada dua macam: Bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Bid’ah yang sesuai dengan Sunnah ialah bid’ah terpuji, dan bid’ah yang menyalahi Sunnah ialah bid’ah tercela”. (Dituturkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari)

Pembagian bid’ah jadi dua oleh Imam Syafi’i ini disepakati oleh para ulama setelahnya dari seluruh kalangan ahli fikih empat madzhab, para ahli hadits, dan para ulama dari berbagai disiplin ilmu. Di antara mereka ialah para ulama terkemuka, seperti al-‘Izz ibn Abd as-Salam, an-Nawawi, Ibn ‘Arafah, al-Haththab al-Maliki, Ibn ‘Abidin dan lain-lain. Dari kalangan ahli hadits di antaranya Ibn al-’Arabi al-Maliki, Ibn al-Atsir, al-Hafizh Ibn Hajar, al-Hafzih as-Sakhawi, al-Hafzih as-Suyuthi dan lain-lain. Termasuk dari kalangan ahli bahasa sendiri, seperti al-Fayyumi, al-Fairuzabadi, az-Zabidi dan lainnya.

Dengan seperti ini bid’ah dalam istilah syara’ terbagi jadi dua: Bid’ah Mahmudah (bid’ah terpuji) dan Bid’ah Madzmumah (bid’ah tercela).

Pembagian bid’ah jadi dua bagian ini dapat dipahami dari hadits ‘Aisyah, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاريّ ومسلم)

“Sesiapa saja yang berbuat sesuatu yang baharu dalam syari’at ini yang nggak sesuai dengannya, maka ia tertolak”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dapat dipahami dari sabda Rasulullah: “Ma Laisa Minhu”, artinya “Yang nggak sesuai dengannya”, bahwa perkara baru yang tertolak ialah yang bertentangan dan menyalahi syari’at. Adapun perkara baru yang nggak bertentangan dan nggak menyalahi syari’at maka ia nggak tertolak.

Bid’ah dilihat dari segi wilayahnya terbagi jadi dua bagian; Bid’ah dalam pokok-pokok agama (Ushuluddin) dan bid’ah dalam cabang-cabang agama, yaitu bid’ah dalam Furu’, atau dapat kita menyebut Bid’ah ‘Amaliyyah. Bid’ah dalam pokok-pokok agama (Ushuluddin) ialah perkara-perkara baru dalam problem akidah yang menyalahi akidah Rasulullah dan para sahabatnya.

Dalil-Dalil Bid’ah Hasanah

Al-Muhaddits al-‘Allamah as-Sayyid ‘Abdullah ibn ash-Shiddiq al-Ghumari al-Hasani dalam kitab Itqan ash-Shun’ah Fi Tahqiq Ma’na al-Bid’ah, menuliskan bahwa di antara dalil-dalil yang mempertunjukkan adanya bid’ah hasanah ialah selaku berikut (Lihat Itqan ash-Shun’ah, h. 17-28):

1. Firman Allah dalam QS. al-Hadid: 27:

وَجَعَلْنَا فِي قُلُوبِ الَّذِينَ اتَّبَعُوهُ رَأْفَةً وَرَحْمَةً وَرَهْبَانِيَّةً ابْتَدَعُوهَا مَا كَتَبْنَاهَا عَلَيْهِمْ إِلَّا ابْتِغَاءَ رِضْوَانِ اللَّهِ (الحديد: 27)

“Dan Kami (Allah) jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya (Nabi ‘Isa) rasa santun dan kasih sayang, dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah, padahal Kami nggak mewajibkannya kpd mereka, tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah” (Q.S. al-Hadid: 27)
Ayat ini ialah dalil mengenai hal adanya bid’ah hasanah. Dalam ayat ini Allah memuji ummat Nabi Isa terdahulu, mereka ialah orang-orang muslim dan orang-orang mukmin berkeyakinan akan kerasulan Nabi Isa dan bahwa berkeyakinan bahwa cuma Allah yang berhak disembah. Allah memuji mereka sebab mereka kaum yang santun dan full kasih sayang, juga sebab mereka merintis rahbaniyyah. Praktek Rahbaniyyah ialah perbuatan menjauhi syahwat duniawi, sampai mereka meninggalkan nikah, sebab ingin berkonsentrasi dalam beribadah kpd Allah.

Dalam ayat di atas Allah menjelaskan “Ma Katabnaha ‘Alaihim”, artinya: “Kami (Allah) nggak mewajibkan Rahbaniyyah tersebut atas mereka, melainkan mereka sendiri yang membikin dan merintis Rahbaniyyah itu untuk target mendekatkan diri kpd Allah”. dalam ayat ini Allah memuji mereka, sebab mereka merintis perkara baru yang nggak ada nash-nya dalam Injil, juga nggak diharuskan bahkan nggak sama sekali nggak pernah dinyatakan oleh Nabi ‘Isa al-Masih kpd mereka. Melainkan mereka yang ingin berusaha semaksimal mungkin untuk patuh kpd Allah, dan berkonsentrasi full untuk beribadah kepada-Nya dengan nggak menyibukkan diri dengan nikah, menafkahi isteri dan keluarga. Mereka membangun rumah-rumah kecil dan sederhana dari tanah atau semacamnya di tempat-tempat sepi dan jauh dari orang untuk beribadah sepenuhnya kpd Allah.

  1. Hadits sahabat Jarir ibn Abdillah al-Bajali, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه مسلم)

“Sesiapa saja merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka bagi dia pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka bagi dia dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)

Dalam hadits ini dengan amat terang Rasulullah menjelaskan: “Barangsiapa merintis sunnah hasanah…”. Pernyataan Rasulullah ini mesti dibedakan dengan pengertian anjuran beliau untuk konsisten dengan sunnah (at-Tamassuk Bis-Sunnah) atau pengertian menghidupkan sunnah yang ditinggalkan orang (Ihya’ as-Sunnah). Sebab mengenai hal perintah untuk berpegangteguh dengan sunnah atau menghidupkan sunnah ada hadits-hadits tersendiri yang menerangkan mengenai hal itu. Sedangkan hadits riwayat Imam Muslim ini berbicara mengenai hal merintis sesuatu yang baru yang baik yang belum pernah ditunaikan sebelumnya. Sebab secara bahasa makna “sanna” nggak lain ialah merintis perkara baru, bukan menghidupkan perkara yang telah ada atau konsisten dengannya.

  1. Hadits ‘Aisyah, bahwa ia berkata: Rasulullah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِيْ أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ (رواه البخاريّ ومسلم)

“Sesiapa saja yang berbuat sesuatu yang baharu dalam syari’at ini yang nggak sesuai dengannya, maka ia tertolak”. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Hadits ini dengan amat terang mempertunjukkan mengenai hal adanya bid’ah hasanah. Sebab seandainya seluruh bid’ah pasti sesat tanpa terkecuali, niscaya Rasulullah akan menjelaskan “Barangsiapa merintis hal baru dalam agama kita ini apapun itu, maka pasti tertolak”. Tetapi Rasulullah menjelaskan, sebagaimana hadits di atas: “Barangsiapa merintis hal baru dalam agama kita ini yang nggak sesuai dengannya, artinya yang bertentangan dengannya, maka perkara tersebut pasti tertolak”.

Dengan seperti ini dapat dipahami bahwa perkara yang baru itu ada dua bagian: Pertama, yang nggak termasuk dalam ajaran agama, sebab menyalahi kaedah-kaedah dan dalil-dalil syara’, perkara baru semacam ini digolongkan selaku bid’ah yang sesat. Kedua, perkara baru yang sesuai dengan kaedah dan dalil-dalil syara’, perkara baru semacam ini digolongkan selaku perkara baru yang dibenarkan dan diterima, ialah yang disebut dengan bid’ah hasanah.

  1. Dalam sebuah hadits shahih riwayat al-Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya disebutkan bahwa sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab secara tegas menjelaskan mengenai hal adanya bid’ah hasanah. Ialah bahwa beliau menamakan shalat berjama’ah dalam shalat tarawih di bulan Ramadlan selaku bid’ah hasanah. Beliau memuji praktek shalat tarawih berjama’ah ini, dan menjelaskan: “Ni’mal Bid’atu Hadzihi”. Artinya, sebaik-baiknya bid’ah ialah shalat tarawih dengan berjama’ah.

Lantas dalam hadits Shahih lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan bahwa sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab ini menambah kalimat-kalimat dalam bacaan talbiyah kepada apa yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Bacaan talbiyah beliau ialah:

لَبَّيْكَ اللّهُمَّ لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ، وَالْخَيْرُ فِيْ يَدَيْكَ، وَالرَّغْبَاءُ إِلَيْكَ وَالْعَمَلُ

  1. Dalam hadits riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa ‘Abdullah ibn ‘Umar ibn al-Khaththab menambahkan kalimat Tasyahhud kepada kalimat-kalimat Tasyahhud yang sudah diajarkan oleh Rasulullah. Dalam Tasayahhud-nya ‘Abdullah ibn ‘Umar menjelaskan:

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ.

Soal kaliamat tambahan dalam Tasyahhud-nya ini, ‘Abdullah ibn ‘Umar berkata: “Wa Ana Zidtuha…”, artinya: “Saya sendiri yang menambahkan kalimat “Wahdahu La Syarika Lah”.
6. ‘Abdullah ibn ‘Umar menganggap bahwa shalat Dluha selaku bid’ah, sebab Rasulullah nggak pernah melakukannya. Soal shalat Dluha ini beliau berkata:

إِنَّهَا مُحْدَثَةٌ وَإِنَّهَا لَمِنْ أَحْسَنِ مَا أَحْدَثُوْا (رواه سعيد بن منصور بإسناد صحيح)

“Sesungguhnya shalat Dluha itu perkara baru, dan hal itu merupakan bagian perkara terbaik dari apa yang mereka rintis”. (HR. Sa’id ibn Manshur dengan sanad yang Shahih)
Dalam riwayat lain, mengenai hal shalat Dluha ini sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar menjelaskan:

بِدْعَةٌ وَنِعْمَتْ البِدْعَةُ (رواه ابن أبي شيبة)

“Shalat Dluha ialah bid’ah, dan ia ialah sebaik-baiknya bid’ah”. (HR. Ibn Abi Syaibah)
Riwayat-riwayat ini dituturkan oleh al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari dengan sanad yang shahih.

  1. Dalam sebuah hadits shahih, al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dari sahabat Rifa’ah ibn Rafi’, bahwa ia (Rifa’ah ibn Rafi’) berkata: “Suatu hari kami shalat berjama’ah di belakang Rasulullah. Tatkala beliau mengangkat kepala sesudah ruku’, beliau membaca: “Sami’allahu Lima Hamidah”. Tiba-tiba salah seorang makmum berkata:

رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ

sesudah selesai shalat, Rasulullah menanyakan: “Siapatah tadi yang menjelaskan kalimat-kalimat itu?”. Orang yang yang dimaksud menjawab: “Saya Wahai Rasulullah…”. Lalu Rasulullah berkata:

رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلاَثِيْنَ مَلَكًا يَبْتَدِرُوْنَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلَ

“Saya menyaksikan lebih dari 3 puluh Malaikat berlomba untuk jadi yang pertama mencatatnya”.
Al-Hafizh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari, menjelaskan: “Hadits ini ialah dalil yang mempertunjukkan akan kebolehan menyusun bacaan dzikir di dalam shalat yang nggak ma’tsur, selama dzikir tersebut nggak menyalahi yang ma’tsur” (Fath al-Bari, j. 2, h. 287).

  1. al-Imam an-Nawawi, dalam kitab Raudlah ath-Thalibin, mengenai hal doa Qunut, beliau menuliskan selaku berikut:

هذَا هُوَ الْمَرْوِيُّ عَنِ النَّبِيِّ صَلّى اللهُ عَليهِ وَسَلّمَ وَزَادَ الْعُلَمَاءُ فِيْهِ: “وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ” قَبْلَ “تَبَارَكْتَ وَتَعَالَيْتَ” وَبَعْدَهُ: “فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ”. قُلْتُ: قَالَ أَصْحَابُنَا: لاَ بَأْسَ بِهذِهِ الزِّيَادَةِ. وَقَالَ أَبُوْ حَامِدٍ وَالْبَنْدَنِيْجِيُّ وَءَاخَرُوْنَ: مُسْتَحَبَّةٌ.

“Inilah lafazh Qunut yang diriwayatkan dari Rasulullah. Lalu para ulama menambahkan kalimat: “Wa La Ya’izzu Man ‘Adaita” sebelum “Tabarakta Wa Ta’alaita”. Mereka juga menambahkan setelahnya, kalimat “Fa Laka al-Hamdu ‘Ala Ma Qadlaita, Astaghfiruka Wa Atubu Ilaika”. Saya (an-Nawawi) katakan: Ashab asy-Syafi’i menjelaskan: “Ndak problem (boleh) dengan adanya tambahan ini”. Bahkan Abu Hamid, dan al-Bandanijiyy serta beberapa Ashhab yang lain menjelaskan bahwa bacaan tersebut ialah sunnah” (Raudlah ath-Thalibin, j. 1, h. 253-254).

Beberapa Contoh Bid’ah Hasanah Dan Bid’ah Sayyi’ah

Berikut ini beberapa contoh Bid’ah Hasanah. Di antaranya:

  1. Shalat Sunnah dua raka’at sebelum dibunuh. Orang yang pertama kali melakukannya ialah Khubaib ibn ‘Adiyy al-Anshari; salah seorang sahabat Rasulullah. Soal ini Abu Hurairah berkata:

فَكَانَ خُبَيْبٌ أَوَّلَ مَنْ سَنَّ الصَّلاَةَ عِنْدَ الْقَتْلِ (رواه البخاريّ)

“Khubaib ialah orang yang pertama kali merintis shalat waktu akan dibunuh”. (HR. al-Bukhari dalam kitab al-Maghazi, Ibn Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf)

Lihatlah, bagaimana sahabat Abu Hurairah mempergunakan kata “Sanna” untuk mempertunjukkan makna “merintis”, membikin sesuatu yang baru yang belaum ada sebelumnya. Terang, makna “sanna” di sini bukan dalam pengertian konsisten dengan sunnah, juga bukan dalam pengertian menghidupkan sunnah yang sudah ditinggalkan orang.

Salah seorang dari kalangan tabi’in ternama, yaitu al-Imam Ibn Sirin, pernah ditanya mengenai hal shalat dua raka’at waktu seorang akan dibunuh, beliau menjawab:

صَلاَّهُمَا خُبَيْبٌ وَحُجْرٌ وَهُمَا فَاضِلاَنِ.

“Dua raka’at shalat sunnah tersebut pernah ditunaikan oleh Khubaib dan Hujr bin Adiyy, dan kedua orang ini ialah orang-orang (sahabat Nabi) yang mulia”. (Diriwayatkan oleh Ibn Abd al-Barr dalam kitab al-Isti’ab) (al-Isti’ab Fi Ma’rifah al-Ash-hab, j. 1, h. 358)

2. Penambahan Adzan Pertama sebelum shalat Jum’at oleh sahabat Utsman bin ‘Affan. (HR. al-Bukhari dalam Kitab Shahih al-Bukhari pada bagian Kitab al-Jum’ah).

3. Pembuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an oleh Yahya ibn Ya’mur. Beliau ialah salah seorang tabi’in yang mulia dan agung. Beliau seorang yang alim dan bertaqwa. Perbuatan beliau ini disepakati oleh para ulama dari kalangan ahli hadits dan lainnya. Mereka seluruh menganggap baik pembuatan titik-titik dalam beberapa huruf al-Qur’an tersebut. Padahal waktu Rasulullah mendiktekan bacaan-bacaan al-Qur’an tersebut kpd para penulis wahyu, mereka seluruh menuliskannya dengan tanpa titik-titik sedikitpun pada huruf-hurufnya.

Seperti ini pula di masa Khalifah ‘Utsman ibn ‘Affan, beliau menyalin dan menggandakan mush-haf jadi lima atau enam naskah, pada tiap-tiap salinan mush-haf-mush-haf tersebut nggak ada satu-pun yang dibuatkan titik-titik pada sebagian huruf-hurufnya. Tetapi seperti ini, semenjak sesudah pemberian titik-titik oleh Yahya bin Ya’mur tersebut lantas seluruh ummat Islam sampai Saat ini senantiasa menggunakan titik dalam penulisan huruf-huruf al-Qur’an. Apakah mungkin hal ini dikatakan selaku bid’ah sesat dengan alasan Rasulullah nggak pernah melakukannya?!

Kalau seperti ini halnya maka hendaklah mereka meninggalkan mush-haf-mush-haf tersebut dan menghilangkan titik-titiknya seperti pada masa ‘Utsman.
Abu Bakar ibn Abu Dawud, putra dari Imam Abu Dawud penulis kitab Sunan, dalam kitabnya al-Mashahif berkata: “Orang yang pertama kali membikin titik-titik dalam Mush-haf ialah Yahya bin Ya’mur”. Yahya bin Ya’mur ialah salah seorang ulama tabi’in yang meriwayatkan (hadits) dari sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar dan lainnya.

Seperti ini pula penulisan nama-nama surat di permulaan tiap-tiap surat al-Qur’an, pemberian lingkaran di akhir tiap-tiap ayat, penulisan juz di tiap-tiap permulaan juz, juga penulisan hizb, Nishf (pertengahan Juz), Rubu’ (tiap-tiap seperempat juz) dalam tiap-tiap juz dan semacamnya, seluruh itu nggak pernah ditunaikan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Apakah dengan alasan semacam ini lantas seluruh itu ialah bid’ah yang diharamkan?!

  1. Pembuatan Mihrab dalam majid selaku tempat shalat Imam, orang yang pertama kali membikin Mihrab semacam ini ialah al-Khalifah ar-Rasyid ‘Umar ibn Abd al-’Aziz di Masjid Nabawi. Perbuatan al-Khalifah ar-Rasyid ini lantas diikuti oleh kebanyakan ummat Islam di seluruh dunia waktu mereka membangun masjid. Siapa berani menjelaskan bahwa itu ialah bid’ah sesat, sementara hampir seluruh masjid di zaman now mempunyai mihrab?! Siapa yang nggak mengenal Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al-‘Aziz selaku al-Khalifah ar-Rasyid?!

  2. warning Maulid Nabi ialah bid’ah hasanah sebagaimana ditegaskan oleh al-Hafizh Ibn Dihyah (abad 7 H), al-Hafizh al-’Iraqi (W 806 H), al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani (W 852 H), al-Hafizh as-Suyuthi (W 911 H), al-Hafizh as-Sakhawi (W 902 H), Syekh Ibn Hajar al-Haitami (W 974 H), al-Imam Nawawi (W 676 H), al-Imam al-‘Izz ibn ‘Abd as-Salam (W 660 H), Eks Mufti Mesir; Syekh Muhammad Bakhit al-Muthi’i (W 1354 H), eks Mufti Bairut Lebanon Syekh Mushthafa Naja (W 1351 H) dan masih beberapa lagi para ulama terkemuka lainnya.

  3. Membaca shalawat atas Rasulullah sesudah adzan ialah bid’ah hasanah sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh as-Suyuthi dalam kitab Musamarah al-Awa-il, al-Hafizh as-Sakhawi dalam kitab al-Qaul al-Badi’, al-Haththab al-Maliki dalam kitab Mawahib al-Jalil, dan para ulama besar lainnya.

  4. Mecatat kalimat “Shallallahu ‘Alayhi Wa Sallam” sesudah mecatat nama Rasulullah termasuk bid’ah hasanah. Sebab Rasulullah dalam surat-surat yang beliau kirimkan kpd para raja dan para penguasa di masa beliau hidup nggak pernah mecatat kalimat shalawat semacam itu. Dalam surat-suratnya, Rasulullah cuma menuliskan: “Min Muhammad Rasulillah Ila Fulan…”, artinya: “Dari Muhammad Rasulullah kpd Si Fulan…”.

  5. Beberapa Tarekat yang dirintis oleh para wali Allah dan orang-orang saleh. Seperti tarekat ar-Rifa’iyyah, al-Qadiriyyah, an-Naqsyabandiyyah dan lainnya yang kesemuanya berjumlah kisaran 40 tarekat. Pada asalnya, tarekat-tarekat ini ialah bid’ah hasanah, tetapi lantas sebagian pengikut beberapa tarekat ada yang melenceng dari ajaran dasarnya. Tetapi seperti ini hal ini nggak kemudian menodai tarekat pada peletakan atau target awalnya.

Berikut ini beberapa contoh Bid’ah Sayyi-ah. di antaranya selaku berikut:
1. Bid’ah-bid’ah dalam problem pokok-pokok agama (Ushuluddin), di antaranya seperti:

A. Bid’ah Pengingkaran kepada ketentuan (Qadar) Allah. Yaitu keyakinan sesat yang menjelaskan bahwa Allah nggak mentaqdirkan dan nggak menciptakan suatu apapun dari segala perbuatan ikhtiar hamba. Seluruh perbuatan manusia, -menurut keyakinan ini-, terjadi dengan penciptaan manusia itu sendiri. Sebagian dari mereka meyakini bahwa Allah nggak menciptakan keburukan. Menurut mereka, Allah cuma menciptakan kebaikan saja, sedangkan keburukan yang menciptakannya ialah hamba sendiri. Mereka juga berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar bukan seorang mukmin, dan juga bukan seorang kafir, melainkan berada pada posisi di antara dua posisi tersebut, nggak mukmin dan nggak kafir. Mereka juga mengingkari syafa’at Nabi. Golongan yang berkeyakinan seperti ini dinamakan dengan kaum Qadariyyah. Orang yang pertama kali mengingkari Qadar Allah ialah Ma’bad al-Juhani di Bashrah, sebagaimana hal ini sudah diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari Yahya ibn Ya’mur.

B. Bid’ah Jahmiyyah. Kaum Jahmiyyah juga dikenal dengan sebutan Jabriyyah, mereka ialah pengikut Jahm ibn Shafwan. Mereka berkeyakinan bahwa seorang hamba itu majbur (dipaksa); artinya tiap-tiap hamba nggak mempunyai kehendak sama sekali waktu melaksanakan segala perbuatannya. Menurut mereka, manusia seperti sehelai bulu atau kapas yang terbang di udara sesuai arah angin, ke arah kanan dan ke arah kiri, ke arah manapun, ia sama sekali nggak mempunyai ikhtiar dan kehendak.

C. Bid’ah kaum Khawarij. Mereka mengkafirkan orang-orang mukmin yang melaksanakan dosa besar.

D. Bid’ah sesat yang mengharamkan dan mengkafirkan orang yang bertawassul dengan para nabi atau dengan orang-orang saleh sesudah para nabi atau orang-orang saleh tersebut meninggal. Atau pengkafiran kepada orang yang tawassul dengan para nabi atau orang-orang saleh di masa hidup mereka tetapi orang yang bertawassul ini nggak berada di depan mereka. Orang yang pertama kali memunculkan bid’ah sesat ini ialah Ahmad ibn ‘Abd al-Halim ibn Taimiyah al-Harrani (W 728 H), yang lantas diambil oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab dan para pengikutnya yang dikenal dengan kubu Wahhabiyyah.
2. Bid’ah-bid’ah ‘Amaliyyah yang buruk.

 

Contohnya mecatat huruf (ص) atau (صلعم) selaku singkatan dari “Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam” sesudah menuliskan nama Rasulullah. Termasuk dalam bahasa Indonesia jadi “SAW”. Para ahli hadits sudah menekankan dalam kitab-kitab Mushthalah al-Hadits bahwa menuliskan huruf “shad” saja sesudah penulisan nama Rasulullah ialah makruh. Artinya walaupun ini bid’ah sayyi-ah, tetapi seperti ini mereka nggak sampai mengharamkannya. Lantas termasuk juga bid’ah sayyi-ah ialah merubah-rubah nama Allah dengan membuang alif madd (bacaan panjang) dari kata Allah atau membuang Ha’ dari kata Allah.

Kerancuan Pandangan Yang Mengingkari Bid’ah Hasanah

  1. Kalangan yang mengingkari adanya bid’ah hasanah biasa berkata: “Bukankah Rasulullah dalam hadits riwayat Abu Dawud dari sahabat al-‘Irbadl ibn Sariyah sudah bersabda:
    وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ (رواه أبو داود)

Ini artinya bahwa tiap-tiap perkara yang secara nyata (eksplisit) nggak disebutkan dalam al-Qur’an dan hadits atau nggak pernah ditunaikan oleh Rasulullah dan atau al-Khulafa’ ar-Rasyidun maka perkara tersebut dinilai selaku bid’ah sesat .
Jawab:

Hadits ini lafazhnya umum tetapi maknanya spesial. Artinya yang dimaksud oleh Rasulullah dengan bid’ah tersebut ialah bid’ah sayyi-ah, yaitu tiap-tiap perkara baru yang menyalahi al-Qur’an, sunnah, ijma’ atau atsar. Al-Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menuliskan: “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini ialah ‘Amm Makhshush; artinya, lafazh umum yang sudah dikhususkan kpd sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud ialah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak seluruh bid’ah itu sesat)” (al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj, j. 6, hlm. 154).

Lantas al-Imam an-Nawawi membagi bid’ah jadi lima macam. Beliau berkata: “Kalau sudah dipahami apa yang sudah saya tuturkan, maka dapat diketahui bahwa hadits ini termasuk hadits umum yang sudah dikhususkan. Seperti ini juga pemahamannya dengan beberapa hadits serupa dengan ini. Apa yang saya katakan ini didukung oleh perkataan ‘Umar ibn al-Khaththab mengenai hal shalat Tarawih, beliau berkata: “Ia (Shalat Tarawih dengan berjama’ah) ialah sebaik-baiknya bid’ah”.

Dalam penegasan al-Imam an-Nawawi, meski hadits riwayat Abu Dawud tersebut di atas menggunakan kata “Kullu” selaku ta’kid, tetapi bukan artinya telah nggak mungkin lagi di-takhshish. Melainkan ia tetap dapat di-takhshish. Contoh semacam ini, dalam QS. al-Ahqaf: 25, Allah berfirman:
تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ (الأحقاف: 25)

Makna ayat ini ialah bahwa angin yang merupakan adzab atas kaum ‘Ad sudah menghancur-leburkan kaum tersebut dan segala harta benda yang mereka miliki. Bukan artinya bahwa angin tersebut menghancur-leburkan segala sesuatu secara keseluruhan, sebab terbukti sampai sekarang langit dan bumi masih utuh. Padahal dalam ayat ini mempergunakan kata “Kull”.
Adapun dalil-dalil yang men-takhshish hadits “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah” riwayat Abu Dawud ini ialah hadits-hadits dan atsar-atsar yang sudah disebutkan dalam dalil-dalil adanya bid’ah hasanah.

  1. Kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah biasanya berkata: “Hadits “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…” yang sudah diriwayatkan oleh Imam Muslim ialah spesial berlaku waktu Rasulullah masih hidup. Adapun sesudah Rasulullah meninggal maka hal tersebut jadi nggak berlaku lagi”.

Jawab:

Di dalam kaedah Ushuliyyah disebutkan:
لاَ تَثْبُتُ الْخُصُوْصِيَّةُ إِلاَّ بِدَلِيْلٍ

“Pengkhususan -terhadap suatu nash- itu nggak boleh ditetapkan kecuali mesti berdasarkan adanya dalil”.
Kita katakan kpd mereka: “Mana dalil yang menunjukan kekhususan tersebut?! Malah sebaliknya, lafazh hadits riwayat Imam Muslim di atas mempertunjukkan keumuman, sebab Rasulullah nggak menjelaskan “Man Sanna Fi Hayati Sunnatan Hasanatan…” (Barangsiapa merintis perkara baru yang baik di masa hidupku…), atau juga nggak menjelaskan: “Man ‘Amila ‘Amalan Ana ‘Amiltuh Fa Ahyahu…” (Barangsiapa mengamalkan amal yang sudah saya lakukan, lalu ia menghidupkannya…). Sebaliknya Rasulullah menjelaskan secara umum: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…”, dan tentunya kita tahu bahwa Islam itu nggak cuma yang ada pada masa Rasulullah saja”.

Kita katakan pula kpd mereka: Berani sekali kalian menjelaskan hadits ini nggak berlaku lagi sesudah Rasulullah meninggal? Berani sekali kalian menghapus bagian hadits Rasulullah?! Apakah tiap-tiap ada hadits yang bertentangan dengan faham kalian maka artinya hadits tersebut mesti di-takhshish, atau mesti di-nasakh (dihapus) dan nggak berlaku lagi?! Ini ialah bukti bahwa kalian memahami ajaran agama cuma dengan didasarkan kpd “hawa nafsu” belaka.

  1. Kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah terkadang berkata: “Hadits riwayat Imam Muslim: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…” karena munculnya ialah bahwa beberapa orang yang amat fakir menggunakan pakaian dari kulit binatang yang dilubangi tengahnya lalu dipakaikan dengan cara memasukkan kepala melalui lubang tersebut. Menyaksikan kondisi tersebut muka Rasulullah berubah dan bersedih. Lalu para sahabat bersedekah dengan harta masing-masing dan mengumpulkannya sampai jadi cukup beberapa, lantas harta-harta itu diberikan kpd orang-orang fakir tersebut. Tatkala Rasulullah menyaksikan kejadian ini, beliau amat suka dan lalu mengucapkan hadits di atas. Artinya, Rasulullah memuji sedekah para sahabatnya tersebut, dan urusan sedekah ini telah maklum keutamaannya dalam agama”.

Jawab:

Dalam kaedah Ushuliyyah disebutkan:
اَلْعِبْرَةُ بِعُمُوْمِ اللَّفْظِ لاَ بِخُصُوْصِ السَّبَبِ

“Yang dijdikan sandaran itu -dalam penetapan dalil itu- ialah keumuman lafazh suatu nash, bukan dari kekhususan sebabnya”.

Dengan seperti ini walaupun hadits tersebut sebabnya spesial, tetapi lafazhnya berlaku umum. Artinya yang mesti dilihat di sini ialah keumuman kandungan makna hadits tersebut, bukan kekhususan sebabnya. Sebab seandainya Rasulullah bermaksud spesial dengan haditsnya tersebut, maka beliau nggak akan menyampaikannya dengan lafazh yang umum. Pandangan orang-orang anti bid’ah hasanah yang mengambil alasan semacam ini tampak amat dibuat-buat dan sungguh amat aneh. Apakah mereka lebih mengetahui agama ini dari pada Rasulullah sendiri?

  1. Sebagian kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah menjelaskan: “Bukan hadits “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah” yang di-takhshish oleh hadits “Man Sanna Fi al-Isalam Sunnatan Hasanah…”.

Tetapi sebaliknya, hadits yang kedua ini yang di-takhshish oleh hadits hadits yang pertama”.

Jawab:

Ini ialah penafsiran “ngawur” dan “seenak perut” belaka. Pandangan semacam itu terang nggak sesuai dengan cara para ulama dalam memahami hadits-hadits Rasulullah. Orang semacam ini sama sekali nggak faham kalimat “’Am” dan kalimat “Khas”. Al-Imam an-Nawawi waktu menerangkan hadits “Man Sanna Fi al-Islam…”, menuliskan selaku berikut:

فِيْهِ الْحَثُّ عَلَى الابْتِدَاءِ بِالْخَيْرَاتِ وَسَنِّ السُّنَنِ الْحَسَنَاتِ وَالتَّحْذِيْرِ مِنَ الأَبَاطِيْلِ وَالْمُسْتَقْبَحَاتِ. وَفِيْ هذَا الْحَدِيْثِ تَخْصِيْصُ قَوْلِهِ صَلّى اللهُ عَليْه وَسَلّمَ “فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ” وَأَنَّ الْمُرَادَ بِهِ الْمُحْدَثَاتُ الْبَاطِلَةُ وَالْبِدَعُ الْمَذْمُوْمَةُ.

“Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk memulai kebaikan, dan merintis perkara-perkara baru yang baik, serta mengingatkan warga dari perkara-perkara yang batil dan buruk. Dalam hadits ini juga terdapat pengkhususan kepada hadits Nabi yang lain, yaitu kepada hadits: “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah”. Dan bahwa sesungguhnya bid’ah yang sesat itu ialah perkara-perkara baru yang batil dan perkara-perkara baru yang dicela”.

As-Sindi menjelaskan dalam kitab Hasyiyah Ibn Majah:

قَوْلُهُ “سُنَّةً حَسَنَةً” أَيْ طَرِيْقَةً مَرْضِيَّةً يُقْتَدَى بِهَا، وَالتَّمْيِيْزُ بَيْنَ الْحَسَنَةِ وَالسَّـيِّئَةِ بِمُوَافَقَةِ أُصُوْلِ الشَّرْعِ وَعَدَمِهَا.

“Sabda Rasulullah: “Sunnatan Hasanatan…” maksudnya ialah jalan yang diridlai dan diikuti. Cara membedakan antara bid’ah hasanah dan sayyi-ah ialah dengan menyaksikan apakah sesuai dengan dalil-dalil syara’ atau nggak”.

Al-Hafizh Ibn Hajar al-’Asqalani dalam kitab Fath al-Bari menuliskan selaku berikut:

وَالتَّحْقِيْقُ أَنَّهَا إِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَحْسَنٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ حَسَنَةٌ، وَإِنْ كَانَتْ مِمَّا تَنْدَرِجُ تَحْتَ مُسْتَقْبَحٍ فِيْ الشَّرْعِ فَهِيَ مُسْتَقْبَحَةٌ.

“Cara mengetahui bid’ah yang hasanah dan sayyi-ah menurut tahqiq para ulama ialah bahwa kalau perkara baru tersebut masuk dan tergolong kpd hal yang baik dalam syara’ artinya termasuk bid’ah hasanah, dan kalau tergolong hal yang buruk dalam syara’ artinya termasuk bid’ah yang buruk” (Fath al-Bari, j. 4, hlm. 253).

Dengan seperti ini para ulama sendiri yang sudah menjelaskan mana hadits yang umum dan mana hadits yang spesial. Kalau sebuah hadits bermakna spesial, maka mereka memahami betul hadits-hadits mana yang mengkhususkannya. Benar, para ulama juga yang mengetahui mana hadits yang mengkhususkan dan mana yang dikhususkan. Bukan semacam mereka yang membikin pemahaman sendiri yang sama sekali nggak di dasarkan kpd ilmu.

Dari penjelasan ini juga dapat diketahui bahwa penilaian kepada sebuah perkara yang baru, apakah ia termasuk bid’ah hasanah atau termasuk sayyi-ah, ialah urusan para ulama. Mereka yang mempunyai keahlian untuk menilai sebuah perkara, apakah masuk kategori bid’ah hasanah atau sayyi-ah. Bukan orang-orang awam atau orang yang menganggap dirinya alim padahal kenyataannya ia nggak paham sama sekali.

  1. Kalangan yang mengingkari bid’ah hasanah menjelaskan: “Bid’ah yang diizinkan ialah bid’ah dalam urusan dunia. Dan definisi bid’ah dalam urusan dunia ini sesungguhnya bid’ah dalam tinjauan bahasa saja. Sedangkan dalam urusan ibadah, bid’ah dalam bentuk apapun ialah sesuatu yang haram, sesat bahkan mendekati syirik”.

Jawab:
Subhanallah al-’Azhim. Apakah berjama’ah di belakang satu imam dalam shalat Tarawih, membaca kalimat talbiyah dengan menambahkan atas apa yang sudah diajarkan Rasulullah seperti yang ditunaikan oleh sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab, membaca tahmid waktu i’tidal dengan kalimat “Rabbana Wa Laka al-Hamd Handan Katsiran Thayyiban Mubarakan Fih”, membaca doa Qunut, melaksanakan shalat Dluha yang dinilai oleh sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar selaku bid’ah hasanah, apakah ini seluruh bukan dalam problem ibadah?

Apakah waktu seseorang menuliskan shalawat: “Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam” atas Rasulullah nggak sedang beribadah? Apakah orang yang membaca al-Qur’an yang ada titik dan harakat i’rab-nya nggak sedang beribadah kpd Allah?! Apakah orang yang membaca al-Qur’an tersebut cuma “bercanda” dan “iseng” saja, bahwa ia nggak akan memperoleh pahala sebab membaca al-Qur’an yang ada titik dan harakat i’rab-nya? Sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar yang nyata-nyata dalam shalat, di dalam tasyahhud-nya menambahkan “Wahdahu La Syarika Lahu”, apakah ia nggak sedang melaksanakan ibadah?!  Hasbunallah.

Lantas dari mana ada pemilahan bid’ah secara bahasa (Bid’ah Lughawiyyah) dan bid’ah secara syara’?! Bukankah waktu sebuah lafazh diucapkan oleh para ulama, yang notebene selaku pembawa ajaran syari’at, maka mesti dipahami dengan makna syar’i dan dinilai selaku haqiqah syar’iyyah?! Bukankah ‘Umar ibn al-Khatththab dan ‘Abdullah ibn Umar mengetahui makna bid’ah dalam syara’, lalu kenapa lantas mereka memuji sebagian bid’ah dan mengatakannya selaku bid’ah hasanah, bukankah itu artinya bahwa kedua orang sahabat Rasulullah yang mulia dan alim ini memahami adanya bid’ah hasanah dalam agama?! Siapa berani menjelaskan bahwa kedua sahabat agung ini nggak pernah menguping hadits Nabi “Kullu Bid’ah Dlalalah”?! Ataukah siapa yang berani menjelaskan bahwa dua sahabat agung nggak memahami makna “Kullu” dalam hadits “Kullu Bid’ah Dlalalh” ini?!

Kita katakan kpd mereka yang anti kepada bid’ah hasanah: “Sesungguhnya sahabat ‘Umar ibn al-Khaththab dan sahabat ‘Abdullah ibn ‘Umar, juga para ulama, sudah sungguh-sungguh mengetahui adanya kata “Kull” di dalam hadits tersebut.

Cuma saja orang-orang yang mulia ini memahami hadits tersebut nggak seperti pemahaman orang-orang Wahhabiyyah yang sempit pemahamannya ini. Para ulama kita tahu bahwa ada beberapa hadits shahih yang kalau nggak dikompromikan maka satu dengan lainnya akan saling bertentangan. Oleh karenanya, mereka mengkompromikan hadits “Wa Kullu Bid’ah Dlalalah” dengan hadits “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan…”, bahwa hadits yang pertama ini di-takhshish dengan hadits yang kedua. Sehingga maknanya jadi: “Tiap-tiap bid’ah Sayyi-ah ialah sesat”, bukan “Tiap-tiap bid’ah itu sesat”.
Pemahaman ini sesuai dengan hadits lainnya, yaitu sabda Rasulullah:

مَنْ ابْتَدَعَ بِدْعَةً ضَلاَلَةً لاَ تُرْضِي اللهَ وَرَسُوْلَهُ كَانَ عَلَيْهِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ (رواه الترمذيّ وابن ماجه)
“Barangsiapa merintis suatu perkara baru yang sesat yang nggak diridlai oleh Allah dan Rasul-Nya, maka ia terkena dosa orang-orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. at-Tirmidzi dan Ibn Majah)

Inilah pemahaman yang sudah dijelaskan oleh para ulama kita selaku Waratsah al-Anbiya’.

  1. Kalangan yang mengingkari adanya bid’ah hasanah menjelaskan: “Perkara-perkara baru tersebut nggak pernah ditunaikan oleh Rasulullah, dan para sahabat nggak pernah melakukannya pula. Seandainya perkara-perkara baru tersebut selaku sesuatu yang baik niscaya mereka sudah mendahului kita dalam melakukannya”.

Jawab:
Baik, Rasulullah nggak melakukannya, apakah beliau melarangnya? Kalau mereka berkata: Rasulullah mencegah secara umum dengan sabdanya: “Kullu Bid’ah Dlalalah”. Kita jawab: Rasulullah juga sudah bersabda: “Man Sanna Fi al-Islam Sunnatan Hasanatan Fa Lahu Ajruha Wa Ajru Man ‘Amila Biha…”.
Bila mereka berkata: Adakah kaedah syara’ yang menjelaskan bahwa apa yang nggak ditunaikan oleh Rasulullah ialah bid’ah yang diharamkan? Kita jawab: Sama sekali nggak ada.

Lalu kita katakan kpd mereka: Apakah suatu perkara itu cuma baru dinilai mubah (boleh) atau sunnah sesudah Rasulullah sendiri yang langsung melakukannya?! Apakah kalian mengira bahwa Rasulullah sudah melaksanakan seluruh perkara mubah?!

Kalau seperti ini halnya, kenapa kalian menggunakan Mushaf (al-Qur’an) yang ada titik dan harakat i’rab-nya? Padahal terang hal itu nggak pernah dibuat oleh Rasulullah, atau para sahabatnya! Apakah kalian nggak tahu kaedah Ushuliyyah menjelaskan:

التَّرْكُ لاَ يَقْتَضِي التَّحْرِيْم

“Meninggalkan suatu perkara nggak  mempertunjukkan bahwa perkara tersebut sesuatu yang haram”.
Artinya, waktu Rasulullah atau para sahabatnya nggak melaksanakan suatu perkara nggak artinya lantas perkara tersebut selaku sesuatu yang haram.

Telah maklum, bahwa Rasulullah berasal dari bangsa manusia, nggak mungkin beliau mesti melaksanakan seluruh hal yang Mubah. Jangankan melakukannya seluruh perkara mubah, menghitung seluruh hal-hal yang mubah saja nggak sanggup ditunaikan oleh seorangpun. Hal ini sebab Rasulullah disibukan dalam menghabiskan sebagian besar waktunya untuk berdakwah, mendebat orang-orang musyrik dan ahli kitab, memerangi orang-orang kafir, melaksanakan perjanjian damai dan kesepakatan gencatan senjata, menerapkan hudud, mempersiapkan dan menyampaikan pasukan-pasukan perang, menyampaikan para penarik zakat, menerangkan hukum-hukum dan lainnya.

Bahkan dengan sengaja Rasulullah kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah sebab takut dinilai wajib oleh ummatnya. Atau sengaja beliau kadang meninggalkan beberapa perkara sunnah cuma sebab kuatir akan memberatkan ummatnya kalau beliau terus melaksanakan perkara sunnah tersebut. Dengan seperti ini orang yang mengharamkan satu perkara cuma dengan alasan sebab perkara tersebut nggak pernah ditunaikan oleh Rasulullah ialah pandangan orang yang nggak mengerti ahwal Rasulullah dan nggak memahami kaedah-kaedah agama.

Kesimpulan

Dari penjelasan yang cukup panjang ini kita dapat mengetahui dengan terang bahwa para sahabat Rasulullah, para tabi’in, para ulama Salaf dan para ulama Khalaf, mereka semuanya memahami pembagian bid’ah kpd dua bagian; bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi-ah. Yang kita sebutkan dalam tulisan ini bukan cuma pandangan dari satu atau dua orang ulama saja, melainkan sekian beberapa ulama dari kalangan Salaf dan Khalaf di atas keyakinan ini. Lembaran buku ini nggak akan cukup bila mesti seluruh nama mereka kita kutip di sini.

Dengan seperti ini bila ada orang yang menyesatkan pembagian bid’ah kpd dua bagian ini, maka artinya ia sudah menyesatkan seluruh ulama dari masa para sahabat Nabi sampai sekarang ini. Dari sini kita menanyakan, apakah lantas cuma dia sendiri yang benar, sementara seluruh ulama tersebut ialah orang-orang sesat? Tentu terbalik, dia sendiri yang sesat, dan para ulama tersebut di atas kebenaran. Orang atau kubu yang “keras kepala” seperti ini hendaklah menyadari bahwa mereka sudah menyempal dari para ulama dan kebanyakan ummat Islam. Adakah mereka merasa lebih memahami al-Qur’an dan Sunnah dari pada para Sahabat, para Tabi’in, para ulama Salaf, para ulama Hadits, Fikih dan lainnya?!   Hasbunallah.

 

You might like

About the Author: admin

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.