Reuni 212 di Mata PKI

Website Islam Institute

Pers Kekinian Indonesia. Seterusnya cukup disingkat PKI — akronim dengan argumentasi semata-semata praktis, bukan komunis, walau yang komunis biasanya suka praktis-praktis.

PKI ialah jurnalisme yang mendurhakai sejarah Pers Indonesia dalam menyikapi kejadian maha-epik Reuni Akbar 212 di Lapangan Monas yang baru lalu.

Berdepan dengan 212, PKI lebih memilih posisi nyamannya selaku haram jadah. Piatu. Tidak bernasab dengan dimensi kesejarahan Pers Indonesia manapun.

PKI bukan cucu-cicit ideologi Tirto Adhi Soeryo, misalnya, yang berbarengan Medan Prijaji (1907) tercatat selaku media ke-1 di Nusantara yang ‘membentuk/mengembangkan pandangan umum’.

Oleh karena itu, meski 10 juta jiwa yang datang menggelorakan aksi Reuni 212 sudah cukup merepresentasikan konsepsi dasar sebuah pandangan umum, PKI takkan pernah memperlihatkan ketertarikan sama sekali.

Persetan defenisi Undang-undang Pers No. 40 Tahun 1999 bahwa pers ialah lembaga sosial. Mereka PKI kok. Istiqamah PKI. Sekali PĶI tetap PKI. Nilai kemerdekaan pers yang diusungnya bukan pada memenuhi hak info publik.

Jadi jangan cemen mengadu domba mazhab ahistoris PKI dalam merespon Reuni 212 itu dengan kelompok-kelompok pemuja airmata martabat pers seperti PWI. Apa sih yang dipunyai PWI? Hari Pers Nasional? Konsideran Keppres No. 5 Tahun 1985? Bahwa pers nasional berutang pada sejarah, terhubung dengan proses pembangunan, pengamal Pancasila?

Betapa Pancasila-nya aksi Reuni 212, toh PKI cuma menepuk lalat di pipi. Padahal ada Tuhan Maha Esa di sana, kemanusiaan indah beradab, bersatu, full hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, tumpah ruah saling mengisi bejana keadilan, PKI tetap tidak peduli.

Ingat. PKI itu mainstream. Arus Inti. Namanya juga arus Inti. Buat apa berhulu-hilir ke sungai kepedihan orang beberapa. Bagi PKI sejati, human communication ialah nonsense.

Sia-sia saja kamu menagih, menggugat, tanggungjawab moral PKI untuk menyediakan kanal spesial dari arus Intinya untuk sekadar memperluas, memperjauh, memperlancar, memperdalam, jangkauan pesan-pesan besar interaksi antar manusia di perjumpaan 212.

PKI punya timeline sendiri. PKI mencret ketawa guling-guling jika kamu bacakan janji Tuhan atas nama timeline-Nya dari Surat Al-Ashr. Benar, tiap-tiap orang itu merugi belaka. Termasuk orang pers. Kecuali orang pers yang punya iman di dadanya, berbuat baik, saling informasi-menginformasikan berita yang haqq, bukan hoax, yang menjunjung tinggi kode etik kesabaran, verifikatif, bukan ucapan kebencian, provokatif. Benar.

Namun itu kan benar kata kau. Rugi menurutmu. Sesuai perspektif 212-mu. Silakan. PKI tidak merasa rugi kok. Malah menang beberapa. Tidak percaya, silakan tanya Kekuasaan. Betul nggak, Kekuasaan? Tuh kan…Kekuasaan aja ora mikir. Njirrr.

Jakarta, 7 Desember 2018

Ramon Damora

Ketua Departemen Seni Budaya
PWI Pusat

(batamxinwen.com/suaraislam)

The post Reuni 212 di Mata PKI appeared first on The Truly Islam.

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.