Pro Kontra Poligami, Pencerahan dari Ustadz Ahmad Sarwat, Lc

Loading...

Pencerahan Bagi yang Berlebihan Pro Poligami dan Berlebihan Kontra Poligami.

Sebelum kita bicara soal pandangan syariah Islam soal poligami, kita wajib pahami terlebih dahulu bahwa poligami sudah ada jauh sebelum zaman kedatangan agama Islam.

Poligami Sudah Ada Sebelum Zaman Nabi SAW

Boleh dibilang bahwa poligami itu tidak semata-mata produk syariat Islam. Jauh sebelum Islam lahir di tahun 610 masehi, peradaban manusia di penjuru jagat sudah mengenal poligami, menjalankannya dan menjadikannya menjadi bagian utuh dari bentuk kehidupan wajar. Bahkan boleh dibilang bahwa tak ada peradaban manusia di jagat ini di masa lalu yang tak mengenal poligami.

Lebih jauh, jika kita buka sejarah umat manusia, sesungguhya peradaban kita sudah mengenal poligami dalam bentuk yang amat mengerikan. Misalnya, seorang laki-laki bisa saja mempunyai tidak cuma 4 isteri, tapi ratusan isteri.

Dalam kitab orang Yahudi perjanjian lama, Daud disebutkan mempunyai 300 orang isteri, baik yang sebagai isteri resminya maupun selirnya. (silahkan baca buku Ruang lingkup Aktivitas Wanita Muslimah, hal. 184 oleh Dr. Yusuf Al-Qaradawi).

Dalam Fiqhus-Sunnah, As-Sayyid Sabiq dengan mengutip kitab Hak-hak Wanita Dalam Islam karya Ustaz Dr. Ali Abdul Wahid Wafi menyebutkan bahwa bila kita runut dalam sejarah, sebenarnya poligami merupakan gaya hidup yang diakui dan berjalan dengan lancar di pusat-pusat peradaban manusia.

Bahkan bisa dikatakan bahwa hampir seluruh pusat peradaban manusia (terutama yang maju dan berusia panjang), telah mengenal poligami dan mengakuinya menjadi sesuatu yang regular dan formal. Para ahli sejarah memperoleh bahwa cuma peradaban yang tak terlalu maju saja dan tak berusia panjang yang tak mengenal poligami.

Bahkan agama Nasrani sekalipun mengenal dan mengajarkan poligami. Tak sama dengan apa yang sering diungkapkan hari ini, akan tetapi Nabi Isa dan para pengikutnya mengajarkan dan mengakui poligami.

Jika juga para pengikut kristiani sekarang ini seolah-olah anti dengan poligami, menurut ahli sejarah, sebab ketika itu penyebaran Nasrani terjadi di Romawi dan Yunani, sementara kedua peradaban ini memang tak mengenal poligami, jadilah akhirnya seolah-olah agama Nasrani itu melarang poligami. Sesuatu yang sebenarnya bertentangan dengan sumber asli ajaran mereka sendiri.

Ustaz As-Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa peradaban maju sebagaimana Ibrani yang melahirkan bangsa Yahudi mengenal poligami. Seperti itu pun dengan peradaban Shaqalibah yang melahirkan bangsa Rusia. Termasuk pun negeri Lituania, Ustunia, Chekoslowakia dan Yugoslavia, semuanya amat mengenal poligami.

Masih ditambah lagi dengan bangsa Jerman, Swis, Saksonia, Belgia, Belanda, Denmark, Swedia, Norwegia dan tak terkecuali, Inggris.

Jadi pandangan bahwa poligami itu cuma produk hukum Islam ialah tak benar. Karena bangsa Arab sebelum masa kedatangan Islam juga mengenal poligami. Dalam bagian hadits disebutkan bahwa ada seorang masuk Islam dan masih mempunyai 10 orang isteri. Lalu oleh Rasulullah SAW diminta untuk memilih empat saja dan selebihnya diceraikan. Beliau bersabda:

Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Pilihlah four orang dari mereka dan ceraikan sisanya.” (HR At-tirmizy1128 danIbnu Majah1953)

Masih menurut beliau, poligami itu tidak cuma milik peradaban masa lalu jagat, tetapi hari ini masih tetap diakui oleh negeri dengan sistem hukum yang tidak Islam sebagaimana Afrika, India, China dan Jepang.

Sehingga jelaslah bahwa poligami ialah produk umat manusia, produk kemanusiaan dan produk peradaban besar jagat. Islam hanyalah bagian yang ikut di dalamnya dengan memberikan batasan dan arahan yang sesuai dengan jiwa manusia.

Islam datang dalam keadaan di mana masyarakat jagat telah mengenal poligami selama ribuan tahun dan telah diakui dalam sistem hukum umat manusia. Bahkan Islam memberikan aturan supaya poligami itu tetap selaras dengan rasa keadilan dan keharmonisan.

Misalnya dengan mensyaratkan adanya keadilan dan kemampuan dalam nafkah. Seperti itu pun Islam sebenarnya tak membolehkan poligami secara mutlak, karena yang dibolehkan cuma sampai empat orang isteri. Dan segudang aturan fundamental lainnya sehingga meski mengakui adanya poligami, akan tetapi poligami yang berkeadilan sehingga melahirkan kesejahteraan.

Barat ialah Pendukung Poligami yang Tak Manusiawi

Dan sekarang sebab masyarakat barat berbagai menganut agama nasrani, ditambah lagi latar belakang budaya mereka yang berangkat dari Romawi dan Yunani kuno, maka mereka juga ikut-ikutan mengharamkan poligami.

Tapi anehnya, sistem hukum dan ethical mereka malah membolehkan perzinahan, homoseksual, lesbianisme dan gonta ganti pasangan suami isteri. Padahal seluruh pasti tahu bahwa poligami jauh lebih beradab dari seluruh itu. Sayangnya, saat ada orang berpoligami dan mengumumkan kepoligamiannya, seluruh ikut merasa jijik, sementara saat hampir seluruh lapisan masyarakat menghidup-hidupkan perzinahan, pelacuran, perselingkuhan, homosek dan lesbianisme, tidak ada satu juga yang berkomentar jelek.

Seluruh seakan kompak dan sepakat bahwa perilaku bejat itu ialah wajar terjadi menjadi bagian dari dinamika kehidupan fashionable.

Dr. Yusuf Al-Qaradawi menjelaskan bahwa pada hakikatnya apa yang dilaksanakan oleh Barat pada hari ini dengan segala bentuk pernizahan yang mereka lakukan tak lain ialah bagian bentuk poligami pun, meski tak dalam bentuk formal.

Dan kenyataaannya mereka memang terbiasa melaksanakan hubungan seksual di luar nikah dengan siapapun yang mereka inginkan. Di tempat kerja, hubungan seksual di luar nikah sebagai sesuatu yang lazim dilaksanakan oleh mereka, bagus dengan sesama teman kerja, atau antara atasan dan bawahan atau juga klien mereka.

Di tempat umum mereka terbiasa melaksanakan hubungan seksual di luar nikah bagus dengan wanita penghibur, pelayan restoran, artis dan selebritis.

Di sekolah juga mereka menganggap wajar bila terjadi hubungan seksual bagus sesama pelajar, antara pelajar dengan guru atau dosen, antar karyawan dan seterusnya. Bahkan di dalam rumaah tangga juga mereka menganggap boleh dilaksanakan dengan tetangga, pembantu rumah tangga, sesama angota keluarga atau dengan tamu yang menginap.

Seluruh itu tidak mengada-ada sebab secara jujur dan polos mereka akui sendiri dan tercermin dalam film-film Hollywood di mana hampir selalu dalam setiap kesempatan mereka melaksanakan hubungan seksual dengan siapa juga.

Jadi peradaban barat membolehkan poligami dengan siapa saja tanpa batas, bisa dengan puluhan bahkan ratusan orang yang berlainan. Dan amat besar kemungkinannya mereka juga telah lupa dengan siapa saja pernah melakukannya sebab saking banyaknya. Dan seluruh itu terjadi seperti itu saja tanpa pertanggung-jawaban, tanpa ikatan, tanpa konsekuensi dan tanpa pengakuan. Apabila terjadi kehamilan, sama sekali tak ada konsekuensi hukum untuk mewajibkan bertanggung-jawab atas perbuatan itu.

Poligami tak formal alias seks di luar nikah itu alih-alih dilarang, malah sebaliknya dilindungi dan dihormati menjadi hak asasi. Lucunya, berbagai negara yang mengharamkan poligami formal yang mengikat dan menuntut tanggung jawab, sebaliknya seks bebas yang tak lain merupakan bentuk poligami yang tak bertanggung jawab malah dibebaskan, dilindungi dan dihormati.

Untuk kasus ini, Syiekh Abdul Halim Mahmud menceritakan sebuah kejadian lucu yang terjadi di sebuah negeri sekuler di benua Afrika. Ada seorang tokoh Islam yang menikah untuk kedua kalinya (berpoligami) secara syah menurut aturan syar`i. Tapi berhubung negeri itu melarang poligami secara tegas, maka pernikahan itu dilaksanakan tanpa melaporkan kepada pemerintah.

Rupanya, inteljen sempat mencium adanya pernikah itu dan seusai melaksanakan pengintaian intensif, dikepunglah rumah tokoh ini dan diseretlah dia ke pengadilan untuk dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Menyaksikan situasi yang timpang sebagaimana ini, maka akal digunakan. Tokoh ini dengan kalem menjawab bahwa wanita yang ada di rumahnya itu tidak isterinya, tapi teman selingkuhannya. Supaya tak ketahuan isteri pertamanya, maka mereka melakukannya diam-diam.

Mendengar pengakuannya, kontan ketika itu pun pihak pengadilan atas nama pemerintah meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalah-pahaman itu. Dan memulangkannya dengan baik-baik serta tak lupa tetap meminta maaf atas insiden itu.

Pandangan Syariah Islam Soal Poligami

Poligami atau dikenal dengan ta`addud zawaj pada dasarnya mubah atau boleh. Tidak wajib pun tidak sunnah (anjuran). Sebab menyaksikan siyaqul-ayah memang mensyaratkan wajib adil. Dan keadilan itu yang tak dipunyai seluruh orang. Allah SAW berfirman:

Dan jika kamu takut tak bakal dapat berlaku adil terhadap perempuan yang yatim, maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tak bakal dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang seperti ini itu ialah lebih dekat kepada tak berbuat aniaya.(QS. An-Nisa: 3)

Jadi syarat utama poligami ialah adil terhadap isteri, bagus dalam nafkah lahir batin, atau juga dalam perhatian, kasih sayang, perlindunganserta alokasi waktu. Jangan sampai salah satunya tak diberi dengan lumayan. Apalagi kesemuanya tak diberi lumayan nafkah, maka hal itu ialah kezaliman.

Sebagaimana hukum menikah yang bisa mempunyai berbagai bentuk hukum, maka seperti itu pun dengan poligami, hukumnya amat ditentukan oleh keadaan seseorang, bahkan tidak cuma keadaan dirinya tetapi pun menyangkut keadaan dan perasaan orang lain, dalam hal ini bisa saja isterinya atau keluarga isterinya. Pertimbangan orang lain ini tak bisa dimentahkan seperti itu saja dan tentunya hal ini amat manusiawi sekali.

Sebab itu kita dapati Rasulullah SAW melarang Ali bin abi Thalib untuk memadu Fatimah yang merupakan putri Rasulullah SAW. Sehingga Ali bin Abi Thalim tak melaksanakan poligami.

loading...

Jika hukum poligami itu sunnah atau dianjurkan, maka apa yang dilaksanakan oleh Rasulullah SAW untuk melarang Ali berpoligami bakal bertentangan.

Selain itu yang sudah sebagai syarat paling utama dalam pertimbangan poligami ialah masalah kemampuan finansial. Biar bagaimana juga saat seorang suami memutuskan untuk menikah lagi, maka yang wajib pertama kali terlintas di kepalanya ialah masalah tanggung jawab nafkah dan kebutuhan hidup untuk dua keluarga sekaligus. Nafkah tentu saja tak berhenti sekedar bisa memberi makan dan minum untuk isteri dan anak, tapi lebih dari itu, bagaimana dia merencakan anggaran kebutuhan hidup sampai kepada masalah pendidikan yang layak, rumah dan seluruh kebutuhan lainnya.

Ketentuan keadilan sebenarnya pada garis-garis umum saja. Sebab bila seluruh mau ditimbang secara element pastilah tak mungkin berlaku adil secara empiris. Sebab itu dibuatkan garis-garis besar sebagaimana maslaah pembagian jatah menginap. Menginap di rumah isteri wajib adil. Misalnya sehari di isteri tua dan sehari di isteri muda. Yang dihitung ialah malamnya atau menginapnya, tidak hubungan seksualnya. Sebab jika sampai hal yang terlalu mendetail wajib dibuat adil pun, bakal kerepotan menghitung dan menimbangnya.

Secara fithrah umumnya, kebutuhan seksual laki-laki memang lebih tinggi dari wanita. Dan secara faal, kemampuan seksual laki-laki memang dirancang untuk bisa memperoleh frekuensi yang lebih besar dari pada wanita.

Nafsu birahi setiap orang itu berbeda-beda kebutuhannya dan cara pemenuhannya. Dari sudut pandang laki-laki, masalah kehausan nafsu birahi sedikit berbagai dipengaruhi kepada kepuasan hubungan seksual dengan isteri. Bila isteri sanggup memberikan kepuasan skesual, secara umum kehausan itu bisa terpenuhi dan sebaliknya bila kepuasan itu tak didapat, maka kehausan itu bisa-bisa tidak terobati. Akhirnya, menikah lagi sering sebagai alternatif jalan penyelesaian.

Umumnya laki-laki memerlukan kepuasan seksual bagus dalam kualitas maupun kuantitas. Tapi umumnya kepuasan kualitas lebih dominan dari pada kepuasan secara kuantitas. Bila terpenuhi secara kualitas, umumnya sudah bisa dirasa lumayan. Sedangkan pemenuhan dari sisi kuantitas saja sering tak terlau berarti bila tak disertai kualitas, bahkan mungkin saja sebagai sekedar rutinitas kosong. Lagi-lagi menikah lagi sering sebagai alternatif jalan penyelesaian.

Secara fisik, terkadang memang ada pasangan yang agak ekstrim. Di mana suami mempunyai kebutuhan kualitas dan kuantitas lebih tinggi, sementara pihak isteri tidak cukup sanggup memberikannya bagus dari segi kualitas dan pun kuantitas. Ketidak-seimbangan ini mungkin saja terjadi dalam satu pasangan suami isteri. Tapi biasanya solusinya ialah penyesuaian diri dari masing-masing pihak. Di mana suami berusaha mengurangi dorongan kebutuhan untuk kepuasan secara kualitas dan kuantitas. Dan sebaliknya isteri berusaha meningkatkan kemampuan pelayanan dari kedua segi itu. Nanti keduanya bakal bertemu di satu titik.

Tapi kasus yang ekstrim memang mungkin saja terjadi. Suami mempunyai tingkat dorongan kebutuhan yang melebihi rata-rata, sebaliknya isteri mempunyai kemampuan pelayanan yang bahkan di bawah rata-rata. Dalam kasus sebagaimana ini memang sulit untuk mencari titik temu. Sebab hal ini merupakan fithrah alamiah yang ada seperti itu saja pada masing-masing pihak. Dan kasus sebagaimana ini ialah alasan yang paling logis dan masuk akal untuk terjadinya penyelewengan, selingkuh, prostitusi, pelecehan seksual dan perzinahan.

Sehingga jauh-jauh hari Islam sudah mengantisipasi bisa jadi terjadinya fenomena ini dengan membuka pintu untuk poligami dan menutup pintu ke arah zina. Dari pada zina yang merusak nilai kemanusiaan dan harga diri manusia, lebih bagus kebutuhan itu disalurkan lewat jalur formal dan authorized. Yaitu poligami.

Dan kenyataanya, angka kasus sejenis lumayan berbagai. Tapi antisipasinya sering terlihat tidak cukup cerdas bahkan mengedepankan ego. Hukum agama nasrani jelas-jelas melarang poligami yang authorized. Seperti itu pun hukum positif di berbagai negeri umumnya cenderung menganggap poligami itu tak bisa diterima. Apalagi hukum non formal yang berbentuk penilaian masyarakat yangumumnya pun menganggap poligami itu hina dan buruk.

Secara tak sadar semuanya lebih memaklumi jika dalam kasus sebagaimana yang kita bicarakan ini, solusinya ialah ZINA dan tidak poligami. Nah, inilah terjungkir baliknya nilai-nilai agama yang dikalahkan dengan rasa dan selera subjektif hawa nafsu manusia.

Berlebihan Dalam Memahami Masalah Poligami dalam Islam

Ada orang yang terlalu berlebihan dalam memahami kebolehan poligami dalam Islam. Dan sebaliknya, ada kalangan yang berusaha menghalang-halangi terjadinya poligami dalam Islam, meski tak sampai menolak syariatnya.

a. Pihak yang Berlebihan

Menurut kalangan ini, poligami ialah perkara yang amat utama untuk dikerjakan bahkan merupakan sunnah muakkadah dan pola hidup Rasulullah SAW. Kemana-mana mereka selalu mendengungkan poligami sampai seolah hamir mendekati wajib.

Pemahaman keliru sebagaimana itu sering menggunakan ayat poligami yang memang bunyinya seolah sebagaimana mendahulukan poligami dan bila tak sanggup, barulah beristri satu saja. Istilahnya, poligami dulu, jika tak sanggup, baru satu saja.

Maka kawinilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tak bakal dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang seperti ini itu ialah lebih dekat kepada tak berbuat aniaya.(QS. An-Nisa: 3)

Padahal makna ayat itu sama sekali tak seperti ini. Sebab meski sepintas ayat itu kelihatan mendahulukan poligami lebih dahulu, tapi dalam kenyataan hukum hasil dari istinbath para ulama dengan membandingkannya dengan dalil-dalil lainnya menunjukan bahwa poligami merupakan jalan keluar atau rukhshah (bentuk keringanan) atas sebuah kebutuhan. Tidak menduduki posisi utama dalam masalah pernikahan.

Alasan supaya tak jatuh ke dalam zina ialah alasan yang ma`qul (logis) dan amat bisa diterima. Sebab Allah SWT memang memerintahkan supaya seorang mukmin menjaga kemaluannya. Allah SWT berfirman:

Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, (QS. Al-Mukminun: 5)

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman,”Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang seperti ini itu ialah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)

Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, (QS. Al-Ma`arij: 29)

Bila satu isteri saja masih belum bisa menahan gejolak syahwatnya, sementara secara nafkah dia sanggup berbuat adil, bolehlah seseorang untuk menikah lagi dengan niat menjaga agamanya. Tidak sekedar memuaskan nafsu syahwat saja.

Bentuk kekeliruan yang lain ialah rasa terlalu optimis atas kemampuan menanggung beban nafkah. Padahal Islam tetap menutut kita berlaku logis dan penuh perhitungan. Memang rezeki itu Allah SWT yang memberi, tapi rezeki itu tak datang seperti itu saja.

Bahkan untuk orang yang baru pertama kali menikah juga, Rasulullah SAW mensyaratkan wajib punya kemampuan finansial. Dan bila belum sanggup, maka hendaknya berpuasa saja.

Jangan sampai seseorang yang penghasilannya senin kamis, tapi berlagak bak seorang saudagar kaya yang setiap hari isi pembicaraannya tak lepas dari urusan taaddud. Ini papar amatnjomplang`, jauh asap dari api.

b. Pihak yang Mencegah Poligami

Di sisi lain, ada kalangan yang menentang poligami atau paling tak tidak cukup bersimpati terhadap poligami. Mereka juga sibuk membolak balik ayat Al-Quran Al-Karim dan Sunnah Rasulullah SAW untuk mencari dalih yang bisa melarang atau minimal memberatkan jalan menuju poligami.

Misalnya dengan mengikat seorang suami untuk janji tak menikah lagi saat melangsungkan pernikahan pertamanya. Janji itu diqiyaskan dengan sighat ta’liq yang bila dilanggar maka isterinya diceraikan.

Menanggapi hal ini, para ulama tak sama pandangan soal syarat tak boleh melaksanakan poligami bagi suami yang diusulkan oleh isterinya pada ketika aqad nikah. Apakah pensyaratan tersebut dibolehkan atau tak?

Sebahagian ulama menyatakan bahwa pensyaratan tersebut diperbolehkan, sedangkan yang lain berpendapat hal tersebut dimakruhkan tetapi tak haram. Sebab dengan adanya pensyaratan tersebut maka suami bakal merasa terbelenggu yang pada akhirnya bakal menimbulakn hubungan yang tidak cukup harmonis di antara keduanya.

Bentuk lainnya dari usaha menelikung poligami dalam Islam, dikatakan bahwa Rasulullah SAW tak pernah melaksanakan poligami kecuali cuma kepada janda saja. Tak pernah kepada wanita yang perawan. Memang saat menikahi Aisyah ra, standing Rasulullah SAW ialah seorang duda yang ditinggal mati isterinya.

Dalam menjawab masalah ini, sebenarnya syarat wajib menikahi wanita yang berstatus janda bukanlah syarat untuk poligami. Meskipun Rasulullah SAW memang lebih berbagai menikahi janda ketimbang yang masih gadis. Tapi hal itu terpulang kepada pertimbangan teknis di masa itu yang umumnya untuk memuliakan para wanita atau mengambil hati tokoh di belakang wanita itu.

Pertimbangan ini tak sebagai syarat untuk poligami secara baku dalam syariat Islam.

Sebagian kalangan pun ingin menghalangi poligami dengan dasar bahwa syarat berlaku adil dalam Al-Quran Al-Karim ialah sesuatu yang tak mungkin bisa dilaksanakan. Dengan seperti ini, maka poligami dilarang dalam Islam.

Padahal, meski ada ayat yang seperti ini, yang dimaksud dengan “keadilan tak dapat dilaksanakan” ialah keadilan yang bersifat menyeluruh baik materi maupun ruhiyah. Sementara keadilan yang dituntut dalam sebuah poligami cuma sebatas keadilan secara sesuatu yang bisa diukur dan lebih bersifat materi. Sedangkan masalah cinta dalam dada, amat sulit untuk ditandai.

Tapi seperti ini, Rasulullah SAW mengancam orang yang berlaku tak adil kepada isterinya dengan ancaman berat.

loading...

Dishare dari Ust Ahmad Sarwat, Lc. via Rumahfiqih.com

Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :