Jasa Web Alhadiy
Uncategorized

Pro-kontra Maulid Nabi SAW

Pro Kontra Maulid Nabi Saw Pada Tahun ini, hari lahir Nabi Muhammad Saw akan jatuh pada tanggal 26 Februari (12 Rabi’u Awwal 1431 H). Sudah menjadi tradisi Ummat Islam Pecinta Rasulullah SAW di seluruh dunia, sejak berabad-abad yang lampau, bila bulan kelahiran Nabi Muhammad tiba selalu diadakan Peringatan Maulid Nabi SAW.  Bahkan di Indonesia, acara peringatan maulid nabi biasanya masih semarak diselenggarakan hingga 2 bulan berikutnya. Khususnya di Jakarta dan sekitarnya, biasanya masih ada acara Maulid hingga di bulan Jumadil Ula. Itu berarti 3 bulan setelah hari lahir Nabi SAW. Betapa dahsat gema peringatan hari lahir Sang Nabi yang mulia ini. Oleh karena itu, sejak hari ini saya menyongsong kehadiran bulan maulid dengan menurunkan sebuah tulisan bertema maulid Nabi SAW, sebagai ekspresi cinta kepada Rasulullah SAW.

Tentu saja saya sangat gembira, terharu, bangga dan bersukur atas hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Bagaimana tidak, pada hari itu telah lahir seorang bayi suci yang di kemudian hari diangkat menjadi Rasul Allah SWT. Yang dengan kerasulan beliau maka saya sekarang menjadi Ummatnya, dan ini memiliki makna dan harapan yang sangat luas. Itulah kenapa saya merasa sangat beruntung dan bahagia lahir batin, baik secara duniawi maupun ukhrowi. Kebahagiaan seperti ini akan sulit digambarkan, karena ia terukir sangat indah dan mendalam dalam hati sanubari. Hanya para pecinta Nabi Saw saja yang bisa menikmati betapa lezatnya, sehingga kami bisa tergetar dan menangis.

maulid nabi

Di tengah-tengah kebahagiaan Ummat Muhammad menyambut hari kelahiran Nabinya, rupanya ada juga mereka yang justru sebaliknya. Mereka tidak gembira, tidak bahagia, bahkan dengan keras memusuhi alias tidak rela ketika ada Ummat Islam merasakan kebahagiaan yang begitu kompleks saat-saat memperingati Maulid Nabi SAW. Didukung berbagai dalil dan hujjah khas mereka, dengan lantang penuh keberanian memvonis bahwa acara peringatan Maulid Nabi SAW adalah perbuatan sia-sia dan bid’ah munkarot yang berarti para pelakunya akan masuk neraka! (Ya Allah…, bukankah kami mengekspresikan sebagian dari sisi-sisi cinta kepada Rasul-Mu? Maka kami berlindung kepada-Mu dari siksa nereka-Mu).

Hujjah Versi Kontra Maulid Nabi Saw

Menurut orang-orang yang menentang Peringatan Hari Maulid Nabi Saw, mereka merujuk pada sumber-sumber sejarah yang menceritakan bahwa, di Mesir ada sekelompok pendukung Fathimah putri Nabi. Mereka menyebut kelompok ini sebagai  Fathimiyyin (Fathimiyyin terkadang menjadi sebutan yang dimaksudkan untuk mencela, sebagaimana orang-orang ini selalu menyebut kuburiyyin untuk mencela  ummat Islam yang  berziarah kubur)). Adalah Fathimiyyin yang pertama kali mengadakan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw. Mereka mengadakan peringatan secara besar-besaran, seraya membagi-bagikan aneka makanan.

Di samping memperingati kelahiran Nabi, mereka juga memperingati hari-hari kelahiran keluarga “Ahlul Bait” (orang-orang ini suka memberi tanda petik pada kata Ahlul Bait Nabi saw, yang menyiratkan mereka kurang percaya tentang adanya Ahlul Bait di Zaman ini).

Inilah kenyataan sejarah menurut mereka, yang menjadikan sebagian ulama fiqh menolak peringatan Nabi saw. Mereka  memasukkan katagori bid’ah dalam urusan agama yang tidak ada dasar hukumnya. Rasulullah saw. tidak pernah memperingati hari kelahirannya sepanjang hidupnya, begitu juga para sahabat dan tabi’in.

“Barangsiapa yang membuat hal baru dalam urusan agama kami yang tidak ada dasar hukumnya, maka ia tertolak.” Artinya tidak termasuk dari ajaran Islam.

Para penentang Peringatan Hari Maulid Nabi Saw juga bersandar pada praktek perayaan maulid ketika masa Fathimiyyin. Bahwa menurut mereka lebih cenderung berlebihan dalam menyebarkan ajaran syi’ah. Tujuan dari peringatan ini, sebagaimana yang dilihat oleh ahli fiqh sekaligus da’i, Abdul Karim Al Hamdan, adalah penyebaran aqidah syi’ah dengan kedok cinta keluarga Nabi dan disertai dengan praktek-praktek yang tidak diperbolehkan hukum. Seperti berlebihan di dalam menghormati pemimpin dengan cara-cara sufiestik yang sudah menjurus pada kultus individu, berdo’a kepada selain Allah, bernadzar kepada selain Allah SWT.

Menurut para penentang Maulid Nabi, ini adalah bentuk-bentuk peringatan maulid Nabi semenjak kelompok Fathimiyyin sampai sekarang menurut orang-orang ini. Sama halnya baik di Mesir atau di belahan dunia Islam lainnya.

Mereka menukil  fatwa Muhammad bin ‘Abdus Salam Khodr Asy-Syuqairy yang mengatakan, “Bulan Rabiul Awal ini tidaklah dikhususkan dengan shalat, dzikir, ibadah, nafkah, atau sedekah tertentu. Bulan ini bukanlah bulan yang didalamnya terdapat hari besar Islam seperti berkumpul-kumpul dan adanya ‘Ied sebagaimana digariskan oleh syari’at… Bulan ini memang hari kelahiran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sekaligus pula bulan ini adalah waktu wafatnya beliau. Bagaimana seseorang bersenang-senang dengan hari kelahiran sekaligus juga dengan hari kematiannya? Jika hari kelahiran beliau dijadikan perayaan, maka itu termasuk perayaan yang bid’ah munkar. Tidak ada dalam syari’at maupun dalam akal yang membenarkan hal ini.”

“Jika dalam maulid terdapat kebaikan, lalu mengapa perayaan ini tidak dilaksanakan oleh Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan sahabat lainnya? Tidak diragukan lagi bahwa perayaan yang diada-adakan ini adalah kelakuan orang-orang sufi, orang-orang yang serakah pada makanan, orang-orang yang gemar menyia-nyiakan waktu dengan permainan, dan pengagung bid’ah!” Demikian orang-orang yang anti Mauilid selalu menebar vonis jahatnya kepada para pelaku Peringatan Maulid Nabi SAW.

Sudah Memvonis, Mereka masih menambah pertanyaan yang lebih aneh semisal: “Faedah apa yang bisa diperoleh? Pahala apa yang bisa diraih dari penghamburan harta yang memberatkan?” Selalu itulah pertanyaan khas mereka, yang justru mengungkap siapakah sejatinya mereka itu. Sangat jelas menunjukkan, pertanyaan ini tidak akan keluar kecuali dari mulut orang-orang yang bakhil! Penghamburan harta kata mereka, sungguh ganjil persangkaan mereka ini. Sebab menurut pandangan kami dan yang benar-benar kami rasakan, semua harta dan segala sesuatunya tidak memberatkan bagi kami, justru kami antusias (baca: ikhlas) dengan pengorbanan harta ini. Lihatlah faktanya, jangan asal menuduh berdasar persangkaan imajinatif orang-orang bakhil.

Jawaban Pro Maulid Nabi Saw

Mengenai Hari Peringatan Maulid Nabi di Indonesia, ada baiknya kita merujuk pada amanat Presiden Sukarno pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, tanggal 6 Agustus 1963 (Penerbitan Sekretariat Negara No.618/1963):

Sore-sore saya dibawa oleh Presiden Suriah Sukri al-Kuwatly ke makam Salahuddin. Lantas Presiden Kuwatly bertanya kepada saya, apakah Presiden Sukarno mengetahui siapa yang dimakamkan di sini? Saya berkata, saya tahu, of course I know. This is Salahuddin, the great warrior, kataku. Presiden Kuwatly berkata, tetapi ada satu jasa Salahuddin yang barangkali Presiden Sukarno belum mengetahui. What is that, saya bertanya. Jawab Presiden Kuwatly, Salahuddin inilah yang mengobarkan Api Semangat Islam, Api Perjuangan Islam dengan cara memerintahkan kepada umat Islam supaya tiap tahun diadakan perayaan Maulid Nabi.

Jadi Salahuddin, saudara-saudara, sejak Salahuddin tiap-tiap tahun umat Islam memperingati lahirnya, dan dikatakan oleh Pak Mulyadi tadi, juga wafatnya Nabi Muhammad SAW. Peringatan Maulid Nabi ini oleh Salahuddin dipergunakan untuk membangkitkan Semangat Islam, sebab pada waktu itu umat Islam sedang berjuang mempertahankan diri terhadap serangan-serangan dari luar pada Perang Salib. Sebagai strateeg besar, saudara-saudara, bahkan sebagai massapsycholoog besar, artinya orang yang mengetahui ilmu jiwa dari rakyat jelata, Salahuddin memerintahkan tiap tahun peringatilah Maulid Nabi.

Sebagaimana dijelaskan dalam amanat Bung Karno, peringatan Maulid Nabi untuk pertama kalinya dilaksanakan atas prakarsa Sultan Salahuddin Yusuf al-Ayyubi (memerintah tahun 1174-1193 Masehi atau 570-590 Hijriyah) dari Dinasti Bani Ayyub, yang dalam literatur sejarah Eropa dikenal dengan nama “Saladin”. Meskipun Salahuddin bukan orang Arab melainkan berasal dari suku Kurdi, pusat kesultanannya berada di Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.

Pada masa itu Dunia Islam sedang mendapat serangan bertubi-tubi dari berbagai bangsa Eropa (Perancis, Jerman, Inggris). Inilah yang dikenal dengan Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 laskar Eropa merebut Jerusalem dan mengubah Masjid al-Aqsa menjadi gereja! Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan (jihad) dan persaudaraan (ukhuwah), sebab secara politis terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan, meskipun Khalifah tetap satu, yaitu Bani Abbas di Baghdad, sebagai lambang persatuan spiritual.

Nah, ketika itu, Maulid Nabi atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancis, Jerman, dan Inggris. Kita mengenal musim itu sebagai Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 M tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam terpecah-belah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu khalifah tetap satu dari Dinasti Bani Abbas di kota Baghdad sana, namun hanya sebagai lambang persatuan spiritual.

Adalah Sultan Salahuddin Al-Ayyubi –orang Eropa menyebutnya Saladin, seorang pemimpin yang pandai mengena hati rakyat jelata. Salahuddin memerintah para tahun 1174-1193 M atau 570-590 H pada Dinasti Bani Ayyub –katakanlah dia setingkat Gubernur. Pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. Kata Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal kalender Hijriyah, yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kini harus dirayakan secara massal.

Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari khalifah di Baghdad yakni An-Nashir, ternyata khalifah setuju. Maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 H (1183 Masehi), Salahuddin sebagai penguasa haramain (dua tanah suci, Mekah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji, agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera menyosialkan kepada masyarakat Islam di mana saja berada, bahwa mulai tahun 580 Hijriah (1184 M) tanggal 12 Rabiul-Awal dirayakan sebagai hari Maulid Nabi dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam.

Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid`ah yang terlarang.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzanji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan Maulid Nabi.

Barzanji bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Nama Barzanji diambil dari nama pengarang naskah tersebut yakni Syekh Ja’far al-Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul ‘Iqd Al-Jawahir (artinya kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Tapi kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya.

Ternyata peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583 H) Yerusalem direbut oleh Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa menjadi masjid kembali, sampai hari ini.

 

Mengapa Kita Memperingati Maulid Nabi SAW?

Dalam sudut pandang yang proporsional, Dr. Muhammad Alawi Al Maliki Al Hasani, seorang ahli fiqh bermazhab Maliki, memandang bolehnya memperingati maulid Nabi saw. dengan diisi kegiatan yang bertujuan mendengarkan sejarah perjalanan hidup Nabi saw. dan memperdengarkan pujian-pujian terhadapnya. Ada kegiatan memberi makan, menyenangkan dan memberi kegembiraan terhadap umat Islam. Tetapi beliau menekankan jangan ada  pengkhususan peringatan pada malam hari tertentu, karena itu termasuk katagori bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam agama. Itulah kenapa di Indonesia acara ini masih terus bergema hingga 3 bulan berikutnya.

Riwayat dari Rasulullah saw, bahwa beliau mengagungkan hari kelahirannya, beliau bersyukur kepada Allah pada hari itu, atas nikmat diciptakan dirinya di muka bumi dengan membawa misi rahamatan lil’alalmin, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Ketika Rasulullah saw. ditanya tentang sebab beliau berpuasa pada hari Senin dalam setiap pekan, beliau bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, (??? ??? ??? ????). “Itu hari, saya dilahirkan.”

Terkait argumentasi bahwa para sahabat dan tabi’in tidak melaksanakan maulid, Dr Muhammad Alawi Al Hasani mengatakan: “Apa yang tidak dikerjakan oleh salafus shaleh generasi awal Islam, tidak otomatis menjadi bid’ah yang tidak boleh dikerjakan. Justru perlu dikembalikan kepada persoalan aslinya, yaitu sesuatu yang membawa mashlahat secara syar’i menjadi wajib hukumnya, sebaliknya sesuatu yang menjerumuskan kepada haram, maka hukumnya haram.”

Menurut padangan Dr. Muhammad Alawi Al Hasani, jika memperingati maulid Nabi membawa mashlahat secara syar’i, maka hukumnya dianjurkan, karena di dalamnya ada kegiatan dzikir, sedekah, memuji Rasul (dalam acara Maulid kaum muslimin banyak bershalawat kepada Nabi Saw), memberi makan fakir-miskin, dan kegiatan lainnya yang diperbolehkan karena membawa manfaat.  Wallhu a’lam.

Oleh: Ellifa Fauziah

Simpan

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

6 Comments

  1. ana hanya akan menanggapi perkataan Syaikh Al Alawi Al Maliki bahwa perayaan maulid nabi merupakan sebuah maslahat.

    Syaikh Al Islam Ibnu Taimiyyah berkata: “Setiap perkara yang faktor pendorong untuk melakukannya di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu ada dan mengandung suatu maslahat, namun beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya, maka ketahuilah bahwa perkara tersebut bukanlah maslahat. Namun, apabila faktor tersebut baru muncul setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dan hal itu bukanlah maksiat, maka perkara tersebut adalah maslahat.” (Iqtidho’ Shirotil Mustaqim, 2/101-103)

    ana ambil 2 contoh kasus untuk membedakan antara bid’ah dengan maslahat.

    dawawin (kantor administrasi tentara) tidak ada di zaman Rosululloh dan Abu Bakar. hal ini baru ada pada masa Umar Ibnu Al Khoththob. adakah yang menghalangi Rosululloh dan Abu Bakar untuk mendirikan dawawin?

    ada, yakni karena jumlah kaum muslimin pada masa Rosululloh sangat sedikit, sehingga tidak sulit untuk membagi ghonimah. sedangkan pada masa Abu Bakar, justru jumlah kaum muslimin semakin sedikit karena banyak orang yang murtad. sedangkan pada masa Umar, jumlah kaum muslimin sangat besar. beliau juga melakukan penakhlukan di berbagai negeri. sehingga akan sangat sulit untuk menentukan siapa2 yang berhak mendapatkan ghonimah dan berapa jumlah yang berhak diterima masing2.

    maka mendirikan kantor dawawin adalah perkara maslahat.

    bandingkan dengan adzan sholat ‘ied! adakah hal yang menghalangi bagi Rosululloh dan para sahabat untuk mengerjakannya? jika adzan untuk sholat lain saja tidak ada penghalang, maka adzan untuk sholat ‘ied juga tidak ada penghalang. tetapi kenapa Rosululloh dan para sahabat tidak mengerjakannya?

    jika tidak ada, maka adzan sholat ‘ied merupakan perkara bid’ah.

  2. itulah Bid’ah tadi,,,,
    membuat atau menambah suatu ibadah yg tidak bersumber dan tidak dicontohkan Nabi Muhammad SAW.
    apalah bedanya kalu begitu dengan kelahiran yesus yg dirayakan umat nasrani???????
    ==========================================

    ADMIN@
    Beda jauh, karena yesus dianggap tuhan oleh nasrani. Sedangkan Nabi Muhammad Saw, dari dulu sampai hari ini tidak ada ummatnya yang menganggap beliau sebagai Tuhan, melainkan beliau adalah Rasul Allah Swt.

    Maulid Nabi memang bid’ah, Tapi bid’ah hasanah.

  3. ikut nimrung ahhh
    Tuah Abdullah ga usahhh di samain donk dengan agama lain….heheheheh
    kan dah jelas agama mu ya agama mu….agamaku ya agamaku…heeheheh

    Kalo ga suka sama maulid ya ga usah baca n ikut …knapa harus repot…….
    kalo ngomog bid’ah mah banyak …..ge sehh senegng sama maulid pa lagi malem minggu ….dari pada nongkrong ga jelassss….tauan maulid…heehehe

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: