Pro Khilafah dan ISIS Tunggangi Gerakan #2019GantiPresiden

Pro Khilafah dan ISIS Tunggangi Gerakan #2019GantiPresiden

Pro Khilafah dan ISIS Tunggangi Gerakan #2019GantiPresiden

JAKARTA – Sejumlah pihak menduga keterkaitan antara aksi #2019GantiPresiden dengan gerakan khilafah dan pro ISIS di Indonesia. Direktur Pelaksana Pusat Kajian Radikalisme dan Deradikalisasi (Ahli) Adhe Bhakti, menilai keterlibatan kubu pro ISIS di Indonesia dengan menyokong gerakan #2019GantiPresiden bukanlah untuk memperjuangkan demokrasi itu sendiri. Akan tetapi sekadar menunggangi demokrasi untuk maksud akhirnya mengganti sistem pemerintahan dan bernegara.

Adhe menceritakan, kubu pro ISIS Bekasi pimpinan Abu Nusaibah Ikut datang dalam aksi 411 soal penistaan agama yang dilaksanakan Ahok. Tetapi kehadiran mereka disebut Adhe bukan sebab peduli soal penistaan agama atau pilkada DKI Jakarta waktu itu.

BacaYenny Wahid: Gerakan Ganti Presiden, Itu Makar.

“Tetapi mereka concern kalau terjadi chaos dan rusuh, mereka akan merebut senjata dari polisi dan pasukan yang berjaga. Karena revolusi, pergantian kekuasaan atau kerusuhan untuk itu cuma sanggup dilaksanakan tatkala mereka telah sanggup menguasai persenjataan. Inilah yang akan berbahaya kalau gerakan ini digunakan oleh kubu pro ISIS,” beber Adhe.

Di menerangkan ISIS ialah kubu teroris dengan mempergunakan agama selaku kedok. Kubu ini berdiri dan menyebar ke belahan dunia, termasuk ke Indonesia semenjak 2014. Di Indonesia, para pendukungnya menyebut dirinya selaku Jamaah Ansharut Daulah (JAD) atau Jamaah Ansharut Khilafah (JAK). Para anggotanya terlibat aksi aksi anarkis dan terorisme semenjak 2014. Dari mulai menghabisi member polisi, masarakat umum, tempat ibadah dan yang lainnya dengan cara aksi bom Kendat.

“Pada Mei 2018, para penyokong ISIS melaksanakan kerusuhan di rutan Mako Brimob dengan cara mengorok leher bagian member polisi dengan mempergunakan pecahan kaca. Selepas itu, mereka melaksanakan penyerbuan pada member polisi dengan cara aksi bom Kendat seperti terjadi di Surabaya,” bebernya.

Loading...
loading...

BacaSenator AS: MI6 Inggris Siapkan Serbuan Kimia di Suriah.

Adhe mengatakan dengan tegas, kubu ISIS ialah kubu anti demokrasi. Jadi mereka tidak ikut dalam proses demokrasi seperti melaksanakan pencoblosan di bilik suara. Karena bagi mereka, siapa saja pemerintah yang tidak mempergunakan hukum Al-Quran ialah thagut, walaupun pemimpinnya beragama Islam.

Tidak cuma itu, meski pemerintahan tersebut telah mempergunakan dengan hukum Islam seperti Negara-negara di Timur Tengah, tapi dinilai tidak sesuai dengan aliran keagamaan mereka, juga disebut murtad dan juga thagut.

Dan Indonesia, lanjut dia, termasuk negara yang dipercayai selaku negara thagut itu. Oleh sebab itu wajib diperangi dan melaksanakan Bughot dengan cara teror.

“Mereka melaksanakan terror itu punya tujuan untuk melemahkan pemerintah Indonesia untuk lantas tatkala terjadi pelemahan, mereka akan bergerak membikin huru hara demi merebut kekuasaan,” ulasnya.

Pada titik itulah gerakan aksi #2019GantiPresiden digunakan oleh kubu itu untuk memperoleh Kesempatan Baik. “Bukan pertama-tama untuk demokrasi itu sendiri, tapi untuk mencapai maksud akhir mereka mengganti sistem yang ada di Indonesia waktu ini,” tandasnya. [ARN]


Source by Samsul Anwar

loading...

You might like

About the Author: Samsul Anwar

KOLOM KOMENTAR ANDA :