Politik Bendera dan Bendera Politik

HTI dan Tipu-tipu Bendera Tauhid

Politik Bendera dan Bendera Politik

Ilustrasi

Syahdan…

Perang sipil atau perang saudara di antara ummat Islam terjadi 2 kali di jaman Khalifah Ali r.a, yaitu Perang Jamal dan Perang Shiffin. Penyebabnya ialah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan yang mengakibatkan kemarahan sebagian muslim. Hal ini lalu menjadikan retaknya persatuan di antara ummat Islam yang sudah dirintis oleh Rasulullah. Hal ini membikin Muawiyah, yang Adalah Gubernur Syam waktu itu, tidak mau berbaiat ke Khalifah Ali dan akhirnya menyebabkan pecahnya Perang Shiffin. Ini ialah Bughot terang-terangan pada pemerintah yang sah, yaitu Khalifah Ali, pada waktu itu.

Muawiyah ialah politikus yang amat licin dan mempunyai ambisi besar. Kata-katanya lemah halus dan terkenal dermawan. Ini membuatnya jadi politikus yang dihormati dan mempunyai beberapa sekutu. Muawiyah Tidak mau berbaiat ke Ali dan menuntut qisas supaya para pembunuh Utsman ditumpas atau Ali menyerahkan para pembunuh tersebut lebih dahulu. Kalau Ali tidak memenuhi permintaan ini maka Muawiyah dan sekutunya akan memerangi Ali dan Tidak mau berbaiat kepadanya.

Pokoknya mereka menuntut untuk menghabisi semua pembunuh Utsman tanpa sisa lebih dahulu sedangkan Ali, meski setuju untuk menyelidiki tindakan mematikan ini, memprioritaskan persatuan ummat Islam lebih dahulu baru menjalankan qisas. Muawiyah Tidak mau. Ini terang sebuah sikap pembangkangan terang-terangan ke khalifah yang sah, yaitu Ali bin Abi Thalib.

Khalifah Ali bin Abi Thalib merespon dengan berangkat ke Syam untuk memerangi para pemberontak tersebut. Ke-2 pihak saling berhadapan pada Juli 657 di tempat bernama Shiffin, di hulu sungai Eufrat. Ali mencoba untuk berunding supaya tidak Penting terjadi Pertempuran di antara sesama ummat Islam. Ternyata Perundingan buntu dan Peperangan antara keduanya pun tidak bisa dihindarkan. Pada awalnya Ali mengajak Muawiyah untuk bertempur 1 lawan 1, supaya tidak Penting terjadi perang. Siapa yang hidup ia ialah yang menang dan jadi khalifah. Tetapi, Muawiyah yang cerdik Tidak mau ajakan itu, cuma Amr yang berpihak pada Muawiyah yang mau.

Dalam duel tersebut nyaris saja Amr meninggal oleh pedang Ali. Pedang Ali sukses Soal perutnya sehingga tali celananya dan putus sampai auratnya tampak. Ali tidak mau meneruskan Peperangan dan membiarkan Amr menutupi auratnya. Namun hal ini tidak menghentikan terjadinya Pertempuran besar di antara sesama ummat Islam ini.

Dalam Peperangan terakhir pada 28 Juli 657 M, Tentara Ali di bawah pimpinan Malik al-Asytar nyaris menang tatkala Amr ibn al Ash dengan licik melancarkan siasatnya. Ia memerintahkan Tentara Muawiyah untuk melekatkan salinan al-Quran di ujung tombak dan mengangkatnya seraya berteriak “Laa Hukma Illaa Lillah!” yang artinya “Tidak ada hukum selain hukum Allah”. Ini diartikan Tentara Ali selaku Ajakan untuk mengakhiri perang dan ikut keputusan Alquran.

Hal ini membikin Tentara Ali berhenti menyerbu. Mereka menganggap meneruskan berperang sama artinya dengan memerangi Alquran yang diusung di ujung tombak Tentara Muawiyah. Ini ialah siasat licik dengan mengatasnamakan Alquran dan hukum Allah untuk mengecoh sesama ummat Islam. serdadu Muawiyah mengecoh Tentara Ali dengan bertamengkan Alquran yang mereka tancapkan di tombak mereka sehingga Tentara Ali jadi ragu-ragu dalam memerangi mereka.

Loading...
loading...

Ali tentu saja tahu dan sadar dengan kecohan dan pengkhianatan ini. Ia lalu menyerukan pasukannya untuk menyerbu lawannya. Ia Memperingatkan pasukannya bahwa musuh-musuh mereka bukan ahli Alquran. Alquran cuma mereka pakai selaku tipuan untuk berlindung dari kejahatan mereka. Namun pasukannya sudah terpengaruh dan mentalnya jatuh. serdadu Muawiyah terhindar dari kekalahan dan dari sini sejarah Islam berubah drastis.

Pertempuran akhirnya dihentikan dan diteruskan dengan perundingan yang sungguh-sungguh merugikan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Pada jaman inilah muncul sekte baru yang disebut Khawarij yang akan memusuhi Ali dan akhirnya menyebabkan khalifah terbunuh dalam perjalanannya ke Masjid Kufah, pada 24 Januari 661 M. Khalifah Ali dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam Al Murodi.

Alkisah sang pembunuh ini sejatinya ialah hafal Alqur’an, bertaqwa dan ahli ibadah, dan tatkala melaksanakan aksinya seraya berkata, “Hukum itu milik Allah, wahai Ali. Bukan milikmu dan para sahabatmu.” Waktu melaksanakan aksi bejadnya ini Ibnu Muljam juga tidak berhenti mengulang-ulang ayat 207 surat Al Baqarah yang artinya, “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya sebab mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun ke hamba-hamba-Nya.”

sesudah terbunuhnya Ali orang-orang Madinah membaiat Hasan bin Ali tapi Hasan bin Ali menyerahkan jabatan kekhalifahan ini ke Mu’awiyah dalam rangka mendamaikan kaum muslimin. Khalifah Ali akhirnya digantikan oleh Muawiyah, pendiri Dinasti Umayyah.

Dari sini kita belajar dari sejarah bahwa siasat menggunakan Alquran dan simbol-simbol agama untuk mengecoh ummat Islam yang dilaksanakan oleh sesama ummat Islam sudah dipakai semenjak dahulu. Jadi jangan heran kalau teriakan takbir “Allahuakbar…!”, kalimat tauhid, ayat-ayat Alquran, bendera yang dinisbatkan selaku bendera Rasulullah, janji dengan mengatasnamakan Allah dan Rasulnya, atau apa pun yang mampu dipakai untuk mengecoh sesama ummat Islam akan dipakai untuk kepentingan golongan dan meraih kekuasaan.

Namun sejarah sungguh mempertunjukkan bahwa kita tidak pernah belajar dari sejarah.

Strategi kuno dengan mengatasnamakan agama dan simbol-simbolnya untuk mengecoh ummat dan meraih kekuasaan politik masih ampuh waktu ini. Waktu ini kita terus menerus dibombardir oleh kelompok-kelompok pemberontak mengatasnamakan agama Islam baik yang berskala nasional mau pun internasional dengan mempergunakan bermacam idiom dan simbol agama untuk mengecoh ummat Islam. Di skala internasional kubu pemberontak ISIS jelas-jelas mempergunakan bermacam idiom, simbol, jubah agama Islam untuk mengecoh ummat Islam untuk berontak ke pemerintahan yang sah di mana mereka Ada. Mereka mengibar-ngibarkan bendera yang mereka pengakuan selaku bendera Rasulullah supaya ummat Islam mau ikut berjuang dengan mereka.

Di Indonesia kubu Hizbut Tahrir jelas-jelas sudah membangkang kepada pemerintah Indonesia dan ingin menegakkan kekhilafahan Hizbut Tahrir mereka dengan mengatasnamakan ajaran-ajaran Islam. Jadi jangan heran kalau Felix Siauw yang sungguh pengikut HTI ini membela bendera Hizbut Tahrir yang ia menyebut selaku ‘bendera Rasulullah’. Ia sungguh ingin supaya ummat Islam terkecoh dan ikut dengan kubu HTI untuk mendirikan kekhilafahan berbarengan kelompoknya. Politik bendera dan bendera politik yang dipakai oleh ISIS ini jugalah yang dipakai oleh HTI dan gerombolannya untuk menipu ummat Islam Indonesia untuk berkhianat kepada bangsa dan negara Indonesia.

Jadi, waspadalah…waspadalah…!

Surabaya, 11 Desember 2017

Salam

Satria Dharma

(satriadharma.com/ suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :