Poligami Bukan Anjuran, Cuma Jalan Keluar

Poligami Bukan Anjuran, Hanya Jalan Keluar

Poligami Bukan Anjuran, Cuma Jalan Keluar

Poligami artinya beristri lebih dari satu orang dalam waktu yang sama. Poligami sudah ada jauh sebelum Islam datang. Poligami waktu itu jadi simbol kehebatan seorang laki-laki. Apabila ada laki-laki kaya, mempunyai kedudukan tinggi, kuat secara fisik nggak poligami maka dia belum dapat dikatakan pria sejati. Itulah keadaan mengapa dahulu laki-laki melaksanakan poligami.

Kala itu pula, sebelum Islam datang, wanita nggak merdeka secara hakiki. Mereka diangap selaku komoditas yang dapat diperdagangkan sampai diwariskan. Bahkan di Indonesia, sebelum tahun 1974 seorang istri nggak dapat bertindak secara hukum dalam transaksi ekonomi sebelum ada izin suami. Wanita kala nikah maka dia berada di bawah pengampuan suaminya.

Baru pada 2 Januari 1974 keadaan tersebut berubah dengan disahkannya UU Pernikahan No 1 tahun 1974. Kedudukan istri sama dengan suami. Terkait poligami UU Pernikahan membatasi perbuatan poligami cuma dalam kondisi tertentu saja.

UU Pernikahan yang diambil dari hukum Islam ini mengatur prinsip pernikahan ialah monogami. Suami cuma boleh beristri satu orang. Poligami nggak boleh selama istri nggak cacat badan yang nggak dapat disembuhkan, istri nggak dapat melahirkan hubungan nasab atau istri nggak dapat menjalankan kewajibannya. Di samping itu poligami juga wajib memperoleh izin dari istri dan Pengadilan Agama.

Poligami bukan pilihan yang boleh dilaksanakan atau nggak. Ia cuma jalan keluar dari kerepotan yang dihadapi. Karenanya kalau ada orang yang poligami tanpa alasan dan syarat di atas, sesungguhnya dia sudah melaksanakan praktik yang melenceng.

Rasulullah Saw juga pernah mencegah Ali ibn Abi Thalib untuk poligami. Diceritakan kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Rasulullah Saw mencegah Ali ibn Abi Thalib nikah kembali sebab alasan itu akan menyakiti Fathimah, putri Nabi Saw. Menyakiti Fatimah artinya menyakiti Nabi Saw. sebab Fathimah ialah separuh hidupnya Nabi Saw. sebagaimana dijelaskan oleh imam al-Nawawi dalam kitab Fathul Bari.

Kejadian di atas mengajarkan kita bahwa poligami itu amat dekat dengan menyakiti wanita. Walau nggak mampu dikatakan sepenuhnya keadaan tersebut akan sama kepada wanita lain, tapi pada umumnya, iya. Perbuatan menyakiti hati wanita ialah perbuatan dosa. Untuk itu sebagian negara muslim ada yang mencegah poligami dan ada pula yang menjadikan poligami selaku alasan untuk mengusulkan perceraian.

Kalau kita baca secara perlahan ayat yang jadi dalil kebolehan poligami bahkan menganjurkan monogami. Allah Swt. Dalam surah al-Nisa ayat 3

وَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَىٰ فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۖ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَلَّا تَعُولُوا

Artinya: Dan kalau kau takut nggak akan dapat berlaku adil kepada (hak-hak) wanita yang yatim (bilamana kau mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kau senangi: dua, 3 atau empat. Lalu kalau kau takut nggak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kau miliki. Yang sedemikian itu ialah lebih dekat terhadap nggak berbuat aniaya.

Terkait ayat di atas, Prof. Quraish Shihab menjelaskan Para ahli fikih menetapkan ijmak (konsensus) bahwa barangsiapa merasa percaya dirinya nggak akan dapat bersikap adil kepada perempuan yang akan dinikahinya, maka perkawinan itu haram hukumnya. Keadilan jadi syarat utama dalam poligami. Akan tetapi waktu ini sudah ada usaha supaya keraguan tersebut hilang, suami siap melaksanakan poligami. Di berbagai kesempatan kita mampu lihat adanya workshop poligami nggak cuma untuk laki-laki tapi juga untuk wanita.

Penulis menyaksikan acara-acara seperti ini ialah bagian dari aktifitas yang sia-sia.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa hukum poligami cuma kebolehan semata. Ndak ada hukum sunnah berpoligami. Artinya nggak ada ganjaran pahala sunnah bagi pelaku poligami. Poligami cuma jalan terakhir bagi kerepotan yang dihadapi. Setidaknya 3 kerepotan yang sudah diatur di Indonesia di atas.

Poligami cuma selaku jalan terakhir dari kemungkinan-kemungkinan resiko yang lebih besar apabila poligami dicegah. Bukan sebuah perbuatan yang wajib diupayakan, seperti mengikuti pelatihan-pelatihan yang materinya ada soal persiapan poligami.

Selengkapnya, klik di sini

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.