Pluralisme Gus Dur, Ide Para Sufi

Loading...

Gus Dur ialah Bapak Pluralisme, terserah jika ada orang yang tak suka atau tak sama pandangan dengan sebutan ini, termasuk para pecintanya sendiri. Konon, Djohan Efendi, sahabat setia Gus Dur, pernah diminta Gus Dur supaya jika ia kelak wafat, nisannya ditulis Di Sini Dikubur Sang Pluralis.

Terlepas pesan itu benar diucapkan Gus Dur atau tak, dan enggak peduli warga memperdebatkan maknanya, tetapi beliau orang yang selalu ingin melihat insan, siapapun dia dan di manapun dia berada, selaku insan yang ialah ciptaan Tuhan.

Sebagaimana Tuhan menghormatinya, Gus Dur pun ingin menghormatinya. Sebagaimana Tuhan mengasihi makhlukNya, Gus Dur pun ingin mengasihinya. Takhallaq bi Akhlaq Allah (berakhlaklah dengan akhlak Allah), kata pepatah sufi. Sejauh yang aku tahu, Gus Dur enggak berbagai bicara soal wacana Pluralisme berikut dalil-dalil teologisnya. Tetapi ia mengamalkan, mempraktikkan dan memberi mereka contoh atasnya.

Pluralisme jauh lebih berbagai dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari Gus Dur dibanding diwacanakan. Kalaupun ia diminta dalil agama, ia bakal menyampaikan ayat al-Quran ini : Wahai insan, Saya ciptakan kalian terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dan Saya jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya insan yang paling mulia di antara kalian di mataKu, ialah orang yang paling bertaqwa kepadaKu.

Li taarafu (saling mengenal), tak sekedar tahu nama, alamat rumah, nomor handphone, atau tahu muka dan tubuh yang lain. Saling mengenal ialah memahami kebiasaan, tradisi, adat-istiadat, pikiran, hasrat yang lain, yang tak sama, yang enggak sama. Lebih dari segalanya li taarafu berarti supaya kalian saling sebagai arif bagi yang lain.

Yang paling mulia di depan Tuhan ialah yang paling taqwa, tidak yang paling gagah atau cantik, tidak yang paling kaya atau rumah megah. Taqwa tidak sekedar dan cuma berarti sering datang menuju masjid atau menghadiri secara rutin majlis talim, membaca kitab suci, memutar-mutar tasbih, bangun malam, atau puasa saban hari. Tetapi lebih dari itu taqwa ialah mengendalikan amarah, hasrat-hasrat rendah, menjaga hati, tak melukai, tak mengancam, ramah, sabar, rendah hati dan sejuta makna kebaikan kepada yang lain dan kepada alam.

Dalam sejumlah kesempatan Gus Dur menyampaikan makna taqwa dengan menyitir ayat-ayat al-Quran ini:

Bukanlah menghadapkan wajahmu menuju penjuru timur dan barat itu suatu kebajikan, bakal tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari lalu, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.(QS. al-Baqarah ayat 177).

Seluruh itulah makna taqwa yang dipahami Gus Dur. Dari ayat al-Quran ini Gus Dur sering menjelaskan bahwa Islam itu terdiri dari 3 rukun (pilar): Rukun Iman, Rukun Islam, dan Rukun Tetangga. Aku kira apa yang dimaksud Gus Dur soal rukun yang menuju tiga ini ialah Rukun Insaniyah. Gus Dur tentu tidak tak tahu Rukun ini dalam konteks tradisi Islam disebut Ihsan. Tetapi Ihsan dalam pengertiannya ialah Insaniyah tadi.

Dengan itu, Gus Dur tampaknya ingin menggugah kesadaran kaum muslimin supaya tak melalaikan atau mereduksi rukun tersebut, sekaligus mengingatkan bahwa ia sebagai maksud dari agama dalam kehidupan insan di jagat. Maka Gus Dur, sering bicara soal kejujuran, keteguhan/kesabaran dalam berjuang, menghargai orang dan mengadvokasi siapa saja yang menderita dan yang ditindas. Lebih dari itu, ia tidak cuma sekedar menghargai atau menghormati insan yang berbuat bagus, melainkan pun menyambutnya dengan rendah hati dan rengkuhan yang hangat.

Sebaliknya, ia bakal menentang siapa saja yang merendahkan martabat insan, apalagi menyakiti, mengurangi dan menghalangi hak-hak mereka. Ia bakal membela mereka yang martabat kemanusiaannya direndahkan, mereka yang hak-haknya dikurangi, dipasung, disakiti dan ditelantarkan.

Saat para pengikut Ahmadiah diusir dan masjid-masjid mereka dirobohkan, Gus Dur hadir bareng mereka. Saat Gereja-gereja dilempari batu, ia berteriak jangan. Saat Inul Daratisna dihujat ramai-ramai sebab dia bergoyang-goyang dan meliuk-liukkan tubuhnya bagai bor, ia memeluknya dengan hangat. Saat Dorce disoraki sebab berganti kelamin, ia mengajaknya bicara dengan halus dan full kasih. Jika itu ialah dirimu, teruslah bekerja, katanya.

Saat urusan gambar tubuh polos perempuan (pornografi) hendak diberikan kepada Negara, ia berdemonstrasi bareng isteri tercintanya; Shinta Nuriah dan bersama-sama mereka yang menghargai insaniyah. Saat orang-orang Thionghoa meminta hari raya Imlek dan Barongsae, ia memberikannya dengan tulus. meskipun enggak bisa menyaksikan dengan matanya, ia hadir menyaksikan tarian-tarian singa itu dan bertepuk tangan. Gus Dur suka.

Seringkali kita menyaksikan sikap perlawanan dan pembelaan itu dilakukannya sendirian. Ia berjalan sendiri, meski ia wajib mempertaruhkan jiwanya. Ia enggak peduli. Dalam perlawanannya terhadap pembredelan tabloid Monitor dan pembelaannya terhadap Salman Rusydi dalam kasus bukunya Satanic Verses, yang buat heboh itu, misalnya, Gus Dur enggak menemukan mata lain yang full pengertian. Ia berjalan sendiri.

Seorang sufi menjelaskan: Ia yang jiwanya sudah mencapai kesadaran yang matang, dukungan eksternal enggak lagi diperlukan. Dan Gus Dur sanggup menjalaninya seorang diri dengan tegar, sebab ia sudah matang. La Yakhaf Laumata Laa-im (ia enggak pernah takut pada mata yang tidak suka). Kata Gus Dur; Ditempatkan di urutan manapun, Muhammad bin Abdullah tetap saja sang penghulu para nabi dan utusan Tuhan, Insan Kamil.

untuk Gus Dur seluruh insan ialah sama, enggak peduli dari mana asal usulnya, apa kategori kelamin mereka, warna kulit mereka, suku mereka, ras dan kebangsaan mereka. Yang Gus Dur lihat ialah bahwa mereka insan sebagaimana dirinya dan yang lain. Yang ia lihat ialah niat bagus dan perbuatannya, sebagaimana kata Nabi: Tuhan tak menyaksikan tubuh dan wajahmu, melainkan amal dan hatimu.

loading...

Gus Dur tidak tak paham bahwa ada yang keliru, ada yang tak ia setujui atau ada yang salah dari mereka yang dibelanya. Gus Dur tetap saja nembela mereka. Ia membela sebab tubuh mereka diserang dan dilukai cuma sebab baju agamanya yang berwarna lain, harta mereka dirampas semaunya, ekspresi-ekspresi diri mereka dihentikan secara paksa oleh negara atau direnggut dengan pedang oleh otoritas dominan dan kehormatan mereka diinjak-injak. Padahal mereka enggak melaksanakan apa-apa. Membela kehormatan ialah perjuangan besar.

untuk Gus Dur, ekspresi-ekspresi diri, private, particular person, yang dinilai sebagian orang selaku enggak bermoral, enggak boleh melibatkan Negara, enggak boleh diintervensi kekuasaan, tetapi wajib diselesaikan sendiri oleh warga dengan cara-cara yang mereka miliki dan dengan mengaji yang sungguh-sungguh, sampai khatam dan dengan ketulusan.

untuk Gus Dur, keyakinan dan pikiran enggak bisa dinamai enggak bisa diberi tanda. Pikiran ialah misteri yang tersembunyi. Ia bagaikan burung yang terbang di langit lepas. Tuhanlah yang menganugerahkan pikiran-pikiran pada hamba-hambaNya. Dialah Pemilik nafas saban yang hidup dan Dialah yang bakal menanyainya kelak, bila tiba masanya. Sebab itu, cuma Dialah yang berhak menamainya dan menghakiminya, tak yang lain.

Kata Rumi dalam Fihi Ma Fihi:

Tidak ada kemampuanmu menjauhkan pikiran-pikiran itu meski dengan seratus ribu kali rekayasa berkeringat.
.
Sepanjang pikiran-pikiran tersembunyi di dalam, maka ia enggak bernama dan enggak bertanda. Ia enggak bisa jadi dihukumi kafir atau islam.

Begitulah sikap seorang yang sudah mempunyai batin yang bebas. Itulah sifat seorang sufi, seorang bijak-bestari yang jiwanya sanggup menembus kedalaman makna kata-kata Tuhan. Kata-kataNya mempunyai dan menyimpan berjuta makna dan enggak terbatas. Pemaksaan atas pikiran dan keyakinan orang enggak bakal menghasilkan apa-apa, sia-sia, kecuali membuat orang dan keluarganya sebagai sakit, menderita, dan menghambat kemajuan orang dan peradaban insan. Tidak ada cara lain untuk menundukkan orang lain kecuali melalui bicara manis, tanpa marah-marah dan dengan otak yang cerdas. Jika enggak tunduk, biarkan masing-masing berjalan sendiri-sendiri, sambil katakan saja: Anda ialah anda dan saya ialah saya. Wassalam.

Tindakan dan sikap itu, menurut Gus Dur, sesungguhnya sudah diajarkan oleh Islam dan para Nabi semenjak ribuan tahun lalu. Ia sering mengutip sumber literature Islam klasik yang bicara mengenai hak-hak individu. Salah satunya ialah al-Mustasyfa, karya Imam Abu Hamid al-Ghazali. Sufi besar ini menjelaskan bahwa maksud aturan agama ialah memberikan jaminan keselamatan keyakinan orang, keselamatan fisik, keselamatan profesi, kehormatan tubuh dan pemilikan harta. Al-Ghazali menyebut lima prinsip dasar penjagaan ini selaku al-Kulliyyat al-Khams. Orang sering menyebutnya Maqashid asy-Syariah (tujuan-tujuan pengaturan kehidupan). Lima prinsip ini merupakan pemberian Tuhan pada saban insan yang enggak ada seorang manusiapun berhak mengurangi atau menghilangkannya. Inilah foundation basic (ar-Rukn al-Asasi) pikiran-pikiran dan langkah-langkah Gus Dur.

Walaupun Gus Dur membaca dan mengerti, tetapi ia tak mengutip pandangan atau sumber dari Barat atau Yahudi, sebagaimana dituduhkan sebagian orang. Ia menggalinya dari sumber tradisi Islam sendiri, dan ia sanggup menginterpretasikan dengan cara-cara yang memukau dan real, sejalan dengan konteks kehidupan yang selalu bergerak. Ia memang amat kaya dengan referensi tradisi Islam klasik ini berikut perangkat analisisnya: bahasa, sastra, logika, filsafat sosial, dan metode-metode keilmuan.

Melalui penjagaan atas lima prinsip dasar insaniyah common tersebut, Gus Dur memimpikan berkembang dan tersebarnya persaudaraan insan atas dasar insaniyah (Ukhuwwah Insaniyyah), tanpa dibatasi sekat-sekat primordial. Ini menurut aku sesungguhnya merupakan ide para sufi besar. Para sufi yang sejumlah namanya disebutkan di atas, ialah orang-orang yang paling vocal menyuarakan ide pluralisme dan persaudaraan common itu. Tidak ada keraguan sedikitpun di hati mereka pada prinsip utama agama bahwa tak ada di alam semesta ini kecuali Tuhan Yang Satu yang menuju hadapanNya seluruh yang maujud tunduk. Dan seluruh yang maujud (ada) semenjak ia ada sampai keberadaannya tercabut, selalu dan terus mencari-cari Dia melalui jalan dan bahasa yang berbeda-beda.

Bahasa kita seperti itu beragam
tetapi Engkaulah Satu-satunya yang Indah
Dan kita masing-masing ke
kepada Keindahan Yang Satu itu

Maka kebhinekaan realitas alam semesta ini semestinya tak menghalangi saban insan untuk memahami pikiran, bahasa dan kehendak-kehendak insan yang lainnya. Para sufi melihat alam semesta yang beragam dan yang seluruhnya mengandung keindahan selaku tajalli Tuhan, perwujudan rahmat dan keagunganNya di alam semesta. Keberanekaan berasal dari Tuhan. Dialah Sang Penciptanya.

Ibnu Athaillah, nama sufi besar yang dikagumi Gus Dur, berbagai bicara soal Kesatuan Semesta, meneruskan ide Ibnu Arabi. Ibnu Ajibah mengomentari ide itu dalam syairnya yang indah:

Lihatlah KeindahanKu
Tampak pada seluruh insan
Air mengalir,
menembus
pokok dahan dan ranting
Engkau mendapatinya
Berasal dari satu mata air
Padahal bunga berwarna-warni

loading...

Nah, lagi-lagi di sini kita menemukan jalan yang ditempuh Gus Dur. Ide-gagasan dan tindakan-tindakan pluralismenya ternyata berangkat dari tradisinya sendiri. Ia tekun mengaji kitab-kitab klasik raksasa dan primer sampai khatam. Sayang, kitab-kitab ini amat jarang dibaca orang atau dibaca tetapi cuma sampai kulit luar, yang tertulis, yang literal, harfiyah, dan enggak khatam, enggak selesai.

PLuralisme Gus Dur, Gagasan Para Sufi
Oleh: KH. Husein Muhammad
(Sumber: Majalah Cahaya Sufi)
Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :