Pesona Iran yang Menginternasional (58)

Pesona Iran yang Mendunia (58)

Pesona Iran yang Menginternasional (58)

Maulana Jalaluddin Mohammad Maulavi ialah ulama terkenal, sekaligus penyair dan arif terkemuka. sebagian besar para peneliti mengungkapkan bahwa Maulavi lahir tanggal enam Rabiul Awal 604 Hijriah, atau bersesuaian dengan 30 Desember 1207 Masehi di Balkh. Pada musim gugur tahun 672 Hq atau 1273 M, Maulavi jatuh sakit sampai dokter ndak berdaya untuk mengobatinya. Ulama, penyair, sekaligus sufi besar Iran ini wafat pada 5 Zumadil Akhir 672 H atau 17 Desember 1273 M di usia 68 tahun.

Dari berbagai karya Maulavi, Matsnavi-e Maknavi mempunyai kedudukan spesial, karena seusai berlalu lebih dari 800 tahun lalu sampai Saat ini masih jadi buku yang memancarkan cahayanya di bidang budaya dan sastra Farsi di dunia. Matsnavi-e Maknavi ialah sebuah kitab yang berisi berbagai pelajaran berharga dan penting mengenai petuah sufistik yang disajikan dalam bentuk syair yang menawan.

 

Buku kumpulan syair ini merupakan manifestasi pemikiran Maulavi. Dalam Matsnavi-nya, Maulavi berusaha mengenalkan insan dengan travelling hidup di masa lalunya dari alam mineral jadi tumbuhan dan akhirnya jadi insan. Para peneliti mengkategorikan cerita Matsnavi terdiri dari empat kategori: cerita sufistik, cerita hikmah, cerita qurani dan cerita metaforis. Tetapi kebanyakan isi dalam Matsnavi berbentuk cerita sufistik. Maulavi secara spesial memfokuskan terhadap lapisan tersembunyi dari cerita dan konsepsi irfani di dalamnya.

 

Maulavi menceritakan berbagai cerita dalam Matsnavi mempergunakan metode hasil terobosannya. Sebagian cerita dalam Matsnavi-e Maknavi lebih panjang dari yang lain. Walaupun panjang, tapi kesanggupan bertutur Maulavi menyebabkan cerita yang ditulisnya tetap menarik untuk disimak sampai akhir. Karena penyair Persia ini mempergunakan tamsil atau metafora yang memukau dengan format episode. Bagian dari cerita tersebut di antaranya: Raja dan Budak, Beo dan Saudagar.

 

sebagian besar cerita dijelaskan dan ditafsirkan dalam uraian panjang yang dilaksanakan Maulavi. Oleh sebab itu, cerita utama seperti bingkai kepada kisah-kisah kecil yang terdapat dalam Matsnavi-e Maknavi. Saat kerangka cerita berupa pesan maupun tamsil yang ingin disampaikan terhadap audiens, maka kisah-kisah kecil jadi buktinya. 

Maulavi

 

Doktor Taghi Pour menerangkan mengenai kualitas metode yang dipergunakan Maulavi dalam menceritakan kisahnya.Peneliti Maulavi terkemuka ini menjelaskan, “Cerita dalam cerita yang disajikan Maulavi merupakan metode personal Maulavi sendiri. Walaupun metode tersebut terdapat di sejumlah buku nazm dan nasr seperti Sinbad Nameh, Kalilah va Dimnah, Matsnavi Attar, tapi seluruh itu ndak pernah sama dengan Matsnavi Maulavi.”

 

Menurut Taghi Pour, dalam berbagai karya sebelum Maulavi, penulis cerita dan hikayat dengan kesadaran full menerangkan cerita selaku contoh bukti atas pemikiran moral, maupun pandangan sufistiknya. Hikayat dan cerita yang disajikan berupa tamsil untuk memperkenalkan pemikirannya sekaligus memuaskan audiens. Dalam cerita lain, kendali cerita secara total berada di tangan narator, dan cerita telah diseting sedemikian rupa oleh penelisnya. Oleh sebab itu, biasanya cerita-cerita tersebut mampu ditebak alurnya.

 

Loading...
loading...

Tetapi dalam Matsnavi ndak sedemikian.Taghi Pour mengungkapkan bahwa kontrol cerita bukan berada di tangan Maulavi selaku penulis. Dengan kemungkinan besar struktur dan maknanya baik yang kelihatan maupun yang ndak, cerita dalam Matsnavi mempertunjukkan kesadaran dan alam bawah sadar Maulavi yang keluar dalam berbagai kejadian yang dialaminya. Maulavi membawa ke mana pun kemungkinan besar dan tindakan aktualnya dalam cerita Matsnavi yang memberikan pengaruh secara ndak langsung terhadap audiens.

 

Di sisi lain, tamsil “dari dalam ke dalam” di cerita panjang membawa alam pikiran audiens dalam cerita panjang. Misalnya dalam cerita “Pir Changgi”(Pemetik Kecapi) yang termasuk cerita paling terkenal dari Matsnavi. Maulavi menerangkan cerita dalam deretan bait panjang, lebih dari 170 bait.

 

Saking panjangnya cerita ini, audiens mengira cerita utamanya sampai akhir  mengenai pemetik kecapi itu. Oleh sebab itu, Maulavi meneruskan cerita dengan menambah judul baru, “Lanjutan Cerita Pemetik Kecapi dan Cerita Keikhlasannya”. Pola serupa juga dilaksanakan Maulavi dalam cerita “Cerita Rasulullah Saw dan Zaid”, dan “Cerita Masjid Pencinta”.

 

Struktur “Cerita dalam Cerita” sebelum Maulavi juga pernah berkembang sebelumnya, terutama dalam kisah-kisah klasik sastra Farsi seperti Kalilah va Dimnah, Marzban Nameh, Sindbad Nameh, bahkan Shah Nameh Ferdowsi. Dengan mencermati berbagai karyanya, kelihatan dengan terang perbedaan antara karya Maulavi dengan penyair sebelumnya dari sisi metode, isi, lagu, irama, ritme dan pemilihan diksinya. Maulavi juga dikenal menerobos tradisi syair yang selama ini dipergunakan oleh para penyair sezamannya, bahkan sebelumnya.

 

sebagian besar cerita dalam Matsnavi-e Maknavi merupakan cerita metaforis. Pola cerita mengikuti pola klasik sebelum abad ketujuh Hijriah. Dari penggunaan pola klasiknya, model bahasa yang dipergunakan Maulavi dalam Matsnavi ndak dipakai dalam karya lainnya. Komposisi syair spesial dalam cerita, pilihan diksi klasik, kategori sastra dalam cerita, dan manifestasi konsep irfani, termasuk sejumlah pola khas yang terdapat dalam Matsnavi-e Maknavi.

Ilmuwan Iran

 

sebagian besar cerita dalam kitab Matsnavi-e Maknavi menekankan problem akhlak dan pendidikan melebihi problem lain. Cerita yang disajikan Maulavi dalam Mastnavi-Maknavi berpijak pada pendidikan insan dan penyucian diri. Melampaui bentuk ceritanya, berbagai cerita dalam Matsnavi mengungkapkan mengenai hal pemikiran yang tinggi.

 

Maulavi mempergunakan sebagian cerita dengan mengutip perkataan dan cerita para pemuka agama, bahkan Nabi Muhammad Saw, serta ulama dan sufi terkemuka sebelumnya. Cara ini ditempuh Maulavi supaya lebih mendekatkan cerita dengan realitas sejatinya. sebagian besar para tokoh yang disajikan Maulavi ialah orang orang yang dikenal luas oleh audiens. Kalau ndak sedemikian, biasanya Maulavi menekankan kepada muatan isi dalam cerita tersebut.

 

Bagian unsur utama dalam cerita Matsnavi-e Maknavi ialah plot cerita. Plot atau alur ialah struktur rangkaian kejadian dalam cerita yang disusun selaku urutan bagian-bagian dari keseluruhan cerita dalam bentuk model yang tertata dari awal cerita sampai akhir.

 

Dalam plot amat ditekankan hubungan karena akibat dalam cerita. Konsistensi Maulavi dalam Matsnavi-e Maknavi juga dilakukannya saat menerangkan mengenai hal muatan irfani dalam syairnya. Selaku penulis dan narator cerita, Maulavi melaksanakan reproduksi ide dari kisah-kisah sebelumnya dengan format baru yang jadi khasnya.(PH)

 

 

 

Loading...

Source by Hakim Abdul

loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :