Perintah Al Qur’an: Menyaksikan Gerhana Matahari Secara Langsung

KH Turaichan Adjhury: Al Qur’an Perintahkan untuk Menyaksikan Gerhana Matahari Secara Langsung …

 

 

Islam-Institute, Jakarta – Bagian keponakan KH Turaichan Adjhury yang juga menekuni ilmu falak, Kyai Ahmad Rofiq, mengungkapkan, Mbah Tur ialah seorang ulama yang teguh memegang prinsip dan pandangan yang ia yakini. Waktu tergabung dalam tim Lajnah Falakiyah Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), beberapa kali terlibat silang pandangan dengan pandangan ulama-ulama kebanyakan. Tetapi ia tetap kukuh mempertahankan pendapatnya.

“Sebab terbukti pendapat-pendapat Mbah Tur (KH Turaichan Adjhury) lebih beberapa yang sesuai dengan kenyataan, maka inilah yang membikin kharisma dan kealiman serta ketelitiannya kian diperhitungkan dalam penentuan penanggalan hijriyah. Sebab itu Mbah Tur jadi amat masyhur di kalangan ahli falak di Indonesia dan beberapa mempunyai murid yang masih tekun mempelajari ilmu yang dikenal masarakat amat sulit ini” papar kiai Rofiq waktu dijumpai di kediamannya, Desa Langgar Dalem, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus (2011).

Kyai Rofiq menceritakan, meski beberapa ulama yang menentang keputusan yang ia buat, akan tetapi Mbah Tur tetap bersikap baik kepada ulama yang tak sama pandangan dengan dirinya. Bahkan beliau amat akomodatif kepada sikap pemerintah yang terkesan represif sebab menolak keputusan penguasa waktu itu dalam penentuan awal Bulan Syawal. “Pada satu waktu dulu pemerintah sering mencekal Mbah Tur sebab pendapatnya sering kontroversi. Bahkan beliau diancam akan disidang ke pengadilan sebab tak sama pandangan dengan keputusan pemerintah” tuturnya.

Lebih detail ia menceritakan pada kisaran tahun 1984 pemerintah pernah mencekal Mbah Tur untuk tak keluar dari rumah waktu akan terjadi gerhana matahari total. Pemerintah kuatir dengan pandangan beliau yang mengumumkan gerhana matahari ialah fenomena alam yang saban orang boleh melihatnya secara langsung. Sedangkan pemerintah dan sebagian tokoh berpendapat masarakat tak diizinkan menyaksikannya sebab akan berdampak buruk sebab turunnya penyakit.
“Jangankan berdiam diri di rumah, Mbah Tur malah mengundang masarakat untuk datang ke Masjid Menara Kudus untuk salat gerhana dan mendengarkan khutbah khushufusy syamsy beliau” ungkapnya.

Pada waktu terjadi kejadian gerhana Matahari total tersebut, Mbah Tur mengungkapkan dalam khutbahnya ke masarakat yang datang, bahwa gerhana matahari total ialah fenomena alam yang tak akan menimbulkan dampak penyakit apapun bagi manusia kalau ingin melihatnya. Bahkan menurut Mbah Tur, Allah lah yang memerintahkan untuk melihatnya secara langsung, sebab redaksi
pengabaran fenomena yang mempertunjukkan keagungan Allah ini difirmankan mempergunakan kata ”abshara”. Artinya, perintah menyaksikan secara langsung dengan mata, bukan makna denotatif.

“Bahkan waktu itu Mbah Tur mengajak jemaah untuk keluar dan menyaksikan gerhana matahari yang terjadi secara langsung. seusai beberapa waktu, para jemaah kembali ke tempatnya
semula, khutbah pun dilanjutkan dan tak terjadi suatu musibah apapun” ungkap Kyai Rofiq. Ia menambahkan sebab keberaniannya ini, Mbah Tur mesti menghadap dan mempertanggungjawabkan tindakannya di depan aparat negara yang sedemikian represif waktu itu. walaupun sedemikian sama sekali
Mbah Tur tak mempertunjukkan tabiat mendendam kepada pemerintah.

Lahu Al-Faatihah

Sumber : Fahmi Ali NH/Suwoko via Seputar Kudus

 

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :