Perang Suriah 2017: Rakyat Suriah Makin Sengsara

Perang Suriah 2017: Rakyat Suriah Makin Sengsara dalam kemiskinan. Warga dunia tutup mata enggak mau menyaksikan rakyat Suriah makin sengsara akibat perang berkepanjangan. Sampai tahun 2017 ini, rakyat Suriah yang enggak bersalah tetap dicekam teror dan perang hancur-hancuran yang didukung pihak-pihak asing.
Di sisi lain, rakyat suriah hidup menderita akibat sanksi-sanksi sewenang-wenang dari Barat pengklaim demokrasi. Ini ialah hal yang sepertinya jarang disinggung sebab tersamar oleh kabar-kabar peperangan yang terus berlangsung.
Data-data yang ada memperlihatkan dampak menakutkan sanksi-sanksi Amerika dan Barat atas kehidupan rakyat Suriah. Perang dan kejahatan kubu teroris yang didukung Amerika dan Barat sudah melumpuhkan sendi-sendi kehidupan mereka. Beberapa dari kota-kota di Suriah yang sekarang tampil menakutkan jadi ‘kota-kota hantu’.

Perang Suriah 2017: Harga barang-barang naik 1100 %

Harian al-Akhbar cetakan Lebanon memuat tulisan dari seorang penulis Arab, Marah Mashi. Dalam tulisannya, Marah Mashi mengumumkan, ”Meningkatnya harga barang-barang di Suriah akan lebih terasa waktu seseorang pulang sesudah dia lama tinggal di luar Suriah. Saat dia masuk toko di bagian kota Suriah, dia akan mendapati harga barang-barang yang naik 1100 %; peningkatan harga yang sudah mencekik hidup rakyat Suriah.”
menurut laporan PBB tahun 2016, 80 % rakyat Suriah hidup di bawah garis kemiskinan. Angka ini meningkat 12,2 % dibandingkan masa sebelum huru-hara berdarah di Suriah.
Daya beli rakyat Suriah juga sudah down sampai 90 % kalau dibandingkan masa sebelum perang. Khususnya sebelum ada sanksi-sanksi Amerika dan Barat. Dampak buruknya, hal ini tampak terang di seluruh bagian kehidupan rakyat Suriah.

Perang Suriah 2017: Sanksi Barat memperparah kesengsaraan rakyat Suriah

Paket sanksi Barat dan Amerika atas Suriah pada Februari 2011 meliputi penyetopan seluruh transaksi perbankan. Juga pelarangan ekspor senjata ke Suriah dan penyetopan ekspor minyak dan gas Suriah. Dan pembekuan rekening-rekening pemerintah Suriah di luar negeri. Langkah Amerika ini cepat diikuti negara-negara Arab dan Turki. Akan tetapi, Suriah paling menderita akibat sanksi negara-negara Eropa, sebab Suriah lebih beberapa menjalin hubungan ekonomi dengan Eropa.
Hasil riset “Lembaga Suriah di Bidang Keluarga dan Tempat Tinggal” memperlihatkan, sanksi-sanksi sepihak Eropa terlalu merugikan ekonomi Suriah. Sebab 45 sampai 55 % transaksi dagangnya bergantung pada Uni Eropa.
Menurut laporan ini, angka pengangguran di Suriah meningkat drastis akibat turunnya nilai investasi asing. Sanksi-sanksi sewenang-wenang ini enggak cuma meracuni lingkungan kerja dan larinya para investor. Akan tetapi juga memaksa pemerintah Suriah berpaling kpd broker dan pedagang di pasar gelap.
Semenjak awal perang Suriah 2011, 14 perusahaan minyak yang per harinya memproduksi kisaran 100 ribu barel minyak dan 7 juta meter kubik gas alam, sudah meninggalkan Suriah. Kerugian yang diderita Suriah di bagian ini mencapai 27 juta dolar pada tahun 2015. Oleh sebab itu, pemerintah Suriah terpaksa menerima syarat dan tuntutan dari perusahaan-perusahaan pengganti.
Berdasar riset yang didasarkan pada data dari Pusat Pemeriksaan Politik Suriah, kerugian ekonomi Suriah akibat sanksi dan perang mencapai angka 3368 milyar lira Suriah. Bagian pertanian negara ini juga mengalami kerugian besar. Saham bagian pertanian dalam produksi berkurang sampai 5 %. Padahal sebelum perang dan sanksi, saham ini lima kali lipat lebih beberapa.

Perang Suriah 2017:  Ada 5000 sekolah sudah rusak akibat perang

menurut laporan awal Kementerian Industri Suriah, bagian industri negara ini menanggung kerugian langsung sebanyak 100 milyar lira. Dan 113 milyar lira secara tak langsung.
Sementara di sisi lain, menurut laporan Kementerian Pendidikan Suriah, ada 5000 sekolah dari kisaran 22.500 sekolah sudah rusak akibat perang. 3 ribu di antaranya rusak total atau sebagian. Sementara renovasinya memerlukan biaya kisaran 100 juta dolar.
Perang Suriah yang dibarengi gelombang sanksi Barat juga berakibat berkurangnya anggaran pendidikan Suriah. Dari 708 juta dolar pada tahun 2010 jadi cuma 65,7 juta dolar pada tahun 2016.
Nasib buruk juga melanda bagian kesehatan. Kekurangan atau ketiadaan obat dan meningkatnya harga obat membikin orang-orang sakit mengalami kerepotan. Padahal sebelum perang 2011, pengobatan untuk rakyat Suriah nyaris gratis.
Menurut laporan WHO tahun 2014, pemerintah Suriah butuh anggaran 246 juta dolar supaya sanggup memberikan servis kesehatan yang baik kpd rakyat Suriah.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan Suriah pada tahun 2014, kerugian negara Suriah di bagian kesehatan sesudah kecamuk perang ditambah sanksi Barat mencapai angka 100 juta lira. Seperti ini tidak banyak ulasan  Perang Suriah 2017. (al/alalam)

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :