Penolakan Tehran Dialog di Luar JCPOA

JCPOA

Penolakan Tehran Dialog di Luar JCPOA

Hampir dua pekan dari keluarnya Amerika Serikat dari Rencana Aksi Bareng Komprehensif (JCPOA). Selama rentan waktu tersebut dihelat perundingan antara Tehran dan Brussels yang melibatkan petinggi kedua pihak.

Uni Eropa di statemennya dan di keputusan yang mereka ambil di sidang Brussels, mengumumkan supporting penuhnya atas JCPOA. walau beginilah selama belum ada jaminan full atas keperluan Iran di JCPOA, maka tak ada kepastian Iran bakal tetap berkoalisi dalam perjanjian nuklir ini.

 

Oleh sebab itu dan dalam koridor yang sudah ditetapkan di perundingan antara Iran dan pihak Eropa, di komisi bersama-sama pertama JCPOA tanpa keterlibatan Amerika yang rencananya diawali 26 Mei di Wina, cuma bakal dikaji isu-isu yang berhubungan dengan kesepakatan nuklir.

 

Juru bicara Departemen Luar Negeri Iran, Bahram Qassemi Ahad (20/5) ketika mereaksi kabar yang diumumkan sejumlah media asing terkait pemberian pekat insentif baru terhadap Iran dengan imbalan Tehran menerima kesepakatan baru menjelaskan, kabar dan pengakuan enggak berdasar ini bersumber dari ruang think tank media Zionis Israel dan pengacau dunia serta musuh bangsa Iran yang ditujukan demi menebar agitasi buruk dan menyimpangnya jalur dialog Iran dan pihak seberang di JCPOA.

Image Caption

 

Sikap Republik Islam Iran semenjak awal implemenasi JCPOA amat transparan. Iran selaku bagian pihak di kesepakatan nuklir sudah menjalankan seluruh komitmennya dan 11 laporan Dirjen Badan Energi Atom Internasional (IAEA) terkait JCPOA mempertunjukkan kepatuhan tersebut. walau beginilah Republik Islam Iran sesudah keluarnya AS secara sepihak dari kesepakatan nuklir, sudah memberikan syarat demi tetap berada di kesepakatan tersebut. Syaratnya ialah keperluan Iran bakal tetap dipertahankan di JCPOA.

 

Mohammad Tahir Kanaani, pengamat hukum internasional terkait harapan terhadap Eropa demi menjaga JCPOA menjelaskan, “Kalau Trump menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan Eropa dan Cina serta mencegah transaksi antara Eropa dan Iran, maka Washington bakal sebagai pelanggar anggaran dasar dan aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan prinsip perdagangan bebas, serta pemerintah Eropa di organisasi ini sanggup mengusulkan gugatan atas Amerika.”

 

Di sisi lain, langkah Eropa sampai ketika ini masih terkesan kontradiktif. Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif Ahad (20/5) ketika berjumpa dengan Miguel Arias Canete, Ketua Komisi Energi Uni Eropa di Tehran menekankan, “Komitmen Uni Eropa dalam melakukan JCPOA tak selaras dengan rencana perusahaan besar Eropa demi memutus kerja sama dengan Iran.”

 

Kamal Kharazi, Kepala Dewan Strategis Hubungan Luar Negeri Iran ketika diwawancarai Koran Corriere della Sera terkait nasib JCPOA menjelaskan, “Mempertahankan kesepakatan nuklir bergantung para perilaku negara-negara Eropa dan kalau Eropa tak membela diri dari ancaman ini, maka masa depan bakal amat rumit.”

 

Wajar kalau dualisme ini dalam melawan unilateralisme Amerika yang masuk didalamnya keputusan mendasar dan untuk maksud busuk AS anti Iran, bakal meragukan efektivitas strategi Uni Eropa. Dengan jaminan yang lebih kuat, Uni Eropa wajib mempertunjukkan dirinya sanggup membela keperluan dirinya dan Republik Islam Iran di JCPOA. (MF)

 

 

Penolakan Tehran Dialog di Luar JCPOA

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :