Tasawuf Islam

Pengurus Pusat Tastafi Aceh Dilantik Abu Mudi

Pengurus Pusat Majelis Pengajian dan Zikir Tasawuf, Tauhid dan Fiqh (Tastafi) Aceh periode 2018-2023 dilantik oleh Abu Syeikh H Hasanoel Bashry HG (Abu Mudi) selaku pendiri sekaligus pembina majelis tersebut.

Pelantikan berlangsung di halaman Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Selasa (17/4) malam. Datang ribuan santrian dan santriwati dari beberapa dayah dan jemaah pengajian Tastafi dari beberapa daerah di Aceh.

Unsur pengurus yang dilantik antara lain Ketua Umum Tgk H Muhammad Amin Daud, Sekretaris Umum Tgk Marzuki Abdullah MPd, Bendahara Umum Tgk H Sayed Mahyeddin TMS, dan ketua divisi serta pengurus harian lainnya.

Abu MUDI berpesan kepada Pengurus Tastafi supaya bisa menyelenggarakan aktifitas Tastafi di seluruh wilayah Aceh dan luar Aceh.

“Dalam rangka membumikan pengajian tasawuf, tauhid, dan fiqih berdasarkan ahlussunnah wal jemaah serta melindungi warga dari ajaran sesat, liberalisme, sekularisme, dan radikalisme,” katanya.

sesudah dilantik, Pengurus Tastafi ditepungtawari (dipeusijuek) oleh ulama kharismatik Aceh, Waled Nurzahri dan Abu Kuta Krueng sekaligus pembacaan doa.

Pengurus Pusat Tastafi Aceh Dilantik Abu Mudi

Acara itu dilanjutkan tausiah yang disampaikan tiga ulama Aceh yaitu Tgk H Muhammad Yusuf A Wahab (Ayah Jeunieb), Drs Tgk H Muhammad Daud Hasbi MA dan DR Tgk H Muhammad Hidayat MBA dan diakhiri dengan pangajian yang dipimpin Abu Mudi.

Sejumlah pejabat Aceh pun terlihat datang pada acara itu, antara lain Wali Nanggroe Malik Mahmud, Asisten I Setda Aceh Iskandar A Gani, Wakil Ketua DPRA Sulaiman Abda, dan Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman. Pun terlihat eks wakil gubernur Aceh Muzakir Manaf alias Mualem, Rektor UIN Ar-Raniry Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA, President Aceh Community Malaysia Datuk Haji Mansyur bin Usman, dan sejumlah ketua partai politik.

Pada kesempatan itu pun disampaikan hasil mubahasah perdana lajnah bahtsul masa‘il Tastafi oleh tim perumus hasil bahtsul masail, Tgk H Helmi Imran MA. Mubahasah itu sendiri berlangsung pada 15-17 April 2018 di Auditorium Ali Hasjmy Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, Banda Aceh dihadiri 117 anggota lajnah dan ulama Aceh.

Helmi menyampaikan, selama tiga hari mubahasah itu secara fokus mengkaji empat pemahaman ulama ahlussunnah wal-jama’ah yaitu pemahaman Abu Hasan Asy’ari dan fase perkembangan pemikirannya, Firqah-firqah 72 dan akidah mereka, mendalami bukti ilmiah bahwa Asy’ariyah dan Maturidiyah merupakan ahlussunnah wal-jama’ah, dan memahami perbedaan istilah ta’abbud, tabarruk, tawassul, tafa‘ul, dan ta’zhim.

Hasil mubahasah yang disepakati antara lain, Asy’ariyah dan Maturidiyah konsisten mengikuti metode salafussalih dalam berpegang pada Alquran, sunnah dan atsar yang diriwayatkan dari Rasulullah noticed dan para sahabatnya.

“Bukti ilmiah bahwa Asy’ariyah dan Maturidiyah merupakan ahlussunnah wal-jama’ah yaitu mempunyai manhaj tawasuth (moderat) dalam pemahaman akidah; tak ekstrem/radikal dan tak mudah mengkafirkan sesama muslim,” katanya.

Asy’ariyah dan Maturidiyah pun merupakan kelompok kebanyakan dalam Islam (al-sawadul a’zham) yang representasinya di masa sekarang berada dalam lingkup mazhab fikih yang empat (Hanafi, Maliki, al-Syafi’i dan Hanbali). Selain itu pun mengupayakan penyucian Allah Swt dari beberapa bentuk penyerupaan-Nya dengan makhluk.(mas/tribunnewsaceh))

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker