Biografi Nabi Muhammad Saw

Penghina Adzan Ini Dimaafkan Rasulullah dan Membimbingnya

Terhadap Penghina Adzan, Ternyata Rasulullah Memaafkan dan Membimbingnya….

Puisi puteri Proklamator Bung Karno, Sukmawati Soekarno Puteri yang dinilai menista agama Islam dengan menjelaskan kidung ibu lebih merdu dari suara adzan terus panen kontroversi. Puisi yang dibacakan pada “Indonesian Fashion Week” menyambut 29 tahun karya Anne Avantie (28/03) tersebut langsung memperoleh kecaman dari beberapa pihak. Bahkan sekelompok orang melaksanakan aksi demo menuntut supaya Sukmawati diproses secara hukum walaupun dirinya sudah minta maaf.

Apa yang dilaksanakan Sukmawati ternyata pun pernah terjadi di masa Nabi Saw. Ketika itu ada seorang pemuda Quraish yang melaksanakan penghinaan terhadap suara adzan yang dikumandangkan mu’adzin atau juru adzan Nabi Saw dengan meniru-meniru suara adzan itu.

Di luar dugaan ternyata Rasulullah memaafkan orang tersebut bahkan membimbingnya dan mengajarinya adzan sampai akhirnya menyatakan beriman bahkan sebagai mu’adzin di Masjidil Haram sampai akhir hayatnya.

Penghina Adzan Ini Dimaafkan Rasulullah dan Membimbingnya

Dikisahkan di dalam kitab Al-Isti’ab bahwa ada seorang laki-laki bernama Abu Mahdzurah. Suatu saat dia keluar bareng kurang lebih 10 orang teman-temannya lalu di tengah jalan berpapasan dengan pasukan Baginda Nabi Saw yang baru saja pulang dari Hunain. Lalu salah seorang muadzin Nabi Saw mengumandangkan adzan sholat selaku tanda masuknya waktu sholat.

Abu Mahdzurah dan kawan-kawannya yang mendengar suara itu lalu meniru dengan maksud meledek dan menghina adzan tersebut. Mendengar suara ejekan tersebut Rasulullah langsung mengutus pasukannya supaya menjumpahi segerombolan orang tersebut yang diantara mereka terdapat Abu Mahdzurah. Maka dipanggillah sekelompok orang itu menuju depan Baginda Nabi SAW.

Di depan Baginda Nabi, dengan rasa takut sampai gemetar tubuhnya, di luar dugaan, Nabi Saw malah memyambutnya dengan penuh keramah tamahan.

فقال ايكم الذى سمعت صوته قد ارتفع

Dengen halus Nabi menanyakan “Siapa diantara kalian yang tadi terdengar suaranya kayak gitu keras?”.

فاشار القوم كلهم الي وصدقوا

Lalu kawan-kawannya menuding kepada Abu Mahdzurah, seakan mereka setuju bahwa yang meniru dan meledek suara adzan tadi ialah Abu Mahdzurah. Padahal berbagai diantara mereka yang pun ikut-ikutan. Akan tetapi Abu Madzkurah sebagai korban atas apa yang mereka lakukan.

Kemudian, Nabi menugaskan pasukan untuk menangkap dan menahan orang-orang tersebut terutama Abu Madzkurah.

ثم قال قم فاذن بالصلاة

Lalu Nabi bersabda kepada Abu Madzkurah “Berdirilah, kumandangkan adzan untuk melakukan sholat!”.
فقمت، ولا شيء أكره إليَّ من رسول الله صلى الله عليه وسلم

Lalu Abu Mahdzurah berdiri mengikuti perintah Nabi dan ketika itulah tiba-tiba hilang rasa benci kepada Nabi SAW.

Yang tadinya tidak suka Nabi, memusuhi kaum muslimin bahkan menghina adzan tapi kayak gitu disapa oleh Nabi, diminta mendekat dan disuruh untuk mengumandangkan adzan, tiba-tiba lenyaplah rasa kebenciannya kepada baginda Nabi SAW.

ولا مما يأمرني به

Dan pun tak merasa benci kepada apa yang disuruh.

Abu Madzkurah tidak tidak suka ketika ditangkap dan diminta mendekat sampai ia berdiri dan disuruh untuk mengumandangkan adzan. Sebab baginya perintah itu merupakan perintah yang wajib dita’ati. Sehingga ia melakukan perintah tersebut dengan sepenuh hati.

فقمت بين يديه، فألقى علي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – التأذين هو بنفسه

Lalu saya berdiri di depan Nabi. Kepadaku Nabi mengajarkan cara mengumandangkan adzan. Beliau sendiri yang mengajarkan secara langsung.

فقال: قل: الله أكبر الله أكبر

Nabi bersabda “ucapkanlah Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Maka lalu Abu Madzkurah mengikutinya dengan penuh ketaatan.

فذكر الأذان

Sampai Nabi menuntaskan pelajaran adzan dan diikuti oleh Abu Madzkurah dengan penuh ketenangan, keimanan dan penuh keridhoan tanpa paksaan.

ثم دعاني حين قضيت التأذين فأعطاني صرة فيها شيء من فضة

Lalu Nabi memanggilku saat selesai membacakan adzan. Lalu Nabi memberikan hadiah sejenis perhiasan dari perak.

ثم وضع يده على ناصيتي، ثم من بين ثديي

Lalu Nabi menaruh tanganya yang harum semerbak bunga mawar di atas ubun-ubunku lalu mengusap dadaku.

ثم على كبدي، حتى بلغت يد رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سرتي

Lalu di bagian dadaku, sampai tangan Nabi Saw mengusap sampai bagian perutku.

ثم قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “بارك الله فيك، وبارك الله عليك

Lalu Nabi Saw berdoa, Allah memberkahimu dan memberkahi atasmu.

فقلت: يا رسول الله مرني بالتأذين بمكة، قال “قد أمرتك به”

Saya menjawab “Ya Rasulullah perintahkan untuk sebagai juru adzan di kota Mekah”.

Akhinya penghina adzan menjadi muadzin seumur hidupnya

Inilah kejadian yang sungguh luar biasa. Seorang Abu Madzkurah yang semula tidak suka Nabi, Syari’at Islam bahkan tidak suka adzan. Tapi dengan kelembutan baginda Nabi, ketulusannya, usapan halus tangannya dan dengan do’a barokah Beliau, Abu Madzkurah malah beriman bahkan sebagai juru adzan di kota Mekah atas perintah Nabi di bawah kepemimpinan Gubernur Attab bin Asid selaku wakil Rasulullah di kota suci Mekkah ketika itu.

Konon, Abu Madzkurah ialah orang pertama yang mengumandakan adzan sesudah Rasulullah meninggalkan Mekah ke Madinah. Ia terus sebagai muadzin di Masjid al-Haram sampai akhir hayatnya. Lalu dilanjutkan oleh keturan-keturunannya sampai waktu yang lama. Ada yang menjelaskan sampai masa Imam asy-Syafi’i.

Dikisahkan pula, Abu Mahdzurah sesudah dibelai rambutnya oleh Baginda Nabi Muhammad SAW, ia tak pernah mencukur rambutnya sambil berkata : “Untuk Allah aku tak bakal pernah mencukur rambut aku ini sampai akhir hayat”.

——————–

Disarikan dari Khutbah KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Jumat, 6 April 2018. Di Masjid Jami’ Ibrahimy Sukorejo – Situbondo.

Serambimata

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker