Pengaruh Indonesia dalam Transformasi Afghanistan

Presiden RI Jokowi dan Ashraf Ghani

Pengaruh Indonesia dalam Transformasi Afghanistan

Republik Indonesia dengan populasi lebih dari 250 juta orang merupakan negara muslim terbesar di dunia dan termasuk anggota penting ASEAN. Menyusul kekalahan kubu teroris Daesh di Timur Tengah, Indonesia termasuk negara pertama yang memahami bahaya meluasnya pengaruh kubu teroris ini di Asia Tenggara. Untuk itu Indonesia cepat mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengamankan keadaan dalam negeri dan keputusan strategi luar negeri.

Di dalam negeri, Presiden Jokowi, Presiden Republik Indonesia mengeluarkan keputusan presiden mencegah aktivitas kelompok-kelompok yang tak mengakui ideologi Pancasila. Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang berdasarkan lima sila; Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Dengan beginilah pemerintah Indonesia sudah melarang aktifitas kubu radikal seperti Hizbut Tahrir yang dapat jadi jalur masuknya pengaruh kubu teroris seperti Daesh di Indonesia.

Langkah kedua yang ditunaikan oleh pemerintah ialah memperketat aktivitas masjid dan meminta para penceramah tak berbicara soal radikalisme. Sebaliknya, mereka hendaknya memberikan info dan pencerahan terhadap generasi muda akan niat dari kelompok-kelompok radikal dan teroris untuk melarang mereka terlibat di dalamnya. Satu dari jalur yang tidak sedikit dipakai oleh kubu radikal ialah masjid.

Rezim Al Saud sudah melaksanakan investasi semenjak lama di sebagian masjid serta yayasan-yayasan sosial dan keagamaan dengan menggelontorkan biaya yang tak tidak banyak untuk menyebarkan akidah Wahabi. Langkah pemerintah berhadapan dengan radikalisme memperlihatkan Indonesia selain mempersiapkan pengamanan, tapi prioritas yang ditunaikan ialah memanfaatkan kapasitas ulama untuk mencerahkan masarakat, khususnya kalangan pemuda akan maksud buruk kaum radikal dan teroris. Mereka mempergunakan nama Islam untuk memperkenalkan ajaran salah dan full kejahatan.

Pemerintah Indonesia terlalu memperhatikan bagaimana memanfaatkan ulama bagi kepentingan dalam dan luar negeri. Di bagian dalam negeri, kebanyakan aktivitas budaya dan keagamaan diberikan terhadap Nahdlatul Ulama, bagian organisasi keagamaan paling besar di Indonesia. Diinginkan dengan pengaruh NU yang besar di tengah masarakat Indonesia dapat mengontrol radikalisme di negara ini.

Keberhasilan pemerintah Jakarta mempergunakan kapasitas ulama untuk mengontrol radikalisme dan terorisme membikin Presiden Indonesia mulai meluaskan gerakannya baik di tingkat regional maupun internasional. Presiden Presiden Jokowi atau yang lebih dikenal dengan Presiden Jokowi dalam lawatan terbarunya ke Afghanistan dan Pakistan, meminta diadakan perjumpaan bareng antara ulama dua negara dengan Indonesia.

Perjumpaan ulama 3 negara akhirnya diadakan di kota Bogor, Indonesia. Dalam perjumpaan itu menghasilkan sejumlah keputusan antara lain menyebut serbuan bunuh diri bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Begitu juga meminta terhadap pihak-pihak yang terlibat konflik dalam perang Afghnistan supaya berkoalisi dalam proses perdamaian. Disebutkan bahwa telah ada usaha untuk mengundang Taliban dalam perjumpaan ini tapi ditolak.

Muhyiddin Junaidi, ulama Indonesia menjelaskan, ulama Indonesia berusaha membagi pengalamannya dalam membantu penyelesaian problem Afghanistan dengan ulama Afghanistan dan Pakistan.

Presiden Presiden Jokowi dan Ulama Afghanistan

Sekalipun pemerintah Indonesia dari sisi politik dan keamanan tak punya pengaruh dalam transformasi Afghanistan, akan tetapi meyakini ulama Indonesia dapat memainkan peran penting dan berpengaruh dalam proses perdamaian Afghanistan. Hal itu dengan memperkuat persatuan nasional di dunia Islam di antara ulama. Sebab radikalisme sudah merugikan semuan dunia Islam dan menutup mata dari kejahatan yang ditunaikan Wahabi dan Takfiri di Afghanistan dapat membantu perluasan geografi terorisme.

Javid Kouhestani, ahli problem keamanan di Afghanistan menjelaskan, pemerintah dan ulama di Pakistan dipengaruhi oleh struktur keamanan negara ini. Ulama Pakistan pada awalnya wajib mengkritik keras serbuan bunuh diri di negara ini dan melarang pengulangan kejadian tersebut. Sebab sekolah-sekolah agama di Pakistan dikenal selaku pemasok sumber daya insan kelompok-kelompok radikalisme dan terorisme.

Sekalipun beginilah, fatwa ulama dalam mengkritik keras serbuan bunuh diri dan mempersoalkan legitimasi keagamaan berlanjutnya perang oleh Taliban dan seluruh kelompok-kelompok milisi bersenjata terlalu berpengaruh. Fatwa tersebut dapat mempengaruhi orang-orang yang terlibat perang berdasarkan keyakinan keagamaan dan dipengaruhi paham sesat Wahabi.

Sanaullah Mukhlis, analis politik menjelaskan, dikeluarkannya fatwa oleh para ulama terlalu berpengaruh pada anggota milisi bersenjata dan mereka yang ikut perang cuma dengan alasan agama. Fatwa tersebut dapat memotivasi mereka lebih mengenal halal dan haram. Sekarang, kisaran 80 % rakyat Afghanistan telah tercerahkan dan mereka mengetahui apa alasan berlanjutnya perang.

Poin penting yang wajib diperhatikan di sini, bahwa fatwa ulama ini jangan sampai tak sama antara legitimasi perang di Pakistan dan Afghanistan. Sebab perang saudara dan melenceng dari ajaran asli Islam di kedua negara sudah menimbulkan musibah besar. Selain terjadi tindakan mematikan antara ummat Islam, juga sudah menciptakan perpecahan di dunia Islam.

Nusratullah Haqpal, analis politik menjelaskan, para maula dan pemimpin keagamaan Pakistan selalu menekankan bahwa perang melawan pemerintah negara ini tak dibenarkan oleh agama. Oleh karenanya, serbuan bunuh diri tak boleh ditunaikan. Sementara para pemimpin ini juga yang membolehkan perang di Afghanistan dan memberi legitimasi atas perang tersebut padahal apa yang ditunaikan ialah sungguh-sungguh kebatilan.

Bagaimanapun juga, Pelaksanaan perjumpaan ulama yang setuju mengeluarkan fatwa haram melaksanakan serbuan bunuh diri dan teror dapat memberi pengaruh penting dalam menyadarkan masarakat akan maksud kubu radikal. Namun di sini para penguasa Arab Saudi tak ingin tertinggal dan melaksanakan perjumpaan formalitas di Jeddah ingin memperlihatkan terhadap Amerika tengah berusaha menuntaskan krisis Afghanistan.

Padahal Arab Saudi, Uni Emirat Arab bareng Amerika dan Pakistan punya peran menentukan dalam pembentukan dan sokongan kepada kubu Taliban. Tanpa sokongan finansial dan spirit Arab Saudi, kubu Taliban tak akan pernah sanggup meneruskan aktivitasnya di Afghanistan.

Itulah mengapan Indonesia menyelenggarakan perjumpaan ulama tanpa dihadiri Arab Saudi di kota Bogor selaku usaha menuntaskan krisis Afghanistan dengan mencermati pengaruh Pakistan. Sebab pemerintah Jakarta dengan baik mengetahui bahwa dampak dari saban krisis dan ketidakamanan di Afghanistan dapat menyebar ke wilayah Asia Tenggara.

Oleh karenanya, langkah Presiden Jokowi, Presiden Republik Indonesia yang pertama ialah memetakan problem dengan terang. Untuk itu Presiden Presiden Jokowi melaksanakan kunjungan ke Afghanistan dan Pakistan. seusai itu Presiden Indonesia meminta partisipasi serius ulama untuk menuntaskan krisis Afghanistan.

Source by Hakim Abdul

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOLOM KOMENTAR ANDA :