Pengalihan Fakta ISIS dengan Dokumen Pembentukan ISIS

Israel dan AS Merupakan Pemodal, Pendiri, Mengatur dan Mendanai ISIS

tulisan De Spiegel merupakan pengalihan fakta bahwa Israel dan Amerika Serikat (AS) merupakan pemodal, pendiri, mengatur dan mendanai ISIS.

Islam Institute, BERLIN – seorang pria bernama Haji Bakar, menurut dokumen tersebut ditengarai berada di balik perencanaan pembentukan gerakan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah). Dia yang bernama asli Samir Abd Mohammed al Khalifa telah tewas saat baku tembak di kota Tal Rifaat Januari 2014 lalu.

De Spiegel, Koran terkemuka asal Jerman menemukan bukti dokumen berisi 31 halaman mengenai perencanaan pembentukan ISIS. Dokumen tersebut ditulis oleh Samir seorang mantan kolonel di Dinas Intelejen Angkatan Pertahanan Udara Saddam Hussein.

Akan tetapi, seorang pembaca Ben Harper mengatakan, tulisan De Spiegel merupakan pengalihan fakta bahwa Israel dan Amerika Serikat (AS) merupakan pemodal, pendiri, mengatur dan mendanai ISIS. Tulisan tersebut menurutnya hanya karangan palsu.

Motifnya ISIS ada adalah agar Timur Tengah berada dalam kekacauan. Arab dapat diatur selama 100 tahun dan minyak mereka menjadi murah. Mengapa ISIS tidak menyerang AS atau Israel? Menurutnya, ISIS tidak akan menggigit pemberi modalnya.

Arsitek ISIS tersebut meninggalkan dokumen yang ingin dirahasiakan sebuah blue print ISIS. Dalam cetak biru tersebut terdapat rencana teknis penyelidikan ISIS mengenai calon anggota ISIS.

Dia dan sekelompok mantan perwira intelejen Irak membuat Abu Bakar al Baghdadi sebagai pemimpin ISIS. Dia bekerja sama dengan Abu Musab al Zarqawi di Anbar, Irak Barat.

Antara ISIS dan Jabhat Al Nusra Bersama Kelompok “Jihad” Lainnya Saling Berburu dan Saling Bantai

Bakar menjadi pemimpin militer di Irak tahun 2006-2008. ISIS bergabung dengan Partai Baath di Irak. Mereka berusaha untuk melawan pemerintah Irak. Namun ide tersebut dinilai sia-sia.

Bakar memiliki kesempatan terbaiknya ketika terjadi pemberontakan yang disupport negara-negara asing melawan presiden Bashar al-Assad di Suriah. Di sana terdapat banyak brigade pemberontak dan peluang besar untuk mengeskploitasinya.

ISIS berkamuflase menjadi lembaga dakwah. Mereka tidak pernah menyebutkan mengenai ISIS. ISIS berusaha untuk membentuk negara sendiri dengan menyerang pemerintah Suriah dan pemberontak. Mereka menyerang tentara milik pemerintah Suriah.

Jabhat al-Nusra dan beberapa brigade pemberontak lainnya bekerja sama menyerang ISIS setelah terlihat mereka memiliki kamp-kamp militer yang semakin meluas di Suriah. Ketika di awal menjelang deklarasi berdirinya ISIS sebagai negara Islam terjadi saling bantai di antara militan anggota ISIS melawan Jabhat al-Nusra, Ahrar Syam dan beberapa kelompok “Jihad” Suriah lannya.

Seorang pembaca tersebut, Ben Harper berpendapat bahwa ini adalah skenario yang dibuat agar muslim Sunni (Wahabi) dan Syiah berperang. Sehingga ISIS bersama kroni-kroni “gaib’-nya dapat menjadi penguasa di Irak dan Suriah. (al/republika)

You might like

About the Author: admin

1 Comment

KOLOM KOMENTAR ANDA :