Home / Anak Cucu Nabi / Cinta Dusta Kaum Wahabi Terhadap Ahlul Bait Nabi Saw

Cinta Dusta Kaum Wahabi Terhadap Ahlul Bait Nabi Saw

Bagaimana bisa mengaku-ngaku cinta ahlul bait Nabi tapi di saat yang sama juga mengingkari eksistensi ahlul bait Nabi? Cinta Nabi dan ahlul bait Nabi (keluarga dan dzuriyah Nabi) adalah bagian dari amal yang menyempurnakan iman kita. Artinya adalah bahwa keimanan kita tanpa dibarengi cinta kepada Nabi saw dan ahlul baitnya. Iman kita menjadi cacat disebabkan melanggar perintah Rasulullah saw.

Rasulullah Saw menyuruh (mewajibkan) kita umatnya dalam sabdanya: “Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang dianugerahkan kepada kalian. Cintailah aku karena cinta kalian kepada Allah dan cintailah Ahlul Baitku karena cinta kalian kepadaku.” (Sunan Turmudzi, jilid 5, hal 664, hadis 3789).

Akan tetapi, dari apa yang sering mereka katakan tentang cinta ahlul bait Nabi, ternyata banyak ucapan-ucapan kaum Wahabi tentang Cinta Ahlut Bait hanyalah bohong besar belaka. Pengakuan cinta mereka tidak dapat dibuktikan alias dusta. Ada banyak alasan yang mereka paparkan dengan membuat berbagai macam definisi yang membingungkan tentang ahlul bait Nabi. Yang mana intinya mengarah kepada penolakan untuk mencintai ahlul bait Nabi.

Bukan hanya itu, bahkan lebih dari itu mereka mengingkari keberadaan ahlul bait Nabi seraya berkata diplomatis: ”Kami juga cinta ahlul bait,” begitu mereka membela diri ketika ditanya kenapa tidak respek sedikit pun dengan ahlul bait (keluarga dzuriyah) Nabi saw. Pengakuannya itu hanyalah dusta yang nyata. Sebab mereka juga mengingkarinya dengan berkata: ”Tapi berapa banyak jaman ini yang mengaku-aku Ahlul Bait tapi amalannya menyelisihi Sunnah penghulunya”.

Alangkah halus pengingkrannya sembari melempar tuduhan yang bukan-bukan. Padahal sesungguhnya mereka itu adalah benar ahlul bait Nabi tanpa mengaku-aku seperti yang dituduhkan kaum Wahabi. Mereka itu benar-benar keturunan Rasulallah SAW, Nasab mereka terjaga hingga yaumil Qiyamah tanpa noda-noda kepalsuan. Mereka ini hapal silsilah nasabnya semenjak kanak-kanak, yaitu nasab yang bersambung sampai kepada Rasulullah Saw.

Bahkan banyak dari mereka “bersembunyi” agar tidak diketahui nasabnya oleh umat, namun umat muhibbin selalu memergokinya sehingga dengan sepenuh hati melampiaskan cinta dan penghormatannya tanpa basa-basi. Jadi sekali lagi saya katakan mereka tidak mengaku-ngaku ahlul bait, mungkin itu hanya persepsi anda akibat salah informasi.

Coba pikirkan, apa urgensinya bagi ahlul bait untuk mengaku-ngaku, sungguh tak ada urgensinya kecuali bagi ahlul bait Nabi palsu. Dan yang namanya ahlul bait palsu tentu bukan ahlul bait Nabi saw.

Sanad ilmu ahlul bait Nabi Saw

Berkaitan dengan sanad ilmu ahlul bait tentunya valid bersambung sampai kepada Rasulullah Saw, dan ini bias dibuktikan. Bahkan ustadz dan Kiyai atau syaikh-syaikh Aswaja yang bukan Ahlul bait pun memiliki sanad keilmuan yang mutashil nyambung sampai kepada Rasulallah SAW. Silahkan anda sebagai ustadz Wahabi, sebutkan nasab anda tujuh orang saja. Saya yakin anda tidak mampu menyebutkannya. Atau silahakn buktikan sanad keilmuan anda sampai di mana mentoknya ?

Sanad keilmuan para ahlul bait atau Habaib itu nyambung sampai Rasulallah SAW tanpa tadlis, ini menunjukkan bahwa pemahaman Aqidah dan amaliyahnya terpelihara. Lantas kenapa kalian berani menuduhnya yang bukan-bukan tentang aqidah dan amaliyah para ahlul bait Nabi saw?  Anda harus membuktikan secara ilmiyyah dan mempertanggung-jawabkan ucapan: ”Tapi berapa banyak jaman ini yang mengaku-ngaku ahlul bait tapi amalannya menyelisihi Sunnah penghulunya.”

Apakah anda tidak pernah mendengar sabda Rasulallah SAW: “… dan keluargaku, aku ingatkan kalian pada Allah terkait kelurgaku, aku ingatkan kalian pada Allah terkait keluargaku aku ingatkan kalian pada Allah terkait keluargaku…”, hadist ini diriwayakan Imam Muslim 4425 dari sayidina zaid bin Arqom. Lihat bagaimana Rosulallah mengulanginya hingga tiga kali, menunjukkan betapa urgens buat kita umatnya agar mencintai ahlul bait Nabi saw ?

Rosulallah SAW juga bersabda: “Sesungguhnya aku meninggalkan di antara kalian yang jika kalian berpegang teguh kepadanya maka kalian tidak akan tersesat sepeninggalku, salah satu dari keduanya lebih besar dari yang lain, yaitu Kitabullah tali yang menjulur dari langit ke bumi, dan keturunanku, keluargaku, tidaklah keduanya berpisah hingga menemuiku ditelaga surga, maka perhatikan bagaimana kalian menggantikanku dalam mencintai keduanya.” ( HR Attirmidzi 3788 ).

Kedua hadist ini ketika disinkronkan menjadi jaminan keaslian dan kemurnian faham Aqidah dan amaliyah Ahlil bait sesuai ajaran Rasulallah SAW, lantas jaminan apa yang anda pegang dari Faham Salafi / Wahabi ? Saya ingatkan sebuah pe-er buat anda, silahkan buktikan secara ilmiyyah amalan yang mana yang diamalkan ahlul bait yang menyelihi Sunnah penghulunya? Jangan sok tahu,  jangan bicara tanpa bukti, itu namanya fitnah.

Sebelum saya akhiri, akan saya berithukan kepada anda bahwa cinta kaum Aswaja kepada ahlul bait Nabi adalah real bisa dibuktikan. Kaum Aswaja selalu bersama Ahlul Bait Nabi, bisa disebutkan nama-namanya, bukan sekedar pengakuan dusta. Kaum Aswaja mencintai ahlul bait Nabi yang bernama habib Umar bin Hafidz Yaman. Habib Ali al Jufri Yaman.  Habib Munzir Al Musawa Jakarta. Sayyid Muhammad bin Alawy Al Maliki Al Hasani Makkah. Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan. Habib Naufal Alaydrus Solo. Habib Husen Assegaff Rasil Jakarta, dan masih banyak Habaib di Indonesia dan seluruh dunia.

Kami kaum aswaja mencintai mereka semuanya, bersama mereka dan mendukung mereka tanpa banyak alasan. Apakah anda kaum Wahabi juga mencintai mereka atau sebaliknya menganggap mereka Ahlul Bid’ah dan biang kesyirikan?

Lalu apa bukti kalian mencintai ahlul bait Nabi? Sebutkan satu nama saja ahlul bait Nabi yang kalian selalu bersamanya karena cinta. Sebagai bukti pengakuan kalian juga cinta ahlul bait Nabi Saw.

Oleh: Qodrat Arispati

111 comments

  1. @Admind,
    Mohon penjelasannya, gambar sampul majalah “As-Sunnah” diatas milik Aswaja atau Wahabi ?

    • majalah As Sunnah milik Salafi Wahabi, Mas Nasir.

      • Kasihan… anak2 Wahabi dikibulin ustadz2nya, sampai-sampai mereka tidak punya tokoh ahlul bait yg bisa dicintainya.

        Kira2 siapa ya tokoh ahlul bait zaman ini yg dicintai teman-teman Wahabi? jadi penasaran ingin tahu jawaban mereka, tapi qu yakin mereka tidak punya tokoh ahlul bait seorang pun, jadi benar mereka cuma ngaku2 cinta ahlul bait tapi tak ada seorang pun yang bisa dicintainya, alias ngayal doang.

        Sekali lagi kasihan benar mereka akibat dikibulin syaikh2 dan ustadz2 nya. Padahal mencintai ahlul bait adalah bagian dari kesem[purnaan iman. Lalu bagaimana dg mereka ini imannya?

  2. Saya sangat setuju dg postingan di atas, sesungguhnya kaum Wahabi adalah pendusta soal pengakuan mereka dalam mencintai ahlul bait.

    Mereka tak punya tokoh / profil ahlul bait yg dapat dicintainya, justru mereka selama ini selalu menganngap tokoh2 ahlul bait sebagai dedengkot kesyiriakan dan ahlul bid’ah, na’udzu billah minanl kaumi al wahabiyyah.

    Ini akibat mereka termakan fitanh ajaran Wahabi yg Mbulet tentang ahlul bait. Kalau membaca artikel2 Wahabi soal ahlul bait maka saya bisa menyimpulkan bahwa mereka sendirilah ahlul bait, saya cuma bisa senyum2 dalam hati padahal cecak2 di dinding pada ketawa melihat ke-ge-eran kaum Wahabi.

    Boleh2 saja kaum wahabi ge-er menjadi ahlul bait nabi, tapi persoalannya nabi saw mau mengakui kalian yg tiukang fitnah ini sebagai ahlul baitnya? Mikir doooonng?

  3. wahabi itu mencintai mu’awiyah dan anaknya yazid…mereka dimanapun selalu melecehkan habaib…ini fakta!!!

    • betul, kalau mu’awiyah dan anakcucunya dikritik biasanya para Wahabiyun akan ngamuk, kalau kelarga Nabi justru dianggap ahlul bid’ah dan biang kemusyrikan. Wahabi benar2 durhaka kepada Nabi saw karena tidak cinta kepada ahlul baitnya. Allah tidak akan ridho, makanya mayat2 mereka di Suriah pada dikeroyok lalat padahal demen teriak2 ALLOHU AKBAR!!! Kalau matinya syahid pastilah lalat akan hormat pada mayat2 Wahabi yg modar di Suriah.

      • Ingat semua Aswaja… memang dari dulunya Mereka membenci Ahlul Bait…masuk Islamnya saja terpaksa… dan sampai sekarang yg selalu mengolok-olok Ahlul Bait dan karena seringnya maka Hatinya pun BERKARAK DAN HITAM Mungkin tak bisa lagi untuk mencintai Ahlul Bait akibatnya apa, Neraka Jahannam lah menunggu dan Menyambut kedatangan Mereka (Kaum yg Ingkar). Penyesalan tak berguna dan tak dapat di Reset.
        Dan Juga dari Kaum Ahlul Baitnya sendiri yg keluar dari Ahlul Bait karena Akidahnya yg sesat Juga yaitu SYI’AH jadi Syiah dan Wahabi sama tapi tak serupa, dan kalo dicermati banyak kesamaannya. karena BIG BOSS nya Satu yaitu Zionis.

  4. buat teman-teman umati, simak paparan habib rizik shihab

    http://www.youtube.com/watch?v=xbk4Cy4hg60

    ******

  5. Sekarang ini seperti mulai ada gerakan merata dari wahabi (baik dari seniornya maupun anak bawangnya) untuk mendiskrditkan para Habaib, mencari-cari aib para Habaib, memfitnah para Habaib sebagai penganut dan penyebar syi’ah dan lain-lain. Sepertinya para waheboy itu mulai menyadari bahwa Habaib terutama Ulamanya adalah merupakan salah satu benteng Ahlussunnah wal jama’ah yg masih cukup sulit ditembus. Karena ummat menjadikan mereka sebagai kecintaan dan panutan. Walaupun tak dipungkri ada bbrp ‘oknum’ dari kalangan habaib yg terpengaruh syi’ah, tapi sekali lagi mayoritas para Habaib terutama ulamanya adalah penganut Ahlusunnah wal jama’ah tulen (sunni syafi’i / Asya’ari). Karena itulah kalangan wahabi mulai berusaha sekuat tanaga menanamkan keraguan pd ummat thd para Habaib dgn target utama agar ummat semakin jauh dari faham Ahlussunnah wal jama’ah, sehingga semakin mudah dimasuki, dirasuki dan didokrin faham wahabi.
    Waspadalah dgn tujuan & motif licik kalangan waheboy dlm mendiskreditkan para Habaib saat ini !!!

  6. Setahu saya yg dicintai kaum Wahabi adalah dirinya sendiri dan hawa nafsu yg disembahnya, wallohu a’lam.

    Kalau sama Nabi Saw cintanya palsu banget, malah sering Kaum Wahabi memfitnah nabi Muhammad Saw, misalnya melarang Ummat Islam menyebut Nabi Muhamma dg Sayyidina takut syirik, ini salah satu fitnah mereka kpd Nabi Muhammad. Apalagi pada anak cucu Nabi pastinya lebih parah sikapnya dan pura2 cinta alias cinta palsu alias palsu kuadrat. Terbukti mereka sangat tidak sopan kalau mengomentari hal-hal yg berkaitan dg Nabi danahlul baitnya.

    Mereka akan sulit sembuh dari belenggu fitnah yg menyebar di antara mereka, sebab kata Nabi mereka keluar dari Islam sebagaimana panah menembus bintang buruan. Jadi akan sulit panah kembali ke busurnya, demikian juga Wahabi keluar dari Islam nyaris mustahil mereka kembali ke Islam yg diajarkan Nabi Muhammad saw.

    Buktinya mereka punya aqidah yg berbeda dg mayoritas Ulama Salaf sholih, mereka punya penafisran tentang bid’ah yg berbeda dg mayoritas Ulama Salaf sholih. Demikian sedkit apa yg saya ketahui tentang mereka, mohon maaf dan mohon koreksinya kalau ada yg benar dalam persepsi saya, sebab ini hanyalah kesan2 saya dari pengalaman berinteraksi dg mereka (teman2 saya) di kampus.

  7. Cinta kami kepada Rasulullah sholallahu alaihi wasaalam dan keluarganya sangatlah jauh berbeda dengan kaum asya’iroh dan syiah yg cuma dimulut saja.Kami senantiasa menjalani dan menghidupkan sunnah beliau Sholallahu alaihi wasaalam sedangkan kalian berusaha mematikannya.

    • Hilamalia Salamah

      Mana buktinya anda mencintai ahlul bait, apakah dg cara menganggap mereka musyrik dan ahlul bid’ah? Coba sebutkan nama Ahlul bait zaman ini yg kalian cintai, seperti yg ditanyakan oleh penulis artikel di postingan.

  8. ummu hasanah@ kasih contoh dong biar kami tahu yang anda maksud menghidupkan sunnah??

  9. Sebenarnya ucapan Ummu Hasanah itu ga perlu ditanggapi, dia itu lagi stres ditinggal suaminya yang “Kawin dengan Niat Cerai” ala Bin Baz Al Wahabi Tulen. Kasihan dia ditipu Wahabi lahir bathin dan aqidah.

  10. @ummu hasanah …. (Dari gaya bahasanya saya tdk yakin klu antum itu akhwat, tp mdh2n antum itu benar2 akhwat…)

    Kita teman2 Aswaja akan dengan sabar selalu mencerahkan antum di sini….

    1) Komentar antum:
    Cinta kami kepada Rasulullah sholallahu alaihi wasaalam dan keluarganya sangatlah jauh berbeda dengan kaum asya’iroh dan syiah yg cuma dimulut saja.

    JAWAB:
    Kita lihat dari terminologi sejarah, generasi terbaik ummat ini (para ahli tafsir, para ahli hadits, para ahli fiqih, para ahli tauhid, para ahli tasawwuf, dan para ahli ilmu dalam agama ini….. adalah ahlusunnah wal jamaah (akidah asy’ariah-maturidiyah). Mulai dari abad ke-3 H. Tidakkah antum mengenal Imam2 Kutubussittah? Imam Bukhori, Imam Muslim, dll beserta murid2nya… Imam Ibnu hajar, Imam Nawawi, dll..) Apakah Cinta mereka (yg akidahnya Asy’ariyah-Maturidiyah) kepada Rasul dan keluarganya hanya dimulut saja… Bagaimana mereka menyusun dan menjaga ucapan2 mulia nabi dibukukan dalam kitab2 karya mereka yang bermanfaat sepanjang zaman dikatakan hanya cinta dimulut saja? Apakah akhlak mereka dalam berdakwah (yang santun, indah, dengan hujjah yang kuat dan bersanad, tawadhu’) bukan akhlak nabi yang mulia?

    Perlu diingat, sepengetahuan saya, Para ulama2 besarlah (Jumhur Ulama Mu’tabar) lah yang mengatakan bahwa akidah Imam Abul Hasan Al-Asy’ari lah yang paling sesuai dengan dengan akidah yang diajarkan Nabi yang mulia melalui para Sahabatnya, yang kemudian dikenal dengan Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Yang terus dijaga melalui ulama2 besar dari zamannya s.d ulama2 salih kita pada saat ini.

    Tambahan pula, bukankah Nabi sendiri dalam salah satu haditsnya telah menunjukkan isyarat itu, melalui isyarat keturunan Abu Musa Al-Asy’Ari…

    Bandingkan dengan kemunculan pendiri faham wahabi yang muncul pada abad ke 17 M… Bagaimana akhlaknya baik thd gurunya, sesama muslim atau bahkan non muslim? Sesuaikah dengan akhlak Nabi yang mulia? …. Silahkan renungkan….

    Dan coba sebutkan Jumhur ulama siapa yang mengatakan Akidah Wahabi sebagai Ahlussunah Wal Jamaah?… (Jumhur Ulama Ahlussunnah yaa…)

    2) Komentar Antum:
    Kami senantiasa menjalani dan menghidupkan sunnah beliau Sholallahu alaihi wasaalam sedangkan kalian berusaha mematikannya.

    JAWAB:
    Dibagian mana dan pada hal apa Kami (Ahlussunnah Wal Jamaah Imam Asy’ari dan Maturidi) mematikan Sunnah?
    Perhatikan bagaimana ulama2 besar kami sangat menjaga Sunnah Nabi secara Kaffah, Kohesif dan Tidak sepotong2. Dalam hal kodifikasi hadits misalkan, bagaimana kemudian hadits2 (yg notabene ucapan Nabi yang mulia) diklasifikasikan menjadi shohih, hasan, marfu, tidak shohih, maudhu,… dsb. Kemudian hadits2 yang shohih dibukukan, yang hasan dan lainnya dibukukan tersendiri…. tidak lantas dibuang begitu saja…. sebagai bentuk kehati2an terhadap Sabda2 Nabi yang mulia…

    Lalu bagaimanakah akhlak para ulama2 Ahlussunah kami, yang terangkum Indah dalam sejarah dengan hiasan Akhlak yang terpuji, Lihatlah Akhlak Imam Madzahid, Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Ibn Hajar, Imam Ghazali, ………….. dan Imam2 besar serta ulama2 kami sampai zaman ini… Begitu Indah, membawa Rahmat dan kebaikan dimanapun mereka berada… Dan tidak akan cukup dituliskan dengan tinta di atas kertas… Lalu dibagian mana kami yang mengikuti mereka dikatakan mematikan sunnah?

    Lihat bagaimana respon ulama2 kami yang difitnah dengan isu2 bid’ah, syirik, dsb…. Mereka tersenyum, menjelaskan semua dalil2 melalui pendapat ulama2 mu’tabar dengan santun dan hujjah yang kuat dan bersanad sampai Rasululloh Saw,… dan karena tingginya Akhlak para ulama kami, … Mereka memaafkan orang2 yang memfitnah mereka, bukan membalasnya dengan cara yang sama… Lalu dibagian manakah mereka mematikan sunnah? Bukankah itu representasi akhlak Nabi yang Mulia?

    Semoga Allah SWT tetap menjaga ulama2 kami dengan inayah dan taufik-Nya… Sebagai benteng ummat dalam menjaga agama yang benar ini…

    Wallahu’Alam

    • kalangan nu saking bencinya dg wahhabi seringkali mengatakan wahhabi cingkrang (baca: ga isbal), padahal celana diatas mata kaki adalah sunnah Rasul. Itu salah satu bukti dari beberapa hal bahwa NU mematikan/membenci sunnah.

  11. Bismillah,
    To all Aswaja@, kami mengajak saudaraku semua untuk bersikap hati2 dan selektif dalam merespon comment pengunjung ummati, terutama comment yang bernada provokativ tanpa hujjah, mengingat perbedaan sunni vs salafi/wahabi bias ditunggangi pihak ketiga yang menghendaki perpecahan diantara ummat Islam….

  12. Hilamalia, utk menyebutkan ahlu bait yg kami cintai saat ini, jadi agak malu nih…
    Soalnya, kl yg ada di Indonesia, Alhamdulillah mereka sangat paham ilmu, jadi kebanyakan mrk tidak terlalu membanggakan nasabnya.
    Kl yang di Saudi, enggak usah dijawab deh, buanyaaaak banget…. ke alalbayt.com aja.
    Di website itu bisa dilihat ahlu bait wahabi membantah dan meluruskan kesesatan ahlu bait sufi dan ahlu bait syiah

    • Hilamalia Salamah

      Ummu Hasnah, Tidak mungkin lah Ahlul bait asli nyempal dari datuknya, saya yakin 1000 persen yang di wahabi itu pasti ahlul bait palsu. Mereka itu Perlu ditanya asal-usulnya, karena ahlul bait dicatat dg rapi di Rabithoh Alawiyyah, dan ahlul bait banyak “pakar nasab” turun temurun, ketahuilah akan hal ini ummu hasanah.

      Sepert di artikel Firanda yg berjudul: “Nasehat Habib-habib Wahabi kepada habib-habib Sufi”, pasti akan ketawa baca judul ini kalau mereka tahu perihal Habaib.

  13. Ditempat kami, Al Idrus banyak, As seggaf banyak, Al Habsyi banyak, Al Jufri ada….Al Hasany Al Qaadiry pun ada, fam yg lain pun pasti ada hnya beliau2 mungkin tak menampakkan diri sahaja….
    semoga berkah…

  14. Hilamalia, anti ini mabok banget ama yg namanya habib, sampe enggak berpikir sehat. Anti pasti udah liat di you tube ada habib yg ngobrol ama kuburan. kl yg kayak begitu apa namanya? nyempal dari datuknya?
    Ana mau tanya ama anti nih.
    Abu lahab dan abu jahl itu mulia apa enggak nasabnya? tahu khan khabar dari Rasulullah sholallahu alaihi wa salam tentang dimana mrk berdua kekalnya…

    • Bismillah,

      Saudariku @ummu hasanah, berhati-hatilah dengan ucapan anda !!!

      Anti pasti udah liat di you tube ada habib yg ngobrol ama kuburan. kl yg kayak begitu apa namanya? nyempal dari datuknya?

      Perhatikan apa yang dilakukan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- (Datuk para Habaib)

      أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ يَوْمَ بَدْرٍ بِأَرْبَعَةٍ وَعِشْرِينَ رَجُلًا مِنْ صَنَادِيدِ قُرَيْشٍ فَقُذِفُوا فِي طَوِيٍّ مِنْ أَطْوَاءِ بَدْرٍ فَنَادَاهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وآلِهِ وَسَلَّمَ وَسَمَّاهُمْ ((يَا أَبَا جَهْلِ بْنَ هِشَامٍ يَا أُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ يَا عُتْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ يَا شَيْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ يَا فُلَانَ بْنَ فُلَانٍ! أَلَيْسَ قَدْ وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا فَإِنِّي قَدْ وَجَدْتُ مَا وَعَدَنِي رَبِّي حَقًّا)) .. فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللهِ مَا تُكَلِّمُ مِنْ أَجْسَادٍ لَا أَرْوَاحَ لَهَا فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ مَا أَنْتُمْ بِأَسْمَعَ لِمَا أَقُولُ مِنْهُمْ وَلَكِنَّهُمْ لاَ يُجِيْبُوْنَ))

      Sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam menyuruh mengubur 24 lelaki pembesar Qurays. Mereka dimasukkan ke dalam salah satu lembah yang terdapat di Badar. Lalu beliau -shollallohu ‘alaihi wasallam- memanggil nama-nama mereka. “Wahai Abu Jahl ibnu Hisyam !, wahai Umayyah ibnu Kholaf!, wahai ‘Utbah ibnu Robi’ah!, wahai Syaibah ibnu Robi’ah!, wahai fulan ibnu fulan!. Apakah kalian tidak mendapatkan janji Tuhan terhadap kalian itu benar? Karena aku sungguh telah mendapatkan janji Tuhanku terhadapku benar adanya.” ‘Umar ibnu Khotthob bertanya, “Wahai Rosululloh!, bukankah jasad-jasad tak bernyawa tidak bisa berbicara?” maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menjawab :“Demi Dzat yang nyawaku berada di tangannya. Kalian tidak lebih mampu mendengar terhadap ucapanku dari pada mereka. Namun mereka tidak mampu menjawab,” (HR. Bukhori-Muslim)

    • Ya ALLAH YA ROB, Perempuan ini Ahlil Nar…. Insya ALLAH…., Kapan ya Anti @UH di Panggil ke Neraka.?

  15. “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu’min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas [pemberian-Nya] lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Maidah 54)
    kaum yang Allah subhanahu wa ta’ala sebutkan di atas, sebagai kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai Allah, mereka adalah bangsa yaman, sebagaimana datang penjelasan tafsir ayat di atas dalam hadits di bawah ini,
    عن جابر بن عبد الله قال :سئل رسول الله عن قوله تعالى : (فَسَوۡفَ يَأۡتِى ٱللَّهُ بِقَوۡمٍ۬ يُحِبُّہُمۡ وَيُحِبُّونَهُ) قال : هؤلاء قوم من اليمن
    Diriwayatkan oleh Imam Ath-tabrani dari sahabat jabir bin abdillah bahwasanya beliau berkata : rosulullah shalallahu alaihi wa sallam telah ditanya tentang firman Allah (“maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya“) beliau berkata : mereka adalah sekelompok kaum dari negeri yaman.

    ALHAMDULILLAH, ULAMA’ ULAMA’ PANUTAN KAMI , HABAIB2 PANUTAN KAMI TERNYATA AHLUL YAMAN.

  16. Alhamdulillaah, puji syukur kepada Allah SWT yang telah mempertemukan saya dengan situs ini. Saya berharap dapat umat Islam dapat mengambil manfaat dari situs ummatipress.com dan situs situs aswaja lainnya.
    Jika boleh usul, bagaimana jika dalam situs ini dibuat ruang khusus untuk teman2 aswaja saja, sehingga kita bisa fokus ngaji tanpa terdistraksi dengan komentar komentar dari tetangga kita penganut wahabi yang seringkali dalam berkomentar menunjukkan kesombongan dan tidak fokus kepada artikel yang diterbitkan.

  17. kl pihak kaum salaf yg menyampaikan ayat Al Qur’an atau hadist Nabi yg shohih di blog ini pasti langsung disanggah. Katanya begini : Kalian ini sok pinter ya…memahami ayat/ hadist sendiri seperti ulama saja.
    Sy belum liat nih ada komen yg kayak begitu terhdp abdusysyukur dan mamak yg langsung mengutip tanpa ada syarahnya.

    • Bismillah,

      Saudaraku, ummu hasanah@, kami hanya peringatkan anda agar berhati-hati dengan ucapan anda…

      Jika kami tunjukkan syarahnya apa anda mau mencabut tuduhan anda pada sang Habib yang anda anggap nyempal ?…

      Berikut penjelasan Ibn Hajar -rahimahulloh- dalam Fathul Bari :

      قوله حدثني عبد الله بن محمد هو الجعفي قوله سمع روح بن عبادة أي أنه سمع ولفظة أنه تحذف خطاكما حذفت قال من قوله حدثنا سعيد قوله ذكر لنا أنس بن مالك فيه تصريح لقتادة وهو من رواية صحابي عن صحابي أنس عن أبي طلحة وقد رواه شيبان عن قتادة فلم يذكر أبا طلحة أخرجه أحمد ورواية سعيد أولى وكذا أخرجه مسلم من طريق حماد بن سلمة عن ثابت عن أنس بغير ذكر أبي طلحة قوله بأربعة وعشرين رجلا من صناديد بالمهملة والنون جمع صنديد بوزن عفريت وهو السيد الشجاع ووقع عند بن عائذ عن سعيد بن بشير عن قتادة ببضعة وعشرين وهي لا تنافي رواية الباب لأن البضع يطلق على الأربع أيضا ولم أقف على تسمية هؤلاء جميعهم بل سيأتي تسمية بعضهم ويمكن إكمالهم مما سرده بن إسحاق من أسماء من قتل من الكفار ببدر بأن يضيف على من كان يذكر منهم بالرياسة ولو بالتبعية لأبيه وسيأتي من حديث البراء أن قتلى بدر من الكفار كانوا سبعين وكأن الذين طرحوا في القليب كانوا الرؤساء منهم ثم من قريش وخصوا بالمخاطبة المذكورة لما كان تقدم منهم من المعاندة وطرح باقي القتلى في أمكنة أخرى وأفاد الواقدي أن القليب المذكور كان حفره رجل من بني النار فناسب أن يلقى فيه هؤلاء الكفار قوله على شفة الركي أي طرف البئر وفي رواية الكشميهني على شفير الركي والركي بفتح الراء وكسر الكاف وتشديد آخره البئر قبل أن تطوى والأطواء جمع طوى وهي البئر التي طويت وبنيت بالحجارة لتثبت ولا تنهار ويجمع بين الروايتين بأنها كانت مطوية فاستهدمت فصارت كالركي قوله فجعل يناديهم بأسمائهم وأسماء آبائهم يا فلان بن فلان في رواية حميد عن أنس فنادى يا عتبة بن ربيعة ويا شيبة بن ربيعة ويا أمية بن خلف ويا أبا جهل بن هشام أخرجه بن إسحاق وأحمد وغيرهما وكذا وقع عند أحمد ومسلم من طريق ثابت عن أنس فسمى الأربعة لكن قدم وأخر وسياقه أتم قال في أوله تركهم ثلاثة أيام حتى جيفوا فذكره وفيه من الزيادة فسمع عمر صوته فقال يا رسول الله أتناديهم بعد ثلاث وهل يسمعون ويقول الله تعالى انك لا تسمع الموتى فقال والذي نفسي بيده ما أنتم بأسمع لما أقول منهم لكن لا يستطيعون أن يجيبوا وفي بعضه نظر لأن أمية بن خلف لم يكن في القليب لأنه كان ضخما فانتفخ فألقوا عليه من الحجارة والتراب ما غيبه وقد أخرج ذلك بن إسحاق من حديث عائشة لكن يجمع بينهما بأنه كان قريبا من القليب فنودي فيمن نودي لكونه كان من جملة رؤسائهم ومن رؤساء قريش ممن يصح إلحاقه بمن سمي من بني عبد شمس بن عبد مناف عبيدة والعاص والد أبي أحيحة وسعيد بن العاص بن أمية وحنظلة بن أبي سفيان والوليد بن عتبة بن ربيعة ومن بني نوفل بن عبد مناف الحارث بن عامر بن نوفل وطعيمة بن عدي ومن سائر قريش نوفل بن خويلد بن أسد وزمعة بن الأسود بن المطلب بن أسد وأخوه عقيل والعاصي بن هشام أخو أبي جهل وأبو قيس بن الوليد أخو خالد ونبيه ومنبه ابنا الحجاج السهمي وعلي بن أمية بن خلف وعمرو بن عثمان عم طلحة أحد العشرة ومسعود بن أبي أمية أخو أم سلمة وقيس بن الفاكه بن المغيرة والأسود بن عبد الأسد أخو أبي سلمة وأبو العاص بن قيس بن عدي السهمي وأميمة بن رفاعة بن أبي رفاعة فهؤلاء العشرون تنضم إلى الأربعة فتكمل العده ومن جملة مخاطبتهم ما ذكره بن إسحاق حدثني بعض أهل العلم أنه صلى الله عليه و سلم قال يا أهل القليب بئس عشيرة النبي كنتم كذبتموني وصدقني الناس الحديث قوله قال قتادة هو موصول بالإسناد المذكور قوله أحياهم الله زاد الإسماعيلي بأعيانهم قوله توبيخا وتصغيرا ونقمة وحسرة وندما في رواية الإسماعيلي وتندما وذلة وصغارا والصغار الذلة والهوان وأراد قتادة بهذا التأويل الرد على من أنكر أنهم يسمعون كما جاء عن عائشة أنها استدلت بقوله تعالى إنك لا تسمع الموتى وسيأتي البحث في ذلك في تالي الحديث الذي بعده الحديث الثاني عشر

    • @ummu hasanah

      hadeeeuuh jeng ini klo koment ko ga ada yang enaknya ya…?
      satahu saya kalaupun ada yang nyanggah dalil Alqur’an atau hadist sohih disini, yang disanggah itu bukan redaksi atau makna yang sebenarnya tapi pemahaman anti dan kawan2 terhadapnyalah yang di sanggah.
      kalau anti punya bukti yang disanggah adalah redaksi dan makna yang sebenarnya mungkin anti bisa tunjukan….?

    • ummu hasanah@

      antum (Wahabiyun) semua mudeng nggak dg syarah Imam Ibnu Hajar al Asqolani yg disampaikan oleh Mas Mamak.

      Kalian durhaka kepada anak cucu rasulullah saw kayak Mu’awiyah aja, kalau nggak tobat bahaya sekali kalian di akhirat kelak.

  18. tambahan buat @mas ibnu ilyas.
    kapan anda nenjadi orang bijak… sudahkah sampean pelajari koment2 saya di atas.. ????
    kalau anda ingin ilmu yang benar coba bandingkan, angen2, pikiren sak jerone pranah (mboh bahasa opo kuwi).. jangan engkau mengambil informasi sebatas yang kamu condongi (hawa nafsumu) saja.. ingat media cetak, elektronik, dst.. adalah cuma sekedar “media” yang tidak bisa menjamin itu pasti benar atau dalam artian media tersebut tidak bisa menjamin kebenaran suatu khabar sesuai yang dikehendaki pelaku..

    kontroversi asalamu’alaikum coba sampean klik
    http://icrp-online.org/082010/post-120.html

    kontroversi gus dur di baptis
    http://m.inilah.com/read/detail/339752/pendeta-damanik-gus-dur-tak-pernah-dibaptis

    sedangkan yang lain silahkan ubek-ubek internet…
    pesan saya sesuai dengan koment2 saya di atas jangan sampean mudah menyimpulkan apalagi sampai mengatakan murtad, kafir, musrik dll. . ingat mas islam dan kafir itu masalah hati.. dan yang paling tau tentang hati ya gusti Alloh semata.. sekali lagi cermati dan perhatikan koment saya sebelumnya. ..
    wallohu ‘alam

  19. Mas Jabir, Kami kaum salaf juga membahas dan mempelajari kitab fathul bari, krn inlah kitab syarah terbaik utk shohih bukhori. Hanya saja yg membedakan adalah kami bukan hanya mempelajari tapi juga mengamalkannya. Berbeda dengan yg lain.

    • ummu hsanah,

      maaf ummu hasanah, kan kalian Wahabiyun anggap pengarang fathul baari sesat, lalu untuk apa kalian mempelajari fathul baari yg dikarang oleh orang yang kalian anggap sesat? Adara bisa “memperbaiki” kesesatan Ibnu hajar Asqolani’ begitu ya?

      Lihat di Bukunya Abdul Qodir Jawas “Mulia Dengan Manhaj Salaf”, secara implisit Dul Qodir Jawas menganggap sesat Ibnu Hajar Asqolani.

      Kalian sungguh kontradiktif akibat pikiran sempit ya?

  20. Alhamdulillah akal ana masih dikaruniai untuk bisa berpikir positif dan logik,
    Ana punya anak tentunya ana berharap anak2 ana beraqidah seperti ana.

    Dan tentunya Kanjeng Nabi saw , akal sehat ana, Kanjeng Nabi saw juga tdk ingin anak cucunya tersesat aqidahnya.
    Dan Alhamdulillah para Durriyah Kanjeng Nabi saw para habaib yg kami ikuti aqidahnya.
    Dan kami juga yakin mayoritas Durriyah Kanjeng Nabi di dunia ini tdk tersesat aqidahnya.

    Syarah diperlukan bagi orang2 yg mendapat petunjuk, tetapi syarah juga akan menyesatkan bila yg mensyarah orang yg hanya baca2 diperpustakaan, atau yg hanya baca2 lalu menulis syarah lalu memvonis.

    Seperti Kitab shohih Bukhori , Al-Bukhori bermadzab Syafi’i kemudian di Syarah (fathul bari) oleh Imam Ibnu Hajar yg bermadzab Syafi’i juga dan akal sehat kami , tentu lebih bisa dipercaya syarahnya imam Ibnu hajar.
    Dan lain bila yg mensyarah Al-Utsaimin walaupun beliau hafal diluar kepala tetapi hanya baca2 atau didapat dari gurunya yg tentunya pasti tdk bermadzab Syafi’i ,Akal sehat kami bekerja berbahaya orang ini jangan2 berhianat dari apa yg ditulis Imam Ibnu Hajar.

    Pakailah logika sederhana dulu baru syarah yg begitu panjang dan membingungkan bagi orang yg hatinya Tama’

  21. Abdusysyukur, dari comment antum timbul pertanyaan :
    1. Apakah jika madzhab Syafi’i itu artinya kebenaran? apakah 3 madzhab yang lain berarti salah?
    2 Jika jawaban dari pertanyaan diatas adalah iya, maka apa maksud Imam Asy syafi’i dengan kalimat : “Idza shohal hadits fahuwa madzhabiy”.?
    Saya dan keluarga pun ber madzhab Syafi’i namun kami bukan hanya ngaku-ngaku doang. Kami juga dengan senang hati akan menerima pendapat dari madzhab yang lain jika pendapat tsb lebih shohih dalilnya. Dan ini sesuai dengan wejangan dari Imam Asy-syafi’i itu sendiri.

    • Ummu hasananh, antum kan Wahabi kok bermazhab Syafi’i dasar pendusta mukkab kayak Firanda si pendusta murokkab.

      Lagian kalau antum benar bermazhab Syafi’i kok sampai nggak tahu kalau antara mazhab syafi’i, maliki, hanafi dan maliki adalah selalu rukun saling pengertian, saling menghormati dan toleransi tanpa berantem?

      Justru ke emmpat mazhab tsb “memerangi” mazhab Wahabi yang kalian anut, bahkan menurut seorang ulama Malikiyah kaum Wahabi adalah pengikut “MAZHAB HAWA NAFSU”. Dan ini jelas sekalai terlihat dalam keseharian kaum Wahabi yg menunjukkan mereka menuruti hawa nafsunya dalam segala halnya.

    • @umu has.
      Imam Syafii membagi bid’ah menjadi 2: 1). B Mahmudah 2).B Dholalah.
      apakah anda sepakat?

  22. Kami ibaratkan kaum Anti madzab (walaupun sebetulnya bermadzab) seperti Boom Atom.
    Boom Atom diciptakan Sang Profesor yg menulis teori atom kemudian diajarkan kpd para mahasiswanya yg pada ahirnya juga bisa membuat boom atom.

    Tetapi dalam perjalananya Buku Teori Atom itu menyebar kemana2 dan tentunya sampai juga pd pihak2 lain yg ingin menguasai teori atom itu agar bisa membuat boom atom. Dan pada ahirnya pihak2 luar juga bisa membuat boom atom yg serupa ttp pasti tdk sama.
    Dan biasanya hasil boom atom yg dibuat pihak2 luar dipergunakan untuk menyerang seperti yg terjadi saat ini.

    Fathulbari hasil karya Sang Imam Ibnu hajar Asqolani yg bermadzab Syafi’i tentunya diajarkan kpd murid2nya dan sampai pada guru2 kami yg bermadzab Syafi’i.
    Aneh bin Ajaib pihak2 luar kaum Anti Madzab (sebetulnya bermadzab) dg baca2, dg menghafal, dg menelaah lalu menulisnya di sebuah buku yg dinamai kitab syarah, kemudian menyalahkan kami kaum syafi’iyah ,
    Dimana akal sehat kalian , bukankan ini adalah perbuatan TAMA’ menempatkan sesuatu yg bukan hak kalian.

    Kami senang FathulBari kalian pelajari, tetapi hati2 jangan sampai kalian berkata dg perkataan sebaik2 manusia (kanjeng Nabi saw) tetapi kalian tdk mendapat manfaat sedikitpun. Ingat itu

  23. Al Imam Syafi’i lebih dari 300.000 rb hadist matan dan sanadnya. ana berprasangka baik sang Imam mengetahui hadist2 yg antum ketahui. Apakah antum mengetahui hadist mana yg tidak diketauhi sang Imam?

    Imam Malik sangat dihormati Imam Syafi’i ,beliau adalah salah satu guru Imam syafi’i
    Dan Imam Syafi’i tdk Qunut dalam sholat shubuhnya di dekah maqom Imam abu hanifah,
    Sedangkan Kami meyakini kirim pahala bacaan Qur’an karim akan sampai mayyid seperti keyakinan Imam Ahmad bin Hambal

    Tdk terbersit sedikitpun dihati kami apalagi melakukan tindakan yg mengarah suatu tindakan menulis berkata untuk menyalahkan selain Madzab syafi’i (Hanafi, Maliki, hambali). dan kami masih mengakui bahwa wahabi bagian kaum muslimin walaupun tindakanya seperti kaum khowarij yg suka mengkafirkan alhul qiblah.

  24. @ummu salamah :
    1. Apakah jika madzhab Syafi’i itu artinya
    kebenaran? apakah 3 madzhab yang lain
    berarti salah?

    saya: ya… bocah wadon iki rupanya perlu dikasih tau cara memahami tulisan orang lain.. apakah sampean sudah membaca koment ketika saya mencoba menjelaskan kepada ibnu ilyas…?

    2 Jika jawaban dari pertanyaan diatas
    adalah iya, maka apa maksud Imam Asy
    syafi’i dengan kalimat : “Idza shohal hadits
    fahuwa madzhabiy”.?

    saya: kalau menurut sampean pengertiannya bagaimana? ?? berhubung dawuhnya imam syafi’i berbahasa arab maka perlu pendekatan makna menggunakan ilmu nahwu, shorof, dst… pertanyaan saya sudahkah sampean memahami ilmu tadi???

  25. Imam syafi’i tdklah maksum tetapi ana meyakini sang Imam lebih mengetahui AlQur’an dan Hadist Nabi dan ana tdk malu untuk taqlid kpd beliau.

    O..yaa alhamdulillah antum bermadzab Syafi’i , dimanakah antum kebetulan pekerjaan ana mondar-mandir jawa kalimantan dan makasar, boleh antum menyapamu. ana kepingin ketemu ama guru antum yg mungkin juga menmadzab Syafi’i.
    silakan berithu alamat antum di setia_security@hotmail.com

  26. Hmmmm….. kayaknya koment-koment salafierz yg pada bermunculan secara serentak, untuk MENGALIHKAN PERHATIAN ATAS “KEOKNYA” ABU AISYAH DI TANGAN GARDA ASWAJA, MAS MAMAK NIY….. hehehehe… anak SD aja udah tahu. padahal gw menanti tanggapan si alim abu aisyah niy… tambah nyambung apa tambah jauhhhhhh…. nyimak ajja. aseeeeekkkk….
    salut wat alfeyd, gandi, jabir, yuyu, abdussukur n all garda aswaja. semangat…..

  27. Jabir, sy punya kitab Mulia dengan Manhaj Salaf, jadi tolong sebutkan pd bab mana, halaman berapa, paragraph yg secara implisit anda sebutkan itu? Jangan gugurkan amalan anda dengan menyebar fitnah.
    Vijay, teruskan atau lengkapi pembagian bid’ah itu dengan jelas, jangan sepotong-sepotong. jangan sembunyikan kalimat yang berbunyi : “yang sesuai dengan sunnah Rasulullah ” hanya untuk membenarkan amalan anda.

    • ummu hasanah@

      Silahkan baca yg teliti di buku ustadz kebanggaan antum dan para Wahabiyun tsb. Di situ disebutkan daftar golongan2 sesat, di antaranya Asy’ariyyah dan atau Maturidiyyah adalah sesat. Padahal di seluruh dunia islam dikenal Ibnu Hajar Al Atsqolani, Imam Al Nawawi, dan para ulama besar lainnya adalah beraqidah Al Asy’ariyyah atau juga Al Maturidiyyah. Sampai di sini apakah anda masih belum sadar siapa yg tukang fitnah? Bukan tanggung2 yg difitnah, yaitu para Ulama besar Umat ini, yang mana kalian juga sering mempelajari kitab2nya. Kalian mempelajari kitab2 mereka untuk apa, untuk “memperbaikinya” agar sesuai hawa nafsu kalian?

      Mikirlah secara kritis dan komprehensif Ummu hasanah, agar sembuh dari kontradiksi pemahaman kalian. Kitab2 karya ulama sesat menurut kalain tetapi kok kalian mempelajarinya juga, kontradiksi amacam apa ini, Ummu Hasanah?

  28. Novel MULIA DENGAN MADZAB SALAF gubahan Yazid Jawas. hemm.. ane pemasaran

    • Mas Ablussyukur, saya sarankan jangan dibeli, sayang duitnya, mendingan duitnya untuk nyumbang madrasah atau pesantren, sudah jelas pahalanya, Mas.

  29. Jabir, ingat apa yg anda tulis adalah fitnah dan akan menjadi saksi atas amal perbuatan anda. Sy sarankan anda utk bertobat. Klaim anda terhadap Alhafidz dan Imam An Nawawi pun akan menjadi saksi. Ingat tulisan ini dibaca oleh banyak orang. Jika semakin banyak orang yg mengikuti klaiam anda, itu artinya akan sebanyak itu pula dosa yg akan anda tanggung.

    • ummu hasanah,
      sadarlah tulisan antum ini menunjukkan bagaimana anda memutar-balikkan perkataan saya. Ingat blog ini dibaca banyak orang, sekarang aja yg lagi online 28 orang, apa nggak malu ummu hasanah?

      Kalian Wahabiyun yg mengatakan asy’ariyah sesat, betul demikian kan? Sedangkan Imam Ibnu Hajar Atsqolani dan Imam An Nawawi adalah Asy’ariyah. Itu artinya kalian sama dg menganggap beliau2 ini sesat, harus berapa kali saya mengatakannya agar kalian sadar? Na’dzubillah min dzaalik.
      Wallohu a’lam.

  30. Jabir, sy sdh membaca biografi kedua Imam yg mulia tersebut dan sama sekali dusta jika mangatakan keduanya adalah asy’ariyyah. Jadi, bukan hanya dusta saja tp juga mem-fitnah kedua Imam tersebut. Wal Iyadzubillah.

    • ummuhasanah bisakah sampean tampilkan sumber biografi beliau berdua yang telah sampean baca..?? kalau bisa scan bukunya.. biar ilmiah gitu…
      golongan anda kan senang yang ilmiah-ilmiah..

  31. Yang pertama. telah memfitnah kedua Imam tersebut. Dan kedua, telah berdusta. Innalillahi wa inna ilahi roji’un

  32. Al-Asy’ariyyah adalah para Imam dan ulama yang ilmunya telah menyebar luas ke berbagai pelosok dunia, baik di belahan barat ataupun timur. Keutamaan ilmu dan kesalihannya dalam mengamalkan agama telah diakui oleh ulama-ulama mu’tabar dan merupakan ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah yang gigih menentang kesombongan kaum Mu’tazillah.

    Coba sebutkan ulama-ulama mu’tabar (yang kompeten keilmuannya) yang sezaman dengan Imam Abul Hasan Al-‘Asy’ari yang mencela akidah ahlussunnahnya?)

    Tokoh-tokoh ulama Asy’ariyyah senantiasa mendapat pujian atas usahanya membabat habis akidah mujassimah, musyabbihah (mu’tazilah, dll).

    Ulama Asy’ariyyah adalah kelompok ulama ahli fiqh (terutama 4 mazhab utama), ahli hadis dan ahli tafsir. Mereka adalah ulama yang menjadi rujukan dan sandaran para ulama yang lainnya. Di antara ulama Asy’ariyyah adalah seperti berikut:
    1) Syeikh Ahmad Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Tidak diragukan lagi, beliau merupakan guru para ahli hadis, penulis kitab Fath Al-Bary ‘ala Syarh Al-Bukhari. Karyanya menjadi rujukan para ulama.
    2) Syeikh Imam Nawawi, ulama Ahli Sunnah Wal Jamaah yang menulis kitab Syarah Muslim dan penulis berbagai-bagai kitab yang menjadi rujukan seluruh dunia.
    3) Imam Qurtubi, syaikhul mufasirrin, tokoh dan guru para ahli tafsir. Beliaulah yang menulis Tafsir Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran.
    4) Syaikhul Islam, Ibnu Hajar Al-Haitami, penulis kitab Al-Zawajir ‘Al-Iqtiraf Al-Kabair, “Larangan Melakukan Perbuatan Dosa Besar”.
    5) Al-Imam Al-Hujjah Al-Tsabt Syeikh Zakariya Al-Anshary, seorang tokoh serta pakar ahli feqah dan hadis (syaikhul fiqh wa al-hadits).

    Selain itu, banyak lagi tokoh-tokoh ulama Asy’ariyyah seperti Al-Imam Abu Bakar Al-Baqillany, al-Imam Al-Asqalany, Imam Al-Nafasy, Imam Syarbini, Abu Hayan Al-Nahwiy (ahli nahu/tata bahasa Arab), penulis tafsir Al-Bahr Al-Muhith, Imam Ibnu Jazy -penulis kitab At-Tashil fi “Ulum Al-Tanzil, juga termasuk para Imam dan pakar dari kolompok Asy’ariyyah.

    Seandainya disini dihitung dan ditulis nama-nama para muhadditsin, mufassirin dan fuqaha’ yang merupakan para imam mazhab Asy’ariyah, maka sudah pasti akan menjadi berjilid-jilid buku untuk menulis nama-nama mereka para ulama’ yang mulia yang ilmu mereka telah memenuhi bumi dari timur hingga barat. Namun yang harus dilakukan disini adalah kita mengetahui beberapa ulama besar mazhab Asy’ariyah yang sudah masyhur dan kita mengetahui kemuliaan para ahli ilmu dan keutamaan mereka yang telah melayani syariat nabi Muhammad saw.

    Siapakah yang tidak mengenal:
    1. Al-Hafizh Abu Hasan ad-Daraquthni
    2. Al-Hafizh Abu Nu’aim al-Ashbahani, penulis Hilyah al-Auliya’
    3. Al-Hafizh al-Hakim an-Nasaiburi, penulis al-Mustadrak
    4. Al-Hafizh Ibni Hibban
    5. Al-Hafizh al-Baihaqi
    6. Al-Khathib al-Baghdadi
    7. Al-Hafizh as-Sakhawi
    8. Syaikh al-Islam Ibnu Shalah
    9. Syaikh Ibnu Daqiq al-Id
    10. Al-Hafizh Ibnu Abi Jamrah al-Andalusi
    11. Al-Hafizh al-Mundziri, penulis at-Targhib wa at-Tarhib
    12. Syah Waliyullah ad-Dihlawi, penulis kitab Hujjah Allah al-Balighah
    13. Al-Hafizh al-Munawi, penulis kitab Faidh al-Qadir
    14. Qadhi Iyadh, penulis asy-Syifa’ bi Ta’rifi Huquq al-Mushthafa
    15. Syaikh Ibni Khaldun, penulis al-Muqaddimah
    16. Abu Ishaq al-Isfirayini
    17. Imam Abu Bakar al-Baqillani
    18. Sa’duddin at-Taftazani, penulis kitab Syarah al-Maqashid
    19. Sulthan al-Ulama, Izziddin bin Abdissalam
    20. Imam Ibnu Asakir
    21. Imam as-Sirazi
    22. Al-Hafizh al-Kirmani, penulis Syarah Shahih al-Bukhari
    23. Ibnu Hajar al-Asqalani (seorang ahli hadits yang tanpa disangsikan lagi bahwa pengarang kitab Fath al-Bari syarah Shahih al-Bukhari tersebut adalah bermadzhab Asy’ari dan kitabnya tersebut adalah kitab yang tidak bisa di tinggalkan ulama).
    24. Imam an-Nawawi (guru besar Ahlussunnah dan pengarang kitab Syarah Shahih Muslim).
    25. Imam al-Qurthubi (guru besar tafsir dan pengarang kitab tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an)
    26. Imam al-Hafizh al-Mufassir Ibnu Katsir
    27. Imam Mufassir Fakhruddin ar-Razi
    28. Imam al-Hafizh al-Baghawi, penulis kitab Syarah as-Sunnah
    29. Imam az-Zarkasyi
    30. Imam Mufassir Abu Laits as-Samarqandi
    31. Imam Mufassir Ibnu Athiyyah al-Andalusi
    32. Imam Mufassir Abul Hasan an-Naisaburi
    33. Ibnu Hajar al-Haitami (pengarang kitab az-Zawajir dan lain-lain)
    34. Zakariyya al-Anshari (guru besar fiqh dan hadits)
    35. Abu Bakar al-Baqillani
    36. Al-Qusthalani (penulis Irsyad as-Sari Syarah Shaih al-Bukhari)
    37. An-Nasafi (ahli tafsi dan penulis tafsir an-Nasafi)
    38. Imam asy-Syirbini
    39. Abu Hayyan an-Nahwi
    40. Imam al-Juwaini
    41. Imam al-Haramain
    42. Imam al-Ghazali
    43. Imam al-Qarafi, murid Izziddin bin Abdissalam
    44. Imam az-Zabidi, pengarang kitab Ittihaf as-Sadah al-Muttaqin
    45. Imam as-Sathibi (ulama’ qira’at)
    46. Imam Dhiya’uddin al-Maqdisi
    47. Imam Ibnu Hajib
    48. Imam Ibnu Abidin
    49. Imam al-Qari’ Ibnu Jazri
    50. Imam al-Hafizh Ahmad Ash-Shiddiq al-Ghumari
    51. Imam al-Bajuri, penulis kitab al-Bajuri Ibni Qasim
    52. Al-Habib al-Quthb Abdullah bin Alawi al-Haddad.
    53. Imam ar-Rafi’I asy-Syafi’i
    54. Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani al-Makki
    55. Syaikh Yusuf an-Nabhani
    56. Syaikh Mutawalli asy-Sya’rawi (Mesir)
    57. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, Mufti Mekkah
    58. Sayyid Abbas al-Maliki
    59. Sulthan Shalahuddin al-Ayyubi (Dinasti Abbasiyyah)
    60. Sulthan Muhammad al-Fatih
    61. Dan lain-lain.

    Lalu kebaikan mana yang bisa diharapkan pada diri kita bila kita menuduh para ulama’ yang mulia dan para pendahulu kita yang sholih dengan sesat dan menyimpang dari ajaran yang benar?

    Bagaimana bisa Allah membukakan untuk kita untuk dapat mengambil faidah dari ilmu mereka, ketika ada pada diri kita keyakinan bahwa dalam ilmu-ilmu mereka terdapat penyimpangan dari ajaran Islam?

    Syeikh Muhammad al Maliki berkata, “Apakah ada ulama’ di zaman sekarang ini yang bergelah (Doktor) atau (Profesor) yang mampu menempati posisi Syeikh Ibnu Hajar al Asqalani dan imam an Nawawi dalam melayani sunnah Nabi yang suci seperti yang telah dilakukan oleh beliau berdua?Semoga Allah menyelimuti keduanya dengan rahmat dan ridho. Lalu bagaimana bisa kita menuduh keduanya dan ulama’ mazhab Asy’ariyah lainnya dengan sesat, sedangkan kita membutuhkan ilmu mereka ?

    Bagaimana kita bisa mengambil ilmu mereka, jika mereka berada dalam kesesatan ? sedangkan Imam al Zuhri telah berkata, (“Sesungguhnya ilmu adalah agama. Maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.”)

    )* Disarikan dan dirangkum dari berbagai sumber.

  33. Adeeh capek deh. Selama pemehaman antum bahwa ahlussunah adalah asy’ariyah dan asy’ariyah adalah ahlussunah….ya enggak bakalan bisa ada titik temu. Kenapa? Karena pemahaman kita berbeda.

    • Bismillah,

      Saudariku @ummu hasanah, jika anda sepakat bahwa Asy’ariyah adalah sesat dan menyesatkan…. silahkan anda tunjukkan pada Kami bagian mana ajaran mereka yang anda anggap sesat?

    • @ummu hasanah

      anti tibang jawab kedua imam itu pemahamannya sama ama wahabi atau nggak aja ga bisa jawab malah nuduh orang lain fitnah cape deh…?

    • karena Pemahaman kamu @UH pemahaman Dusta dan Hatinya sdh Berkerak dan Hitam….

  34. Mamak, tentang asy’ariyah sudah jelas bagi kita semua tentang kesesatannya.
    Abi Raka, Al Hafidz Ibnu hadjar dan Al Imam An nawawi adalah keduanya ulama ahlussunah wal jama’ah. Tapi ahlusunnah yg asli bukan yg cuma ngaku-ngaku aja.

    • mbak dari pada jelasinnya muter-muter kayak orang bingung, kasih buktinya dong …kalu kedua imam itu ikut aliran wahabi bukan Asy’ariyah, tp buktinya jgn copy paste terjemahan nya, harus dr kitab-kitab karya kedua imam besar sunni dan halaman berapa? kalu cuma ngalor ngidul modal ngeyel, anak SD jg bisa

      • @ummu hasanah

        jawaban anti masih klise tidak sesuai pertanyaan, ga mudeng ya pertanyaan saya…? yang saya tanya wahabi apa as’ariyah…..? biar tegas gitu jeng klo wahabi bilang wahabi, klo as’ariyah bilang as’ariyah gitu aja susah bener…!

  35. Kayaknya ummu hasanah muter2 aja pendapatnya. Nggak jelas bgt komennya dan nggak bisa ngasih rujukan kitab mana yang menandakan bhw asy’ariyah sesat dan ibnu hajar asqolani bukan asy’ariyah. Wahabi…… Tobatlah,

    Maju terus aswaja dan patahkan pendapat2 para pendusta dalam agama.

  36. sesungguhnya yang mengatakan asy’ariyah sesat adalah mereka yang di hati dan pikirannya ditutupi kebodohan dan kedengkian

  37. bismillah. ummu hasanah, sebaiknya anti belajar fiqh ala madzhab syafi`i dari ulama yang bermadzhab syafi`i. boleh saja baca kitab madzhab lain sebagai pembanding. tetapi ingat ummu, seorang murid lebih menguasai maksud yang disampaikan seorang gurunya ketimbang orang yang tidak berguru dan hanya mengira2. dan anti juga jangan menyimpulkan perkataan imam syafii tentang idza shohhal hadits…dst sebagai sebuah peluang untuk berijtihad bagi para muqollid. apakah anti sudah menguasai semua disiplin ilmu sbagai syarat menjadi mujtahid. kalau belum, jangan bawa2 perkataan imam syafi`i itu, itu ditujukan kepada orang yang sudah menguasai semua disiplin ilmu untuk berijtihad. jangan deh ummu…berhati2 menggunakan statement orang lain, jika kita bukan ahlinya.
    anti juga telah menyesatkan orang2 yang berfaham asyariyyah. berapa banyak ulama pembela agama di Indonesia dari jaman sebelum kemerdekaan ini sampai sekarang yang bermadzhab asyariyyah maturidiyah yang telah anti sesatkan. apakah anti berani bertanggung jawab di hadapan Allah. bagaimana dengan KH Hasyim Asyari dan sahabat2nya dari kalangan para ulama baik di indonesia ataupun yang di tanah haram sana yang nota bene mereka lah para pejuang islam. fasaluu ahladzikri inkuntum la ta`lamuun, ya ukhtiiii..

  38. Ummu Hasanah semoga semoga hatimu juga Hasanah,
    Ucapanmu juga Hasanah, tulisanmu juga Hasanah

    Semasa hidup Imam Ibnu Hajar, Imam Nawawi belum ada wahabiyah tetapi yg sudah ada Wahbiyah
    Pembagian tauhid 3(Uluhiyah,Rububiyah,dan Asmawasifah) beliau berdua menetangnya , cobalah baca syarah atau terjemahan yg bukan dari ulama;2 wahabi. cobalah dan bandingkan mana yg ilmiah.

    Coba ya..

  39. Di masjid tempat sy rutin hadir kajian tiap pekan juga membahas syarah kitab riyadhushsholihin, sepekan dua kali. Yang berbeda, wkt ustadz-nya yg dulu cuma baca-baca aja, jadi yg hadir sedikit krn bosen dan merasa tdk ada manfaatnya. Nah, kira2 beberapa bulan terakhir ini ustadz-nya ganti, alumni Saudi.
    Alhamdulillah yg hadir tambah banyak dan ilmunya juga bermanfaat.
    Gimana dong? yg salah kitabnya? ustadz-nya? atau pemahamannya? Sekarang masjid itu jadi lebih makmur. tp udah gak ada keramaian spt beduk/rebana, umbul2 dll.

    • PINDAH TOPIK …. Gmn Pembahasan Tentang Akidah Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar belum selasai ? Ga ada bukti yg mendukung yah, kalu pemahaman tauhid kedua imam tersebut tidak mengikuti Imam Abu Hasan Alasyari ?

      • @UH namanya tak ganti Ummu Khosaroh ya
        La wong Munafig Pendusta koq di Layani… Muter muter ngeyel dan lain lain

    • Bismillah,

      Saudariku @ummu hasanah, katanya kajiannya syarah riyadhus sholihin, apa nama kitabnya, dan siapa syarihnya, serta pada halaman berapa ada penjelasan haramnya rebana?

      Usul buat mas admin@. Jika saudari kita ummu hasanah tidak dapat bercomment selain provokatif, mohon disediakan tempat husus buat saudari kita ini agar bisa berucap sepuasnya, dan teman-teman aswaja nggak perlu menanggapinya…

  40. Shofy, mengenai kedua Imam ini sdh sy jawab. Masih kurang puas?. Mau paksa sy utk mengatakan Imam Nawawi dan Ibnu Hadjar itu Asy’ariyah? Wallahi kalla tsumma kalla.

    • @ummu hasanah

      gimana sich pertanyaan saya belum di jawab, yang tegas donk….!
      jawaban anti belum jelas karena yang saya tanya kedua imam itu wahabi atau as’ariyah?
      bukan ahlussunah atau bukan?

    • Bismillah,

      Saudariku @ummu hasanah :

      anda katakan :Mau paksa sy utk mengatakan Imam Nawawi dan Ibnu Hadjar itu Asy’ariyah? Wallahi kalla tsumma kalla.

      Tanggapan kami : Kalo begitu biar saya yang memaksa anda untuk mengakui bahwa Ibnu Hajar -rahimahulloh- adalah Asy’ariyah. Berikut pernyataan Ibnu Hajar :

      واما قول المجسمة ففاسد أيضا لأن الاستقرار من صفات الأجسام ويلزم منه الحلول والتناهي وهو محال في حق الله تعالى ولائق بالمخلوقات

      “Adapun pendapat Mujassimah maka pendapat tersebut adalah pendapat yang rusak juga, karena Istiqror/menetap/bersemayam adalah termasuk sifat-sifat jisim/benda/materi yang mengharuskan untuk bertempat dan berbatas, dan itu muhal bagi Alloh dan hanya layak bagi makhluk.” (Fathul Bari. 13/406)

      Kami sarankan anda belajar sebelum berucap, agar tidak menimbulkan fitnah…

  41. ummul khasanah@ ngaji dulu yang bener…jangan banyak ngomong ketahuan tu kalo kosong….sip deh buat ummati semoga manfaat

  42. Kabar gembira , sekarang ada blog baru dari temen kite. yuu berkunjung ke
    http://www.islam-institute.com

    Sungguh engkau pandai bersilat L wahai saudari..
    ane ade pertanyaan buat saudari,
    sebelum abad XII Hijriah mayoritas umat islam apakah bertauhid 3 (Uluhiyah,Rububiyah,Asmasifah)?
    Apakah Imam Ibnu Hajar dan Imam Nawawi membagi tauhid 3 ?

  43. ikut nyimak mbuletnya umuhasanah

  44. Selamat berjuang kawan2 Aswaja….

    Sekali lagi saya ingatkan berdebat dengan wahabi dan turunan2nya ibarat “Memberi obat kpd orang yg sudah mati “

  45. Kapan ya blog wahaby bisa FAIR seperti ummatipress, no moderasi, 100% dijamin pasti tampil commentnya… orang seperti ummu hasanah senengnya ngacak2 blog ini… kalo emang mau cari kebenaran mestinya disinilah tempatnya dan manfaatkanlah sebaik-baiknya, karena disini ga ada yg harus ditutup-tutupi, kenapa juga harus ditutupi klo memang benar???, beda sama blog wahaby katanya aja ajaran yg paling tauhid, paling nyunnah tapi kok sulit bisa mendptkan kebenaran disana, sulit sekali bisa comment panjang lebar disana… mungkin bisa buat bahan renungan utk sdri ummuhasanah yg membela ajarannya dengan membabi buta.
    Wallohualam…

  46. Abi raka, pertanyaan anda tuh menunjukkan kwalitas keilmuan anda.
    1. Kapan gerakan yg anda maksud wahabi itu timbul?
    2. Dan Kapan Al Hafidz Ibnu Hadjar dan Al Imam Nawawi itu wafat?
    Pertanyaan anda itu timbul dikarenakan kerancuan cara berpikir anda yg meyakini Al Imam Asy syafi’i itu beraqidah asy’ariyah. Gimana bisa? Al Imam Asy syafi’i wafat ratusan tahun sebelum Abul Hasan Al Asy’ari itu lahir. Itu sama juga anda bilang kl Pangeran Diponegoro itu adalah anak buah bung karno.
    Akhirnya sekarang anda samakan juga kondisi itu dengan kedua Imam tersebut. Mikiiiir

    • ummu hasanah@

      kajian teman2 di atas tidak ada yg mengatakan Imam Syafi’i berakidah as’ariyah, yang bilang Imam Syafi’i beraqidah Asy’ariyah adalah antum sendiri yg mempersepsikan seperti itu, bukan kami. Walaupun ini tidak salah, hanya kebalik urutannya, sebab antara kedua Imam tsb sama2 beraqidah ajaran Rasulullah saw.

      Tapi perlu saya jelaskan bahwa kami Aswaja barmazhab Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Hambali di bidang fikih (hukum syari’ah). Sedangkan Kami bermazhab asy’ariyah dan atau maturidiyah di bidang akidah.

      Yang menjadi kebingungan anda adalah, anda berpikir kalau begitu Imam Syafi’i berakidah Asy’ariyah, ingat… ini pikiran anda sendiri sebab kami tidak berpikir seperti itu. Itu urutannya terbalik sebab Imam Syafi’i lebih dulu Wafat sebelum Iamam Asy’ari lahir.

      Sekali lagi saya tegaskan, yang perlu anda ketahui adalah bahwa antara Imam Syafi’i dan Imam Asy’ari dan Maturidi adalah sama-sma beraqidah dg aqidah yang diajarkan oleh Allah dan rasul-NYA. Hanya saja perkembangan ilmu aqidah menjadi ilmu yg sitematis dimulai sejak Imam Asy’ariyah. Sedangkan pada zaman Imam Syafi’i Ilmu aqidah belum dikembangkan menjadi susunan ilmu yg sitematis. Kalau pada zaman Imam Syafi’i yang berkembang adalah ilmu FIKIH / Syari’at.

      Jadi anda harus tahu sejarah ini biar tidak asal mempersepsikan secara sembarangan bahwa kami berkeyakinan Imam Syafi’i Beraqidah Asy’ariyah, ini namanya kebalik, dan kami tentu tidak sebodoh itu.

  47. @ummu hasanah

    jeng ummu hasanah yang pinter banget, jangan mengalihkan gitu dong jeng yang sedang di bicarakan kan ibnu hajar dan imam nawawi bukan imam syafi’i….?
    jeng saya tau wahabi adanya belakangan yang di gerakan oleh Muhammad bin abdul wahab dan beliau taklid sama ibnu taimiyah, jadi saya menyebut wahabi untuk untuk orang-orang yang taklid sama ibnu taimiyah ngerti jeng…?

  48. Kata Jabir:Tapi perlu saya jelaskan bahwa kami Aswaja barmazhab Imam Syafi’i, Imam Maliki, Imam Hanafi, Imam Hambali di bidang fikih (hukum syari’ah). Sedangkan Kami bermazhab asy’ariyah dan atau maturidiyah di bidang akidah.
    Emangya dr keempat Imam Madzhab tersebut enggak ada pengajaran aqidah ya, koq pake diambil dr yg lain… atau aqidah ke empat Imam Madzhab itu tidak sesuai dengan hawa nafsu…

  49. Hahahah…. saya mau ketawa baca komentarnya ummu hasanah….. Nantilah, kalau ada kesempatan saya ceritakan asal mula ilmu kalam,atau ilmu tauhid, atau ilmu ushuluddin.

  50. semoga Allah swt, memberikan pemahaman agama yg lebih-baik pd Ummu hasanah…amiin

  51. ILMU KALAM ATAU ILMU USHULUDDIN

    Suatu ketika al-Imâm Abu Hanifah ditanya; Mengapa kalian bergelut dengan Ilmu Kalam, sementara para sahabat tidak pernah memperdalam ilmu tersebut?! Beliau menjawab: “Perumpamaan para sahabat tersebut adalah laksana orang-orang yang hidup di zaman yang tidak ada musuh, dengan demikian mereka tidak butuh untuk mengeluarkan senjata. Sementara kita adalah orang-orang yang hidup di zaman yang banyak musuh, maka kita sangat butuh untuk mengeluarkan senjata” (Lihat al-Bayyadli dalam Isyârât al-Marâm Min ’Ibârât al-Imâm, h. 33)

    Pada dasarnya tonggak dasar Ilmu Tauhid atau Ilmu Kalam sudah berkembang dari semenjak masa sahabat Rasulullah. Bahkan perkembangan Ilmu Tauhid ini merupakan konsentrasi dakwah seluruh sahabat Rasulullah. Karenanya perkembangan Ilmu Tauhid di masa sahabat Nabi justru lebih mapan dan lebih pesat di banding dengan periode-periode sesudahnya. Bantahan-bantahan terhadap berbagai kelompok ahli bid’ah sudah berkembang di masa para sahabat, misalkan sahabat Abdullah ibn Abbas (w 68 H) dan sahabat Abdullah ibn Umar (w 74 H) yang telah memerangi faham Mu’tazilah. Atau dari kalangan tabi’in, seperti Khalifah Umar ibn Abdul Aziz (w 101 H) dan al-Imâm al-Hasan ibn al-Hanafiyah yang giat memerangi faham para ahli bid’ah tersebut. Bahkan Khalifah Ali ibn Abi Thalib (w 40 H) dengan argumen kuatnya telah memecahkan faham Khawarij dan faham kaum Dahriyyah (kaum yang mengatakan bahwa alam ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan). Demikian pula Ali ibn Abi Thalib telah membungkam empat puluh orang dari kaum Yahudi yang mengatakan bahwa Tuhan adalah benda yang memiliki tubuh dan memiliki tempat. Di antara pernyataan sahabat Ali ibn Abi Thalib dalam masalah tauhid yang merupakan bantahan terhadap kaum Musyabbihah Mujassimah, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imâm al-Hâfizh Abu Nu’aim dalam kitab Hilyah al-Awliyâ’, adalah: “Barangsiapa berkeyakinan bahwa Tuhan kita (Allah) memiliki bentuk maka ia tidak mengetahui Pencipta yang wajib disembah.

    Kemudian Iyas ibn Mu’awiyah, yang sangat terkenal dengan kecerdesannya, juga telah memecahkan argumen-argumen kaum Qadariyyah (Mu’tazilah). Lalu Umar ibn Abdul Aziz telah membungkam para pengikut Syauzdab; salah seorang pemuka kaum Khawarij. Dan bahkan Umar ibn Abdul Aziz ini telah menulis beberapa risalah sebagai bantahan terhadap faham-faham Mu’tazilah. Kemudian al-Imâm Rabi’ah ar-Ra’y (w 136 H), salah seorang guru al-Imâm Malik Ibn Anas, dengan dalil yang sangat kuat telah membungkam Ghailan ibn Muslim; salah seorang pemuka kaum Qadariyyah. Lalu al-Imâm al-Hasan al-Bashri, salah seorang ulama besar dan terkemuka di kalangan tabi’in, juga telah menyibukan diri bergelut dengan Ilmu Kalam ini.

    Kaum wahabi sangat anti terhadap ilmu kalam, bahkan mereka mengutip pendapat Imam Syafi’i. “Seorang manusia bila bertemu dengan Allah (artinya meninggal) dalam keadaam membawa banyak dosa selain dosa syirik maka hal ini jauh lebih baik baginya dari pada ia meninggal dengan membawa Ilmu Kalam”, bukankah ini artinya bahwa al-Imâm asy-Syafi’i membenci dan bahkan mencaci Ilmu Kalam?!

    Statemen seperti itu tidak benar sebagai ungkapan al-Imâm Syafi’i, dan tidak ada riwayat dengan sanad yang benar bahwa beliau telah berkata demikian. Adapun pernyataan yang benar dari ucapan beliau dengan sanad yang shahih adalah: “Seorang manusia bila bertemu Allah (meninggal) dalam keadaam membawa banyak dosa selain dosa syirik maka hal ini jauh lebih baik baginya dari pada ia meninggal dengan membawa al-Ahwâ’”.(Ibn Asakir, Tabyîn Kadzib al Muftarî, h. 337 dengan berbagai jalur sanad.)

    Kata al-Ahwâ’ adalah jamak dari kata al-Hawâ, artinya sesuatu yang diyakini oleh para ahli bid’ah yang berada di luar jalur ulama Salaf. Maka pengertian al-Hawâ di sini adalah keyakinan-keyakinan yang yakini oleh golongan-golongan sesat, seperti keyakinan Khawarij, Mu’tazilah, Murji’ah, Najjariyyah, dan berbagai kelompok lainnya; yang telah disebutkan dalam hadits nabi sebanyak tujuh puluh dua golongan. Dalam sebuah hadits mashur Rasulullah bersabda: “Dan sesungguhnya -umat- agama ini akan pecah kepada tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua di neraka, dan hanya satu di surga; dan dia adalah kelompok mayoritas”. (HR. Abu Dawud).

    Dengan demikian yang dicaci oleh al-Imâm asy-Syafi’i bukan mutlak keseluruhan Ilmu Kalam, tapi yang dimaksud adalah Ilmu Kalam tercela; yaitu yang digeluti oleh para ahli bid’ah di atas. Adapun Ilmu Kalam yang digeluti Ahlussunnah yang berdasar kepada al-Qur’an dan Sunnah maka ini adalah Ilmu Kalam terpuji, dan sama sekali tidak pernah dicaci oleh al-Imâm asy Syafi’i. Sebaliknya beliau adalah seorang yang sangat kompeten dan terkemuka dalam Ilmu Kalam ini. Karenannya argumen beliau telah mematahkan pendapat Bisyr al-Marisi dan Hafsh al-Fard; di antara pemuka kaum Mu’tazilah yang mengatakan bahwa al-Qur’an makhluk dan bahwa Allah tidak memiliki sifat Kalam.

    Al-Imâm al-Hâfizh Ibn Asakir dalam karya yang beliau tulis sebagai pembelaan terhadap al-Imâm Abul Hasan al-Asy’ari berjudul Tabyîn Kadzib al-Muftarî Fîmâ Nusiba Ilâ al-Imâm Abî al-Hasan al-Asy’ari menuliskan sebagai berikut: “Ilmu Kalam yang tercela adalah Ilmu Kalam yang digeluti oleh Ahl al-Ahwâ’ dan yang diyakini oleh para ahli bid’ah. Adapun Ilmu Kalam yang sejalan dengan al-Qur’an dan Sunnah yang dibahas untuk menetapkan dasar-dasar akidah yang benar dan untuk memerangi fitnah Ahl al-Ahwâ’ maka ia telah disepakati ulama sebagai Ilmu Kalam terpuji. Dalam Ilmu Kalam terpuji inilah al-Imâm asy-Syafi’i adalah di antara ulama besar yang sangat kompeten. Dalam berbagai kesempatan beliau telah banyak membantah orang-orang ahli bid’ah dengan argumen-argumen kuatnya hingga mereka terpecahkan” (Tabyîn Kadzib al-Mutftarî, h. 339)

    Ibn Asakir kemudian mengutip salah satu kasus yang terjadi dengan al-Imâm asy-Syafi’i dengan sanad-nya dari ar-Rabi’ ibn Sulaiman, bahwa ia (ar-Rabi’ ibn Sulaiman) berkata: “Ketika aku berada di majelis asy-Syafi’i, Abu Sa’id A’lam memberitahukan kepadaku bahwa suatu ketika datang Abdullah ibn Abd al-Hakam, Yusuf ibn Amr ibn Zaid, dan Hafsh al-Fard. Orang yang terakhir ini oleh asy-Syafi’i disebut dengan al-Munfarid (yang berpaham ekstrim). Kemudian Hafsh al-Fard bertanya kepada Abdullah ibn Abd al-Hakam: “Bagaimana pendapatmu tentang al-Qur’an?” Namun Abdullah ibn Abd al-Hakam enggan menjawab. Lalu Hafsh bertanya kepada Yusuf ibn Amr. Namun ia juga enggan menjawab. Keduanya lalu berisyarat untuk bertanya kepada asy-Syafi’i. Kemudian Hafsh bertanya kepada asy-Syafi’i, dan asy-Syafi’i memberikan dalil kuat atas Hafsh. Namun kemudian antara keduanya terjadi perdebatan yang cukup panjang. Akhirnya asy-Syafi’i dengan argumennya yang sangat kuat mengalahkan Hafsh dan menetapkan bahwa al-Qur’an adalah Kalam Allah bukan makhluk. Kemudian asy-Syafi’I mengkafirkan Hafsh. (Ar-Rabi’ ibn Sulaiman berkata): “Beberapa saat kemudian di masjid aku bertemu dengan Hafsh, ia berkata kepadaku bahwa asy-Syafi’i hendak memenggal leherku” (Manâqib asy-Syâfi’i karya ar-Razi, h. 194-195. Lihat juga al-Asmâ’ Wa ash-Shifât karya al Bayhaqi, h. 252)

    Dalam kitab at-Tabshirah al-Baghdâdiyyah disebutkan sebagai berikut: “Orang paling pertama sebagai ahli Kalam dikalangan ulama fiqih Ahlussunnah adalah al-Imâm Abu Hanifah dan al-Imâm asy-Syafi’i. Abu Hanifah telah menuliskan al-Fiqh al-Akbar dan ar-Risâlah yang kemudian dikirimkan kepada Muqatil ibn Sulaiman untuk membantahnya. Karena Muqatil ibn Sulaiman ini adalah seorang yang berkeyakinan tajsîm; mengatakan bahwa Allah adalah benda. Demikian pula beliau telah banyak membantah para ahli bid’ah dari kaum Khawarij, Rawafidl, Qadariyyah (Mu’tazilah) dan kelompok sesat lainnya. Para pemuka ahli bid’ah tersebut banyak
    tinggal di wilayah Bashrah, dan al-Imâm Abu Hanifah lebih dari dua puluh kali pulang pergi antara Bashrah dan Baghdad hanya untuk membantah mereka, (padahal perjalanan saat itu sangat jauh dan sulit). Dan tentunya al-Imâm Abu Hanifah telah memecahkan dan membungkam mereka dengan argumen-argumen kuatnya, hingga beliau menjadi panutan dan rujukan dalam segala permasalahan Ilmu Kalam ini”.

    Al-Imâm al-Hâfizh al-Khathib al-Baghdadi dengan sanad-nya hingga al-Imâm Abu Hanifah, meriwayatkan bahwa al-Imâm Abu Hanifah berkata: “Saya telah benar-benar mempelajari Ilmu Kalam, hingga saya telah mencapai puncak sebagai rujukan dalam bidang ilmu ini” (Târîkh Baghdâd, j. 13, h. 333)

    Al-Imâm Badruddin az-Zarkasyi dalam Tasynîf al-Masâmi’ Syarh Jama’ al-Jawâmi’ menyebutkan bahwa para ulama Salaf terdahulu sudah mentradisikan usaha dalam membantah faham-faham ahli bid’ah, baik dengan tulisan-tulisan maupun dalam forumforum terbuka. Dalam usaha tersebut al-Imâm asy-Syafi’i telah menulis Kitâb al-Qiyâs sebagai bantahan terhadap faham yang mengatakan bahwa alam ini tidak memiliki permulaan (Qadîm). Beliau juga telah menulis kitab dengan judul ar-Radd ‘Alâ al-Barâhimah, dan beberapa karya lainnya yang khusus ditulis untuk menyerang faham-faham di luar Ahlussunnah. Sebelum al-Imâm asy-Syafi’i, al-Imâm Abu Hanifah juga telah melakukan hal yang sama. Dalam hal ini al-Imâm Abu Hanifah telah menulis kitab al-Fiqh al-Akbar dan kitab al-‘Âlim Wa al-Muta’allim untuk membantah orang-orang zindik. Demikian pula dengan al-Imâm Malik ibn Anas dan al-Imâm Ahmad ibn Hanbal, mereka semua adalah para Imam terkemuka yang giat memerangi faham-faham sesat yang berseberangan dengan akidah Rasulullah dan para sahabatnya.

    Tulisan-tulisan tentang Ilmu Kalam kemudian menjadi sangat berkembang, terlebih setelah menyebarnya karya-karya dua Imam Ahlussunnah yang agung; yaitu al-Imâm Abul Hasan al Asy’ari dan al-Imâm Abu Manshur al-Maturidi. Dua Al-Imâm ini telah menulis berbagai karya dalam menetapkan rumusan-rumusan akidah Ahlussunnah ditambah dengan bantahan-bantahan terhadap berbagai kelompok di luar Ahlussunnah, dengan argument argumen yang sangat kuat, baik dalil-dalil akal maupun dalil-dalil tekstual. Terutama al-Imâm al-Asy’ari yang berada di wilayah Bashrah Irak saat itu, beliau adalah sosok yang sangat ditakuti oleh kaum Mu’tazilah.

    Al-Hâfizh al-Lughawiy al-Imâm Muhammad Murtadla az-Zabidi dalam kitab Syarh Ihyâ’ Ulum ad-Dîn menuliskan sebagai berikut: “Segala permasalah akidah yang telah dirumuskan oleh dua al-Imâm agung; al-Asy’ari dan al-Maturidi adalah merupakan dasar-dasar akidah yang diyakini semua ulama. Al-Asy’ari membangun landasan-landasan karyanya dari madzhab dua Al-Imâm agung; yaitu al-Imâm Malik dan al-Imâm asy-Syafi’i. Beliau merumuskan landasan-landasan tersebut, merincinya, menguatkannya, dan kemudian membukukannya. Sementara al-Maturidi membangun landasan karyanya dari teks-teks madzhab al-Imâm Abu Hanifah” (Ithâf as-Sâdah al-Muttaqîn Bi Syarh Ihyâ’ ‘Ulûm ad-Dîn, j. 2, h. 13)

  52. Bagi teman teman sekalian yang ingin mengetahui aqidah Imam Hambali yang sebenarnya, dapat merujukpada kitab Dafu Syubah al-Tasybih bi-Akaffi al-Tanzih karya Imam Ibnul Jauzi.

    Al-Imâm al-Hâfizh al-‘Allâmah Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin al-Jawzi as-Shiddiqi al-Bakri berkata: “Ketahuilah –semoga petunjuk Allah selalu tercurah bagi anda–, bahwa aku telah meneliti madzhab Hanbali yang telah dirintis oleh Imam Ahmad bin Hanbal, aku mendapati bahwa beliau adalah sosok yang sangat kompeten dalam berbagai disiplin ilmu agama……..”

    Aku melihat ada beberapa orang dalam madzhab Hanbali ini yang berbicara dalam masalah akidah dengan pemahaman-pemahaman yang ngawur. Ada tiga orang yang menulis karya terkait dengan masalah ini, yaitu; Abu Abdillah bin Hamid, al-Qâdlî Abu Ya’la (murid Abu Abdillah bin Hamid), dan Ibn az-Zaghuni. Mereka semua telah menulis kitab-kitab yang telah merusak madzhab Hanbali, bahkan dengan sebab itu aku melihat mereka telah turun ke derajat orang-orang yang sangat awam. Mereka memahami sifat-sifat Allah secara indrawi, misalkan mereka mendapati teks hadits: “إن الله خلق ءادم على صورته”, lalu mereka menetapkan adanya “Shûrah” (bentuk) bagi Allah. Kemudian mereka juga menambahkan “al-Wajh” (muka) bagi Dzat Allah, dua mata, mulut, bibir, gusi, sinar bagi wajah-Nya, dua tangan, jari-jari, telapak tangan, jari kelingking, jari jempol, dada, paha, dua betis, dua kaki, sementara tentang kepala mereka berkata: “Kami tidak pernah mendengar berita bahwa Allah memiliki kepala”, mereka juga mengatakan bahwa Allah dapat menyentuh dan dapat disentuh, dan seorang hamba bisa mendekat kepada Dzat-Nya secara indrawi, sebagian mereka bahkan berkata: “Dia (Allah) bernafas”. Lalu –dan ini yang sangat menyesakkan– mereka mengelabui orang-orang awam dengan berkata: “Itu semua tidak seperti yang dibayangkan dalam akal pikiran”.

    Dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah mereka memahaminya secara zahir (literal). Tatacara mereka dalam menetapkan dan menamakan sifat-sifat Allah sama persis dengan tatacara yang dipakai oleh para ahli bid’ah, sedikitpun mereka tidak memiliki dalil untuk itu, baik dari dalil naqli maupun dari dalil aqli. Mereka tidak pernah menghiraukan teks-teks yang secara jelas menyebutkan bahwa sifat-sifat tersebut tidak boleh dipahami dalam makna literalnya, juga mereka tidak pernah mau melepaskan makna sifat-sifat tersebut dari tanda-tanda kebaharuan.

    Mereka tidak merasa puas sampai di sini, mereka tidak puas dengan hanya mengatakan “Sifat Fi’il” saja bagi Allah hingga mereka mengatakan “Sifat Dzât”. Kemudian setelah mereka menetapkan semua itu sebagai sifat Dzat-Nya, mereka berkata: “Kita tidak boleh memahami itu semua dalam makna arahan bahasa, seperti “al-Yad” menjadi “an-Ni’mah” (kenikmatan) dan “al-Qudrah” (kekuasaan), “al-Majî’” dan “al-Ityân” menjadi “al-Birr” (karunia dan kebaikan) atau “al-Luthf” (pertolongan), dan atau “as-Sâq” menjadi “asy-Syiddah” (kesulitan)”. Mereka berkata: “Kita memberlakukan kandungan semua teks tersebut dalam makna zahirnya”.

    Padahal makna zahir teks-teks tersebut adalah sifat-sifat yang berlaku pada manusia. Benar, sesungguhnya dasar teks-teks itu harus dipahami dalam makna zahirnya jika itu dimungkinkan [artinya jika tidak ada perkara yang menuntutnya untuk ditakwil], namun jika ada tuntutan takwil maka berarti teks tersebut bukan dalam zahirnya tetapi dalam makna majaz (metaforis). Ironisnya, dan ini sangat mengherankan, mereka mengaku sebagai orang-orang yang jauh dari keyakinan tasybîh, bahkan mereka sangat marah jika akidah tasybîh tersebut disandangkan kepada mereka, mereka berkata: “Kami adalah Ahlussunnah”.

    Sesungguhnya pernyataan mereka bahwa teks-teks mutasyâbihât harus dipahami dalam makna zahir pada dasarnya adalah pemahaman tasybîh. Yang menyedihkan ialah bahwa mereka ini diikuti oleh orang-orang awam. Aku telah menasehati mereka semua; baik orang-orang yang diikuti maupun mereka yang mengikuti. Aku katakan kepada mereka: “Wahai saudara-saudaraku, kalian adalah para pengikut teks-teks syari’at (Ash-hâb an-Naql). Imam besar kalian; Ahmad bin Hanbal –semoga rahmat Allah selalu tercurah baginya– di bawah pukulan-pukulan cambuk berkata: “Bagaimana mungkin aku mengatakan sesuatu yang tidak pernah dinyatakan oleh Allah dan Rasul-Nya?”. Karena itu kalian jangan membuat ajaran-ajaran aneh dalam madzhab suci ini yang nyata-nyata bukan bagian darinya.

    Imam Ibnul Jauzi berkata: “……supaya keyakinan-keyakinan buruk semacam itu tidak lagi disandarkan kepada Imam Ahmad bin Hanbal…….”

    • Dari perkataan Al-Imâm al-Hâfizh al-‘Allâmah Abul Faraj Abdurrahman bin Ali bin al-Jawzi as-Shiddiqi al-Bakri diatas, saya jadi ingat Abu Aisyah yg berkata : “Ayat dan hadist mutasyabihat yg berkaitan dengan sifat Allah swt. harus dipahami secara zahir dan hakikat”. Anehnya, Abu Aisyah ini akan “MARAH”, jika dikatakan beraqidah tasybih, tapi tanpa malu malu mengaku ahlussunah.

      • Bismillah,
        Mas Agung@, terimakasih atas penjelasannya semoga bermanfaat bagi kami…

        Oh ya…. sekarang kok jarang muncul, sibuk ya? Barokalloh fikum

      • Mas @mamak

        saya tugas di daerah, jadi gak bisa sering mampir ke sini hahahahah

  53. ADAKAH MAZHAB SALAF ATAU MANHAJ SALAF?
    Ketika Nabi Muhammad saw. Masih hidup, setiap permasalah yang ada, langsung diajukan kepada Nabi Muhammad saw. Di samping itu, pada masa tersebut, wahyu masih ada, yang diturunkan melalui lisan Nabi Muhammad saw.

    Setelah Nabi Muhammad saw. Wafat, maka setiap permasalahan yang ada, langsung diajukan kepada para sahabat. Dizaman sahabat, mereka yang tampil memberikan fatwa hanyalah sebagian kecil yang memang telah dikenal keahliannya dalam bidang fiqh, riwayat dan istinbath. Yang paling terkenal diantara mereka adalah; Khulafa’ur Rasyidin yang empat, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa al-‘Asy’ari, Mu’az bin Jabal, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit.

    Pada zaman tabi’in, daerah ijtihad bertambah luas dan kaum muslimin pada zaman itu menggunakan cara yang sama seperti cara yang dipakai oleh para sahabat Rasulallah saw. Hanya saja ijtihad dimasa tabi’in dapat digolongkan kepada dua madzhab utama yaitu Madzhab Ahlu al-Ra’yi di Irak dan madzhab Ahlu al-Hadits.

    Diantara tokoh-tokoh madzhab Ahlu al-Ra’yi di Irak ialah Alqamah bin Qais an-Nakha’I; Sa’id bin Jubair; Masruq bin Al-Ajda’ al-Hamdani dan Ibrahim bin Zaid an-Nakha’i. Orang-orang awam Irak dan sekitarnya selalu bertaqlid kepada madzhab ini tanpa ada yang mengingkari. Adapun tokoh-tokoh madzhab Ahlu al-Hadits di Hijaz adalah; Sa’id bin al-Musayyab al-Makhzumi; ‘Urwah bin Zubair; Salim bin Abdullah bin Umar; Sulaiman bin Yasar dan Nafi’ Maula Abdullah bin Umar. Penduduk Hijaz dan sekitarnya senantiasa bertaqlid kepada madzhab ini tanpa ada seorangpun yang mengingkari.

    Dari sekian banyak imam mujtahid, yang secara formulatif dibukukan hasilhasil ijtihadnya dan hingga kini madzhab-madzhabnya masih dianggap eksis hanya terbatas kepada Imam madzhab yang empat saja, yaitu; al-Imâm Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit al-Kufy (w 150 H) sebagai perintis madzhab Hanafi, al-Imâm Malik ibn Anas (w 179 H) sebagai perintis madzhab Maliki, al-Imâm Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i (w 204 H) sebagai perintis madzhab Syafi’i, dan al-Imâm Ahmad ibn Hanbal (w 241 H) sebagai perintis madzhab Hanbali. Sudah barang tentu para Imam mujtahid yang empat ini memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni hingga mereka
    memiliki otoritas untuk mengambil intisari-intisari hukum yang tidak ada penyebutannya secara sharîh, baik di dalam al-Qur’an maupun dalam hadits-hadits Rasulullah. Selain dalam masalah fiqih (Furû’iyyah), dalam masalah-masalah akidah (Ushûliyyah) para Imam mujtahid yang empat ini adalah Imam-Imam teolog terkemuka (al-Mutakllimûn) yang menjadi rujukan utama dalam segala persoalan teologi. Demikian pula dalam masalah hadits dengan segala aspeknya, mereka merupakan tumpuan dalam segala rincinan dan berbagai seluk-beluknya (al- Muhadditsûn). Lalu dalam masalah tasawwuf yang titik konsentrasinya adalah pendidikan dan pensucian ruhani (Ishlâh al-A’mâl al-Qalbiyyah, atau Tazkiyah an-Nafs), para ulama mujtahid yang empat tersebut adalah orang-orang terkemuka di dalamnya (ash-Shûfiyyah). Kompetensi para Imam madzhab yang empat ini dalam berbagai disiplin ilmu agama telah benar-benar ditulis dengan tinta emas dalam berbagai karya tentang biografi mereka.

    Para Imam Mazhab yang empat, bukan hanya meninggalkan pendapat mereka, tapi juga meninggalkan metode ijtihad. Seperti Imam Syafi’i yang mengarang kitab ushul fiqih yang berjudul Ar-Risalah. Dari merekalah, generasi generasi berikutnya mengambil ilmu agama ini. Dan sesungguhnya, merekalah (imam hanafi, imam maliki, imam syaf’i, dan imam hambali) salaf yang sesungguhnya. Sedangkan ibnu taimiyyah, ibnu qayyim al jauzi bukanlah generasi salaf, apa lagi Muhammad bin abdul wahab, bin baz, utsmaini, dan al bani, mereka bukanlah generasi salaf.

    KEAGUNGAN DAN KEBESARAN IMAM MAZHAB
    1. IMAM HANAFI
    Rasulullah bersabda: “Seandainya ilmu itu tergantung di atas bintang-bintang Tsurayya maka benar-benar ia akan diraih oleh orang-orang dari keturunan Persia” (HR. Ahmad).

    al-Imâm Abu Hanifah, hanya beliau di antara Imam mujtahid yang empat yang berasal dari daratan Persia.

    2. IMAM MALIKI
    Rasulullah bersabda:
    “Hampir-hampir seluruh orang akan memukul punuk-punuk unta (artinya mengadakan perjalan mencari seorang yang alim untuk belajar kepadanya), dan ternyata mereka tidak mendapati seorangpun yang alim yang lebih alim dari orang alim yang berada di Madinah”. (HR. Ahmad).

    Adalah al-Imâm Malik ibn Anas, perintis Madzhab Maliki; salah seorang guru al-Imâm asy-Syafi’i. Itu karena hanya al-Imâm Malik dari Imam madzhab yang empat yang menetap di Madinah, yang oleh karenanya beliau digelari dengan Imâm Dâr al-Hijrah (Imam Kota Madinah).

    3. IMAM SYAFI’I
    Nabi Muhammad saw. Bersabda :
    “Janganlah kalian mencaci Quraisy karena sesungguhnya –akan datang- seorang alim dari keturunan Quraisy yang ilmunya akan memenuhi seluruh pelosok bumi” (HR. Ahmad).

    Dari keempat Imam yang agung ini para ulama menyimpulkan bahwa yang dimaksud dengan hadits Rasulullah di atas adalah al-Imâm asy-Syafi’i, sebab hanya beliau yang berasal dari keturunan Quraisy. Tentunya kesimpulan ini dikuatkan dengan kenyataan bahwa madzhab al-Imâm asy-Syafi’i telah benar-benar tersebar di berbagai belahan dunia Islam hingga sekarang ini.

    4. IMAM HAMBALI
    Rasulullah saw. Bersabda : “Sebaik-baik abad adalah abad-ku (periode sahabat Rasulullah), kemudian abad sesudah mereka (periode Tabi’in), dan kemudian abad sesudah mereka (periode Tabi’i at-Tabi’in)” (HR. at-Tirmidzi).

    Imam Hambali termasuk kedalam keumuman hadist tersebut. Beliau adalah salah seorang murid Imam Syafi’i dan salah satu Imam yang memiliki hapalan hadist terbanyak.

    • Hilmalia Salamah

      Kata salah seorang ulama Malikiyah bahwa Wahabi itu pengikut Mazhab Hawa Nafsu. Akibat menolak bermazhab dg 4 mazhab, akhirnya mereka mengekor Hawa Nafsunya masing2, naudzubillah min dzalik.

    • terang benderang ulasannya Mas Agung, Tq.

  54. Mas @Agung sy mau tanya. Kenapa anak2 salafi/wahabi pny pengertian kalo tanduk setan dr nejd itu orang2 sufi dari iraq?

    • Tanya saja kepada mereka mas, mengapa memusuhi sufi…..! memang ada orang yang mengaku sufi dan keluar dari ahlussunah wal jama’ah, misal, karena berpaham wahdatul wujud, atau mengatakan, bagi yg sudah mencapai makrifat dengan Allah swt. tidak perlu lagi menjalankan syari’at seperti sholat dsb. kalau yg seperti itu, namanya sufi gadungan.

  55. syukron ktsiro mas agung mantab

  56. Syukron Katsir Mas Agung….

    Subhanallah….. Allah menjaga agama yang benar ini melalui hamba-hamba pilihan-Nya yang sholih dari setiap zaman dan generasi … (Ini yang saya maksud bahwa Ahlussunnah itu terjaga sanad dan matannya sampai dengan Rasululloh SAW melalui Para Sahabat, Tabiin, Imam2 Mu’tabar, dan para ulama2 yang sholih…)

    Jadi kalau boleh disimpulkan, Runtutan Pemahaman Ahlussunnah (Imam Asy’ari dan Maturidi) itu sbb:

    Nabi Muhammad Saw — Sahabat — Tabi’in — Imam Mazhab — Imam Al-Asy’ari (Dari Pemahaman Imam Malik dan Imam Syafi’i) & Imam Maturidi (Dari Pemahaman Imam Hanafi) — Ulama2 besar dari generasi sesudahnya sampai generasi kita…

    Subhanallah….. Al-Haq itu telah nyata dan terang benderang bagi hati yang diberi Hidayah oleh-Nya…

    Semoga semua teman2 Aswaja selalu diistiqomahkan oleh Allah SWT dijalan yang benar ini…

    Adakah rekan-rekan wahabi (yang mengaku paling salaf dan paling benar) mampu memberikan rangkaian SANAD dan MATAN AKIDAH mereka sesuai yang diajarkan Nabi yang mulia, para sahabatnya, dan ulama2 mu’tabar dengan dalil yang shohih dan shorih? ……

    Benarlah Allah menunjukkan hidayah kepada yang dikehendaki-Nya, dan sebaliknya memalingkan hidayah-Nya kepada yang dikehendaki-Nya…

    Mari berdoa dan bermohon bersama (to all aswaja) semoga Allah selalu memberikan hidayah-Nya kepada kita semua…. Amiin

  57. Perbedaan adalah rahmat, jika kita semua menganut faham Imam Syafi’i pasti ada sunnah Nabi SAW yg tidak kita jalnkan, makanya ada macam2 mazhab, sehingga sempurnalah sunnah Nabi SAW dilaksanakan Ummat. Tapi aneh sama Mazhab Wahabi ini, mereka tak terima pendapat mazhab lain, jika tak ikut faham mereka berarti sesat. Dan juga mereka salafi wahabi ini akhlaknya kurang amat, seorang Ulama didaerah saya disesatkan ama seorang imam mesjid lulusan IAIN yang sudah ikut salafi wahabi. Nah, jika dibandingkan Imam salafi wahabi ini dengan ulama pesantren didaerah saya tersebut, bagai timur dan barat jauh amat dari segi apapun. dari segi keilmuan, akhlak serta peran kepada masyarakat. Duh, gimana tuh pemikiran salafi wahabi udh seperti khawarij, kalo tidak salah saya baca2 kaum khawarij tiada tempat lain diakhirat kecuali Neraka berdasarkan Hadis Nabi SAW.

  58. Faktanya sesama ulama Wahabi (Salafi) di Timur Tengah yang mengklaim Ahlussunnah Wal-Jama’ah ternyata saling bertentangan atau berselisih, sehingga menyebabkan saling membid’ahkan dan bahkan saling mengkafirkan menyebabkan mereka bercerai-berai.

    Contohnya:

    Abdul Muhsin al-’Abbad dari Madinah menganggap al-Albani berfaham Murji’ah (kafir).
    Hamud al-Tuwaijiri dari Riyadh menilai al-Albani telah mulhid (tersesat).
    Al-Albani juga memvonis tokoh Wahhabi di Saudi Arabia yang mengkritiknya, sebagai musuh tauhid dan sunnah.
    Komisi fatwa Saudi Arabia yang beranggotakan al-Fauzan dan al-Ghudyan, serta ketuanya Abdul Aziz Alus-Syaikh memvonis Ali Hasan al-Halabi, murid al-Albani dan ulama Wahhabi yang tinggal di Yordania, berfaham Murji’ah dan Khawarij.
    Husain Alus-Syaikh yang tinggal di Madinah membela al-Halabi dan mengatakan bahwa yang membid’ahkan al-Halabi adalah ahli-bid’ah dan bahwa al-Fauzan telah berbohong dalam fatwanya tentang al-Halabi.
    Al-Halabi pun mengatakan, bahwa Safar al-Hawali, pengikut Wahhabi di Saudi Arabia, beraliran Murji’ah.
    Ahmad bin Yahya al-Najmi, ulama Wahhabi di Saudi Arabia, memvonis al-Huwaini dan al-Mighrawi yang tinggal di Mesir mengikuti faham Khawarij.
    Falih al-Harbi dan Fauzi al-Atsari dari Bahrain menuduh Rabi’ al-Madkhali dan Wahhabi Saudi lainnya mengikuti faham Murji’ah.
    Ternyata dalam kitab Rifqan Ahl al-Sunnah bi-Ahl al-Sunnah, membeberkan terjadinya perpecahan di kalangan Salafi yang sangat parah dan sampai klimaks, sampai pada batas saling membid’ahkan, tidak bertegur sapa, memutus hubungan dan sebagainya.
    Rifqan Ahl al-Sunnah bi-Ahl al-Sunnah, karangan Dr. Abdul Muhsin bin Hamad al-‘Abbad al-Badar, dosen Ustadz Ali Musri ketika kuliah di Jami’ah Islamiyah, Madinah al-Munawwaroh.

    Untuk membuktikan secara jelas bagaimana sesama Wahabi (Salafi) saling membid’ahkan dan mengkafirkan adalah realitas bagi Salafi (Wahabi), silahkan rujuk di link-link berikut:

    http://generasisalaf.wordpress.com/2013/04/20/salafy-jihadi-yazid-jawas-dan-ulama-salafi-lain-pembela-berpaham-murjiah/

    http://www.voa-islam.com/news/resensi/2012/12/09/22265/mendeteksi-pemikiran-anda-salafi-ataukah-sekte-neo-murjiah/

    http://www.voa-islam.com/news/indonesiana/2012/07/30/20053

    http://www.salafy.or.id/amal-perbuatan-termasuk-dalam-iman-bantahan-atas-hanafiyah-dan-murjiah/

    http://www.allaahuakbar.net/article_showall.asp?cat_id=50&parent_id=5&sub_name=Murji%27ah&parent_name=Guard+Your+Faith

    Subhanallah, wa na’udzubillah min dzaalik. Dari fakta-fakta di atas dapat kita lihat bagaimana kesesatan suatu golongan dibeberkan oleh orang dalam golongan itu sendiri. Dan dari fakta-fakta ini pula anda mungkin sudah memperoleh persepsi yang benar tentang manakah Ahlussunnah Wal Jamah yang palsu. Bukankah ini sangat penting agar kita tidak salah pilih?

    Jadi…, pertanyaan “Benarkah Wahabi (Salafi) adalah golongan Ahlussunnah Wal Jamaah”, untuk menjawabnya benar atau tidaknya silahkan jawab sendiri, gitu aja kok repot?

    Islam Institute – http://www.islam-institute.com

  59. ummu khasanah ternyata benar-benar pembual

  60. Inilah Website yang sangat bermanfaat bagi santri-santri kami… Syukron katsiron wahai saudaraku para Aswaja… Kita pertahankan akidah anak-anak negeri ini dengan akidah As’ariyah Maturidiyah, dan madzhab Syafi’i… yang telah bertahan selama berabad-abad. Saya setuju untuk melarang anak-anak kita dan santri-santri kita untuk berhati-hati dan waspada terhadap orang-orang yang sering mensesatkan dan mengkafirkan orang lain bahkan mengkafirkan para ulama. Mudah-mudahan orang-orang awam yang telah terjerumus dapat disadarkan..

  61. APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?

    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.

    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.

    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.

    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.

    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.

    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.

    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:

    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.

    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.

    3. Isteri-isteri beliau.

    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.

    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.

    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.

    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.

    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, kalau mau konsisten seharusnya tetap diambil dari nasab perempuan dan seterusnya.

    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري

    “Tidak ada seorangpun yang mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia tahu (kalau bukan ayahnya), melainkan telah kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum, padahal bukan, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.

    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

  62. mas ini kompletannya kopi paste….
    kalau ngopi yabg komplet ya…. hehe
    Siapakah yang Dimaksud dengan
    Ahlul Bait?
    Tanya:
    Assalamu’alaikum wr. wb.
    Dalam al-Quran yang menyebut ‘ahlulbait’ ,
    rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat:
    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata:
    “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan
    Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-
    Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait.
    Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha
    Pemurah“.
    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya,
    maka makna ‘ ahlulbait ‘ adalah terdiri dari isteri
    dari Nabi Ibrahim.
    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari
    menyusu kepada perempuan-perempuan yang
    mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka
    berkatalah Saudara Musa: ‘Maukah kamu aku
    tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan
    memeliharanya untukmu, dan mereka dapat
    berlaku baik kepadanya?’
    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya,
    maka makna ‘ ahlulbait ‘ adalah meliputi Ibu
    kandung Nabi Musa As. atau Saudara kandung
    Nabi Musa As.
    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah
    bermaksud hendak menghilangkan dosa dari
    kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu
    sebersih-bersihnya” .
    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya
    QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para
    ‘ ahlulbait ‘ adalah para isteri Nabi Muhammad
    SAW.
    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni
    QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran
    ahlulbait nya mencakup keluarga besar Nabi
    Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak
    beliau.
    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di
    atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup
    ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal
    terdiri dari:
    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW,
    sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat
    Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’
    dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.
    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW,
    tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak
    ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak
    Abdullah dengan Ibu Aminah.
    3. Isteri-isteri beliau.
    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun
    laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak
    menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada
    yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga
    anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.
    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ ahlul bait ‘
    dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS.
    33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil
    garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi
    Isa Al Masih yakni bin Maryam.
    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan
    Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan
    kepada nasabnya Bunda Fatimah? Ya jika
    merujuk pada Al Quran maka anak Bunda
    Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa
    mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.
    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda
    Fatimah juga ahlul bait , karena kita mau
    mengambil garis dari perempuannya (Bunda
    Fatimah), maka untuk selanjutnya yang
    seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait
    diambil dari anak perempuannya seperti
    Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan
    Husein sbg penerima warisnya.
    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan
    itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab
    perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab
    laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab
    perempuan seterusnya.
    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak
    paman Saidina Muhammad SAW, ya jika
    merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau
    bukan termasuk kelompok ahlul bait . Jadi, anak
    Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya
    mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat
    mewarisi tahta ‘ ahlul bait ‘.
    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris
    tahta ‘ ahlul bait ‘ yang terakhir hanya tinggal
    bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan
    dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.
    [Elfan via email]
    Jawab:
    Wa’alaikumussalam wr. wb.
    Banyak pendapat tentang siapa Âl al-Bait (ﻝﺁ
    ﺖﻴﺒﻟﺍ) atau Ahl al-Bait /Ahlul Bait ( ﺖﻴﺒﻟﺍ ﻞﻫﺃ ).
    Sejumlah sahabat seperti Athâ’, ‘Ikrimah, dan
    Ibn Abbâs – radhiyallâ ‘anhum , misalnya,
    berpendapat bahwa Ahl al-Bait hanya mencakup
    istri-istri Nabi saw. saja. Tidak ada yang lain.
    Menurut mereka, yang dimaksud dengan kata
    bait (‘rumah’) adalah tempat tinggal Nabi saw. –
    bersama istri-istri beliau– sesuai dengan firman
    Allah dalam Q.S. Al-Ahzâb [33]: 34: Dan
    ingatlah (dan perhatikanlah) apa yang dibacakan
    di rumah-rumah kamu (buyûtikum) dari ayat-
    ayat Allah (al-Qur’an) dan hikmah (Sunnah Nabi
    saw.) .
    Ada juga kelompok lain –di antaranya Abû Sa‘îd
    al-Khudriy, beberapa orang dari tabi’in seperti
    Mujâhid, Qatâdah, Az-Zmakhsyariy, dan Al-
    Kalbiy– yang berpendapat bahwa yang
    termasuk Ahl al-Bait hanyalah Ali bin Abi Thalib,
    Fathimah, Hasan, dan Husain radhiyallah
    ‘anhum . Tidak yang lain.
    Ada lagi yang berpendapat bahwa Ahl al-
    Bait adalah anak-anak dan istri-istri Nabi saw.,
    Hasan, dan Husain bin Ali bin Abi Thalib r.a.
    Yang berpendapat seperti ini antara lain Al-Fakhr
    ar-Râzî dan Al-Qasthalâniy. Menurut mereka, Ali
    juga termasuk Ahl al-Bait karena sebagai suami
    hidup bersama Fathimah di samping karena
    sering mendampingi Rasulullah saw.
    Sementara Zaid bin Arqam r.a. mengatakan
    bahwa Ahl al-Bait adalah orang-orang yang
    haram menerima zakat. Siapakah mereka yang
    tidak boleh menerima zakat? Mereka adalah
    keluarga Ali bin Abi Thalib, keluarga Aqil,
    keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas. Pendapat
    terakhir ini dinilai paling kuat, seperti dimuat
    dalam Ensiklopedia Istilah-istilah Keislaman
    (Mawsû‘ah al-Mafâhîm al-Islâmiyyah ) yang
    disusun oleh sejumlah pakar Mesir dan
    diterbitkan oleh Kementerian Wakaf Mesir. Dan
    ini pula yang dianut oleh Imam As-Suyûthi.
    Yang terakhir ini tentu saja bukan tanpa dasar.
    Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim
    disebutkan bahwa sahabat Zaid bin Arqam r.a.
    berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘ Ammâ
    ba‘d . Wahai sekalian manusia! Sesungguhnya
    aku hanyalah seorang manusia yang tidak lama
    lagi akan datang malaikat (maut) menjemputku
    lalu aku memenuhi panggilan-Nya. Aku
    meninggalkan di antara kamu dua hal penting.
    Pertama, Kitab Allah (al-Qur’an). Di dalamnya
    terdapat petunjuk dan cahaya. Ambillah dan
    peganglah erat-erat Kitab Allah itu.’ Rasulullah
    sangat menganjurkan (untuk berpegang teguh
    kepada) al-Qur’an. Kemudian Rasul saw.
    berkata lagi, (‘Kedua), Ahl Bait -ku. Aku ingkatkan
    kamu sekalian kepada Allah mengenai Ahl Bait –
    ku.’ Rasulullah saw. mengucapkan itu tiga kali.
    Lalu Hushain berkata kepada Zaid, ‘Siapakah Ahl
    Bait Rasulullah, wahai Zaid? Bukankah istri-istri
    beliau termasuk Ahl al-Bait ?’ Zaid berkata, ‘Ya,
    istri-istri beliau termasuk Ahl al-Bait . Tetapi Ahl
    al-Bait adalah orang-orang yang haram
    menerima zakat.’ Hushain bertanya lagi, ‘Siapa
    mereka?’ Zaid berkata, ‘Keluarga Ali, keluarga
    Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas –
    radhiyallâh ‘anhum .” (Ali, Aqil, dan Ja’far, adalah
    putra-putra Abu Thalib, paman Nabi saw.).
    Dan kalau melihat pengertian Ahl al-Bait adalah
    orang-orang yang tidak boleh menerima zakat,
    maka semua keturunan Bani Hâsyim dan Bani
    Abd Al-Muththalib masuk ke dalam Ahl al-Bait .
    Demikian, wallahu a’lam.
    [Muhammad Arifin, Dewan Pakar Pusat Studi al-
    Qur’an ]

  63. assalamu’alaykum..

    Benar sekali jika disebut bahwa “Cinta kaum wahabi kepada Rasulullah adalah cinta palsu”..
    bahkan sudah jelas dimata kita semua sepak tejang ustadz-ustadz wahabi sprti yazid jawas dn firanda dll selalu menghina dan menghujat dzuriyyat Rosul…

    dalam buku firanda berjudul “Ketika Sang Habib DIkritiik” pun itu penuh dengan aroma hujatan, cacian, hinaan dan penipuan..
    Istilah kritik yang digunakan dalam judul buku ini terasa menjadi bias. Buku ini tak lagi bernuansa kritik, tapi berubah sebagai hujatan. Hujatan Dr Firanda kepada ulama dan habaib adalah ciri Khas dan lagu lama kaum Wahabi.

    saya sudah buatkan jawaban dan tanggapan mengenai hujatan firanda itu, silahkan klik disini…
    Firanda Menghujat Ulama dan Habaib – Lagu Lama Kaum Wahhabi

    Syukron admin Ummatipress,, semoga istiqomah selalu… aamiin….

  64. Maaf saya orang awam agak bingung dengan pernyataan Jabir berikut ini
    ” Sekali lagi saya tegaskan, yang perlu anda ketahui adalah bahwa antara Imam Syafi’i dan Imam Asy’ari dan Maturidi adalah sama-sma beraqidah dg aqidah yang diajarkan oleh Allah dan rasul-NYA. Hanya saja perkembangan ilmu aqidah menjadi ilmu yg sitematis dimulai sejak Imam Asy’ariyah. Sedangkan pada zaman Imam Syafi’i Ilmu aqidah belum dikembangkan menjadi susunan ilmu yg sitematis. Kalau pada zaman Imam Syafi’i yang berkembang adalah ilmu FIKIH / Syari’at”
    yang jadi kebingungan dan pertanyaan saya sebagai orang awam adalah
    1. Berarti Imam syafi’i sangat sedikit membahas masalah akidah pada zamannya ?
    2. Apakah Perbedaan sistematis Akidah Imam Syafi’i dengan Imam Asy’ariyah sehingga lebih memilih Akidah Asy’ariyah??
    3. Apakah Imam Asy’ariyah lebih faham masalah Akidah dari pada Imam Syafi’i???
    4. Bagaimana Akidah Imam Mazhab yang lain???
    Maaf saya yang orang awam agak bingung mohon penjelasannya..

  65. Najd itu diriyadh tempat lahirnya wahabi sepak kapan pindah ke irak tolong yg bilang najd diirak disuruh belajar nahu dulu.

  66. @Ahli Najd..
    Antum yang harus belajar dulu ilmu hadits mas…
    Perhatikan hadits ini :
    Riwayat Ath-Thabaraaniy dalam Mu’jamul-Kabiir.
    Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin ‘Aliy Al-Ma’mariy : Telah menceritakan kepada kami Ismaa’iil bin Mas’uud : Telah menceritakan kepada kami ‘Ubaidullah bin ‘Abdillah bin ‘Aun, dari ayahnya, dari Naafi’, dari Ibnu ‘Umar : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ya Allah, berikanlah barakah kepada kami pada Syaam kami dan Yamaan kami”. Beliau mengatakannya beberapa kali. Saat beliau mengatakan yang ketiga kali atau keempat, para shahabat berkata : “Wahai Rasulullah, dari juga ‘Iraaq kami ?”. Beliau bersabda : “Sesungguhnya di sana terdapat bencana dan fitnah. Dan di sana lah muncul tanduk setan” [Al-Mu’jamul-Kabiir, 12/384 no. 13422; sanadnya jayyid].

    Hadits diatas lebih diperkuat lagi dengan hadits yang lain sebagai berikut :
    Riwayat Muslim dalam Shahih-nya. :
    Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Umar bin Abaan, Waashil bin ‘Abdil-A’laa, dan Ahmad bin ‘Umar Al-Wakii’iy (dan lafadhnya adalah lafadh Ibnu Abaan); mereka semua berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudlail, dari ayahnya, ia berkata : Aku mendengar Saalim bin ‘Abdillah bin ‘Umar berkata : “Wahai penduduk ‘Iraaq, aku tidak bertanya tentang masalah kecil dan aku tidak mendorong kalian untuk masalah besar. Aku pernah mendengar ayahku, Abdullah bin ‘Umar berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa salam bersabda : ‘Sesungguhnya fitnah itu datang dari sini – ia menunjukkan tangannya ke arah timur – dari arah munculya dua tanduk setan’. Kalian saling menebas leher satu sama lain. Musa hanya membunuh orang yang ia bunuh yang berasal dari keluarga Fir’aun itu karena tidak sengaja. Lalu Allah ‘azza wa jalla berfirman padanya : ‘Dan kamu pernah membunuh seorang manusia, lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan Kami telah mencobamu dengan beberapa cobaan.” (Thaahaa: 40)” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 2905 (50)].

    Adapun tentang hadits dengan lafadz “Najd”, maka para ulama menafsirkan bahwa kata najd yang dimaksud adalah tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya..
    Silakan merujuk kembali dalam kamus bahasa ‘Arab, Ibnul-Mndhuur menyebutkan :
    “Semua tanah yang tinggi dari Tihaamah sampai tanah ‘Iraaq, maka itu Najd” [lihat dalam Lisaanul-‘Arab].
    Nama daerah najd sendiri tidak dikenal di zaman Rasulullah..

    Wallahu a’lam..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

35 Mutiara Hikmah Ulama Aswaja Makkah

35 Mutiara Hikmah Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki, Ulama Aswaja Makkah. Kumpulan Nasehat as Sayyid ...