Penetapan Satu Ramadhan dan Satu Syawal Adalah dengan Rukyat Tidak dengan Hisab

Penetapan Satu Ramadhan dan Satu Syawal Adalah dengan Rukyat Tidak dengan Hisab. Ada pertanyaan di fanpage dari dengan pertanyaan ” Assalamu’alaikum, mana yang lebih didahulukan Hisab atau Ru’yat saat menentukan tanggal 1 bulan ramadhan? mohon jawabannya dan manqul anhu nya, terimakasih.

Jawab: Wa’alaikumsalam, soal penentuan 1 ramadhan dan pun 1 syawal KH. Ali M’shum Krapyak dengan gamblang menerangkan dalam kitab Hujjatu Ahli Sunnah waljamaah dengan teks berikut:

Pada masa sekarang, kira-kira semenjak setengah abad yang lalu di Indonesia misalnya, pernah terjadi perdebatan yang lumayan seru di kalangan kaum muslimin seputar penetapan awal ramadhan untuk memulai berpuasa dan awal syawal untuk berhari raya idul fitri.

Kami berpesan kepada para ulama yang berkompeten supaya mengkaji masalah ini dengan ghirah kembali kepada Al-Qur`an dan sunnah, serta konsisten kepada tali agama Allah (hablullah) secara menyeluruh dan menghindari perpecahan. Sebab penetapan awal puasa dan hari raya idul fitri merupakan sebagian dari syiar Allah dan simbol penyatuan kata melalui kalimat tauhid : La Ilaha Illalloh.

Dalam persoalan ini, para ulama` besar jagat melaksanakan kajian secara ilmiyyah syariyyah. Di antara kesimpulan yang perlu kita ketahui ialah :

1) Imam madzhab empat sepakat, bahwa penetapan awal bulan ramadhan tiada lain ialah melalui bagian dari dua cara, yaitu ru`yatul hilal, atau menyempurnakan bilangan tiga puluh hari bulan syaban, jika hilal tak berhasil di-rukyat dikarenakan terhalang oleh mendung, awan, debu dan sejenisnya.

2) Mereka sepakat, bahwa masuknya awal bulan syawal pun ditetapkan dengan cara sebagaimana di atas, yaitu dengan rukyatul hilal. Jika hilal syawal tak berhasil di-rukyat, maka wajib menyempurnakan bulan ramadhan tiga puluh hari.

3) Seluruh kaum muslimin pada dasarnya telah melaksanakan tradisi keagamaan sebagaimana itu, tanpa kecuali, sebab kami tak menyaksikan adanya perbedaan pandangan di kalangan ahli qiblat (orang Islam) di luar ahlissunnah waljamaah, sebelum munculnya perselisihan pandangan akhir-akhir ini.

4) Bagus Ahlusunnah Waljamaah maupun golongan lainnya, kesemuanya menyepakati ketidakbolehan mempergunakan hisab dalam menentukan awal ramadhan dan awal syawal, jika hal ini diberlakukan untuk kalangan umum. Tapi, jika terbatas untuk kalangan ahli hisab sendiri beserta para muridnya, cuma imam Syafiiy saja yang memperbolehkannya. Sedangkan para ulama lainnya, bagus dari kalangan Ahlussunnah wal jema\’ah maupun golongan lainnya tak memperbolehkannya secara mutlak, bagus untuk kalangan umum maupun kalangan terbatas.

5) Yang dinilai sah dalam penetapan awal bulan ramadhan dan syawal ialah dengan cara menyaksikan hilal, tidak dengan terwujudnya hilal yang terjadi dalam kenyataan (wujudul hilal bil fili fil waqi) yang terkadang bisa diketahui melalui jalan hisab.

Kelima kesimpulan tersebut diketahui dari hasil kajian selaku berikut :

Didalam kitab Al-Madzahibul Arbaah dijelaskan, bahwa awal bulan ramadhan ditetapkan berdasarkan bagian dari dua cara : Pertama, dengan cara rukyatul hilal jika langit cerah dan terbebas dari sesuatu yang menghalangi keberhasilan rukyat sebagaimana mendung, kabut, debu dan sejenisnya. Kedua, dengan menyempurnakan bilangan bulan syaban 30 hari, jika langit tak cerah atau terhalang oleh sesuatu yang menyebabkan ketidakberhasilan rukyat, berdasarkan Hadis Nabi :

Artinya : Berpuasalah sebab berhasil menyaksikan hilal dan berbukalah (beridul fitri) sebab berhasil menyaksikan hilal. Jika terjadi mendung, maka sempurnakanlah bilangan bulan syaban berumur tigapuluh hari. (HR al-Bukhari, dari Abi Hurairah ra).

Mengenai sabda Rasulullah saw : Fa in ghumma alaikum (jika terjadi mendung atas kalian), kami menemukan pandangan dari ulama hanabilah yang bersikap hati-hati, bahwa yang dimaksudkannya ialah jika hilal terhalang mendung saat matahari tenggelam pada tanggal 29 Syaban, maka tak perlu menyempurnakan bulan syaban 30 hari, akan tetapi wajib menginapkan niat puasa di malam harinya dan berpuasa pada hari berikutnya, bagus hari itu menurut kenyataannya masih termasuk bulan syaban ataupun sudah masuk bulan ramadhan, lantas berniat puasa ramadhan. Jika di tengah menjalankan puasanya itu ternyata terbukti bahwa hari itu termasuk bulan syaban, maka ia tak perlu meneruskan puasanya.

Pandangan hanabilah tersebut berhubungan dengan pelaksanaan awal bulan Ramadhan. Jika berhubungan dengan akhir bulan Ramadhan, mereka berpendapat sama sebagaimana yang dikemukakan oleh ulama syafiiyah, hanafiyah dan malikiyah, yaitu wajib menyempurnakan bilangan 30 hari bulan ramadhan, jika terjadi mendung (sehingga hilal tak berhasil di-rukyat). Kesemuanya itu selaku bentuk kehati-hatian mereka dalam beribadah.

Itulah hasil kesepakatan para imam madzhab empat cuma soal rukyat dan ikmal saja. Tak ada cara lain menurut mereka, selain dengan jalan rukyat atau ikmal. Hal ini selaku bentuk pengamalan mereka terhadap hadis yang dituturkan di muka. Dengan seperti itu, pandangan ahli nujum atau ahli hisab dipandang tak sah, sehingga tak wajib atas diri mereka sendiri untuk berpuasa berdasarkan hasil hisab-nya dan pun tak wajib atas orang-orang yang percaya kepada ucapan ahli hisab tersebut.

Cuma saja, imam Syafiiy dan ulama syafiiyah menjelaskan, bahwa pandangan ahli nujum atau ahli hisab dinilai sah (boleh diikuti) terbatas untuk ahli hisab itu sendiri dan orang-orang yang membenarkannya. Sedangkan kaum muslimin pada umumnya tak wajib berpuasa atas dasar pandangan ahli hisab tersebut, menurut pandangan yang rajih (unggul, terkuat).

Ulama yang menolak penggunaan hisab berargumentasi, bahwa Syari (Allah dan Rasul-Nya) menggantungkan pelaksanaan puasa kepada tanda-tanda (fenomena alam) yang tetap lagi tak berubah selamanya, yaitu dengan cara me-rukyat hilal dan ikmal, yaitu menyempurnakan usia bulan 30 hari.

Dari Ibnu Umar ra, katanya :

Artinya : Orang-orang sama menyaksikan hilal, lalu saya kabarkan kepada Rasulullah SAW bahwa saya melihatnya, lalu beliau berpuasa dan memerintahkan kepada para sahabat supaya berpuasa (HR Abu Dawud, dan dinilai shahih oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim)

Riwayat dari Ibnu Abbas ra,

Artinya : Seorang Arabiy datang menemui Rasulullah SAW sambil berkata, Saya telah menyaksikan hilal. Beliau menanyakan, Apakah Anda bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah?. Ya, benar!, jawabnya. Beliau menanyakan lagi, Apakah Anda bersaksi bahwa Muhammad itu utusan Allah?. Ya, benar!, jawabnya. Beliau lalu bersabda : Wahai Bilal, umumkan kepada seluruh orang, supaya mereka berpuasa besok. (HR al-Khamsah, dan dinilai shahih oleh Ibnu Huzaimah dan Ibnu Hibban).

Menurut aku, dari sini bisa kita pahami, bahwa yang dinilai sah dalam menentukan awal ramadhan dan syawal, ialah dengan cara menyaksikan hilal, tidak karena terwujudnya hilal, dan tidak dengan mengetahui wujudnya hilal melalui beberapa metode hisab.

Hadis-hadis soal rukyatul hilal tersebut merupakan penafsiran terhadap isi kandungan firman Allah :

Artinya : Sebab itu, barangsiapa di antara kau menyaksikan bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, (QS al-Baqarah,[2] : 185).

Penetapan Satu Syawal Dan Satu Ramadhan Adalah Dengan Rukyat Tidak dengan Hisab

Cara yang dinilai sah dalam menetapkan awal bulan ramadhan dan syawal

Maksudnya, siapa saja yang menyaksikan masuknya bulan dengan cara rukyatul hilal, maka wajib berpuasa bagi orang yang melihatnya dan orang yang mendengar kabar dari orang yang menyaksikan hilal. (Lihat : Tafsir al-Jalalain dan Hasyiyah ash-Shawi).
.
Argumentasi tersebut memperkuat pandangan bahwa yang dinilai sah dalam menetapkan awal bulan ramadhan dan syawal ialah dengan cara rukyat (menyaksikan hilal), dan tidak dikarenakan oleh wujudnya hilal sebagaimana yang diketahui melalui hisah, atau dengan cara ikmal, yaitu menyempurnakan bulan syaban (30 hari) untuk memulai berpuasa dan menyempurnakan bulan ramadhan untuk ber-idul fitri.

Pandangan ahli hisab, sekalipun hal itu didasarkan pada kaidah-kaidah ilmu hisab yang lumayan rumit, aku benar-benar menyaksikan ternyata masih terjadi perselisihan di kalangan mereka. Dengan kata lain, hasil perhitungan mereka sering tak sama.

Lalu hadis-hadis tersebut tak mengindikasikan perlunya mempergunakan hisab, tetapi membatasi tanda-tanda masuknya suatu bulan dengan cara rukyat atau ikmal. Sementara cara hisab terkadang tak sesuai (tak sama hasilnya) dengan ikmal.

Cara penetapan bulan syawal pun sama sebagaimana penetapan bulan ramadhan berdasarkan ijmak di kalangan ulama madzhab empat dan ulama lain diluar Ahlussunnah wal jema\’ah. Sehubungan dengan ini, perlu aku paparkan kepada Anda pandangan as-Sayyid Ibnul Qasim al-Khu`iy, seorang ulama dari kalangan Syiah al-Imamiyah, yang menyatakan bahwa pandangan ahli hisab dan yang serupa dengannya dipandang tak sah, selain apa yang telah kami jelaskan yaitu rukyatul hilal ramadhan atau ikmal bulan syaban 30 hari..

Seperti ini pula penetapan 1 Syawal pun mesti mempergunakan bagian dari dua cara sebagaimana di muka — yaitu dengan rukyatul hilal disertai kesaksian dua orang saksi yang adil, atau dengan menggenapkan bilangan 30 hari. Jika tak ditetapkan sebagaimana itu, maka tak boleh berbuka.

Sekian semoga berguna.

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :