Pendakwah Radikal Wahabi, Kenapa Ditolak Serentak di Nusantara ?

Pendakwah Radikal Wahabi – Beberapa bulan terakhir ini marak penolakan kehadiran ustadz atau dai radikal Wahabi di beberapa daerah di Indonesia. Diawali dari Tegal, Situbondo, Madura dan daerah-daerah lainnya ummat Islam serentak menolak kedatangan para pendakwah radikal Wahabi. Ada apa sejatinya di balik aksi serentak Aswaja menolak Ustadz atau pendakwah Wahabi radikal di Nusantara?

Berikut ini ialah fakta-fakta yang jadi karena kenapa para pendakwah radikal Wahabi tersebut ditolak serentak di beberapa daerah Nusantara.

Semula, tidak beberapa yang sadar bahwa acara safari dakwah para pendakwah Wahabi itu membahayakan keutuhan dan kerukunan ummat. Terutama di kalangan Nahdliyin di akar rumput yang jadi sasaran safari dakwah tersebut. Hal ini sebab strategi dakwah itu mereka sodorkan melalui kemasan paket acara ‘tabligh akbar’. Mirip dengan acara-acara yang biasa diselenggarakan kaum Aswaja. Hal ini sepintas seakan murni dakwah untuk mengajak pada kebaikan. Dan karenanya tampak biasa saja dan seakan tidak mencurigakan.

 

Firanda Andirja

 

Belakangan, dimotori oleh GP Ansor dan Banser yang melaksanakan pemantauan di lapangan, ditemukan fakta sebaliknya. Tabligh Akbar itu ternyata dijadikan oleh para pendakwah radikal wahabi tersebut selaku sarana atau ajang penghinaan. Dan penghujatan kepada beberapa amaliah Aswaja yang selama ini sudah jadi tradisi luhur. Yang tetap dijaga kelestarian dan keberlangsungannya di tengah ummat Islam Aswaja yang kebanyakan penduduk Ormas NU.

Di antara pendakwah radikal Wahabi yang serentak ditolak kedatangannya. Untuk mengisi acara tabligh akbar di beberapa wilayah, setidaknya ada 3 nama yang santer dan kerap disebut. Mereka ialah Syafiq Riza Basalamah, Khalid Basalamah dan Firanda Andirja.

 

Penolakan Pendakwah Radikal Wahabi Syafiq Riza Basalamah ke Situbondo

Seperti dikabarkan, rencana kedatangan pendakwah radikal Wahabi Syafiq Riza Basalamah ke Situbondo ditolak keras oleh Gerakan Pemuda Ansor Situbondo. Alasannya, Ansor menilai Syafiq selaku pendakwah yang bermasalah. Sebab itu aktivis Ansor pun mendatangi Polres Situbondo untuk menyampaikan penolakannya kepada Syafiq yang dinilai mudah mengkafirkan. Dan sering menyerbu akidah, amaliyah dan tradisi kaum Aswaja Nusantara, khususnya di kalangan penduduk NU.

Penolakan itu kata Sekretaris GP Ansor Situbondo, Johantono, ndak serta-merta ditunaikan tanpa alasan kuat. Melainkan telah berdasarkan kajian dan pertimbangan yang matang. Enggak terkecuali sebab masarakat juga mengklaim resah terkait rencana kedatangan pendakwah radikal Wahabi tersebut ke wilayah mereka.

“Masarakat di Situbondo telah terlalu kondusif, kita jaga ini. Jadi jangan sampai ada yang aneh-aneh. Urungkan saja niat mendatangkan pendakwah bermasalah itu, sebelum penolakan dari masarakat makin luas,” tegas Johantono. “Kami menolak kedatangan Syafiq ke Situbondo. Jangankan sampai mengisi kajian agama, menginjakkan kakinya di bumi Situbondo saja kami tolak, karena dia itu bermasalah.”

 

Syafiq Riza Basalamah

sebelum ini diagendakan Syafiq Riza Basalamah akan mengisi kajian agama di Masjid Baiturrahim, Desa Paoan Kecamatan Panarukan Situbondo. Tapi Ansor menilai bahwa profil dan dakwah yang disampaikan oleh Syafiq cenderung kontroversial dan mendramatisir. Bagian pendapatnya ialah bahwa shalawat dan dzikiran yang merupakan tradisi NU. Malah dicap Syafiq selaku nyanyian bareng yang dapat mengganggu ketenangan orang.

Belum lagi sikap Syafiq yang gampang menjatuhkan hukuman kafir sesama Muslim yang tak sama pandangan, akidah, dan keyakinan dengan kubu mereka. Itulah kenapa GP Ansor bersikeras menolak kedatangan pendakwah radikal Wahabi itu ke Situbondo.

Enggak cuma di Situbondo, ternyata kehadiran pendakwah radikal Wahabi Syafiq Basalamah juga ditolak ribuan penduduk Nahdliyin di Pamekasan, Madura. Ribuan ummat Islam di Pamekasan, Madura itu pun serentak turun gunung menolak kedatangan Syafiq Riza Basalamah dengan alasan yang sama. Ialah sebab isi ceramah Syafiq yang terlalu provokatif dan merongrong keutuhan NKRI.

 

Penolakan Pendakwah Radikal Wahabi Khalid Basalamah oleh Ummat Islam Gresik

Serupa sikap masarakat Aswaja atau NU di Situbondo dan Pamekasan yang menolak kedatangan Syafiq Riza Basalamah. Ternyata kedatangan Khalid Basalamah juga tidak dikehendaki oleh masarakat Gresik. Pentolan Wahabi yang juga seperti halnya Syafiq, ceramah-ceramahnya sering dimuat di media-media wahabi radikal. Seperti YufidTV, Radio Rodja, dan WesalTV itu juga dipersoalkan oleh GP Ansor Kabupaten Gresik. Sebab isi ceramahnya diketahui sarat nada kebencian dan memecah-belah kerukunan ummat.

Khalid Basalamah

Terakhir diketahui, acara Kajian Akbar yang akan dihelat Khalid di Masjid Darut Tauhid PT Semen Gresik itu. menurut keterangan dari pihak Polres, ternyata juga ndak mengantongi izin Pelaksanaan acara.

Enggak cuma di Gresik, penolakan serupa kepada Khalid Basalamah, juga ditunaikan GP Ansor dan Banser Kabupaten Lamongan. Mereka bersikeras menolak kedatangan Khalid Basalamah yang rencananya akan memberikan ceramah di Lamongan. Alasannya, isi ceramah Khalid dinilai terlalu berbahaya, provokatif, mengadu domba ummat, bahkan merongrong NKRI. Jadi bukan saja merusak ukhuwah ummat beragama, tetapi juga jadi ancaman serius bagi kelangsungan NKRI.

Menyikapi maraknya aksi penolakan kalangan kaum Aswaja Nahdliyin kepada aksi dakwah provokatif para pendakwah radikal Wahabi tersebut. Dr Achmad Muhibbin Zuhri, Ketua Nahdlatul Ulama Kota Surabaya mengumumkan bahwa keadaan ini tidak boleh dibiarkan. Artinya, pemerintah mesti cepat datang menghentikan gerakan para pendakwah radikal Wahabi.

 

Negara Wajib Turun Tangan Antisipasi Pendakwah Radikal Wahabi

Menurut Cak Ibin, panggilan akrabnya, fenomena penolakan pendakwah radikal telah lama timbul di masarakat, bahkan termasuk di Surabaya. Oleh sebab itu negara perlu mencegah kemungkinan besar disharmoni dan konflik sosial akibat penyebaran paham ekstrem Wahabi tersebut. Yang kondisinya waktu ini menurut dia telah terlalu mengkhawatirkan. Bahkan mampu berujung konflik horisontal.

Supaya hal ini jangan sampai terjadi, aparat telah semestinya melaksanakan tindakan preventif. Dengan menghentikan aktifitas dakwah atau bentuk propaganda lain dalam bentuk apapun yang isinya menebar ujaran kebencian (hatespeech). Apalagi waktu ini nota kesepamahan (MoU) mengenai hal tindakan menebar kebencian ini, telah diteken antara pihak NU dan Polri.

“Dakwah yang isinya mengolok-olok, mencibir, menyalahkan, mengkafirkan, membid’ah-bid’ah-kan sebuah amalan. Atau keyakinan yang dipedomani oleh masarakat dan merupakan nilai-nilai yang dijunjung tinggi, jangan sampai terjadi. Ini berbahaya, apalagi sampai merongrong NKRI,” ujar Cak Ibin yang juga guru besar. Di Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Sunan Ampel Surabaya itu.

Yazid Abdul Qadir Jawas

Lebih detail ia menjelaskan penyebaran paham ekstrim dan radikal, walaupun berdalih agama, ndak dapat dibenarkan apabila dapat mengganggu ketertiban umum. Apalagi kalau telah mengancam Keamanan Nasional.

Sementara itu pada pertengahan bulan lalu. Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Mengelurkan surat “Keberatan Atas Kehadiran Ustad Firanda Andirja” yang ditujukan ke Bupati Batang.

Dikeluarkannya surat dengan nomor: 221/PC.35-X.SR-02/VII/2016 merupakan sikap atas digelarnya Tabligh Akbar oleh Al-Irsyad. Yang semula akan dilaksanakan dengan menghadirkan Firanda Andirja selaku penceramahnya.

Pendakwah Radikal Wahabi Firanda Andirja Ditolak di Batang

Dalam surat tersebut disebutkan, bahwa PC GP Ansor Batang dengan tegas menolak kehadiran pendakwah radikal Wahabi bernama Firanda Andirja. Tokoh muda dari para dai radikal Wahabi yang hobi mengkafirkan. Dan mensesat-sesatkan para ulama Aswaja Indonesia. Juga sebab yang bersangkutan secara terang-terangan sudah menyerbu akidah dan keyakinan Aswaja.

Keadaan itu mampu menimbulkan kemungkinan besar perpecahan dan konflik horizontal antar ummat beragama di Kabupaten Batang. Yang selama ini telah berjalan harmonis. Sebab itu GP Ansor pun menyurati Bupati Batang untuk menolak Firanda sang pendakwah radikal Wahabi tersebut. Sebab kedatangannya dikhawatirkan mampu memicu tumbuhnya mental ekstrim dan radikal. Dan kita tahu, mental ekstrim dan radikal ialah pemicu munculnya gerakan terorisme.

Adapun poin isi surat tersebut ialah selaku berikut:

Maka dengan ini kami dari PC GP Ansor Batang mewakili elemen Nahdlatul Ulama mengumumkan sikap selaku berikut:

Menolak dengan tegas Kehadiran saudara Firanda di Batang. Sebab ceramahnya memuat pesan SARA dan provokasi yang dapat menimbulkan antusias kebencian di antara ummat Islam di Batang.

Meminta ke pemerintah Kabupaten Batang dan pihak-pihak terkait khususnya ke pihak penyelenggara untuk MEMBATALKAN aktifitas tersebut untuk kondusifitas masarakat Batang.

Ansor dan Banser akan terus jadi garda terdepan dalam membela dan mempertahankan NKRI dan menjaga tradisi Islam Nusantara. Oleh sebab itu kalau ada pihak-pihak yang ingin mengadu domba antar masarakat Batang. Maka Ansor dan Banser siap untuk bergerak atas izin, komando dan restu para Ulama.

Ke instansi terkait yang mempunyai kewenangan full untuk menjaga tegaknya aturan hukum di negeri ini. Untuk mampu melaksanakan usaha persuasif kepada aktifitas tersebut.

Sedemikian surat penolakan ini kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya kami haturkan terimakasih.

 

PIMPINAN CABANG GP ANSOR BATANG

 

Source link

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :