Jasa Web Alhadiy
Berita Indonesia

PENARIKAN BUKU BERHALA WALI TIDAK CUKUP HANYA JANJI

Berbagai reaksi penolakan telah muncul dari berbagai tokoh masyarakat menilai keteledoran Depag yang telah meloloskan buku Berhala Wali

Beredarnya buku BERHALA WALI yang berisi hasutan untuk membenci orang atau kelompok lain di dalam buku pelajaran, merupakan kejahatan besar. Sebab hasutan yang telah masuk di ranah pendidikan bahkan diajarkan disekolah memiliki dampak kebencian permanen, dan sulit untuk dihilangkan. Bahaya yang ditimbulkannya tentu dapat dibayangkan ada didepan mata. Karena ribuan siswa akan terbentuk dan menyimpan pemikiran yang salah hingga ke dalam perilaku sampai di kehidupan masa depan, dalam setiap pola pikir dan perilaku sehari-hari.

Ancaman bahaya tersebut disebabkan beredarnya buku mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) kurikulum 2013 yang diedarkan untuk siswa kelas VII MTSN baru-baru ini. Hal itu dinilai sangat menyinggung perasaan dan menuai kontroversi di kalangan umat Islam tradisional, utamanya NU, lantaran berisi tulisan mengenai makam wali yang disebut sebagai berhala.

Berbagai reaksi penolakan telah muncul dari berbagai tokoh masyarakat menilai keteledoran Depag yang telah meloloskan buku tersebut. Untuk itu, apapun alasannya, penulis dan penyusun buku pelajaran tersebut, serta semua pihak yang terkait hingga menyebabkan buku tak bermoral itu bisa lolos dan beredar di kalangan anak didik harus diusut tuntas serta diadili.

Mengingat dampak yang dapat ditimbulkan oleh buku hasutan semacam itu, yang dapat mengancam kesatuan, persatuan bangsa bahkan keamanan bersama. Selain itu. Hal itu perlu agar sikap provokatif yang hendak mengadu domba kehidupan beragama di Indonesia tidak sembarangan dan coba-coba dilakukan di Indonesia ini. Itu semua agar Indonesia tetap aman, damai dan nyaman karena dapat dihormatinya keyakinan pihak lain.

Untuk itu, sekali lagi depag tidak cukup berjanji untuk menarik kembali biang fitnah tersebut. Sebab jika pelakunya tidak diusut, ditangkap dan dipenjarakan, maka ia akan merasa bebas berkeliaran untuk selanjutnya melakukan tindakan penghasutan yang lebih besar lagi. Kalau sudah seperti itu, kita tentu tidak mau direpotkan oleh biang fitnah dan anti NKRI.

Berikut ini beberapa reaksi yang muncul di mass media, serta hal-hal terkait pemahaman sesungguhnya, apakah benar makam para wali adalah berhala.

REAKSI ATAS FITNAH BUKU BERHALA WALI TERSEBUT :

1. MAKAM WALI DISEBUT BERHALA, PAHAM WAHABI SUSUPI KEMENAG?

Konten buku yang menyinggung tentang penyebutan berhala bagi kegiatan ziarah ataupun makam wali seringkali terulang. Selain keteledoran, disinyalir paham wahabi mulai menyusup.

“Saya sangat menyayangkan keteledoran pihak Kemenag yang meloloskan buku pelajaran yang menyebutkan makam wali adalah berhala. Kami anggap ini teledor, karena dulu sudah pernah beredar buku yang isinya hampir sama, dimana di dalamnya ajaran Wahabi disusupkan,” ungkap Komandan Nasional Pendidikan Khusus Dai Ahlus Sunnah wal Jamaah 1926 (Densus 26) Umaruddin Masdar, Rabu (17/9).

Ia pun menyebutkan judul buku sejenis, berjudul Pemahaman al-Quran dan Hadis Jilid 1 untuk Kelas VII Madrasah Tsanawiyah terbitan PT Tiga Serangkai Solo tahun 2009 di halaman 30-40. Umaruddin meniliai, buku tersebut bukan cuma meresahkan masyarakat, tapi juga bisa menyesatkan umat Islam karena kedangkalan pemahaman agama.

“ Bagi kami di NU, ziarah makam wali adalah sunnah, dan tuntunan syariatnya sangat jelas, hadisnya juga sahih. Ziarah ke makam wali niatnya adalah tawassul dan tabarruk, seperti hadis sahih Muslim di mana Umar bin Khattab bertawassul dengan paman Nabi SAW, Sayyidina Abbas, untuk meminta hujan kepada Allah,” beber Umaruddin.

2. KELOMPOK PRUTANIS DITUDING TERLIBAT DI BUKU BERHALA WALI

Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama (ISNU) Jawa Timur mensinyalir Kementerian Agama disusupi oleh kelompok yang ingin mengubah ideologi masyarakat, terutama terkait tradisi umat Islam Indonesia.

“Kelompok Prutanis ini memang sudah lama ada di Indonesia. Sekarang munculnya buku itu artinya telah menyusup untuk mengubah ideologi masyarakat Islam Indonesia. Kalau bisa diterjemahkan, kelompok ini adalah memiliki garis nasab dengan Wahabi,” kata Wakil Ketua ISNU Jatim Ahmad Zainul Hamdi, Rabu (17/9).

Dosen di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya ini menjelaskan, kelompok ini memiliki keinginan untuk membersihkan Islam dari segala bentuk ajaran-ajaran yang dianggap menyimpang. Seperti, ziarah kubur, tahlilan, sholawatan, dan lain-lain.

Kelompok Prutanis ini jika dilacak lebih jauh adalah banyak menghancurkan sejumlah makam-makam yang dianggap suci oleh kaum muslimin. Bisa jadi, katanya, ini adalah bagian dari kelompok yang mewacanakan akan memindah makam Nabi Muhammad ke pemakaman umum tanpa disertai dengan tanda makam.

“Sebenarnya meraka akarnya adalah paham Wahabi. Padahal, Islam di Indonesia sangat welcome sekali dengan kebudayaan masyarakat. Itulah kenapa Islam lebih diterima karena memiliki akulturasi dengan budaya lokal,” jelas Dosen Ushuluddin ini.

Ia menganggangp, munculnya anggapan bahwa makam wali adalah berhala merupakan upaya mendiskreditkan kelompok Islam mayoritas di Indonesia.

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker