Penangkapan Kartosuwiryo DI/TII dengan Oprasi Pagar Betis

Penangkapan KartoSuwiryo DI/TII dengan Oprasi Pagar Betis

Gunung Rakutak Saksi Bisu Penangkapan Kartosuwiryo DI/TI Oprasi Pagar Betis

Pagi hari, 2 Juni 1962 Letda inf Suhanda yang berkedudukan di Kampung Cihejo Kecamatan Pacet berjumpa Kapten Inf Hasan Dalam perjumpaan itu Kpt Hasan menginformasikan insiden perampokan di Panggauban dan jalan Gagak pada dini hari yg di curigai di lakukan oleh Tentara DI/TII..masarakat jawa barat lebih sering menjuluki Tentara ini “Gorombolan”

Setelah Menguping laporan, dibentuklah 3 peleton pemburu untuk melaksanakan pengejaran tugas mereka mencari dan menangkap hidup-hidup gerombolan DI/TII.

Peleton 1 dipimpin Wakil Komandan Kompi Ali Sufi..Tugasnya membersihhkan komplek Cibitung untuk seterusnya ke Gunung Dogdog.

Peleton ke 2 dipimpin Pelda Mujiman, bertugas membersihkan Cijaba dan terus ke Gunung Malang.
Sementara Peleton ke 3 regu penembak runduk (Sniper)di pimpin Pelda Amir Susanto ke bagian utara Gunung Rakutak

seusai berkoordinasi, Komandan Kompi C berangkat ke tempat Jejak member DI/TII akhirnya diketemukan mereka menemukan kaleng kerupuk di tepi sungai.

Esoknya peleton 2/C meneruskan penyisiran ke timur menelusuri Gunung Rakutak, kali Cijaha, Gunung Malang, terus ke timur dari sini peleton 2/C sempat kehilangan jejak Tapi lalu ditemukan jejak baru sesudah personil disebar ke titik-tittik yang mencurigakan.

Pada sebuah tanjakan, Serda Ara Suhara yang Ada di depan menyaksikan pos intai musuh. Supaya tidak diketahui, ia berjalan seraya mengendap-ngendap mendekati pos. Ternyata mata petugas pos intai ini cukup awas, mereka menyaksikan gerakan mencurigakan di semak belukar.

Sadar tercium gerakannya, Suhara mendahului dengan membuka tembakan. Komandan regu, Entur, yang bersenjata senapan mesin Bren Mk.3 dan komandan regu runduk Omon yang membawa senapan Thompson “Tommy Gun”Ikut melepaskan tembakan.

Tembak menembak pun tidak terhindarkan. Di tengah-tengah hujan peluru, seseorang mendadak berdiri dan berjalan ke depan seraya mengangkat tangan meminta tembakan di hentikan. Ia tidak lain Aceng Kurnia atau A Mujahid, Komandan Batalyon yang merangkap pengawal Kartosuwiryo. Kurnia mempunyai Tentara kisaran 48 orang diperkuat 2 pucuk Bren Mk.3.

Komandan Pengawal Kartosuwiryo Menyerah

Suhara cepat maju menodongkan senjatanya. Pelda Amir Susanto melucuti Kurnia dan anak buahnya. seusai itu Suhara mendekati sebuah tenda yang letaknya tidak jauh dari tempat Kurnia. Disinilah Suhara mendapati Kartosuwiryo tengah terbaring di dalamnya.

Penangkapan KartoSuwiryo DI/TII dengan Oprasi Pagar Betis

Kartosuwiryo ditangkap tanpa memberikan perlawanan dan secara legal menyerahkan diri untuk Letda Suhanda.

Kartosuwiryo lalu dibawa turun ke daerah Paseh. Disini ia di serahkan untuk Komandan Batalyon 328, Mayor Inf M Sanif untuk diteruskan ke pos Kodam VI Siliwangi.
14 Agustus 1962. Hari itu, sidang ke-1 Imam Besar Negara Islam Indonesia Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo diawali.

Jaksa menuntut Kartosoewirjo dengan pasal berlapis. Dia dituduh hendak menggulingkan pemerintah yang sah, memberontak melawan Negara Republik Indonesia, dan merencanakan tindakan mematikan atas Presiden Soekarno melalui kaki tangan nya yaitu : Sanusi Fikrap, dan Kamil Ali. 2 org tsb ialah tersangka yang tersangkut insiden percobaan tindakan mematikan Presiden Soekarno waktu salat Idul Kurban di Istana Merdeka pada 14 Mei 1962.

seusai melalui persidangan akhirnya hakim mengambil keputusan Vonis hukuman mati thd Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo.

Penangkapan KartoSuwiryo DI/TII dengan Oprasi Pagar Betis

Vonis mati Kartosuwiryo lalu di tanda tangan oleh Presiden Soekarno..walau dengan berat hati..pernah suatu waktu saat dalam sesi Tanya Jawab awak media asing Soekarno berujar: “Menyepakati hukuman mati tidaklah memberikan kesenangan kepadaku. Ambillah, misalnya, Kartosoewirjo. Di tahun 1918, dia kawanku yang baik. Di tahun 20-an, di Bandung, kami tinggal bareng, makan bareng, dan bermimpi bersama-sama,” katanya. Tapi putusan mesti diambil. “Seorang pemimpin mesti bertindak, tanpa memikirkan betapapun getir jalan yang ditempuh,” ucap Soekarno…..

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.