Pemikiran Gus Dur Sulit Dicerna Orang Tak Cerdas

Walau jadi Ulama Besar, KH Said Aqil Siardj Tetap Tawadlu Dihadapan Ulama Sepuh

Habib Lutfi bin Yahya: Pemikiran Gus Dur Sulit dicerna orang yang tak cerdas

“Aku modali!” Jawab Habib Luthfi bin Yahya ketika pertamakali disowani forum Gusdurian Tegal yang hendak menggelar Haul Gus Dur yang ke-6. “Pihak yang diundang malah memberikan modal duluan bahkan dengan nominal yang lumayan besar,” ungkap panitia ketika memberikan sambutannya di acara Haul Gus Dur ke-6 pada Selasa malam Rabu (19/01/2016) di Gedung KORPRI Jl. Dr. Soetomo No. 2 Slawi Tegal.

Uniknya di Haul Gus Dur malam itu seluruh elemen bangsa berkumpul menjadi satu dalam satu gedung. Sesuai dengan tema yang diangkat yaitu “Kita Seluruh Bersaudara”, merupakan ajang Silaturrahim Nusantara yang diprakarsai oleh PCNU dan Gusdurian Tegal dengan seluruh elemen warga baik sipil, TNI, Polri dan tokoh-tokoh lintas agama. Datang selaku acara inti Mbak Alissa Wahid (putri Gus Dur), Romo Fran Magnis Suseno, dan Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

“Mendiang ialah seseorang yang tidak mengenal capek. Walaupun secara keadaan fisik, sulit untuk melihat. Tapi pola pikir, keintelektualan, wawasan kebangsaan dan keagamaan, dan kejeniusannya yang sulit untuk sanggup ditemukan kembali.” Ucap Habib Luthfi mengawali ceramah agamanya.

Habib Luthfi telah sering menemani Gus Dur semenjak sebelum sebagai Pengurus Besar NU, bareng Kyai Fuad Buntet Cirebon, berdakwah kesana-kemari satu mobil bareng. Pengalaman yang amat bernilai dari Gus Dur ialah nilai sejarahnya yang senantiasa dipegang kuat. Sebab mengenal sejarah maka beliau lebih jauh mengenal bangsanya. Sebab mengenal sejarah maka sulit untuk sanggup melupakan bangsanya.

“Itulah di antara yang saya kenal dari Gus Dur,” kenang Habib Luthfi.

Gus Dur jika dicerna oleh orang yang belum faham atau tak cerdas, maka pada dasarnya pemikiran Gus Dur yang melangkah lebih jauh menuju depan sedang melatih kita berfikir cerdas.

“Ibarat memetik mangga yang belum masak (pentil; bahasa Jawa), bakal menjadikan sakit perut kalau dimakan tidak pada waktunya. Tapi menjadi kebutuhan bagi ibu hamil yang sedang ngidam,” lanjut Habib Luthfi.

“Perbincangan Gus Dur itu tak bisa dimakan hari ini. Tapi bisa jadi bisa dimakan satu bulan atau satu tahun kemudian. Orang akan baru menyadari, “Oh iya benar kata Gus Dur”.

“Ada kritikan dari banyak guru kita, di antaranya “Koe aja mung pinter ngalem kuburan bae” (Kau jangan cuma suka memuji kuburan terus).”

“Lama-lama saya tanya maksudnya apa. Ternyata, saat sesosok tokoh atau pemimpin tersebut, dan memang resiko bagi dirinya, sewaktu masa hidupnya banyak dikatakan, “Orang itu terlalu keras”, yang lain menjelaskan, “Orang itu terlalu blak-blakan”. Ada yang suka dan ada yang benci. Tetapi sesudah tiadanya, yaitu sesudah di kuburan, mereka baru ramai-ramai memujinya.” Kata Habib Luthfi menjelaskan.

Terkait tema Haul Gus Dur ke-6 “Kita Seluruh Saudara”, menurut Habib Luthfi ialah tema yang amat menyentuh dan luar biasa. Sebab kita semua ialah saudara, bagian dari “Bela Bangsa”. Yang namanya bela bangsa itu tidak cuma mengangkat senjata, latihan militer atau wajib militer. Meningkatkan rasa memiliki bangsa dan republik ini, itu pun bagian dari bela bangsa selain juga memajukan ekonomi dan pertanian. Menggalang persaudaraan, semua kita bersaudara, itu ialah benteng-benteng yang kokoh guna melengkapi wujudnya ketahanan nasional.

Walau jadi Ulama Besar, KH Said Aqil Siardj Tetap Tawadlu Dihadapan Ulama Sepuh

Persaudaraan ada dua di Indonesia

Persaudaraan ada dua di Indonesia. Pertama, saudara seagama sebangsa setanah air. Kedua, saudara sebangsa setanah air, ini yang harus diperkuat. Tanpa melihat ras dan agamanya, tapi katakan “Saya Indonesia”. Tak ada sekat keturunan manapun, entah China ataupun Arab. Persaudaraan yang sejati ialah saat saudara kita dicubit maka kita turut merasakan sakit, tanpa ada pengkotak-kotakkan. Kalau terjadi pengkotak-kotakkan maka kita tak bakal tahu hakikat persaudaraan tersebut.

Menghargai hak sesama telah jauh lebih dulu dilaksanakan oleh tokoh-tokoh kita terdahulu. Bahkan, lihatlah riwayat sejarah deklarasi Madinah terbentuk dari Yahudi, Nasrani dan Muslim guna sama-sama saling menghormati dan menghargai hak sesamanya. Kita merupakan regenerasi dari sejarah, menjalin persaudaraan untuk regenerasi masa yang akan datang. Dengan memahami itu bangsa bakal menjadi kuat.

“Karena yang saya khawatirkan ialah, seperti dalam ajaran kami Nabi Besar Muhammad Saw. dalam sabdanya: “Kadar bobot keimanan seseorang tergantung kecintaannya padaku.” Jika ditafsirkan, maka maknanya ialah saat kadar bobot kecintaan (kepercayaan) seseorang pada tokohnya (dari agama manapun) memudar maka imannya juga kian luntur. Jika telah luntur maka amat mudah untuk dipecah-belah. Jangan coba-coba memecah-belah Bangsa Indonesia dan membenturkan antar ummat beragama, sebab “Kami Semua Bersaudara”.

“Rapatkan barisan kita, jangan beri kesempatan seujung rambut pun terhadap oknum-oknum manusia yang akan menghancur-leburkan NKRI!” Tegas Habib Luthfi bin Yahya yang disambut dengan ghirah antusias para pengunjung Haul Gus Dur malam itu.

Habib Lutfi bin Yahya: Pemikiran Gus Dur Sulit dicerna orang yang tak cerdas

(Sya’roni As-Samfuriy via Muslimedianew.com).

You might like

About the Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.