Pembubaran Ansor – Banser di Sidang Kabinet 1964

Pembubaran Ansor – Banser di Sidang Kabinet 1964

Ilustrasi (Google Image)

Planning Aksi Pembubaran Banser yang disuarakan oleh segelintir elemen yang ingin mempolitisasi insiden Garut Tahun 2018 ini Memperingatkan saya pada kejadian yang terjadi 54 tahun lalu dimana Ansor dan Banser pernah memperoleh ‘perlakuan tidak adil’ akibat tindakan yang dilakukannya. Inilah hasil Tanya Jawab saya dengan Sejarawan NU dan Ansor yang juga pernah jadi awak media Majalah TEMPO, Choirul Anam, yang saya rekam pada tanggal 9 Pebruari 2018.

Pada Sidang Kabinet Maret 1964, Ketua CC PKI yang juga jadi Wakil Ketua MPRS, DN. Aidit, meminta ke Bung Karno supaya Ansor dibubarkan sebab melaksanakan tindakan aksi anarkis kepada rakyat.

Permintaan Aidit ini dilatarbelakangi kejadian bentrokan yang melibatkan Banser akibat aksi sepihak PKI yang terjadi di Kediri beberapa hari sebelumnya. Dalam Sidang Kabinet tersebut, KH. Idham Chalid (Ketua Partai NU, Wakil Ketua MPRS) menyanggah permintaan Aidit dan menjelaskan di depan Bung Karno “Tidak dapat, saya tidak pernah mengajarkan Ansor aksi anarkis, yang ditunaikan Ansor itu membela Rakyat dan kejadian Kediri itu akibat BTI (Barisan Tani Indonesia, bagian elemen PKI) yang melaksanakan aksi sepihak”.

Loading...
loading...

Cerita permintaan pembubaran Ansor itu disampaikan KH. Idham Chalid ke publik dalam Apel Besar Nahdlatul Ulama yang Dilakukan di Blitar April 1964 yang dihadiri kader-kader Ansor dan Banser Blitar di bawah kepemimpinan Muhammad Zainuddin Kayubi yang dinilai terlibat dalam kecelakaan Kediri. Dalam pidatonya itu, KH. Idham Chalid meneruskan penjelasan, “dalam wakti tak lama Saudara-saudara akan dipanggil Badan Pusat Intelijen (BPI) ke Jakarta. Namun tidak apa-apa, kau mesti Hadir”.

Beberapa hari lalu di Bulan April 1964 Ketua Ansor dan Banser Blitar, Kayubi menjumpai Ketua lembaga telik sandi yang amat powerful dan ditakuti waktu itu, DR. Soebandrio yang didampingi sekretaris BPI, Mayjend Soetarto. Kayubi sendiri didampingi Pengurus Wilayah Ansor Jawa Timur, Kun Solehudin dan Hizbullah Huda serta diantar Pimpinan Pusat Ansor Yahya Ubaid (Ketua), Chalid Mawardi (Sekjend Ansor) dan KH. Yusuf Hasyim (PBNU). Dalam perjumpaan tersebut Soebandrio menjelaskan ke iring-iringan Ansor dan Banser, “Anda tahu, anda ini kalah dalam urusan intelijen dengan PKI, PKI tahu posisi anda disini, posisi Pak Idham dimana, tapi anda tidak tahu posisi Aidit dimana. Engkau nggak benar melaksanakan ini (bentrok di Kediri)” Pernyataan Soebandrio ini langsung disanggah oleh Kun Solehudin dan Hisbullah Huda seraya memberikan “Buku Putih” yang telah disiapkan oleh Kayubi berisi penjelasan kronologi kejadian Kediri.

Sejarah lalu membuktikan bahwa Ansor dan Banser sampai Saat ini tetap tegak berdiri mengawal NKRI.
Bravo Ansor – Banser..!

Catatan : *Dr. KH. Idham Chalid* ialah *Ketum PBNU* tahun 1956-1984,

Sumber : FB Imron Rosyadi Hamid, Eks Sekretaris PW. GP. Ansor Jawa Timur

(suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :