Organisasi Gerombolan ‘Perampok’ Kalimat Tauhid

Organisasi Gerombolan ‘Perampok’ Kalimat Tauhid

Organisasi Gerombolan ‘Perampok’ Kalimat Tauhid

Berikut tulisan pegiat sosial media, Eko Kuntadhi terkait kelompok-kelompok yang mengakui bahwa mereka paling islami sebab membawa bendera, atribut dan simbol-simbol islam.

“Organisasi Gerombolan”

Dulu, sebelum kehadiran virus pekok, Indonesia tidak ragu memberantas DI/TII. Bendera gerombolan yang suka merampok rakyat di tanah Periangan ini juga mirip dengan bendera HTI. Mengunakan kalimat syahadat.

Tetapi kelakuannya juga mirip. Mereka menteror rakyat dengan kalimat takbir dan merasa selaku mujahid yang minta dilayani. Hasil panen dirampas. Hewan ternak diambil. Tujuannya mendirikan negara Indonesia berdasar khilafah.

Akhirnya Kartosuwirjo dieksekusi sesudah pengadilan memvonis mati. sebelum ini Kartosuwirjo ialah seorang komandan laskar yang melawan penjajah Belanda. walau memberontak, jasanya besar juga kepada Republik.

Bagian pentolan DI/TII daerah Banyumas ialah Danu Muhamad. Dia ialah bapak Hilmi Aminuddin, eks Ketua Dewan Syuro PKS. Saya gak tahu nasib ayahnya Hilmi itu. Tetapi yang pasti pemerintah tanpa ragu memberangus gerakan DI/TII. Menghukum mati pentolannya.

Selaku sebuah gerakan makar DI/TII sukses dilumpuhkan. Indonesia diselamatkan dari virus perusak semenjak awal kemerdekaan. Sebesar apapun jasanya pada Republik, kalau lalu menagih berlebihan beberapa bahkan mau menguasai negerinini cuma dengan 1 ideologi, pantas dihantam. Pantas dimusnahkan.

Apalagi kalau yang mau merusak Indonesia, boro-boro pernah punya jasa kepada Republik ini. Misalnya FPI lahir berbarengan dengan kejadian 1998. Awalnya selaku laskar pam swakarsa. Semenjak awal kelahirannya sungguh telah sarat dengan orientasi politik yang mempergunakan bungkus agama.

Tuntutan yang senantiasa dikedepankan FPI ialah NKRI bersyariah. Sebuah tuntutan yang paradox. Bagaimana menerapkan hukum 1 agama di wilayah NKRI yang plural? NKRI Bersyariah sama saja seperti penjajahan 1 agama ke pemeluk agama lainnya. Sama saja niat menghancur-leburkan NKRI.

Loading...
loading...

Masalah syariah-syariahan, coba saja FPI menyibukan diri di Aceh. Disana mungkin model pemerintahan syariah telah dekat dengan apa yang dimaksud FPI. Jikalau sungguh mau serius menunjukan NKRI bersyariah lebih baik, mestinya Provinsi bersyariah juga punya kesejahteraan lebih baik dari wilayah lain.

Apa hasilnya? Dari Aceh kita cuma menguping hukum wanita gak boleh ngopi bareng pria yang bukan muhrim. Wanita gak boleh naik motor nyemplak. Atau hukum cambuk di depan publik.

Jikalau soal korupsi, gak ada urusan sama syariah. Jikalau soal amanah jabatan gak ada kaitannya dengan syariah. Begitulah yang kita dapati di Aceh.

Jadi tuntutan NKRI bersyariah akhirnya lebih pada mengajak Indonesia kembali terpuruk dengan hukum full tipu daya berbungkus agama. Apa yang disuarakan FPI, gak banget deh.

Adapun HTI masuk di awal 90-an. Berawal berkembang di kampus-kampus seperti IPB, lalu menyebar ke wilayah lain. Untuk maha siswa organisasi ini membikin organisasi yang namanya Gema Pembebasan.

Mereka menggarap publik dengan jargon pendirian Khilafah. Yang ini lebih kejam. Khilafah yang digaungkan Hizbut Tahrir ialah khilafah dunia. Artinya kalau Indonesia menerima konsep itu, wilayah kita mesti tinduk patuh pada sebuah kekuasaan di luar Indonesia yang disebut khilafah.

Dulu Belanda menjadikan negeri ini mesti tunduk pada pemerintahan kerajaan Belanda. Penjajahan 350 tahun dan rakyat sengsara. Sekarang Indonesia dipaksa tunduk ke khilafah yabg Ada entah dimana. Apa gak konyol? Menurut saya kekonyolannya telah sampai level sembilan. Kekonyolan tingkat akut.

Jadi yang sekarang buat ribet ialah organisasi konyol yang gak punya saham pada kemerdekaan RI. Gak punya saham pada kemajuan Indonesia. DI/TII saja yang pernah berjuang Menyuruh pergi Belanda punya nyali dibubarkan dan pemimpinnya dieksekusi. Masa kita mesti mundur dengan organisasi yang boro-boro punya jasa pada Republik.

DI/TII juga mempergunakan bendera bertuliskan kalimat tauhid. Mirip bendera HTI. Dan kita meyakini dengan sepenuh hati, DI/TII mesti diberangus sampai ke akarnya. Begitupun HTI.

“Anak cucuk PKI dulu diberangus. Dicap selaku pemberontak. Sekarang anak cucu pemberontak malah ngebet berkuasa,” ucap Abu Kumkum.

“Siapa Kum?”

“Ada anaknya publik figur DI/TII. Ada juga anaknya publik figur PRRI Permesta. Yang anak pentolan DI/TII telah lengser dari ketua Dewan Syuro PKS. Nah anaknya pemberontak PRRI/Permesta yang masih ngotot mau jadi Presiden.”

Sumber: FB Eko Kuntadhi

(suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :