Obama Tegur Damaskus dan Moskow, Lupa Siapa Pendiri ISIS ?

Presiden Obama mengingatkan Damaskus dan Moskow untuk hentikan konflik 5 tahun di Suriah, seakan Obama lupa siapa pendiri ISIS …?

 

Islam-Institute, WASHINGTON-DC – Barack Obama sang Presiden AS lagi-lagi menekankan seruannya ke Presiden Suriah Bashar al-Assad untuk mundur, dan menjelaskan bahwa ndak ada alternatif selain peralihan kekuasaan.

Dia juga meminta Rusia dan pemerintah Suriah untuk menghormati gencatan senjata di Suriah yang dilanda perang, dan mengingatkan Moskow dan Damaskus bahwa “dunia akan menonton”, seperti ini Reuters memberitahukan.

Obama membikin pernyataan itu sesudah menggelar perjumpaan dengan tim keamanan nasional di Departemen Luar Negeri. Dalam jumpa pers Obama tampak diapit oleh Menteri Luar Negeri John Kerry, Menteri Pertahanan Ash Carter, Jaksa Agung Loretta Lynch dan penasihat top lainnya.

Obama menjelaskan anggota milisi di Suriah ndak akan pernah berhenti berjuang sampai Assad digulingkan dari kekuasaannya.

“Ini satu-satunya cara untuk mengakhiri perang sipil dan menyatukan rakyat Suriah melawan teroris,” tegasnya.

Penyetopan permusuhan dirilis awal pekan ini sesudah negosiasi antara Rusia dan AS, yang keduanya sudah terlibat dalam serbuan udara di Suriah.

Obama menjelaskan Assad mesti mundur kalau inginkan perdamaian abadi dapat dilaksanakan di Suriah.

“Ini akan jadi ujian apakah sungguh-sungguh berkomitmen untuk negosiasi,” katanya.

Obama menjelaskan “beberapa hari yang akan datang akan jadi terlalu penting” dalam menentukan apakah jalan keluar dari konflik mematikan lima tahun dapat ditemukan yang sudah mematikan ratusan ribu masyarakat Suriah dan jutaan pengungsi masyarakat Suriah.

“Enggak satu pun dari kita berada di bawah ilusi,” kata Obama. “Kita seluruh menyadari beberapa kemungkinan besar dapat terjadi, dan ada beberapa alasan untuk skeptis.”

“Namun sejarah akan menghakimi kita dengan keras kalau kita ndak melaksanakan tanggung jawab, setidaknya mencoba untuk mengakhiri konflik menakutkan dengan diplomasi,” tambahnya.

Dalam sebuah wawancara dengan Press TV pada hari Sabtu, analis politik Amerika Daniel Patrick Welch menjelaskan perubahan rezim akan tetap ada dalam Amerika di Suriah.

Welch menjelaskan Washington ndak pernah mempunyai sesuatu seperti Plan B, mereka berbicara alternatif dan senantiasa jadi maksud utama sesudah terlibat di Suriah.

“Plan B sejenis scam; Plan A untuk menggulingkan pemerintah yang sah dan menggantinya dengan yang lebih lemah dan lebih, jadi negara gagal, rezim boneka atau membaginya jadi negara-negara yang lebih kecil bukan pemerintah terpilih yang sah”, jelasnya.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry sudah mengingatkan bahwa kalau kesepakatan gencatan senjata Suriah gagal, Washington akan resor untuk pilihan Plan B nya.

Sejatinya, Konflik Suriah Ciptaan AS

Akar teroris Daesh (alias ISIS / ISIL / IS atau Takfiri) dapat ditelusuri sampai ke agenda American Zionist neo-cons‘, untuk mengamankan wilayah untuk menjaga negara Israel.

Propaganda Barat mempunyai maksud yang terlalu spesifik. Keputusan strategi yang dipimpin AS ini (dengan maksud menjaga rezim Zionis Israel) bersifat konstan, ialah mengobarkan perang enggak berujung. Selain itu, untuk mem-banking industri angkatan bersenjata, mereka mesti menciptakan perang sebab terlalu menguntungkan. Walaupun ribuan atau jutaan orang meninggal dunia, sebab kehidupan manusia ndak mempunyai nilai bagi mereka, apalagi kalau orang-orang itu berkulit coklat seperti sawo atau berkulit gelap seperti kopi tubruk.

Apa yang sudah berlangsung di Suriah selama hampir lima tahun, dapat ditelusuri jejaknya 5 atau 10 tahun sebelumnya. Benar, konspirasi menggulingkan Presiden Bashar Assad diawali semenjak maret 2011 di sebuah kota kecil bernama Daraa, bukan Damaskus, Aleppo atau Lattakia. Sejarah menulis revolusi senantiasa diawali dari desa. Craig Whitlock di surat berita Washington Post (17 April 2011) mecatat seperti ini, “menurut dokumen Wikileaks yang dikeluarkan tahun 2010, terungkap bahwa AS sudah membiayai dan mendanai kelompok-kelompok oposisi Suriah semenjak tahun 2005.

Untuk memahami akar problem ini, kita mesti kembali pada kubu neokonservatif yang ada dalam dua rezim, ialah Bush senior dan Bush Jr. Otak di balik neokonservatif ini ialah Leo Strauss dari Universitas Chicago. Strauss menyerukan penggulingan tiap-tiap pemerintah yang ndak melayani kepentingan Amerika. Operasi ini dikerjakan secara senyap, ndak gaduh seperti kegaduhan yang biasa terjadi di negeri kita. Sebaliknya operasi itu dibingkai dengan demokrasi ala Amerika, yang artinya “merubah rezim ialah suatu kemajuan dalam menjalankan nilai-nilai demokrasi”. Menurut Strauss, ini merupakan metode terbaik untuk memperkuat keamanan (Amerika Serikat) dan perdamaian, serta kapan dan dimanapun dapat diterapkan”.

Apa yang waktu ini sedang berlangsung di Suriah ialah bagian dari rencana yang sama, di mana dokumen 1996 mengurai rencana tersebut dengan rinci. Bagian pertama dari rencana itu ialah mengusir pasukan Suriah dari Lebanon. Untuk memuluskan rencana ini, maka Rafik Hariri mesti dikorbankan (dibunuh) pada 14 Februari 2005. Lalu Saad Hariri anak Rafik Hariri diorbitkan, dan menuduh Suriah dan Hizbullah bertanggung jawab atas tindakan mematikan ayahnya. Situasi pun makin memanas sampai berakhir dengan penarikan serdadu Suriah dari Lebanon.

Amat menarik untuk dicatat bahwa waktu kubu oposisi Suriah secara resmi terkooptasi ke dalam rencana AS untuk mengacaukan Suriah. Sekali lagi, kubu oposisi Suriah berkoordinasi dengan Richard Perle, Yordania dan dan Turki untuk jalankan plot jahat ini. Lalu ndak mengejutkan kalau akhirnya Arab Saudi, Qatar dan UEA berada di garis depan menyokong teroris Takfiri, sebab mereka memang doyan dengan aksi anarkis dan sektarianisme.

Dokumen tersebut juga menyebutkan dengan terang apa yang waktu ini sedang berlangsung di Suriah. Dokumen itu menyebutkan, “Yang paling penting Israel mempunyai kepentingan di Suriah. Turki dan Yordania mengamankan aliasnsi suku dengan suku-suku Arab yang menyeberang ke wilayah Suriah, dan bermusuhan dengan elit penguasa Suriah. Yordania jadi negara pertama (yang berbatasan langsung dengan Suriah) memasukkan para teroris ke Suriah. Lalu dikuti Turki yang membiarkan perbatasannya jadi pintu surga bagi teroris yang ingin menyeberang ke Suriah, dan menyokong teroris Takfiri dengan dalih “menjaga” Turkmen Suriah.   (AL/ARN)

 

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :