Nyai Solichah Wahid, Ibu dibalik Kesuksesan Gus Dur dan Gus Sholah

Nyai Solichah Wahid, Ibu dibalik Kesuksesan Gus Dur dan Gus Sholah

Nyai Solichah Wahid, Ibu dibalik Kesuksesan Gus Dur dan Gus Sholah

Oleh: Ahmad Faozan*

“Keputusannya tidak sanggup diganggu gugat dalam hal mendidik anak. Jiwa dan hartanya dikorbankan untuk anak anaknya untuk sanggup menikmati pendidikan.”

– Nama Nyai Solichah mungkin jarang kita mendengarnya, Intinya di kalangan generasi sekarang maupun kalangan santri. Jasanya yang besar dan kesuksesannya dalam menghantarkan anak anaknya seakan tenggelam. Kalau mengingat nama suaminya, Kyai Wahid Hasyim, mertuanya, Hadratu Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari, ayahnya sendiri Kyai Bisri dan anak anaknya seperti Gus Dur dan Gus Sholah siapa tidak mengenalnya. Sesungguhnya, beliau yang menghantarkan anak-anaknya jadi orang yang luar biasa dalam hidupnya. Prestasi membanggakan dari anaknya secara tidak langsung mewakilinya. Dalam organisasi Fatayat namanya terukir indah, maklum beliau aktivis di sana.

sesudah KH. A. Wahid Hasyim, sang suami meninggalkan Nyai Solichah beserta anak-anaknya. Beliau mengemban sebuah tanggung jawab maha berat, ialah mesti mendidik dan membesarkan anak-anaknya jadi orang hebat seperti sang suami dan Famili besarnya. Syukur bisa melampui mereka di lantas hari. Pesan dari suaminya untuk membesarkan dan mendidik anak benar dijalankan dengan sungguh-sungguh. Menjalankan hal sedemikian bagi seorang diri, tentu bukan masalah ringan dan mudah, bukan?

Janda yang mempunyai beberapa anak dan tinggal di Ibu Kota, untuk sekedar bertahan hidup apalagi sampai sanggup membiayai kebutuhan anaknya terang memerlukan kerja ekstra. Apalagi anak-anaknya masih mesti belajar di sekolah dan pondok. Walaupun termasuk dari Famili besar, eks Ibu Menteri, anak pembesar NU, beliau tidak silau dan membuatnya menerima begitu saja ajakan keluarganya untuk pulang dan menetap di Jombang, baik di Denanyar maupun Tebuireng yang Adalah Famili besarnya. Tinggal memilih mau di mana, Famili besarnya membuka pintu selebar-lebarnya. Hidup berdekatan dengan mertua sepertinya kurang berkenan untuknya walaupun kebutuhan dan tugasnya kian ringan, terbantu. Memilih tinggal di ibu kota, di mana kehidupan lebih keras dan kejem jadi pilihannya. Hal sedemikian seperti jadi tantangan yang menarik untuknya. Tidak mau menerima ajakan Famili besarnya bukan artinya Nyai Solichah membangkang atau tidak patuh. Antusias mandiri, kerja keras, dan mewujudkan mimpinya di pegang erat. Kecuali sungguh ingin mewujudkan mimpi sang suami yang sudah berangkat lebih dahulu ke alam keabadian. Tugas mendidik dan merawat anak Adalah tugas mulia yang wajib dikerjakan olehnya. Niatnya mendidik anak benar dijalani sungguhan. Sesibuk apapun dan sepadat apapun jadwal tidak boleh mengurangi rasa tanggung jawab untuk anak. Sungguh benar. Anak ialah amanah Allah yang mesti diurus sampai dewasa dengan sebaik-baiknya. Jika Penting orang tua juga mesti mau tirakat spesial.

Loading...
loading...

Dalam warga pesantren istilah tirakat terlalu populer. Konon, Hadratu Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari mertua Nyai Solichah, semasa hidupnya pernah tirakat spesial selama 3 tahun, 1 tahun diperuntukkan untuk keluarganya, lantas pondoknya “Pesantren Tebuireng” dan terakhir santrinya. Semoga kita termasuk santrinya baik yang pernah menyantri di pesantren Tebuireng maupun yang aktif di NU, sebuah organisasi yang beliau dirikan bareng para ulama. Begitupun dengan suaminya sendiri, KH. A. Wahid Hasyim, selain ahli tirakat, kutu buku, dan aktivis santri, beliau juga intelektual pesantren yang amal sosialnya untuk bangsa dan ummat Islam Indonesia tidak sedikit. Patut dijadikan inspirasi bagi generasi muda bangsa ini, Intinya kader pesantren. Kalau kita tidak mau ikut dan mendekat dengan ulama, tentu amat merugi. Ulama selain pewaris nabi Adalah obor kehidupan bagi kita seluruh
.
Dilihat dari Famili sang suami Nyai Solichah, mereka Adalah orang hebat seluruh. Adapun dengan garis nasabnya, beliau Adalah putri ulama besar, KH. Bisri Syansuri, Denanyar Jombang yang masih santri Kyai Hasyim semasa di Pesantren Tebuireng bareng Kyai Wahab Hasbullah. Mempunyai darah biru sungguh menguntungkan, akan tetapi juga mengandung beban yang tidak ringan. Kelak, putra putrinya salah satunya mesti jadi generasi yang bisa diandalkan, tentunya muncul dalam angannya.

Sosok ibunda Gus Dur dan Gus Sholah ialah seorang wanita yang menurut saya terlalu hebat! Terlahir dari Famili santri, perjuangan hidupnya yang terlalu keras sanggup menghantarkan kesemua anaknya jadi orang hebat. Padahal, tidak didampingi suaminya, KH. A. Wahid Hasyim, yang meninggal lebih dahulu akibat kecelakaan mobil yang ditumpangi bareng anak pertamanya, Gus Dur, di Cimidi, Jawa Barat. Berjuang sendirian dalam membesarkan anaknya, seperti Gus Dur, Gus Sholah, dan adiknya ialah hal yang super berat. Benar tidak sia-sia, anaknya terbukti jadi orang hebat seluruh, tentu jadi kebahagiaan tersendiri. Salah seorang anaknya di antaranya jadi orang ke-1 dari kalangan santri yang jadi presiden. Lantas jadi kreator peradaban pesantren, dan lain sebagainya yang hebat sesuai bidang keilmuan yang dimilikinya. Tidak mungkin, kalau peran ibunya terlalu sedikit. Prestasi Nyai Solichah inilah yang layak dimunculkan untuk memberikan inspirasi untuk kaum santriwati di mana pun Ada. Sanggup juga Anda wanita hebat yang aktif di muslimat atau bagi Anda para calon ibu.

Terus berjuang tanpa mengenal lelah dan mengeluh jadi prinsipnya. Wanita hebat yang terlahir dari kalangan pesantren sesungguhnya tidak sedikit. sebelum ini cerita Nyai Khoiriyah, mbakyu suami Nyai solichah, telah dimunculkan. Menyaksikan sosok Nyai Solichah Penting dilihat dari kaca mata yang lebih lebar, bukan cuma sebab beliau berhasil semata mengandalkan nasabnya. Berlebihan eman, dan berkesimpulan cepat. Apa sih, yang jadi kebesaran dari Nyai Solicah sehingga patut kita gali sedikit untuk sedikit?

*) Penulis ialah Direktur Penerbit Tebuireng via tebuireng.org

Loading...

Source by Hakim Abdul

loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *