Novel Biografi KH Hasyim Asya’ri Sejarah Tersembunyi

Novel Biografi KH Hasyim Asy’ari dan Sejarah Tersembunyi. The Hidden History (sejarah yang tersembunyi) sekarang sudah terkuak. Munculnya karya fiksi dalam bentuk novelisasi biografi tokoh besar KH Hasyim Asy’ari ini menggemparkan kesadaran historis kita. Bangsa Indonesia pada umumnya, dan masarakat sejarah khususnya, perlu mempertimbangkan kembali informasi-infromasi sejarah yang tertuang dalam karya fiksi ini.

KH Hasyim Asy’ari : Bapak Revolusi Pendidikan Islam

Aguk Irawan mencoba menyingkap detail karisma dan keagungan KH. Hasyim Asy’ari yang selama ini cuma direduksi selaku tokoh besar di kalangan Ormas Nahdhatul Ulama (NU) yang perannya sering cuma diketahui sekedar membela Aswaja dan menolak keras wahabisme. Lebih dari itu, dengan mengangkat perjuangan dan sumbangsihnya di bidang pendidikan, KH Hasyim ditampilkan selaku Bapak Revolusi Pendidikan Islam. Diawali dari Tebuireng, KH Hasyim Asy’ari mendirikan pondok pesantren di tengah-tengah masarakat bromocorah, perampok, pemabok, suka berjudi dan prostitusi, dan asusila. Tindakan ‘nyleneh’ beliau kali ini membikin cengang para Kyai Sepuh sebab dinilai tak lazim.

Di bidang kurikulum dan metode pengajaran, ide KH. Hasyim Asy’ari membongkar kejumudan yang mengkarat. Materi ilmu-ilmu umum sampai metode seminari dimasukkan ke dalam Pendidikan Islam bersanding imbang dengan ilmu-ilmu agama. Sementara metode pengajaran ala salaf yang dikenal di kalangan pesantren tetap dipertahankan sisi-sisi positifnya (hlm, 171-172). Tentu saja para Kyai Sepuh terheran-heran menyaksikan perubahan pada para santri yang mulai memperdebatkan dan kritis kepada wacana ilmu pengetahuan. Kelak, Bahts al-Masail selaku metode Istimbat al-Hukm dalam tradisi NU, sebenarnya, ialah buah manis dari metode pengajaran yang dipopulerkan oleh beliau.

KH Hasyim Asy’ari : Nasionalis Sejati

Novel ini kembali menampilkan KH. Hasyim selaku sosok kontroversial, yang gagasannya senantiasa melampaui zamannya. Melalui hasil istikharahnya (hlm, 320), KH Hasyim Asy’ari mau menerima tawaran kerjasama dari Jepang. Sementara beberapa para Kyai lain dan rakyat yang sempat jadi korban kekejaman Jepang mengkhawatirkan langkah politik KH. Hasyim tersebut. Jepang sendiri melunak dan mengambil jalan koperatif kepada pribumi lantaran cemas bahwa suatu hari nanti Belanda akan merebut kembali wilayah yang sekarang diduduki Jepang. Kecemasan itu terbukti. Forum Internasional di Wina pada 1942 mengambil keputusan bahwa negara-negara sekutu setuju akan mengembalikan wilayah-wilayah yang diduduki Jepang kpd koloni masing-masing.

Landasan logika yang dijadikan pijakan KH Hasyim Asy’ari ialah kenyataan bahwa beratus-ratus tahun bangsa Indonesia dijajah Belanda, sehingga mentalitasnya rapuh dan mudah ciut. Dengan didikan dan gemblengan angkatan bersenjata dari Jepang, bangsa Indonesia diinginkan mempunyai kesiapan mental dengan suasana peperangan. Hal ini jadi modal untuk kelak merebut kemerdekaan yang sesungguhnya.

Sementara para kyai dari pesantren-pesantren lain melontarkan tudingan bahwa KH Hasyim Asy’ari ialah antek kolonialisme dan anti kemerdekaan (hlm, 322). Bagi mereka, cara yang tepat merebut kemerdekaan ialah dengan melawan kaum penjajah, tanpa kompromi apapun. Dengan kata lain, pihak KH Hasyim Asy’ari ialah pihak nasionalis sejati sementara para kyai lain ialah nasionalis-idealis. Tetapi nyatanya, langkah politik yang ditempuh KH Hasyim Asy’ari terbukti berbuah manis. Warga pribumi sudah mengalami kemajuan yang pesat berkat keterlibatan Jepang.

KH Hasyim Asy’ari : Dalang di Balik Tercetusnya Ideologi Negara

Novel ini kian seru tatkala menceritakan suasana politik nasional yang memanas lantaran terjadinya pertentangan kubu dalam menentukan ideologi negara. Pada sidang BPUPKI 28 Mei-1 Juni 1945, pihak yang didalangi Soekarno dan Soepomo menghendaki negara ini bercorak nasionalis sekuler. Sedangkan pihak yang dikomandani Muhammad Yamin berharap Islam selaku landasan dasar negara Indonesia. Kedua pihak ini tetap saling menguatkan pandangan masing-masing, sehingga nasib Indonesia masih di ambang kesuraman, apakah dijadikan negara sekuler atau negara Islam. Pertentangan tersebut baru reda sesudah hadirnya Abdul Wahid Hasyim.

Abdul Wahid Hasyim yang telah menerima ide dari ayahandanya, KH Hasyim Asy’ari, tampil selaku penengah dan mempertemukan dua pihak yang bertentangan itu. Wahid Hasyim menyampaikan pesan-pesan dari ayahandanya bahwa keadaan sosial politik bangsa Indonesia saat itu persis dengan keadaan Madinah pada masa Rasulullah. Sebab itulah, ideologi negara yang tercantum dalam Piagam Madinah layak untuk dijadikan contoh dalam merumuskan ideologi negara Indonesia. Menguping penjelasan dari Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari, pihak Soekarno dan pihak M. Yamin sama-sama menerima. Semenjak waktu itulah, Piagam Jakarta disepakati bersama-sama (hlm, 346). Secara tak langsung, KH Hasyim Asy’ari ialah dalang di balik tercetusnya ideologi negara Indonesia, dan berkat gagasannya itu pertentangan ideologi dapat diredakan.

KH Hasyim Asy’ari : Pembela Kemerdekaan

Kadang kala, pihak yang paling mencintai negara ialah rakyat, dan pemerintah seringkali mempunyai logika yang jauh dari hati nurani kaum bawah. KH Hasyim Asy’ari atas nama hati nurani rakyat mengeluarkan fatwa jihad fi sabilillah untuk melawan prajurit sekutu yang berniat kembali menguasai Indonesia. Sementara pemerintah menyepakati kesepatakan ‘gelap’ dengan pihak kolonial yang disebut Perundingan Linggarjati. ‘Kesepatakan gelap’ yang dimaksud ialah kesepatakan yang tak mewakili seluruh suara rakyat, sehingga Perundingan Linggarjati-salah satu pointnya—membentuk Negara Republik Indoneisa Serikat (RIS). KH. Hasyim, Bung Tomo, Jenderal Soedirman, Kyai Wahab Hasbullah, dan tokoh-tokoh lainnya menggelar kesepakatan tandingan di Tebuireng.

Bagi pihak KH Hasyim Asy’ari, kemerdekaan ialah harga mati dan tak mampu ditawar-tawar lagi. Negara RIS dinilai sama halnya dengan menggadaikan kembali kemerdekaan. Pada waktu itulah, negara jadi ‘tak-berfungsi’. KH. Hasyim jadi komando utama untuk menggerakkan rakyat melawan penjajah. Sayangnya, KH. Hasyim mesti berangkat menemui Tuhan Pencipta Kehidupan ini tepat pada waktu satu persatu wilayah nusantara ini jatuh ke tangan penjajah.

Selaku buku bermuatan sejarah, karya Aguk Irawan ini dapat dibilang sukses. Tetapi selaku karya fiksi, ia menyimpan ‘kecacatan’; data-data sejarah menumpuk disana-sini, sehingga mengganggu pembaca menikmati keindahan fiksi itu sendiri. Akan tetapi, ‘kekurangan’ ini boleh jadi selaku ‘sisi keunggulan’nya, mengingat informasi-informasi sejarah yang ditampilkan seakan-akan ingin menciptakan ‘sejarah baru’ versi si pengarang. Terbukti saat beberapa tokoh nasional yang kita puja selama ini, malah dalam novel ini diungkap segala sisi keburukannya (hlm, 401).

Catatan Kecil Dari Novel Biografi KH Hasyim Asy’ari

Judul Buku: Penakluk Badai, Novel Biografi KH Hasyim Asy’ari
Pengarang: Aguk Irawan MN
Penerbit: Global Media Utama
Tahun Terbit: Cet. ke-I, 2012
Tebal: xxxii + 530 halaman + lampiran
Peresensi: KH Imam Jazuli, Lc., MA*

 

* Wakil Ketua Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (PP RMI)-PBNU Jakarta, Pengasuh Pesantren Bina Orang Mulia, Cirebon

 

http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/12/36818/Buku/Catatan_Kecil_Dari_Novel_Biografi_KH_Hasyim_Asy_rsquo_ari_Hasyim.html

Save

Save

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

1 Comment

  1. Subhanalloh…. ternyata beliau Hadrotusyaikh Hasim Asy’ary adalah seorang pelaku sejarah Kemerdekaan, tapi beliau selama ini tidak dikenal sebagai pelaku sejarah Nasional kecuali beliau dikenal sbg pendiri NU. Semoga dg terbitnya buku ini ikut memperkenalkan beliau sebagai pelaku sejarah Nasional Indonesia.

    Terkuaknya sejarah yg tersembunyi ini semoga bisa direalisasikan menjadi bagian buku sejarah yg diakui pemerintah. Sehingga sejrah Indonesia benar2 kaya dengan kejujuran, bukan sejarah yg manipulatif. Walaupun tentu saja Hadrotus Syaikh Hasyim asy’ary tidak berharap dicatat sejarah ( saya yakin beliau berjuang ikhlas lillahi ta’ala), tetapi sebagai bangsa besar sudah sepantasnya menhargai para pelaku sejarah Indonesia. Minimal dicata namanya sesuai peran2nya.

    Saya sangat acungi jempol untuk buku ini, insyaallah saya akan membelinya.

KOLOM KOMENTAR ANDA :