Non-Muslim Masuk Masjid: Sebuah Respon atas Debat Kusir Ahli Medsos

Non-Muslim Masuk Masjid: Sebuah Jawaban atas Debat Kusir Ahli Medsos

Non-Muslim Masuk Masjid: Sebuah Respon atas Debat Kusir Ahli Medsos

Ilustrasi

Problem ini menarik dikaji bukan berhubungan erat dengan sikap dan simpati ummat beragama semata, tetapi juga terkait embel-embel politik dan imbas kerukunan di baliknya. Saking menariknya problem ini, di jagad medsos, ahlul medsosiyyin berdebat 1 sama lain sembari menghujaninya dengan ayat dan dalil sesuai dengan kehendak diri masing-masing.

Masjid dan Kesantunan Nabi kepada Non Muslim

Ada beberapa riwayat yang menerangkan sikap rahmat Nabi dan penerimaannya yang baik kepada non muslim, bahkan di masjidnya sekali pun. Nabi mempersilahkan mereka untuk tinggal di masjid. Mereka melihat bagaimana Nabi salat, berdiskusi, dan bermusyawarah dengan para sahabatnya. Kesaksian kaum kafir di masjid Nabi memunculkan sikap respek mereka yang besar, sampai sebagian di antaranya memeluk Islam.

Menyebut saja Perkara Tsumamah bin Utsal, seorang pembesar Bani Hanifah daerah Yamamah. Tatkala Nabi mendapati Tsumamah terikat di bagian tembok masjidnya, Beliau kemudian memerintahkan untuk melepas ikatan Tsumamah. Sejauh interaksi Nabi bersamanya, sikap ramah dan belas kasih Nabi memperoleh simpati artinya di hatinya.

Saban perjumpaan Nabi dengannya, Beliau menanyakan keadaannya dengan kelembutan dan kesantunan. hingga Nabi memerintahkan supaya ikatan Tsumamah dilepaskan. Pelepasan ikatan ini, membuatnya bergegas mandi di sekitaran masjid dan lantas mengumumkan syahadatnya di depan Nabi Saw.

Menarik dicermati 1 penuturannya yang memukau bahwa “Tidak ada muka yang lebih saya benci di bumi ini keculai wajahmu, dan hari ini, tidak ada muka lain yang paling saya cintai di bumi kecuali wajahmu Ya Muhammad”. [Sahih Bukhori, bab wafd bani hanifah: 4372]. Seorang pembenci kelas Kakap pun jadi luluh hatinya waktu diberlakukan dengan baik oleh Nabi Saw. pas di masjidnya.

Dalam Perkara lainnya, seorang Arab Badui pernah Hadir ke masjid Nabi dan mengencingi bagian bagian sisi masjid. Menyaksikan ini, sebagian sahabat Marah besar dengan kegilaan ini, sampai Nabi mencegah tindakan tersebut sampai ia selesai buang hajatnya. seusai itu, barulah Nabi menyuruh mereka untuk menyiram dengan air bekas guyuran air seni tersebut [Sahih Bukhori, bab shobbil ma’ ‘alal bawl fil masjid: 220 dan 221].

Hadis ini secara lugas menceritakan sikap rahmat Nabi untuk sang Badui. Tindakan si Badui bukan perkara kecil. Bukan sebatas masuk masjid begitu saja, tetapi lebih negatif dari itu, “Ngencingin” masjid. Tentu ini penghinaan, penghinaan, dan penistaan. Akan tetapi Nabi tidak meresponnya dengan kemurkaan. Bukan artinya mengencingi masjid itu dibolehkan, tetapi sikap yang bijak jadi perkara penting selaku bentuk respon seorang muslim untuk non muslim.

Malahan, sikap ramah Nabi membawa ketakjuban dari sang Badui sampai mengikrarkan diri jadi muslim. Berkata Ibn Majah dan Ibn Hibban dari hadis Abu Huroiroh bahwa waktu si Badui sudah memahami Islam, ia berdiri menghadap Nabi sambil berkata “Engkau lebih dari sekedar ayah dan bundaku yang bersikap terlalu simpatik dan santun” [Fathul Bari: 472].

Loading...
loading...

Pada Perkara lain, Nabi tidak pernah mencegah para delegasi non muslim untuk masuk ke dalam masjidnya. Kehadiran para delegasi ini pasti membicarakan urusan penting, yaitu berhubungan hubungan kerja sama, politik, dan ekonomi. Bahkan, beliau mempersilahkan para utusan itu untuk bermalam di masjidnya.
Setidaknya ada 3 Hadis Bukhori yang merinci perihal kehadiran para utusan, khususnya dari Kaum Najran.

Pada hadis 4380, secara eksplisit dijelaskan mengenai hal interaksi Nabi bersama-sama para utusan. Interaksi ini tentu berlangsung di masjid. Sebab masjid Nabi bukan sebatas tempat ibadah begitu saja, tetapi tempat dialog, musyawarah, dan hubungan kerja sama. Bahkan, pembahasannya pun terlalu spesifik, salah satunya berhubungan dengan ketentuan Komitmen perihal jizyah (pajak). [Sahih Bukhori, bab qisshoti ahli najron: 4380-4382].

Tinjauan Singkat Ulama Fiqih

Ada 3 pandangan penting berhubungan dengan hukum non muslim masuk masjid, yaitu pandangan yang mencegah, membolehkan dengan pengecualian, dan boleh selain Masjid al-Harom.
Pelarangan non muslim masuk ke masjid, baik masjid di tanah haram atau masjid selainnya, diamini oleh Imam Ahmad dan Imam Malik. Sejalan dengan teks QS. Attaubah: 28, ke-2 imam ini menghukumi haram bukan saja spesial bagi 2 masjid suci ummat Islam itu saja, tetapi juga meliputi seluruh masjid yang lain. Kenajisan kaum kafir, jadi penghalang mereka untuk berdiam di dalam masjid, sebagaimana muslim yang junub, dicegah berdiam di dalam masjid. Keadaan najis seorang muslim pun dicegah berdiam di masjid, apalagi “najis” non muslim. Sedemikian argumentasinya.

Kendatipun adanya pelarangan, sebagian ulama Hambali membolehkan kalau ada maslahat untuk kepentingan masjid, seperti perbaikan dan pembangunannya. Bahkan, kebolehannya terkait adanya harapan keislaman seseorang, sebagaimana tampak dalam beberapa contoh Hadis Bukhori di atas.
Kebolehan masuk masjid bagi non muslim diamini oleh Imam Syafi’i. Bagi Syafi’i, keharaman masuk masjid ini berlaku bagi kaum musyrik spesial masjid haram saja. Atas dasar ini, kebolehan bagi orang Yahudi dan Nasrani untuk masuk masjid selainnya jadi dibenarkan. Senada dengan ini, Imam Abu Hanifah juga memberi penekanan bahwa pelarangan sebagaimana dalam QS. Attaubah: 28 itu dimaknainya bukan selaku larangan untuk memasukinya, akan tetapi larangan itu terkait dengan ibadah spesial semisal haji, umroh, tawaf, dan lainnya, sebagaimana kebiasaan kaum kafir masa lalu [Tafsir al-Misbah 5: 65-66] dan [Tafsir Ibn Katsir 2: 844].

Sejalan dengan argumentasi dan dalil-dalil di atas, bisa disimpulkan bahwa ke-1, sikap dan respon seorang muslim kepada non muslim yang masuk ke dalam masjid tidak mesti ditunjukkan dengan cara yang tidak baik. Sikap yang ramah dan bersahabat mesti ditunjukkan dalam kerangka silaturrahmi dan hubungan baik antar sesama. Ke-2, Kebolehan non muslim masuk masjid Adalah perkara khilaf yang mesti disikapi dengan arif dan bijaksana. Ketiga, sikap halus dan baik kepada non muslim, bahkan di dalam masjid sekalipun mampu saja jadi karena hidayah bagi non muslim. Ke-4. Hubungan muslim dan non muslim di masjid dalam hal mu’amalah, kerja sama, sokongan sosial, dan lainnya jadi perkara yang boleh selama tidak ada pemaksaan dan lobi-lobi politik yang rendahan. Dan kelima, silaturrahim ummat Islam dan tekad bulat bersama-sama membangun/memakmurkan masjid jadi perkara krusial, sebelum keadaan masjid diakuisisi oleh orang lain.

Sumber: FB Satera Sudaryoso (Penikmat Kajian Hadis dari Para Guru Otoritatif)

(suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *