Ning Lis dan Kajian agama Realitas Sosial Wanita di Pesantren

Ning Lis dan Pengajian Realitas Sosial Perempuan di Pesantren

Ning Lis dan Kajian agama Realitas Sosial Wanita di Pesantren

JAKARTA- Kholishotus Sariroh (Ning Lis) merupakan putri pertama KH. Nurul Huda Djazuli Pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Falah Ploso Mojo Kediri, Jawa Timur dengan Nyai HJ. Juwairiyah. Selaku anak pertama Ning Lis memperoleh gemblengan pendidikan secara intensif langsung oleh KH. Nurul Huda Djazuli. Ning Lis dididik oleh Yai Huda- sapaan akrab KH Nurul Huda Djazuli- untuk dipersiapkan jadi srikandi yang mumpuni dalam menyebarkan khazanah intelektual pesantren yang dituangkan oleh para ulama dalam bentuk kitab kuning teruntuk para santri wanita.

Ning Lis dengan cucunya

Keseharian di Pondok Pesantren Putri Al-Falah Putri Ploso Mojo Kediri, Ning Lis dipercayai mengampu mata pelajaran Fiqih dengan menggunakan kitab monumentalnya Imam Al-Bajuri (Bajuri ) dan Ilmu Faraoid. Kedua ilmu tersebut merupakan ilmu yang terlalu dibutuhkan untuk dijadikan pedoman realitas individu dan sosial bagi wanita. Hal yang tak sama dari Ning Lis dari Nyai wanita yang lain ialah cara penyampaian materinya yang tak cuma disampaikan secara monolog yang berpegang pada buku dan teks semata. Akan tetapi, beliau mengemasnya dalam bentuk dialog interaktif yang mengangkat kasus-kasus yang dijumpai dalam realitas kehidupan wanita.
Dalam mengajar Ning Lis senantiasa membicarakan Permasalahan yang kerap kali dijumpai oleh wanita dalam realitas sosial. Semisal pada waktu Ning Lis menerangkan soal syarat ke-absahan sholat, dalam bab sholat, Beliau menerangkan dengan tegas, lantang dan terlalu rinci. Beliau menceritakan dalam kitab Fathul Muin :
شروط الصلاة خمسة: أحدها: طهارة عن حدث وجنابة الطهارة: لغة)، النظافة والخلوص من الدنس. وشرعا: رفع المنع المترتب على الحدث أو النجس
Adapun syarat-syarat sah shalat ada lima perkara, salah satunya ialah thaharah (bersuci). “yaitu bersuci dari hadats kecil dan hadats janabah (mandi junub). Thaharah menurut bahasa ialah “suci dan bebas dari kotoran”. Adapun menurut syara’ ialah “mengangkat (menghilangkan) halangan yg terjadi sebab hadats atau najis (yang dapat menolak ke-absahannya ibadah).

Disela-sela menerangkan Ning Lis menceritakan beberapa hal yang terkadang dilupakan oleh wanita ialah sebagaimana perlunya menjaga Thaharah, terlebih tatkala seorang ibu mempunyai anak kecil yang masih sering kencing di celana, dalam bahasa Jawa Timur yang kental Ning Lis kerap berkata “ nduk…ne kowe ndue anak masih sering ngompolan, ihtiyat yo..ne anak mu nguyuh ndang dicewoi sampe suci, ne awakmu dodolan ndang wijiko ndisik…perkoro suwi ga nyewoi ompol kuwi iso ndadino muamalah mu ga sah tur ga apik maring kesehatan mu kuwi…” artinya : Nak..kalau engkau punya anak yang masih sering kencing sembarangan berhati-hatilah.. kalau anakmu kencing cepatlah bergegas untuk menceboki sampai suci, kalau engkau jualan cucilah tangan mu, perkara lama tak menceboki mampu mengakibatkan muamalah mu ga sah dan dapat memicu kesehatan bagi seorang Ibu.

Secara tak langsung Ning Lis tak cuma mengajarkan kitab kuning semata, lebih dari itu, Ning Lis mengajarkan pada wanita betapa perlunya menjaga kesehatan bagi wanita. Menurut dia wanita sendiri mempunyai beberapa organ penting yang cenderung lebih rentan kepada berbagai serbuan penyakit seperti kanker serviks, kanker payudara, kanker rahim, dan masih beberapa beberapa kategori penyakit lain yang lebih berkemungkinan besar mengganggu pada kesehatan perempuan.

Kajian agama Ning Lis tak cuma menempa santri wanita dalam mengembangkan pertumbuhan intelektual dan meningkatkan moralitas semata. Ning Lis juga mengajak dan membangkitkan sensitifitas sosial wanita di ranah publik dalam bingkai khazanah intelektual pesantren yang terdapat dalam kitab kuning. (SFZ/SD).

Komentar

comments


Source by Samsul

You might like

About the Author: Samsul Anwar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.