Ngaji Tafsir: Belas Kasih Rasulullah Kepada Non Muslim

Loading...

Alasan Belas Kasih Rasulullah Kepada Non Muslim, Ngaji Tafsir dijelaskan oleh KH. Sya’roni Ahmadi. Rasulullah Saw, selain bersikap tegas kepada non muslim, ternyata Rasulullah juga dikenal selaku pribadi yg mempunyai rasa belas kasih kepada non muslim.

Di bawah ini ialah catatan kecil kajian agama rutin Tafsir Al Quran Jumat Fajar yang diasuh langsung oleh KH M Syaroni Ahmadi Kudus di Masjid Al Aqsha Menara Kudus pada Jumat Pahing (14/10/2016). Ada 5 ayat dalam surat al-Baqarah (190-194) yang dijelaskan KH Syaroni Ahmadi pada catatan edisi Argumentasi Belas Kasih Rasulullah Kepada Non Muslim.

5 ayat tersebut menerangkan tentangPerintah memerangi orang-orang kafir, perang di Masjidil Haram, perang dibulan haram dan larangan memerangi kafir yang sudah berhenti memusuhi Islam.Berikut selengkapnya:

Surat Al-Baqarah 190 (Perintah Memerangi Orang-Orang Kafir)
(190)

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi engkau, (tetapi) janganlah engkau memulai perang, sebab sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yangmemulai perang.

Ayat yang memerintahkan perang (Ayat al Qital) turun cuma untuk membalas orang-orang kafir yang memerangi ummat Islam saja, bukan untuk memulai perang. Ayat perang dalam Surat Al Baqarah ialah surat Madaniyyah yang turun sesudah 14 tahun memperoleh perlakuan tidak baik dari orang kafir dan ummat Islam belum boleh untuk membalas. Para shahabat sesungguhnya telah geram menyaksikan perlakuan orang kafir dan ingin membalas, akan tetapi sebab belum turun perintah perang maka sahabat mesti bersabar dan bertahan berhadapan dengan perlakuan orang kafir.

Pribadi Nabi Saw ialah pribadi yang belas kasih kepada non muslim (orang kafir).

Nabi Saw bersikap seperti ini sebab Nabi Saw telah pernah melihat betapa pedihnya siksa neraka dan betapa nikmatnya hidup di surga.

Nabi Saw merasa kasihan apabila orang-orang kafir mesti mati tidak terselamatkan, mati dalam dalam kondisi kafir. Salah besar kalau Nabi Saw digambarkan selaku nabi yang keras kepada orang-orang kafir. Yang bersikap keras kepada orang kafir ialah para shahabatnya, sebab shahabat tidak pernah melihat sendiri pedihnya siksa dalam api neraka. Sehingga tatkala membaca Q.S. Al Fath ayat 29:

Muhammad itu ialah utusan Allah,dan orang-orang yang bersama-sama dengan dia ialah keras kepada orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.

yang pas pada kalimat Muhammadur Rasulullah ialah dibaca waqaf (berhenti) bukan washal (meneruskan bacaan), karena yang Asyiddau Alal Kuffar( keras kepada orang-orang kafir) ialah orang-orang yang bersama-sama nabi (sahabat). Sahabat dibandingkan ummat Islam sekarang lebih keras ummat Islam zaman now.

Tatkala turun perintah untuk perang para shahabat terlalu suka sekali sedangkan Nabi Saw terlalu sedih sekali. Kesedihan Nabi Saw dikarenakan kalau orang-orang kafir diperangi dan mati maka mati dalam kondisi kafir dan kelak masuk dalam api neraka selamanya. Nabi Saw masih menginginkan imannya orang-orang kafir. Untuk orang kafir saja Rasulullah terlalu belas kasih apalagi kepada ummat Islam. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Q.S. Al Anbiya ayat 107:
(107)

Dan tiadalah Kami mengutus engkau, melainkan untuk (jadi) rahmat bagi semesta alam.
Surat Al-Baqarah 191(Perang Di Masjidil Haram)
(191)

Dan bunuhlah mereka di mana saja engkau jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka sudah Menyuruh pergi engkau (Mekah); dan fitnah (kemusyrikan) itu lebih besar bahayanya dari tindakan mematikan, dan janganlah engkau memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali kalau mereka memerangi engkau di tempat itu. Kalau mereka memerangi engkau (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah Pembalasan bagi orang-orang kafir.

Orang-orang kafir mengetahui jika ummat Islam dicegah perang di Masjidil Haram sehingga mereka mengganggu ummat Islam di Masjidil Haram. Mereka menyangka tatkala ummat Islam diganggu di Masjidil Haram tidak akan membalas. Allah SWT membolehkan ummat Islam membalas di Masjidil Haram tatkala orang-orang kafir yang memulai.

Surat Al-Baqarah 192-193(Larangan Memerangi Kafir Yang Berhenti Memusuhi Islam)
(192)

Lantas kalau mereka berhenti (dari memusuhi engkau), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(193)

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah(kemusyrikan)lagi dan (sehingga) ketaatan itu cuma semata-mata untuk Allah. Kalau mereka berhenti (dari memusuhi engkau), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali kepada orang-orang yang zalim.

Orang-orang kafir tatkala telah berhenti memusuhi ummat Islam maka ummat Islam tidak boleh memerangi mereka. Tatkala mereka memulai lagi maka ummat Islam boleh membalasnya lagi sampai orang-orang kafir tidak lagi memusuhi ummat Islam.

loading...

Selama ikut perang melawan orang-orang kafir, Nabi Saw tidak pernah menghabisi musuhnya. Cuma 1 kali musuh Nabi Saw mati ditangan beliau dan itu pun bukan sebab beliau yang membunuhnya tapi sebab kebetulan tertusuk senjata yang dipegang Nabi Saw.
Dikisahkan bahwa setelah perang badar waktu Ubay bin Kaab tengah menghias kudanya untuk berperang. Nabi Saw menyapanyaUbay tengah apa engkau?Ubay menjawabkuda ini saya persiapkan untuk membunuhmu kelak dalam Pertempuran.Oleh malaikat jibril Nabi Saw disuruh menjawabjustru engkau yang nanti akan mati di atas kudamu.

Tatkala perang Uhud berlangsung Ubay terlalu bernafsu untuk menghabisi Nabi Muhammad SAW, sebab kalau ia tidak cepat membunuhnya maka pasti ia yang akan mati di tangan Nabi. Di medan perang Ubay mencari-cari Nabi. Mengetahui gelagat Ubay beberapa shahabat hendak menghadapinya tapi dicegah oleh Nabi.

Tatkala Ubay sudah menemui Nabi ia cepat mendekat hendak menghabisi nabi dengan menunggang kudanya tapi bahkan Ubay yang tertusuk tombak yang dibawa Nabi. Ubay menangis dan didekati Abu Jahal dan Abu LahabHai Ubay! Sekelas jenderal tertusuk dengan cedera kecil kok menangis.Oleh Ubay dijawabaku menangis bukan sebab sakitnya cedera yang saya derita tapi saya jengkel sebab ujaran Muhammad ternyata benar.

Sikap halus Nabi tak sama dengan para shahabat. Sayyidina Ali wataknya keras sehingga Abu Jahal tidak punya nyali kalau mesti berhadapan dengan Sayyidina Ali, seperti ini juga Sayyidina Umar. Sayyida Ali pernah ditantang duel oleh Marhab gembong Yahudi.Medan Khaibar sudah tahu bahwa akulah Marhab. Penyandang senjata pahlawan yang teruji tatkala perang sudah berkecamuk dan menyala.Dijawab oleh Sayyidina Ali RAAkulah yang diberi nama ibuku dengan sebutan Haidar (macan). Seperti macan hutan yang seram tampangnya.Akhirnya duel dimenangkan Ali dan Marhab terbunuh di tangan Sayyidina Ali.

Pernah suatu tatkala Ali hendak berangkat perang. Oleh shahabat lain diingatkanWahai Ali! Hari ini ialah hari nahas (apes).Ali balik menanyakan dengan nada ingkarYang nahas saya atau musuhku.Sayyidina Ali tetap saja berangkat dan menang.

Hukum perang ialah fardlu kifayah bukan fardlu ain

Hukum perang ialah fardlu kifayah bukan fardlu ain. Tidak saban ummat Islam wajib berperang. Ada 27 Pertempuran yang dipimpin langsung oleh Nabi Saw dan 47 Pertempuran dipimpin oleh shahabat dan nabi tidak ikut berperang.

Surat Al-Baqarah 194(Perang Di Bulan Haram)
(194)

Bulan haram dengan bulan haram, dan pada sesuatu yang layak dihormati, berlaku hukum qishaash. Oleh karena itu barangsiapa yang menyerbu engkau, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah untuk Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.

Bulan haram ada 4 bulan: Dzulqadah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab. Apabila di bulan haram orang kafir menyerbu maka tetap diizinkan membalas dengan Pembalasan yang setimpal.
Perang terakhir yang diikuti oleh Nabi Saw tatkala Madinah. Untuk melakukan perintah perang terakhirnya Nabi Saw mempersiapkan 4 kubu Tentara perang.

Nabi mengangkat Umar jadi panglima perang tapi ditentang oleh Saad bin Ubadah, Khalid bin Walid dan shahabat lainnya sebab Umar wataknya keras. Akhirnya Nabi Saw memimpin langsung sebab kalau Umar diganti shahabat yang tingkatannya dibawah Umar pasti akan terjadi konflik.

Rasulullah berpesan untuk mampu menguasai Masjidil Haram sebelum tanggal 1 Syawal. Para shahabat bersemangat untuk membalas orang-orang kafir. Tatkala Makah sukses dikuasai (fathu Makkah) Nabi Saw bersabda:

Ingatlah! Barangsiapa yang mengucapkan Laa ilaha illallah maka dia aman, orang yang menaruh senjatanya maka ia aman, orang yang mengunci rumahnya maka ia aman.Barangsiapa yang masuk ke dalam masjid maka ia aman, orang yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman.
Tatkala seluruh orang kafir telah masuk ke masjid Nabi Saw bersabda dengan bahasa pendekatan:

Wahai Bani Quraiys! Anda semua Qurays saya juga Quraiys. Wahai Bani Abdi Manaf! Anda semua Abdi Manaf saya juga Abdi Manaf. Kira-kira apa yang akan saya lakukan untuk Anda semua?Abu Sufyan menjawabEngkau pasti akan berbuat kebaikan sebab engkau ialah saudara yang mulia nasab dari orang yang mulia.Nabi bersabdaPergilah Anda semua seluruh. Anda semua seluruh sudah bebas.

Para shahabat bingung menguping keputusan Nabi Saw. Mereka tidak mengetahui jalan fikiran Nabi Saw membebaskan seluruh orang kafir yang ada dalam masjid. Lantas Jibril menyampaikan wahyu Q.S. An Nashr dan kufar Mekah berbondong-bondong masuk Islam.

loading...

Islam itu damai tidak keras walaupun tatkala Islam Ada dalam puncak kemenangan. Kalau ada yang menjelaskan bahwa Islam itu keras maka ia tidak faham sejarah. (smc-777)

Ngaji Tafsir KH. Syaroni Ahmadi: Alasan Belas Kasih Rasulullah Terhadap Non Muslim
Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :