Nasionalisme Santri Jilid 2

Nasionalisme Santri Jilid Dua

Nasionalisme Santri Jilid 2

Tanggal 22 Oktober ditetapkan Hari Santri Nasional. Hal ini dikarenakan latar historis yang menginspirasi anak bangsa. Pada 22 Oktober 1945, eksponen Inti santri KH. M. Hasyim Asy’ari mengeluarkan resolusi jihad yang mewajibkan kaum santri mengangkat senjata melawan penjajah. Resolusi jihad ini mengobarkan kaum santri untuk tampil di garda terdepan melawan kaum kolonial yang ingin merebut kemerdekaan yang diraih bangsa dan menjajah kembali Indonesia. Cinta Tanah Air yang telah menyatu dalam jiwa menggerakkan kaum santri mengangkat senjata ke Surabaya yang jadi sasaran Inti kaum kolonial untuk mencengkeramkan kekuatannya.

Nasionalisme yang inheren dalam jiwa para santri memanggilnya mendarmabaktikan hidup untuk mempertahankan kemerdekaan yang telah diusahakan para pahlawan negeri, termasuk para kyai mereka yang aktif dalam laskar Hizbullah dan Sabilillah. Perang dahsyat 10 Nopember 1945 yang amat berani ialah bukti kehebatan nasionalisme kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan.

Nasionalisme ini wajib terus dikobarkan dalam jiwa para santri di tengah tantangan meningkatnya fundamentalisme dan radikalisme sekarang ini yang antinasionalisme. Menurut riset Kementerian Agama, bibit radikalisme telah merambah ke bocah kecil sekolah menengah atas yang lebih mengidolakan tokoh-tokoh seperti Bakhtiar Nashir dan Habib Riziq Syihab dan berharap tegaknya khilafah di Indonesia. Perguruan tinggi di Indonesia telah beberapa terserang virus radikalisme dengan bermacam-macam variannya (Muhtarom, 2017).

Sejarah radikalisme dan fundamentalisme ini ialah gerakan politik Ikhwanul Muslimin di Mesir yang diinisiasi oleh Jamal Al-Banna yang masih mengedepankan cara-cara brothership dan persatuan. Tetapi, pengikutnya melaksanakan tindakan brutal yang bertentangan dengan prinsip pemimpinnya dengan menghabisi pejabat negara. Hal ini berujung ke tindakan mematikan Jamal Al-Banna, dan gerakan Ikhwanul Muslimin dicegah di Mesir. Gerakan ini dilanjutkan oleh muridnya Sayyid Quthb yang mempunyai kitab tafsir Fi Dlilalil Qur’an. Akhirnya gerakan ini terus bermetamorfosis ke dalam beberapa gerakan, termasuk di antaranya ialah Ansharud Daulah, Ansharut Tauhid, dan jema’ah Islamiyah yang doktrinnya makin ekstrem dan radikal. Gerakan ini menyebar ke semua dunia, termasuk di Indonesia (Said Aqil Siradj, 2018).

Dalam konteks Indonesia, politik identitas yang mengarah ke radikalisme dan fundamentalisme makin menemukan bentuknya tatkala bersinggungan dengan simpul dan perebutan kekuasaan. Mereka akan memihak ke bagian kontestan Pemilihan Umum yang memperjuangkan aspirasi politiknya. Walaupun mereka minoritas, tetapi soliditas dan solidaritas kubu ini amat kuat, sehingga mempunyai gema besar dalam perpolitikan Tanah Air.

Loading...
loading...

Di sisi lain, beberapa sekali politisi Tanah Air yang pragmatis dan oportunis untuk kepentingan jangka pendek. Sokongan politik jadi kalkulasi Inti, dibandingkan internalisasi nasionalisme dan patriotisme. Kemenangan politik diburu dengan mempergunakan segala cara untuk meraih kekuasaan. Realitas ini menyedihkan dan wajib dilawan dengan gerakan-gerakan kebangsaan yang meneguhkan pluralitas, solidaritas, dan demokrasi substansial.

Di tengah meningkatnya tensi radikalisme dan fundamentalisme di negeri ini, maka santri wajib terpanggil mengokohkan spirit nasionalisme jilid 2 yang akan membawa bangsa ini ke kebangkitan masa depan di bermacam aspek kehidupan. Nasionalisme jilid 2 diwujudkan dalam beberapa kiprah nyata. Di antaranya, ke-1, menguatkan militansi ideologi ahlussunnah wal jemaah (aswaja) an-nahdliyyah yang bersendikan nilai-nilai kebangsaan. Toleransi dan moderasi yang jadi karakter Inti Aswaja An-Nahdliyyah amat relevan dengan realitas multikultural bangsa Indonesia. Trilogi ukhuwwah islamiyah (brothership antara sesama ummat Islam), ukhuwwah wathaniyyah (brothership antarsesama masyarakat negara), dan ukhuwwah basyariyyah (brothership antarsesama ummat manusia) diejawantahkan dalam kehidupan sosial lintas sektoral sehingga terjadi harmoni sosial yang mengokohkan spirit Binneka Tunggal Ika.

Ke-2, menyusun kurikulum kontra radikalisme yang mampu diterapkan semenjak level dasar sampai perguruan tinggi. Kurikulum ini mutlak diperlukan supaya bangsa ini terhindar dari bahaya radikalisme yang beberapa mempergunakan lembaga pendidikan selaku media Intinya. Nahdlatul Ulama, khususnya pesantren kaya kepada khazanah keilmuan, tetapi miskin metodologi yang sanggup mengolahnya jadi rumusan efektif-aplikatif dalam bentuk kurikulum. Telah saatnya ilmuwan santri menyusun kurikulum yang mampu diterapkan secara berjenjang dan sistematis untuk membangun pemahaman kebangsaan dan kontra radikalisme.

Ketiga, mengembangkan kemandirian ummat. Aspek ekonomi amat penting diperkuat untuk menggapai fondasi ekonomi yang kuat ke kemandirian ummat. Ketergantungan ekonomi membikin ummat mudah dieksploitasi kepentingan sesaat yang mengorbankan kepentingan kolektif dan jangka panjang. Kaum pemodal menyaksikan celah ini sehingga sering melaksanakan manuver politik yang membahayakan persatuan bangsa untuk meraup keuntungan individu dan kubu.

Ke-4, soliditas antartokoh digalakkan supaya tidak mudah terprovokasi dan diagitasi pihak ketiga yang ingin memecah belah bangsa dengan statement yang memecah belah antarkelompok. Nahdlatul Ulama yang Adalah organisasi kaum santri, dan Muhammadiyah ialah 2 gerbong Inti Islam moderat yang wajib memberikan contoh yang baik dalam menggalang soliditas yang akan diikuti kubu sipil lainnya.

Kelima, menguatkan kerja sama sinergis antarseluruh elemen bangsa, khususnya antara santri dengan TNI-Polri yang telah mendeklarasikan selaku pengawal Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Binneka Tunggal Ika selaku 4 pilar negara yang amat fundamental. Selama keduanya Ada di jalur yang benar, maka bahaya radikalisme mampu eliminasi. 5 langkah ini mutlak diperlukan untuk meneguhkan nasionalisme jilid 2 kaum santri di tengah bahaya radikalisme dan fundamentalisme era sekarang.

Jamal Ma’mur Asmani Wakil Ketua PCNU Pati, Direktur Lembaga Studi Kitab Kuning (LESKA), alumnus PPWK PBNU

(detik.com/ suaraislam)

Loading...


Shared by Ahmad Zaini

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :