Nasehat Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari untuk Para Guru (1)

Tidak cuma murid saja yang wajib mempunyai adab, seorang guru juga wajib mempunyai adab dan tata krama dalam mendidik murid atau santri. Edisi-edisi sebelumnya kita sudah mengupas beberapa etika murid dalam menuntut ilmu, baik dalam proses belajarnya, untuk gurunya, maupun untuk ilmunya. Edisi, ini kita akan mengutipkan nasehat Mbah Hasyim untuk guru dalam kitab Adabul Alim wal Mutaallim. Sejatinya ada 20 poin yang ada dalam kitab.

Akan tetapi, untuk edisi ini kita akan kupas 10 dulu, akan kami lanjutkan untuk edisi depan. Berikut ulasannya:

Sadar Kontrol Allah SWT

Seorang guru wajib senantiasa merasa di awasi Allah Swt waktu sendiri atau bareng orang lain. Muraqabah atau senantiasa sadar kontrol Allah SWT kapan pun dan dimanapun. Seorang guru yang sadar kontrol Allah akan senantiasa berusaha menjaga etika dan jadi guru yang baik.

Takut Ke Allah dalam Segala Hal

Seorang guru wajib selalu takut untuk Allah SWT dalam saban gerak, diam, ujaran dan perbuataan, karena ilmu, hikmah dan takut ialah amanah yang dititipkan kepadanya, sehingga bila tidak dijaga maka termasuk berkhianat. Allah SWT sudah berfirman, Janganlah kau mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) jangan kau mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, tengah kau mengetahui. (Al-Anfal: 27)

 

Tenang, Wara, Tawadhu dan Khusuk (Ketiga, ke-4, kelima dan keenam)

Ketiga, ke-4, kelima dan keenam, senantiasa tenang, wara, tawadhu dan khusyuk untuk Allah SWT. Imam Malik berkata untuk Khalifah Harun ar Rasyid dalam suratnya, Apabila engkau mengetahui suatu ilmu, hendaknya tampak pada dirimu pengaruh dari ilmu itu, juga kewibawaan, Kedamaian dan kesantunan dari ilmu itu. Sebab Rasul pernah bersabda bahwa ulama ialah ahli waris para nabi.

Sahabat Umar ra berkata, Pelajari ilmu beserta sikap tenang dan wibawa. Sebagian ulama salaf berkata, Wajib bagi orang yang berilmu bersikap rendah diri di depan Allah Swt, baik dalam kondisi sendirian maupun waktu bareng orang lain; menjaga jarak dengan hawa nafsunya dan berhenti dari hal-hal yang akan menyulitkannya.


Memasrahkan Seluruh Urusan Ke Allah

Seorang guru hendaknya memasrahkan seluruh urusan untuk Allah SWT. Seorang guru dapat berusaha memberikan ilmu untuk murid. Akan tetapi, hasil tidaknya wajib dipasrahkan untuk Allah SWT.

Tidak Menjadikan Ilmu Batu Loncatan

Amat berbahaya kalau ilmu dibuat selaku batu loncatan. Seorang guru tidak boleh menjadikan ilmunya selaku batu loncatan untuk memperoleh tujuan-tujuan duniawi seperti jabatan, harta, perhatian orang, ketenaran atau kelebihan atas teman-teman seprofesinya. Seluruh didasarkan pada keikhlasan sebab Allah dan tanpa tendensi lain yang mengganggu kemurnian hubungan guru-murid.

Tidak Memuliakan Penghama Dunia

Seorang guru tidak boleh memuliakan para penghamba dunia dengan cara berjalan dan berdiri untuk mereka, kecuali bila kemaslahatan yang ditimbulkan lebih besar dari ke-mafsadahan-nya.
Hendaknya juga tidak mendatangi tempat calon murid untuk mengajarkan ilmu kepadanya, walaupun murid itu orang berpangkat tinggi. Sebaiknya guru memelihara kehormatan ilmunya sebagaimana ulama salaf memeliharanya.

Loading...
loading...

Amat beberapa cerita mengenai hal bagaimana ulama salaf memelihara kehormatan ilmu di depan para khalifah dan para pejabat lainnya, seperti cerita yang diriwayatkan Imam Malik bin Anas bahwasanya dia pernah bertutur, Saya mendatangi Harun ar-Rasyid, lalu dia berkata padaku, Wahai Abu Abdillah, sepatutnya engkau sering berkunjung kami supaya anak-anakku dapat mempelajari kitab Muwatho` darimu. Akupun balik berkata, Semoga Allah memuliakan raja. Sesungguhnya ilmu ini sudah keluar dari anda; ia akan mulia bila anda memuliakannya dan jadi hina bila anda merendahkannya. Ilmu itu dihampiri bukan mendekati. Khalifah berkata, Engkau benar. (Hai anak-anakku) pergilah Anda semua ke masjid dan belajarlah bareng orang-orang.

Imam Zuhri berkata, 1 hal yang membikin llmu hina, yaitu bila guru mendatangi rumah murid dengan membawa ilmu untuk diajarkan. Kalau Ada suatu kondisi mendesak yang menghendaki untuk berbuat seperti di atas atau ada tuntutan kemaslahatan yang lebih besar dari kemafasadahan hinanya ilmu, maka perbuatan tersebut diizinkan selama dalam keadaan seperti itu. Faktor inilah yang jadi dasar dari apa yang ditunaikan oleh sebagian ulama salaf waktu mereka menjumpai sebagian raja dan para pejabat lainnya. Intinya, siapa yang mengagungkan ilmu maka Allah akan mengagungkannya.

Dan siapa yang menghina ilmu maka Allah akan menghinakannya. Dan ini terang.
Wahb bin Munabbih berkata, Para ulama yang mendahuluiku merasa cukup dengan ilmu mereka, tanpa mendambakan dunia orang lain sebab kecintaan mereka kepada ilmu. Namun sekarang orang yang berilmu memberikan ilmu mereka pada orang yang mempunyai beberapa harta sebab ingin memperoleh harta mereka, sehingga yang terjadi orang yang mempunyai harta tidak suka ilmu sebab mereka melihat rendah ilmu.

Sungguh indah apa yang disampaikan oleh Qodhi Abu al-Husain al-Jurjani dalam bait-bait syairnya. Dia berkata:

  1. Saya belum pernah memenuhi hak ilmu. Saban kali muncul ketamakan saya menjadikan ilmu selaku anak tangga.
  2. Saya belum pernah merendahkan jiwaku untuk melayani ilmu. Bukannya saya melayani orang yang saya temui, tapi malah saya ingin dilayani.
  3. Apakah saya menanam ilmu yang mulia, lalu saya memanen hina. Sebab itu, memilih kebodohan dapat jadi lebih menyelamatkan.
  4. Andai orang yang berilmu menjaga ilmunya, maka ilmu itu yang akan menjaga mereka. Dan andai mereka memuliakannya dalam jiwa, niscaya ia jadi mulia.
  5. Akan tetapi mereka menghinakannya, ia pun hina. Dan mereka kotori mukanya dengan ketamakan sampai ia bermuram durja.

Zuhud dan Mengambil Dunia Sekedar Cukup

Guru wajib mempunyai perangai zuhud dan mengambil dunia sekedar cukup untuk diri sendiri dan keluarganya sesuai standar qana`ah. Orang berilmu yang paling rendah derajatnya ialah orang yang menganggap jijik sikap ketergantungan untuk dunia, karena dia lebih mengetahui kekurangan dunia dan fitnah yang ditimbulkannya, juga mengetahui bahwa dunia cepat sirna dan amat melelahkan. Dialah orang yang berhak untuk bersikap tidak acuh pada dunia dan tidak berlebihan menyibukkan diri mengejar iming-iming dunia.

Rasulullah saw berkata, Mulia orang yang qanaah dan hina orang yang tamak. Imam Syafii berkata, Andai saya berwasiat, maka orang yang paling pintar akan memberikannya pada ahli zuhud. Maka siapa yang paling berhak dibandingkan ulama, karena mereka memilki kelebihan dan kesempurnaan akal?

Yahya bin Muadz berkata, Andai dunia emas lantak yang hancur sedangkan akhirat tembikar yang abadi, niscaya orang berakal akan lebih memilih tembikar yang abadi dibandingkan emas lantak yang rusak. Akan tetapi (kenyataannya) dunia tembikar yang rapuh dan akhirat emas lantak yang abadi.
Bagi orang yang tahu bahwa harta akan ditinggal untuk ahli waris dan akan ditimpa kemusnahan, semestinya zuhudnya lebih kuat daripada cintanya pada harta serta dia akan lebih memilih untuk meninggalkan harta daripada mencarinya.

Loading...

Seperti ini ialah 10 nasehat Mbah Hasyim bagi guru dalam kitab Adabul Alim wal Mutaallim yang masih dapat dijadikan pedoman sampai sekarang. Semoga berguna. Wallahu alam.

*Dilansir dari kitab Adabul Alim wal Mutaallim karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asyari via tebuireng.org
loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :