Nabi Muhammad bukan Manusia Biasa, Jaga Lisanmu waktu Menyebutnya!

Menjawab Pertanyaan “Kenapa Rasulullah tidak di Peringati Haul Wafatnya?”

Nabi Muhammad bukan Manusia Biasa, Jaga Lisanmu waktu Menyebutnya!

Beberapa ummat Islam menyebarkan pemahaman bahwa Nabi Muhammad SAW ialah manusia biasa sama seperti manusia pada umumnya. Argumentasi mereka ialah dalil Al-Qur’an Surat al-Kahf:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ

“Katakanlah (wahai Nabi), bahwasanya saya ialah manusia seperti kalian, dan bahwasanya Tuhan kalian ialah Tuhan yang Satu…”(Surat Al-Kahfi 110)

Atas dasar itu, mereka mencegah penambahan kata “sayyidina” di depan nama Nabi Muhammad, dengan alasan beliau ialah manusia biasa.

Argumentasi di atas, perlu dipertanyakan kalau dikaitkan dengan dalil surat al-Ahzab berikut ini:

Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri (Qs 33:6)

Apakah keutamaan yang dipunyai Nabi itu dikarenakan beliau ialah seorang Nabi ataukah keutamaan itu ndak ada hubungannya dengan kondisi beliau sebagaimana manusia?

Menjawab pertanyaan itu, kita perlu pertimbangkan keistimewaan yang Allah berikan ke Nabi Yahya dan Nabi Isa semenjak mereka berdua lahir:

وَسَلَامٌ عَلَيْهِ يَوْمَ وُلِدَ وَيَوْمَ يَمُوتُ وَيَوْمَ يُبْعَثُ حَيًّا

“Dan kesejahteraan bagi dirinya (Yahya) pada hari lahirnya, pada hari wafatnya, dan pada hari dia dibangkitkan hidup kembali”(Surat Maryam 15)

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa putera Maryam), pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari saya dibangkitkan hidup kembali.”(Surat Maryam 33)

Tentu saja, keistimewaan itu juga diberikan ke Nabi Muhammad SAW. Sebab di dalam surat Al-Baqarah disebutkan:

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِير

“Rasul (Muhammad) beriman ke apa yang diturunkan kepadanya (Al-Qur’an) dari Tuhannya, seperti ini pula orang-orang yang beriman. Seluruh beriman ke Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata), “Kami ndak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami patuh. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.”(Surat Al-Baqarah 285)

Seluruh Nabi dan Rasul diberikan keistimewaan masing-masing. Sehingga keistimewaan itu melekat ke pribadi mereka.

Kembali ke pernyataan bahwa Nabi Muhammad bukanlah manusia biasa. Kita dapat memahaminya dari hadits berikut:

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قال نهى رسول الله عليه وسلم عن الوصال. فقال رجل من المسلمين فإنك تواصل يا رسول الله؟ فقال وأيكم مثلي؟ إني أبيت ربي ويسقني…متفق عليه

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata “Nabi Saw mencegah puasa wishal (bersambung tanpa makan). Lalu ada seseorang menanyakan, “Tetapi baginda sendiri berpuasa wishal wahai Rasul Allah?” Beliau menjawab, “Siapa di antara kalian yang seperti saya?” Saya bermalam dan Tuhanku memberi saya makan dan minum…”(muttafa ‘alayhi, hadits nomor 682 dalam Bulugh ul-Maram)

Mari kita sorot kalimat berikut:

وأيكم مثلي؟ إني أبيت ربي ويسقني

“Siapa di antara kalian yang seperti saya?” Saya bermalam dan Tuhanku memberi saya makan dan minum..”.

Bukankah di dalam kalimat ini terkandung keistimewaan Nabi secara fisik, daripada manusia biasa pada umumnya? Kalau beliau memang manusia biasa, tentu Allah ndak akan memberi beliau makan dan minum seperti yng beliau katakan di dalam hadis. Sebab beliau bukan manusia biasa, menambahkan kata “sayyidina” sebelum nama beliau merupakan sebuah kepantasan. Dan itu pun dikuatkan oleh ucapan beliau sendiri:

انا سيد ولد ادم يوم القيامة ولا فخر

“Saya ialah sayyid (pemimpin) bocah-bocah anak cucu Adam nanti pada hari kiamat, bukan untuk membanggakan diri” (HR: al-Bukhari)

Yang jadi pertanyaan lantas, kalau ada orang yang ndak mau menyebut Nabi dengan sebutan sayyid padahal dia tahu bahwa Nabi ialah pemimpin seluruh manusia, siapa sejatinya yang memimpin mereka?

يَوْمَ نَدْعُو كُلَّ أُنَاسٍ بِإِمَامِهِمْ ۖ فَمَنْ أُوتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِينِهِ فَأُولَٰئِكَ يَقْرَءُونَ كِتَابَهُمْ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“(Ingatlah), pada hari (waktu) Kami panggil tiap-tiap ummat dengan pemimpinnya; dan barang siapa diberikan catatan amalnya di tangan kanannya mereka akan membaca catatannya (dengan baik), dan mereka ndak akan dirugikan tidak banyak pun.” (Surat Al-Isra’ 71).

Oleh: KH Abdi Kurnia Djohan via islami.co

Source by Hakim Abdul

You might like

About the Author: Hakim Abdul

KOMENTAR: Jika ada artikel yang salah, dll, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.