Muktamar NU ke-33 dan Muktamar Muhammadiyah ke-47 Tahun 2015

Website Islam Institute
Loading...

Pagelaran 2 Suksesi Ketum di Muktamar NU dan Muktamar Muhammadiyah

Ormas Islam – 2 ormas Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah tahun 2015 ini menggelar hajatan akbar, muktamar atau konferensi atau kongres tingkat nasional. Ke-2 ormas Islam ini mempunyai agenda Inti yang sama, yaitu pemilihan Ketum.

Hajatan NU dan Muhammadiyah sungguh menyedot perhatian luas. Maklum, ormas yang telah berumur cukup tua ini sanggup dikatakan mempunyai pengaruh yang cukup besar. Tidak cuma di lingkup masarakat muslim, tetapi juga sampai struktur pemerintahan dalam tatanan ketata-negaraan.

Sebab itulah tidak heran beberapa kepentingan-kepentingan dibawa waktu muktamar. Seperti di muktamar NU, tensi hangat Menjelang muktamar begitu terasa makin panas. Adanya perbedaan pandangan terkait mekanisme pemilihan ketua umum PBNU jadi bagian penyebabnya.

 

Munculnya perbedaan di internal NU berawal keputusan forum ulama yang dihelat PBNU di Jakarta, bahwa pemilihan ketum PBNU mempergunakan sistem ahlul halli wal aqdi (AHWA). Dalam bahasa Indonesia bermakna musyawarah mufakat, atau dalam konteks pemilihan Adalah mekanisme memilih pimpinan melalui perwakilan tim formatur Ulama.

Ketua Panitia Lokal Muktamar NU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menjelaskan sistem AHWA ialah berdasar amanah alamarhum KH Sahal Mahfudz sebelum meninggal dunia, 24 Januari 2014 lalu.

Menurut Gus Ipul, sapaan Saifullah Yusuf, ide AHWA oleh eks Rais Aam PBNU ini belajar dari Muktamar NU ke 32 di Makassar Tahun 2010.

“Ini telah melalui proses panjang. Pencetus gagasan AHWA di Muktamar Jombang ini ialah almarhum Kyai Sahal Mahfudz. Sebelum meninggal, beliau tidak ingin muktamar kali ini seperti di Makassar, yang mirip Pilkada,” kata Gus Ipul, Kamis (23/7).

Sehingga, sistem AHWA dinyatakan legal selaku cara memilih Rais Aam atau ketua umum di muktamar, dalam Munas Alim Ulama di Jakarta, 15 Juni 2015.

Panasnya Problematika Sitem AHWA Makin Terasa di Muktamar NU ke-33

Argumentasi Gus Ipul soal sistem AHWA tidak serta merta disepakati oleh seluruh masyarakat NU. Bahkan Gus Sholah (Solahuddin Wahid) selaku bagian calon Ketum PBNU juga Tidak mau sistem AHWA ini. Menurut Gus Sholah yang berhak membicarakan AHWA ialah forum konferensi besar (konbes). Kalaupun konbes Sepakat diterapkan AHWA juga tetap wajib dimintakan persetujuan muktamar.

“Bagaimana sanggup sistem yang belum disetujui muktamar tapi telah membatasi peserta muktamar. Di antaranya supaya menyetorkan 9 nama calon AHWA dari 39 nama waktu registrasi muktamar,” kata Gus Solah, di kediamannya, Jumat (31/7/2015).

Dewan Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan yang Saat ini duduk selaku member DPR, Hasan Aminuddin Tidak mau keras pemilihan ketum PBNU mempergunakan sistem AHWA.

“Semenjak awal saya tidak setuju AHWA. Sebab mengidentikkan Rais Syuriah itu doyan duit. Risywah (sogok) kan? Argumentasi beliau-beliau (ulama NU yang setuju sistem AHWA) itu mencegah risywah. Dinilai kiai-kiai itu doyan duit apa? Ada ketersinggungan saya,” kata Hasan Aminuddin.

pemain politik Partai Nas-Dem ini juga dengan lantang menjelaskan tidak akan takut berseberangan dengan para kyai yang merekomendasi sistem AHWA di Muktamar NU ke-33 di Jombang ini. Karena, dia mengklaim mempunyai suara cukup beberapa mengajak kader NU untuk Tidak mau sistem AHWA.

loading...

“Di sini mustasyar saya, ada 2 cabang (PCNU Kabupaten Probolinggo dan Kota Kraksaan). Punya 2 biting (2 suara di Muktamar NU ke-33). Jikalau orang lain yang bicara tidak punya suara. Awak punya modal, 2 suara,” ucap Hasan Aminuddin.

Perbedaan pandangan terkait polemik model pemilihan ketum PBNU tidak cuma terjadi di tingkatan para elite, tetapi sampai tataran santri-santri NU. Sampai Saat ini, bursa calon ketum PBNU yang telah muncul ke publik ialah calon incumbent KH Said Aqil Sirodj, KH Salahudin Wahid atau Gus Solah dan Wakil Ketum PBNU KH As’ad Ali Said.

Sementara itu, Menjelang Muktamar Muhammadiyah ke-47, Ketum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Din Syamsuddin mewanti-wanti terjadinya perpecahan. Dia mengatakan dengan tegas organisasinya tidak akan memilih calon ketua yang berkarakter ambisius.

“Pada Muktamar yang akan datang jangan menyerahkan jabatan ke orang yang ambisius, bahkan tidak mempunyai kesanggupan,” kata Din Syamsudin, Senin (27/7).

Di Muhammadiyah Tidak Ada Krisis Kader, Krisis Publik figur atau Krisis Kepemimpinan

Din Syamsudin mengklaim tidak ada problem pada pemilihan ketua umum waktu Muktamar. menurutnya, selaku ormas Islam terbesar ke-2 di Tanah Air, Muhammadiyah tidak mengalami krisis kader, krisis publik figur, bahkan krisis kepemimpinan.

Sejumlah nama yang disebut-sebut mempunyai kans jadi ketua ialah Prof Dr Syafiq Mughni (PP Muhammadiyah), Prof Dr Muhajir Effendi, Prof Dr Tohir Luth (Ketua PWM Jatim), Dr H Abdul Mu’ti MEd (PP Muhammadiyah), Drs Hajriyanto Y Thohari MA (eks Wakil Ketua MPR), Prof Dr Ahmad Jainuri PhD (eks Rektor Umsida Sidoarjo), Dr Rizal Sukma (pengamat internasional), Dr H Haidar Nashir MSi (PP Muhammadiyah) dan dr Agus Taufiqurrohman SpS Mkes (Ketua PWM Daerah Istimewa Yogyakarta).

“Mudah-mudahan muktamar besok sedikit membawa perbedaan yang membawa perpecahan. Mudah-mudahan tidak ada label radikal atau liberal kepada calon yang Adalah character assassination,” kata Din.

Terpisah, Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Tamhid Masyhudi berseloroh jika ketua baru Muhammadiyah akan meneruskan tradisi lulusan Amerika Serikat (AS).

Sebagaimana dimaklumi Din Syamsuddin ialah alumni S3 perguruan tinggi di Amerika Serikat, seperti ini pula ketua umum Muhammadiyah sebelumnya, seperti Buya Syafii Ma’arif dan Amien Rais.

Adapun Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur Najib Hamid MSi menjelaskan, 3 publik figur mulai menguat selaku kandidat ketua umum menggantikan Din Syamsuddin.

3 publik figur yang dimaksud Prof Dr Syafiq A Mughni (alumni University of California dan Pesantren Persis), Dr Haedar Nashir (Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, alumni Fisipol UGM) dan Dr Abdul Mu’thi (Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, alumni Flinders University Australia).

“Pak Syafiq mempunyai jaringan ke luar dan ke dalam. Mas Mu’thi, masih muda dan lincah, sedangkan Pak Haedar Nashir menjaga power ke dalam,” kata Najib. Seperti ini tulis Antara.

Muktamar NU ke-33 dihelat di Jombang Jawa Timur, mulai tanggal 1 sampai 5 Agustus 2015. Adapun Muktamar Muhammadiyah ke-47 dihelat di Makassar Sulawesi Selatan, dari tanggal 3 sampai 7 Agustus 2015.

 

#Muktamar NU ke-33

loading...

#Muktamar Muhammadiyah ke-47

Loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :