Muktamar Aswaja Internasional dan respon Kalut Wahabi

Website Islam Institute

Muktamar Aswaja Internasional – Ada reaksi kalut Ulama Wahabi Arab Saudi atas Muktamar Aswaja Internasional di Chechnya. Ulama Wahabi Arab Saudi dan media Saudi akhirnya secara kalut tanpa dasar ilmiyah memberi tanggapan atas Pelaksanaan Muktamar Aswaja Internasional di Chechnya. Muktamar ini bertema: ‘Siapa Ahlusunnah Wal jema’ah?’. Muktamar Aswaja seluruh dunia dihadiri lebih dari 200 ulama Aswaja internasional di Chechnya (25/8) lalu.

Channel teve Safa milik Arab Saudi, misalnya. Channel teve ini menuding muktamar Aswaja internasional yang dihadiri Syekh Al Azhar Mesir itu selaku provokasi dan hasutan yang berbahaya.

“Seluruh teroris di Indonesia Wahabi. Beginilah sikap su’ul adab yang terang-terangan (disampaikan ketua umum PBNU) akibat Muktamar di Chechnya. Ini merupakan hasutan untuk menutup 20 pesantren Salafi,” kata jaringan TV Safa. Hal ini diumumkan melalui akun resminya dengan mengunggah koran Indonesia yang menyinggung ajaran para ulama kerajaan Wahabi Arab Saudi itu.

 

Sembari menyebut Rusia dan Iran selaku aktor di balik muktamar Aswaja internasional itu. Ulama Wahabi Arab Saudi, Muhammad Ali Saud. Dia menuding perjumpaan ulama Aswaja di Chechnya itu punya tujuan “untuk mengeluarkan Kerajaan Saudi dari Ahlu Sunnah wal jema’ah”.  Katanya seperti dilansir arabic.cnn.com (1/9).

Ulama Wahabi Arab Saudi lain, Khalid Al Saud. Dia menyebut perjumpaan ulama Aswaja di Chechnya itu selaku pernyataan terang-terangan kepada manhaj Salafi. Dalam akun twitternya, Khalid al-Saud bercuit selaku berikut. “Dengan terlalu ringkas saja: Muktamar Chechnya ialah pernyataan perang kepada manhaj Salaf, akedah tauhid dan sunnah.”

 

 

Mencoba menengahi ragam tanggapan yang muncul, Syekh Yusuf Qardhawi menjelaskan. “Kita butuh Salafi yang Sufi, dan Sufi yang Salafi. Kita lembabkan keringnya Salafi dengan spiritualitas – tasawuf- dan kita keraskan kelembekan tasawuf dengan disiplin Salafi”. Kata cendekiawan Muslim asal Mesir itu via twit di Twitter-nya.

Pandangan Qardhawi pun ditolak tegas oleh ulama Salafi Wahabi Arab Saudi, Abdullah Al-Faifi, dengan tanggapan bahwa…. “Salafi ialah mengikuti Salaf yang saleh dalam spirit dan disiplin–meminjam perkataan Anda. Ia bukan mazhab baru yang dapat dinilai sejajar dengan tasawuf.”

 

Muktamar Aswaja Internasional Meluruskan pengakuan Wahabi Selaku Ahlussunnah Wal Jama’ah

Muktamar Aswaja Internasional Chechnya berusaha meluruskan pengakuan sepihak atas sebutan “Ahlussunnah Wal jema’ah”. Seperti diketahui, sebutan Ahlussunnah Wal jema’ah (Aswaja) belakangan ini sering diklaim oleh kubu garis keras. Yang menganggap dirinya paling benar sendiri. pengakuan ini lalu membingungkan publik. Dan berakibat pada saling lempar tudingan yang nggak produktif di tengah-tengah ummat.

Para ulama di muktamar Aswaja Internasional Chechnya pun menekankan bahwa Aswaja ialah Asyariah dan Maturidiyah dalam akidah. Empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali dalam fikih. Serta ahli tasawuf yang murni –ilmu dan akhlak— sesuai manhaj Imam Junaeid dan para ulama yang meniti jalannya.

Loading...
loading...

“Itu ialah manhaj yang menghargai seluruh ilmu yang berkhidmah kpd wahyu (Al-Quran dan Sunnah). Dan sudah sungguh-sungguh menyingkap mengenai hal ajaran-ajaran agama ini dan tujuan-tujuannya. Dalam menjaga jiwa dan akal. Menjaga agama dari distorsi dan permainan tangan-tangan jahil. Menjaga harta dan kehormatan manusia, serta menjaga akhlak yang mulia.”

Kalau pun ada mazhab di luar kategori di atas, Guru Besar Al Azhar Mesir Syekh Ali Jum’ah mengingatkan dan mengaskan. Bahwa Aswaja nggak mengkafirkan siapa pun yang mengklaim selaku Muslim. Penegasan ulama Aswaja kelahiran Mesir ini juga jadi pembeda antara Aswaja dengan kubu radikal atau ekstrimis.

“Aswaja nggak pernah mengafirkan orang yang shalat menghadap kiblat. Aswaja nggak pernah menggiring manusia untuk mencari kekuasaan, menumpahkan darah, dan nggak pula mengikuti syahwat birahi (yang haram)”.  Kata Syekh Ali Jum’ah dalam sambutannya di muktamar Aswaja Internasional.

 

Muktamar Aswaja Internasional: Aswaja nggak berperilaku Khawarij

Sebab itu, para ulama dalam Muktamar Aswaja Internasional juga menggarisbawahi. Bahwa Aswaja bukanlah yang mengusik keamanan dan kenyamanan warga di sekitarnya. Apakah layak disebut Aswaja, kalau hal-hal paling terlarang dalam Islam malah dilaksanakan dengan teriakan takbir? Yaitu aksi tindakan mematikan, penyiksaan, melakukan hukuman secara kejam, perbudakan sek*, perampasan harta sipil, peledakan masjid dan makam ulama, dll.

“Gelombang pertama yang sesat dan membahayakan itu ialah Khawarij klasik. Sampai sampai pada Neo-Khawarij waktu ini dari kalangan Salafi Takfiri dan ISIS. Serta seluruh kubu radikal yang meniti jalan mereka yang mempunyai kesamaan. Yaitu distorsi, pemalsuan dan interpretasi bodoh akan ajaran agama ini.”

Di Indonesia, nahkoda ormas Aswaja – Nahdatul Ulama – KH. Aqil Sirajd tanpa tedeng aling-aling menyebut seluruh teoris di tanah air merupakan ‘alumnus’ pesantren Wahabi.

“Ada 20 pesantren, semuanya Wahabi. Wahabi memang bukan teroris tapi ajarannya ekstrem. Kita ini semuanya dinilai ahli bid’ah dan musyrik. Sebab menurut mereka Maulid Nabi itu bid’ah, Isra’ Miraj bid’ah, ziarah kubur musyrik, haul musyrik, dan semuanya masuk neraka. Kami kuatir murid mereka memahami jikalau begitu boleh dibunuh dong orang ini sebab kerjaannya musyrik seluruh”. Kata Kang Said dalam pertemuannya bareng Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian di Surabaya, (1/9/2016).

YS/IslamIndonesia –  Muktamar Aswaja Internasional

Simpan

Simpan

Loading...

Simpan

loading...

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :