Muhammadiyah Tidak Haramkan Ucapan Selamat Natal

Ormas Islam Muhammadiyah Tidak Haramkan Ucapan Selamat Natal

 

Menurut Tafsir, Muhammadiyah sampai sekarang membebaskan warganya untuk memberi Ucapan Selamat Natal kepada umat Nasrani. Sikap Muhammadiyah itu mengacu pada situasi masing-masing warga Muhammadiyah dalam menjaga toleransi antar umat beragama.

 

Ormas Islam Muhammadiyah dan NU Tidak Haramkan Ucapan Selamat Natal

Islam-Institute, Jakarta – Menjelang perayaan Hari Natal, justru di kalangan umat Islam selalu terjadi perselisihan mengenai Ucapan Selamat Natal kepada pemeluk agama Nasrani. Sebagian membolehkan dengan alasan toleransi yang merupakan ajaran Islam dan sebagian mengharamkan dengan alasan membahayakan akidah. Berikut adalah pernyataan dari pimpinan ormas Islam Muhammadiyah mengenai Ucapan Selamat Natal kepada pemeluk Nasrani.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah membantah organisasinya telah mengharamkan muslim untuk memberikan Ucapan Selamat Natal kepada umat Kristiani. Organisasi Islam besar dan tertua yang didirikan di Yogyakarta tahun 1912 itu belum pernah mengeluarkan fatwa secara resmi yang mengharamkan muslim memberikan Ucapan Selamat Natal kepada umat Kristiani.

“Kalau pun ada warga Muhammadiyah yang mengharamkan itu perorangan. Biasanya mengacu pada fatwa Buya Hamka,” kata Sekretaris Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Tafsir, Ahad, 21 Desember 2014.  (Baca: Ternyata Buya Hamka Ucapkan Selamat Natal)

Padahal, menurut Tafsir, fatwa Buya Hamka yang pernah disampaikan pada tahun 1980-an itu dalam kapasitas sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia. “Buya Hamka memang pengurus pusat Muhammadiyah,” kata Tafsir.

Menurut Tafsir, Muhammadiyah sampai sekarang membebaskan warganya untuk memberi Ucapan Selamat Natal kepada umat Nasrani. Sikap Muhammadiyah itu mengacu pada situasi masing-masing warga Muhammadiyah dalam menjaga toleransi antar umat beragama.

Ia menjelaskan, membolehkan Ucapan Selamat Natal berdasarkan niat dan pengakuan sebagai kelahiran Nabi Isa yang diakui oleh umat Kristen sebagai Yesus. Meski ia menyatakan hingga sekarang belum diketahui secara pasti kelahiran itu. “Masalah tanggal kelahiran sama-sama tak tahu, semua berdasarkan ijtihad,” katanya.

Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Jawa Tengah, Ahmad Rofiq, menyatakan masih menghormati fatwa yang dikeluarkan oleh Buya Hamka. Meski begitu, menurut Rofiq, hal itu tak perlu dibesar-besarkan.

“MUI tetap menghargai hak-hak umat lain, tak perlu didramatisir,” kata Rofiq.
Rafiq menampik tudingan bahwa fatwa yang pernah dikeluarkan oleh MUI itu tak toleran terhadap umat lain. Namun ia menyatakan itu hanya imbauan dalam hubungan ritual agama.

“Natal itu ritual ibadah, kalau kami masuk nanti malah jadi masalah,” katanya.

Rofiq meminta agar umat melihat sebuah fatwa secara proposional, apa lagi, menurut Rofiq, selama ini MUI sangat toleran terhadap agama lain yang dibuktikan dengan menghargai hari libur nasional dilakukan pada hari Ahad, bukan hari Jumat ketika umat Islam banyak menjalankan ibadah.
“Kami tetap menghargai dan toleran, bahkan dibuat dalam wadah kerukuran antarumat beragama melibatkan tokoh masing-masing,” katanya. (al/tempo.co)

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :