Merebut Kembali Mimbar Masjid

Merebut Kembali Mimbar Masjid

Ilustrasi, Takmir se-Jakarta Tolak Politisasi Masjid Untuk Merawat NKRI Peringatanan satu tahun Aksi Bela Islam 411 berlangsung di Masjid Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. (CNN Indonesia/Andika Putra)

Terhitung mulai hari ini, (Rabu, 16 Mei 2018) ummat Muslim di Indonesia telah melakukan Puasa Wajib bulan Ramadhan, ada sebagian lainnya yang baru memulai puasa pada hari kamis, (17 Mei 2018). Meskipun tak sama dalam penentuan hilal-nya, akan tetapi hal tersebut tak membikin keduanya saling bermusuhan, bertentangan dan berdebat tiada arti. Seluruhnya tetap beribadah dengan khusyu’ walau tak sama dalam penanggalan bulan Suci Ramadhan.

Semenjak dua hari kemarin, di grup WA maupun di beranda Wall Facebook aku, tidak sedikit kawan yang mendadak jadi ‘Puitis’ dan ‘dramatis’. Begitulah kebiasaan yang dilaksanakan tatkala menyambut bulan suci Ramadhan. Mengekspresikan kebahagiaan diri menyambut bulan Suci dengan berpuisi dan bernarasi. Kebiasaan itulah yang sebagai corak ‘keasyikan’ di bulan ini.

Akan tetapi ada suatu hal yang aku khawatirkan di bulan ini. Yaitu saat masjid-masjid dipenuhi dengan insan yang mempunyai ambisi politik yang amat kuat, dan ia mau bermain kotor. Misalnya dengan cara mengisi khutbah masjid dengan ceramah provkatif, politik, dan ceramah lain yang bahkan tak ada kaitannya sama sekali di bulan suci ini.

Aku tidak maksud hendak berbicara soal politik di tulisan aku kali ini, aku masih cukup awam guna berbicara berhubungan dengan politik. Sejauh yang aku tahu, suatu hal yang paling penting dibandingkan politik ialah adab, hati nurani dan insaniyah. Masa iya, mau bicara politik di kala mengisi khutbah Bulan Ramadhan di mimbar Masjid? Apa pantas sebagaimana itu?.

Terkait dengan ceramah-ceramah provokatif dan ceramah yang berhubungan dengan politik di mimbar masjid, aku amat menginginkan terhadap seluruh elemen masarakat, khususnya mereka yang beragama Islam supaya lebih jeli, teliti dan selektif dalam memilih seorang pendakwah ataupun seorang Khatib dalam shalat jama’ah di Masjid.

Jangan sampai salah, sebab dapat jadi alih-alih kita memperoleh ilmu yang berguna, mendamaikan hati dan jiwa di bulan puasa, malah kita memperoleh ceramah provokatif dan berbau politik di masjid yang amat berisik dan terdengar mengganggu serta menciptakan suasana tak nyaman di telinga kita atau telinga para pendengarnya. Kan, rugi besar jika sebagaimana itu.

Mimbar masjid bukan tempat berpolitik ataupun berceramah provokatif

Sesudah bulan Puasa rampung, lalu beralih kepada bulan ‘Kemenangan’, yaitu bulan Idul Fitri. Bulan suci di mana ummat Muslim sudah meraih kemenangannya dari Jihad ‘Puasa’ selama satu bulan full. Keluarga, sanak dan saudara jauh-jauh dari luar kota, pulang kampung menemui keluarganya di desa guna melakukan lebaran bersama-sama.

Nah, kekuatiran aku paling besar muncul di sini. Menyaksikan dari kejadian di tahun-tahun yang lalu, di mana pada penyelenggaraan shalat Idul Fitri, Khutbah yang di sampaikan bersifat provokatif, berbau Politik, menyinggung isu SARA dan amat tak mendidik. Para jema’ah sebagian ada yang masih tetap bertahan setia mendengarkan Khutbah tersebut, ada pula yang justeru ‘Walk-Out’ sebab muak dengan Khutbah yang disampaikan oleh Khatib.

Perlu diketahui sebelumnya, bahwasanya mimbar masjid bukanlah tempat atau wilayah guna berpolitik ataupun berceramah yang berbau provokatif. Tentu selaku Muslim yang bagus, kita tak mau hal-hal yang tak berguna terjadi di Masjid.

Alih-alih memperoleh tausiyah atau khutbah yang menenteramkan hati, jiwa, mempererat tali persaudaraan antar ummat beragama dalam bernegara, akan tetapi yang ada malah menghilangkan ghirah gotong-royong dalam bernegara dan berbhinneka. Ah, terkadang disini aku merasa marah dan kecewa besar.

Aku menginginkan, mulai hari ini ataupun besok hari, sampai lebaran tiba dan selamanya, Masjid tak dipakai selaku media menghasut, menghujat, memprovokasi, menebarkan benih kebencian dan menyampaikan ambisi politik. Masjid spesial tempat para Muslim guna Ibadah dan sarana mendekatkan diri terhadap Tuhan.

Masjid itu Suci, oleh karenanya, segala yang berbau duniawi semisal politik, silahkan dapat di lakukan diluar area Masjid. Aku mohon terhadap masarakat Muslim di Indonesia guna lebih selektif dan teliti dalam memilih pendakwah ataupun Khatib. Jangan salah pilih, jangan pernah relakan adanya ‘Politisasi Masjid’ di lingkungan kita. Masjid itu ‘Rumah Allah’.

Mari rebut kembali mimbar Masjid, jangan sampai Masjid kita dikotori oleh tausiyah atau ceramah provokatif, menyinggung SARA, maupun berbau politik yang amat tak mendidik. Seluruh elemen masarakat, khususnya ummat Muslim wajib tahu dan paham betul bakal hal ini.

Salam Kedamaian dalam Persatuan
Aku Muslimah, Aku Cinta Toleransi
Aku Indonesia, Aku Pancasila

Vinanda Febriani

(suaraislam)

Merebut Kembali Mimbar Masjid

Source

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

KOLOM KOMENTAR ANDA :