Menyuguhkan Makanan Waktu Hari Raya Idul Fitri

Menyuguhkan Makanan Waktu Hari Raya Idul Fitri


Indonesia ialah rumah besar bagi beragam suku dan budaya. Dari Sabang sampai Merauke terdapat corak budaya khas yang mewarnai tiap-tiap sendi kehidupannya. Dari aktivitas sehari-hari sampai festival dan perayaan yang dihelat tiap-tiap tahunnya. Seluruh menyatu dalam bingkai kebhinekaan.

menurut sensus tahun 2010, tak kurang dari 1.340 suku bangsa tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Suku Jawa masih dinilai selaku suku paling beberapa dengan hitungan total populasi 41%. Sedangkan berdasarkan kepercayaan yang dianut, Islam menduduki puncak teratas dengan persentese pemeluk sebanyak 87,2%. Ini menjadikan ummat muslim selaku agama kebanyakan yang mendominasi warna keberagamaan di Indonesia.

Dari gabungan dua data tersebut, tidak mengherankan bila terjadi akulturasi dalam tiap-tiap perayaan hari besar islam di Indonesia. Mulai dari ritual sampai hidangan yang disajikan, dapat dengan mudah kita temukan tradisi unik yang sulit dijumpai di negara lain. Termasuk dalam perayaan Idul Fitri.

Di berbagai daerah di Indonesia, menyuguhkan makanan waktu Idul Fitri sudah jadi tradisi yang mendarah daging. Biasanya, tamu yang berkunjung ke rumah-rumah akan disuguhi beragam makanan yang jadi menu khas di daerah tersebut.

Dalam sebuah riwayat yang dinukil Imam Bukhari dalam Shahih-nya, diceritakan bahwa Salman Al Farisi pernah mengunjungi rumah Abu Darda’. Lalu keduanya menyantap makanan yang disajikan. Dan Rasulullah sama sekali tak mencegah hal tersebut.

Bahkan dalam kitab yang sama, Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadis:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ “أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَارَ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ الأَنْصَارِ فَطَعِمَ عِنْدَهُمْ طَعَاماً فَلَمَّا أَرَادَ أَنْ يَخْرُجَ أَمَرَ بِمَكَانٍ مِنْ الْبَيْتِ فَنُضِحَ لَهُ عَلَى بِسَاطٍ فَصَلَّى عَلَيْهِ وَدَعَا لَهُمْ”

Dari Anas bin Malik “Bahwasanya Rasulullah mengunjungi rumah seorang kaum Anshar lalu makan di tempat mereka. Waktu hendak pulang, beliau meminta disediakan tempat. Maka disediakanlah tempat untuknya. Lalu beliau shalat di tempat tersebut dan mendoakan mereka.” (HR. Bukhari)

Dalam Fathul Bari disebutkan bahwa hadis tersebut memperlihatkan adanya anjuran untuk saling berkunjung, doa bagi tamu untuk tuan rumah serta makanan yang disuguhkan. Imam Nawawi mengumumkan hal senada, terlepas dari kategori apapun makanan yang disuguhkan, selama itu halal dan suci.

Maka, menyuguhkan makanan pada tamu yang datang berkunjung merupakan anjuran dan sunnah yang diajarkan oleh Rasulullah. Terlebih waktu Idul Fitri, momen waktu seluruh keluarga, sanak-saudara dan handai taulan berkumpul untuk merayakan kemenangan bareng. Wallahu a’lam.

Source by Ahmad Naufal

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.