Mengklaim Pengikut Salaf; Wahabi Anti Takwil Padahal Salaf Shalih Melaksanakan Takwil

Untuk Membungkam Wahabi Yang Anti Takwil (Bag. 1). Mohon Disebarluaskan..!

Kitab ini “as-Saif ash-Shaqil Fi ar-Radd ‘Ala ibn Zafil” ialah karya al-Imam al-Hafizh Taqiyyuddin as-Subki (756 H); Ulama terkemuka dalam madzhab Syafi’i yang sudah mencapai derajat Mujtahid Mutlak.

 

Isinya dari a sampe z membantah aqidah sesat Ibn Qayyim (murid Ibn Taimiyah). Guru dan murid ini sama-sama berakidah tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya); menjelaskan Allah duduk di atas arsy. Na’udzu Billah!!! Ibn Zafil yang dimaksud dalam kitab di atas ialah Ibn Qayyim.

(1)

Terjemah 1:

al-Bayhaqi sudah mengutip dalam kitab Manaqib Ahmad dari pemimpin ulama madzhab Hanbali –yang juga putra dari pimpinan ulama madzhab Hanbali–; yaitu Imam Abu al-Fadl at-Tamimi, bahwa beliau (Abu al-Fadl) berkata: “Imam Ahmad amat mengingkari kepada orang yang menjelaskan bahwa Allah selaku benda (jism). Dan ia (Imam Ahmad) menjelaskan bahwa nama-nama Allah itu diambil dari tuntunan syari’at dan dengan dasar bahasa. Sementara para ahli bahasa menjelaskan bahwa definisi “jism” (benda) cuma berlaku bagi sesuatu yang mempunyai panjang, lebar, volume, susunan, bentuk, (artinya yang mempunyai dimensi), padahal Allah Maha Suci dari pada itu seluruh. Dengan sedemikian Dia (Allah) nggak boleh dinamakan dengan “jism” (benda), sebab Dia Maha Suci dari makna-makna kebendaan, dan penyebutan “jism” pada hak Allah nggak pernah ada di dalam syari’at; maka itu ialah sesuatu yang batil”.

 

(2)

Terjemah 2:

al-Bayhaqi dalam kitab Manaqib Ahmad berkata: “Sudah mengkabarkan kpd kami al-Hakim, berkata: Mengkabarkan kpd kami Abu Amr ibn as-Sammak, berkata: Mengkabarkan kpd kami Hanbal ibn Ishak, berkata: Saya sudah menguping pamanku Abu Abdillah (Ahmad ibn Hanbal) berkata: ”Mereka (kaum Mu’tazilah) mengambil dalil dalam perdebatan denganku, –ketika itu di istana Amîr al-Mu’minîn–, mereka berkata bahwa di hari kiamat surat al-Baqarah akan datang, sedemikian pula surat Tabarak akan datang. Saya katakan kpd mereka bahwa yang akan datang itu ialah pahala dari bacaan surat-surat tersebut.

Dalam makna firman Allah “Wa Ja’a Rabbuka” (QS. al-Fajr 23), bukan artinya Allah datang, tapi yang dimaksud ialah datangnya kekuasaan Allah. Sebab sesungguhnya kandungan al-Qur’an itu ialah pelajaran-pelajaran dan nasehat-nasehat”. Dalam kejadian ini terdapat penjelasan bahwa al-Imâm Ahmad nggak meyakini makna “al-Majî’” (dalam QS. al-Fajr di atas) dalam makna Allah datang dari suatu tempat. Seperti ini pula beliau nggak meyakini makna “an-Nuzûl” pada hak Allah yang (disebutkan dalam hadits) dalam pengertian turun geser dari satu tempat ke tempat yang lain seperti geser dan turunnya benda-benda.

Namun yang dimaksud dari itu seluruh ialah untuk mengungkapkan dari datangnya tanda-tanda kekuasaan Allah, sebab mereka (kaum Mu’tazilah) berpendapat bahwa al-Qur’an kalau benar selaku Kalam Allah dan merupakan bagian dari sifat-sifat Dzat-Nya, maka nggak boleh makna al-Majî’ diartikan dengan datangnya Allah dari suatu tempat ke tampat lain. Oleh sebab itu al-Imâm Ahmad menjawab pandangan kaum Mu’tazilah dengan menjelaskan bahwa yang dimaksud ialah datangnya pahala bacaan dari surat-surat al-Qur’an tersebut. Artinya pahala bacaan al-Qur’an itulah yang akan datang dan nampak pada waktu kiamat itu”.

Tambahan:

Riwayat al-Bayhaqi di atas juga sudah dilansir oleh Ibn Katsir dalam kitab al-Bidâyah Wa al-Nihâyah, j. 10, h. 327) dengan redaksi berikut:

“al-Bayhaqi dalam Kitab Manaqib Ahmad meriwayatkan dari al-Hakim dari Abu Amr as-Sammak dari Hanbal, bahwa al-Imâm Ahmad ibn Hanbal sudah mentakwil firman Allah: “Wa ja’a Rabbuka” (QS. al-Fajr: 23) bahwa yang dimaksud ”Jâ’a” bukan artinya Allah datang dari suatu tempat, tapi yang dimaksud ialah datangnya pahala yang dikerjakan dengan ikhlas sebab Allah. Soal kualitas riwayat ini al-Bayhaqi berkata: “Kebenaran sanad riwayat ini nggak mempunyai cacat sedikitpun”.

Dari penjelasan di atas terdapat bukti kuat bahwa al-Imâm Ahmad memaknai ayat-ayat soal sifat-sifat Allah, juga hadits-hadits soal sifat-sifat Allah, nggak dalam pengertian zhahirnya. Sebab pengertian zhahir teks-teks tersebut seakan Allah ada dengan mempunyai tempat dan lantas berpindah-pindah, juga seakan Allah bergerak, diam, dan turun dari atas ke bawah, padahal terang ini seluruh mustahil atas Allah. Hal ini tak sama dengan pandangan Ibn Taimiyah dan para pengikutnya (kaum Wahhabiyyah), mereka menetapkan adanya tempat bagi Allah, juga menjelaskan bahwa Allah mempunyai sifat-sifat tubuh, cuma saja untuk mengelabui orang-orang awam mereka mengungkapkan kata-kata yang seakan bahwa Allah Maha Suci dari itu seluruh, kadang mereka biasa berkata “Bilâ Kayf…(Sifat-sifat Allah tersebut jangan ditanyakan bagaimana?)”, kadang pula mereka berkata “’Alâ Mâ Yalîqu Billâh… (Bahwa sifat-sifat tersebut ialah sifat-sifat yang sesuai bagi keagungan Allah).

Kita katakan kpd mereka: ”Andaikan al-Imâm Ahmad berkeyakinan bahwa Allah bergerak, diam, geser dari satu tempat ke tempat yang lain, maka beliau akan memaknai ayat-ayat tersebut dalam makna zhahirnya, juga beliau akan akan memahami makna al-Majî’ dalam makna datang dari suatu tempat atau datang dari arah atas ke arah bawah seperti datangnya para Malaikat. Tetapi sama sekali al-Imâm Ahmad nggak menjelaskan sedemikian”.

Penting Untuk Membungkam Wahabi:

Kita katakan: “Wahai Wahabi, kalian anti takwil, kalian menjelaskan: “al-Mu’awwil Mu’aththil” (orang yang melaksanakan takwil maka ia sudah mengingkari al-Qur’an), lalu apa yang hendak kalian katakan kepada Imam Ahmad yang sudah melaksanakan takwil sebagaimana dalam riwayat di atas, –yang bahkan diriwayatkan oleh Ibn Katsir; salah seorang rujukan utama kalian? Mau lari ke mana kalian! Apakah kalian hendak menjelaskan Imam Ahmad sesat? Sungguh  yang sesat itu ialah kalian sendiri…  Kalian Para Wahabi yang sudah mengotori Madzhab Hanbali…!

sumber: Abou Fateh

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

28 Comments

  1. hai orang islam sadarlah, sesungguhnya kalian tidak tau lagi isi alquran kecuali sedikit sekali. jangan lupakan manfaat kitab kitab orang terdahulu, dalam hal ini tentunya kitab yang belum di palsukan. dia bisa benar dan salah. itulah petunjuk minimal kita saat ini. tapi jangan terpancing untuk mengarang hadist dan membuat kitab yang baru lagi. anda hanya akan menambah masalah. Carilah ilmu yang berguna, dalam hal ini tentunya tekhnologi. jika hal ini tidak kalian lakukan, celakalah kalian. Anak cucu kalian akan jadi makanan yang empuk dan lezat. Tanya pada diri kalian : ” apa yang telah kalian lakukan untuk menguasai dunia dan menegakkan LAAILAA HAILLALLAH ALLAHU AKBAR “.

    1. @meiko
      Cuma yang malas belajar yang gak tau isi al qur’an apalagi cuma baca terjemahan tanpa guru dan pembimbing, sehingga al Qur’an jadi sebuah tumpukan buku.
      Al Qur’an itu luas dari segala sisi, makanya orang islam sekarang tidak maju. Kenapa orang-orang kafir yang tidak diberi al qur’an menemukan ilmu-ilmu pengetahuan, seperti Anthony Hopkin yang bilang dulu alam materi ini satu, akhirnya ada sebuah ledaka besar (Big Bang), sehingga terjadi dan membentuk bintang2, planet2 dll. Padahal didalam al qur’an jelas-jelas sudah diterangkan bahwa : Dulu bumi dan langit ini bersatu, setelah itu Aku pisahkan keduanya.
      Dulu abad ke 2 H, seorang Muslim menemukan Aritmatika/Aljabar bernama Al Khawaritzmy (Dari Samarkand-Uzbekistan), Ibnu Sina menemukan dasar teori kedokteran, al Ghazali dalam teori perbintangan / Astronomi dan masih banyak lagi.

      Sekarang ini banyak Muslim yang cuma baru bisa bilang bid’ah dan sunnah, seolah-olah dia sudah mengusai seluruh isi al Qur’an. Masya Allah, inikah muslim ???
      Ane lihat masih banyak Ilmu yang belum ditemukan, seperti Dari mana air laut itu memenuhi 2/3 bumi, analisa ane dari kisah Nabi Nuh.
      Energy panas, dibidang fisika masih kekurangan Rumus tentang energy panas atau sumber panas. Padahal didalam al qur’an dijelaskan setiap partikel, khususnya manusia mempunyai energy panas yaitu Nafs. Mar Muslim wabil khusus mas @meiko menemukan rumus fisika nya.
      Maaf mas meiko ane tinjau dari teknology, karena ane bidang fisika tapi masih bodoh n bego.

  2. Kami beriman dengan ayat ayat MUTASYABIHAT, semuanya dari sisi Rabb kami. Adapun orang orang yang cenderung hatinya kepada kesesatan mentakwilkan ayat ayat mutasyabihat seolah olah ayat ayat mutasyabihat itu adalah ayat ayat muhkamat. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah SWT.

  3. Hai orang-orang Asy-‘ariyah dan kelompok2nya yang sejenis.

    Apakah kalian semua mengimani bahwa Allah berada di atas ‘Arsy?

    Tingggal jawab ya apa tidak. Tidak usah muter2

  4. Imam Ahmad wafat karena membela aqidah bahwa al-Qur`an bukan makhluq

    mengenai iman, apanya yg bertentangan dg aqidah asya’irah?

  5. Silahkan lihat kitab:
    1. Al-Radd ‘Ala man Yaqulu Al-Qur’an Makhluk, Ibnu An-Najaad (Hal: 31)
    2. Dzail Thabaqaat Al-Hanaabilah.
    Maka akan anda dapati:
    عبد الله بن أحمد بن حنبل قال:
    سألتُ أبي عن قوم يقولون: لما كلم اللّه موسى عليه السلام لم يتكلم الله بصوت، فقال أبي رحمه الله: بل تكلم عزَّ وجل بصوت. هذه الأحاديث نمرها كما جاءت.
    قال أبي رحمه الله: حديث بن مسعود ” إذا تكلم الله عز وجل سمع له صوت كمرِّ السلسلة على الصفوان ” . قال أبي: وهذه الجَهميَّة تنكره.

    Dalam Riwayat ini ditegaskan bahwa Imam Ahmad meyakini Allah berbicara dan mengeluarkan suara yang bisa didengar.

    Kemudian,

    Dalam masalah Iman Imam Ahmad berkata:
    Imam Ahmad mengatakan: Iman itu perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.(As-Sunnah, karya: ‘Abdullah bin Ahmad)

    Imam Ibn ‘Abdil Bar meriwayatkan dari Imam ar-Rabi’, katanya, saya mendengar Imam Syafi’i berkata:
    “Iman itu adalah ucapan, perbuatan, dan keyakinan (i’tiqad) di dalam hati. Tahukah kamu firman Allah

    وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

    “Allah tidak menyia-nyiakan iman kamu.” (Al-Baqarah: 143)
    Maksud kata “Imanakum” (iman kamu) adalah shalatmu ketika menghadap ke Baitul Maqdis. Allah عزّوجلّ menamakan shalat itu iman, dan shalat adalah ucapan, perbuatan dan i’tiqad.”( al-Intiqa’ hal. 81)

    Adapun hadis yang mencakup tiga perkara tersebut secara keseluruhan:

    “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Iman itu ada tujuh puluh tiga sampai tujuh puluh sembilan, atau enam puluh tiga sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah perkataan, LAA ILAAHA ILLALLAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim)

    Dua Akidah ini sangatlah berlawanan dengan keyakinan Asya’irah,, camkanlah!!

    1. @Zero says:
      September 29, 2011 at 5:56 am
      SILAHKAN LIHAT KITAB:
      1. AL-RADD ‘ALA MAN YAQULU AL-QUR’AN MAKHLUK, IBNU AN-NAJAAD (HAL: 31)

      Nama Kitabnya aja sudah mencerminkan pemikiran madzhab asyairoh “bantahan atas orang yang mengatakan al Qur’an Makhluq”.

      2. DZAIL THABAQAAT AL-HANAABILAH.
      MAKA AKAN ANDA DAPATI:
      عبد الله بن أحمد بن حنبل قال:
      سألتُ أبي عن قوم يقولون: لما كلم اللّه موسى عليه السلام لم يتكلم الله بصوت، فقال أبي رحمه الله: بل تكلم عزَّ وجل بصوت. هذه الأحاديث نمرها كما جاءت.
      قال أبي رحمه الله: حديث بن مسعود ” إذا تكلم الله عز وجل سمع له صوت كمرِّ السلسلة على الصفوان ” . قال أبي: وهذه الجَهميَّة تنكره.
      DALAM RIWAYAT INI DITEGASKAN BAHWA IMAM AHMAD MEYAKINI ALLAH BERBICARA DAN MENGELUARKAN SUARA YANG BISA DIDENGAR.

      Tarjamah yang Insya Alloh benar: “Aku bertanya pada Ayahku (Imam Ahmad bin Hanbal) tentang kaum yang mengatakan: Waktu Alloh berbicara dengan Nabi Musa AS, Alloh tidak berbicara dengan suara. Maka ayahku Rahimahulloh berkata: Bahkan Alloh Azza Wa jalla berbicara dengan Shout (suara:lughot), HADIST-HADIST INI AKU TETAPKAN SEBAGAIMANA DATANGNYA (menetapkan apa adanya, tanpa takwil)”
      Jadi Dalam hadist di atas Imam ahmad bin hanbal TIDAK MEMBERI MAKNA PADA LAFADZ AS SHOUT DAN TIDAK MENAFSIRINYA , sebagaimana madzhab tafwidl. BUKAN SEPERTI PEMAHAMAN TEMAN-TEMAN SALAFI YANG MEMBERI MAKNA DENGAN SUARA. Dan perlu di ketahui Imam Ahmad tidak menafikan madzhab takwil, sebagaimana artikel diatas.
      Wallohu a’lam.

      KEMUDIAN,
      DALAM MASALAH IMAN IMAM AHMAD BERKATA:
      IMAM AHMAD MENGATAKAN: IMAN ITU PERKATAAN DAN PERBUATAN, BERTAMBAH DAN BERKURANG.(AS-SUNNAH, KARYA: ‘ABDULLAH BIN AHMAD)

      Ini sesuai dengan Asyairoh

      IMAM IBN ‘ABDIL BAR MERIWAYATKAN DARI IMAM AR-RABI’, KATANYA, SAYA MENDENGAR IMAM SYAFI’I BERKATA:
      “IMAN ITU ADALAH UCAPAN, PERBUATAN, DAN KEYAKINAN (I’TIQAD) DI DALAM HATI. TAHUKAH KAMU FIRMAN ALLAH
      وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ
      “ALLAH TIDAK MENYIA-NYIAKAN IMAN KAMU.” (AL-BAQARAH: 143)
      MAKSUD KATA “IMANAKUM” (IMAN KAMU) ADALAH SHALATMU KETIKA MENGHADAP KE BAITUL MAQDIS. ALLAH عزّوجلّ MENAMAKAN SHALAT ITU IMAN, DAN SHALAT ADALAH UCAPAN, PERBUATAN DAN I’TIQAD.”( AL-INTIQA’ HAL. 81)

      Ini juga sesuai dengan asyairoh, malah ada takwil juga, yang mana satu diantara dua madzhab (tafwidl-takwil) yang juga di usung asyairoh

      ADAPUN HADIS YANG MENCAKUP TIGA PERKARA TERSEBUT SECARA KESELURUHAN:
      “RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM BERSABDA: “IMAN ITU ADA TUJUH PULUH TIGA SAMPAI TUJUH PULUH SEMBILAN, ATAU ENAM PULUH TIGA SAMPAI ENAM PULUH SEMBILAN CABANG. YANG PALING UTAMA ADALAH PERKATAAN, LAA ILAAHA ILLALLAHU (TIDAK ADA TUHAN YANG BERHAK DISEMBAH SELAIN ALLAH). DAN YANG PALING RENDAH ADALAH MENYINGKIRKAN GANGGUAN DARI JALAN. DAN MALU ITU ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN.” (HR. MUSLIM)
      DUA AKIDAH INI SANGATLAH BERLAWANAN DENGAN KEYAKINAN ASYA’IRAH,, CAMKANLAH!!

      Berlawanan dari sisi mana? Coba jelaskan…. Sepengetahuan kami juga di akui ulama asyairoh? Pertentangannya di mana?

  6. Imam Baihaqi tidaklah lebih dahulu dibanding Imam Ibnu Khuzaimah, Imam Ibnu Khuzaimah fahamnya sama dengan faham wahhabi, lantas wahhabikah Imam Ibnu Khuzaimah.

    1. Tanggapan ustadz ahmad syahid : Ibnu Khuzaimah Mujassim terkenal dan sangat sadis beliaulah yang berfatwa Kafirnya orang yang tidak mengakui Bahwa Allah berada diatas langit orang tersebut harus dibunuh jika tidak mau tobat dan mayatnya dibuang ke tempat sampah ” namun al-hamdulillah akhirnya beliau tobat dari Aqidah tajsim ini seperti yang dinyatakan oleh Imam al-baihaqi dalam asma wa as-sifat hal. 269 begitu juga dinyatakan oleh al-hafidz ibnu hajar dalam fathul bari juz 13 hal 492 , jadi rupanya Ustadz firanda belum tahu atau pura pura tidak tahu jika penulis kitab ” at-tauhid ” (ibnu khuzaimah) telah tobat dari aqidah yang tertulis dalam kitabnya itu , sehingga gugur lah sandaran ke enam atas klaim Ijmaknya Ustadz Firanda ini , sebab penulisnyapun sudah Tobat.

  7. apa mereka tidak sadar perbuatan mereka merugikan dakwa islam, atau sengaja kita diadu domba, ana yakin bukanlah seorang muslim jika dia suka mengadudomba. hanya mereka yang terkontaminasi dan terbawa oleh rencana2 masonic yahudi

  8. Itulah kalau orang sudah dicuci otaknya, sehingga yang ada didepannya sampai gak kelihatan. Banyak orang2 awan yang masih minim keislamannya, terbawa dan hanyut dalam pemikiran kosong. Kosong terhadap penjabaran Ilmu dan pergaulan.
    Tanda2 orang yang sdh dicuci otaknya biasanya mudah, 1. Jarang bergaul. 2. Sensitif kalau diajak bicara. 3. Mudah mengeluarkan kata2 yang kurang sopan. 4. Mau menang sendiri. 5. Banyak merenung.

  9. Hayat Pernah Ajak Warga Pengajian (“Siapapun yang tak sesuai pahamnya dianggap kafir,” )

    CIREBON, KOMPAS.com- Warga Jalan Pandesan, Kota Cirebon, pernah menolak ajakan pengajian oleh kelompok Hayat (31), buron kasus bom Cirebon yang juga diduga sebagai pelaku bom bunuh diri di Solo, Jawa Tengah.

    Sejak tahun 2001, Hayat cenderung bersikap ekstrem. “Rumah warga di sini didatangi satu per satu untuk diajak pengajian kelompoknya. Tetapi warga banyak menolak, karena perilaku dan cara penyampaian Hayat yang meragukan,” kata Riska (28), salah satu warga Pandesan.

    Dalam berpakaian, Hayat tampak biasa. Namun, untuk urusan beribadah, bapak satu anak itu dikenal tidak toleran.

    Menurut Uni Sahroni (61), salah satu warga, ia sempat berdebat dengan Hayat mengenai ritual tahlil dan ajaran agama. “Siapapun yang tak sesuai pahamnya dianggap kafir,” kata Uni.

    Orangtuanya pun sudah tidak lagi menghiraukan Hayat, karena berbeda pandangan. “Orangtuanya kelihatan stres sejak dia jadi buron,” kata Uni.

    HASIL DARI DOKTRIN SALAFIWAHABI

    1. Super Nova says: HASIL DARI DOKTRIN SALAFIWAHABI
      jangan berprasangka begitu…jgn terjebak fitnah,Super Nova…sepertinya kalian sangat membenci paham wahaby…tetapi jgn lah kebencian kalian merusak persaudaraan pada agama kita
      maaf jika tidak berkenan

      1. lihat Kompas.com mas itu bukan karangan ana. ente tahu sejarah berdirinya faham wahabi di saudi dan kerajaan saudi? mudah carinya mas gogling aja he he he he ….. 😀

        ente sepertinya orang awam, telah diketahui jumhur muslimin dunia bhw faham yang suka mengkafirkan orang muslim lain yang tidak sefaham adalah berasal dari pemikiran ibnu abdul wahab.

        sering datang kemari atau tanya2 diblog salafiwahabi atau ustad2 nya hayat bomber solo mengenai amalan muslim bab tahlilan, membaca yasin, tarawih 20 rakaat, ziara kubur, pentingnya bermadzhab dll baru ente boleh komen bahwa aswaja ummati tukang fitna. jangan biasakan diskusi dengan membunuh karakter orang mas, bisa2 liur diludah dijilat kembali.

        siap yang membenci wahabi? jangan salah presepsi istilah membenci dan meluruskan pemahaman teks2 kitabullah dan as sunnah. siapa yang merusak persaudaraan agama kita? baca kompas.com lagi mas, hayat yang merusak hubungan dengan keluarganya sendiri setelah tallaqi faham tersebut, dia merasa paling bener dalam berislam.

        oh ya satu pertanyaan lagi, ente setuju dengan pengeboman gereja dan masjid?

        syukron

  10. Konon Syech Albani meragukan keimanan Imam Bukhari karena Imam Bukhari juga mentakwil? Kalau benar demikian, sungguh-sungguh terlaluuuuu.

  11. sepertinya blog kaum sawah, tetangga sebelah kidul 😆 agak kulon sedikit :mrgreen: he..he… 😆 ,bantahansalafi…. sudah agak mendem semenjak para aswaja berkunjung kesana…hm… 🙂

  12. Wahabi/Salafy itu mamang tukang bohong, plin-plan, tidak konsisten, kontradiktif dan layak disebut pendusta kelas berat. Ada yg tidak setuju silahkan koment, ane tunggu pencerahannya.

  13. Dalam kitab Insan Kamil karangan Ibnu Arabi dikatakan bahwa “Adam diciptakan bukan cerminan dari sang pencipta”, dari logika ini bisa kita artikan bahwa sang pencipta tidak sama dengan yang diciptakan. Jika Sang pencipta sama dengan Adam as, maka mahluk Allah swt yang lain (Malaikat, Iblis dan binatang) akan protes. Misalkan Allah sama dengan Adam as, maka malaikat akan protes, Aku (malaikat) juga mahluk Allah, maka Allah sama dengan aku, bagaimana Allah punya tangan, maka Gajah akan protes, bagaimana Allah punya kaki, Ikan akan protes.
    Jadi para wahabiyun jangan berpikir sangat pendek tentang sang pencipta. Jangan pikirkan ZatKu, tapi lihatlah ciptaanKu.
    Jika ada yang bertanya dimana Aku, maka Aku sedekat urat leher.

  14. Firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 7, nyatanya ayat2 Mutasyabihat ada takwil.
    Cumanya hanya Allah saja yang tahu dan orang2 tertentu yang luas pengetahuan agama serta sentiasa patuh kepada Allah diberi pertunjuk mengenai takwilnya.

    Wahhabi yang psychopathic itsbat texts secara zahiriah langsung menyamakan Allah dengan sifat2 makhluk sedangkan nyata firman Allah “Tidak menyerupai/menyamai sesuatu apapun”. Allah maha suci dari persamaan dengan apa sekalipun. Aqidah Wahhabi adalah aqidah mujssimah dan musyabbihah.
    Perhatikan juga firman2 Allah dalam surah Al Baqarah banyak yang cocok dengan sikap, sifat dan karektor Wahhabi. Jauhilah Wahhabi virus yang menjuruskan ummat ke neraka.

  15. Firman Allah dalam surah Ali Imran, nyatanya ayat2 Mutasyabihat ada takwil.
    Cumanya hanya Allah saja yang tahu dan orang2 tertentu yang luas pengetahuan agama serta sentiasa patuh kepada Allah diberi pertunjuk mengenai takwilnya.

KOLOM KOMENTAR ANDA :