Mengenang Syayyidina Husain: Awas Dituding Syi'ah Oleh Salafy Wahabi

Sayyidina Husain – Kata Pengantar Cerita Pilu Pembunuhan masal Sayyidina Husain oleh Anak Muawiyah

Selama ini ada kesan, jikalau kita bercerita mengenai hal kejadian pembunuhan masal cucu Nabi Saw Syayyidina Husain di Karbala, sementara pengikut Wahabi mendengarnya, maka kita langsung dituduh selaku orang Syi’ah. Dari mulut mereka langsung akan keluar hujatan: “Dasar orang syi’ah!”.
Entah kenapa begitu kuat tertanam dalam hati mereka semacam kebencian kepada kejadian tragedi pilu tersebut. Padahal dari kejadian itu kita dapat ambil pelajaran, betapa penting kedudukan cinta buat keluarga Nabi, sebab cinta kpd keluarga Nabi dapat jadi karena kita masuk surga. Sebaliknya, kita dapat masuk neraka gara-gara dalam hati kita tak perduli kpd keluarga Nabi Saw.
Tatkala Cucu Nabi dibantai keluarga Mu’awiyah, salafy wahabi seakan tidak terusik hatinya, malah mereka sibuk membela Yazid bin Mu’awiyah dengan segala cara. Bahkan mereka langsung memojokkan kita selaku Syi’ah, na’udzubillah. Bukankah logis belaka manakala hati kita merasa perih menguping cerita pembunuhan masal tersebut, sebab ikatan emosi cinta kita yang kuat kpd keluarga Nabi SAW?
Berikut ini kami share cerita sedih dan mengiris  hati kaum muslimin, yaitu mengenai hal pembunuhan masal keluarga Nabi SAW (ahlul bait) oleh keluarga Mu’awiyah yang diwakili khalifah Yazid bin Mu’awiyah. Selamat mengikuti, mudah-mudahan hati kita kian cinta kpd ahlul bait Nabi Saw….
CC BY by D-Stanley

DIALOG SAYYIDINA HUSAIN DAN UMAR BIN SA’AD SEBELUM PEMBANTAIAN DI KARBALA

Sayyidina Husain (untuk menyempurnakan hujjah) menyampaikan pesan kpd Umar bin Sa’ad bahwa beliau ingin berjumpa dan berbicara dengannya. Umar bin Sa’ad menerima undangan Al-Husain. Dirancanglah sebuah perjumpaan antara kedua pasukan, Umar bin Sa’ad dengan dua puluh pasukannya dan Al-Husain dengan dua puluh sahabatnya.
Dalam perjumpaan itu, Sayyidina Husain berkata kpd para sahabatnya, “Kalian keluar dari majelis ini kecuali Abbas dan Ali Akbar.” Umar bin Sa’ad juga berkata kpd pasukannya, “Kalian keluar dari majelis ini, kecuali anakku Hafsh dan budakku.”
Lantas terjadilah dialog:
Sayyidina Husain berkata, “Celakalah engkau! Hai Umar bin Sa’ad, apakah engkau tak merasa takut pada waktu kembali kpd Allah, sebab memerangiku? Tidakkah engkau tahu bahwa saya ialah putera Fatimah dan Ali…. Hai Ibnu Sa’ad! Tinggalkanlah mereka (orang-orang Yazid) dan bergabunglah bareng kami. Itu amat baik bagimu, dan engkau akan dekat dengan Allah.”
Umar bin Sa’ad berkata, “Saya kuatir mereka akan menghancur-leburkan rumahku.”
Al-Husain, “Jika mereka menghancurkannya, saya akan membangunnya kembali.”
Umar bin Sa’ad, “Saya kuatir mereka akan merampas kebunku.”
Al-Husain, “Jika mereka merampasnya, saya akan memberimu tanah yang ada di Hijaz, yang terdapat mata air yang ingin dibeli Muawiyah dengan ribuan dinar, tapi tak dijual kepadanya.”
Umar bin Sa’ad, “Saya punya anak isteri. Saya kuatir mereka akan diganggu dan disiksa.”
Sayyidina Husain terdiam. Beliau tak memberi respon. Lalu beliau bangkit dan menjauh darinya, sambil berkata, “Apa yang sudah engkau perbuat? Semoga Allah membunuhmu di tempat tidurmu. Semoga di hari kiamat, Allah tak mengampunimu. Dan semoga engkau tak memakan gandum dari kota Rayy, kecuali cuma tidak banyak.”
Umar bin Sa’ad menjawab dengan nada meledek, “Cukup sya’irnya saja(maksudnya, kalau tak memakan gandumnya, saya cukup memakan sya’ir – sejenis gandum kualitas rendahan – nya.”
Betapa keji Umar bin Sa’ad. Semoga Allah menimpakan siksaan yang setimpal. Respon terakhirnya kpd Al-Husain sungguh tak masuk akal. Dirinya begitu takut dan kuatir kepada nasib keluarganya (yang katanya akan disiksa dan disakiti). Akan tetapi, hatinya tak merasa sedih apabila keluarga Rasulullah dan puteri-puteri Fatimah disiksa dan disakiti.
Hamid bin Muslim berkata bahwa dirinya ialah teman Umar bin Sa’ad. sesudah kejadian Karbala, ia berjumpa dengan Umar dan menanyakan keadaannya. Umar menjawab, “Jangan engkau menanyakan keadaanku. Tidak seorang pun yang bepergian lalu kembali ke rumah dengan memikul dosa sebesar yang saya pikul, saya sudah memutus hubungan keluarga dan melaksanakan dosa yang amat besar(antara Umar bin Sa’ad dengan Imam Husain masih terdapat hubungan kekerabatan, mengingat ayah Umar bin Sa’ad [Sa’ad bin Waqqash] ialah cucu Abdul Manaf-kakek ketiga Nabi Saw).”

KEBERANIAN LELAKI TAK DIKENAL

Yazid mengeluarkan perintah untuk menghabisi Muslim bin Aqil serta Hani bin Urwah. sesudah syahid, kepala keduanya dipisahkan dari tubuh masing-masing. Lalu sekelompok orang yang tak berperikemanusiaan mengikat jasad Muslim bin Aqil, dan diseret keluar-masuk lorong-lorong di Kufah.
Salah seorang pengikut Sayyidina Husain yang gagah berani bernama Hanzhalah bin Murrah Hamdani yang tengah menunggang kuda, menyaksikan pemandangan amat mengenaskan itu. Ia lalu menanyakan kpd orang-orang itu, “Hai masyarakat Kufah! Apa kekhilafan yang sudah ditunaikan pria ini (Muslim bin Aqil) sehingga kalian menyeretnya semacam itu?”
Mereka menjawab, “Orang ini ialah khariji. Ia sudah menentang perintah Khalifah Yazid bin Muawiyah.”
Hanzhalah berkata, “Untuk Allah, siapakah nama orang ini?”
Mereka menjawab, “Muslim bin Aqil anak paman Al-Husain?”
Hanzhalah menjawab, “Celakalah kalian yang mengetahui bahwa ia  ialah anak paman Al- Husain. Lalu, mengapa kalian membunuhnya dan jenazahnya kalian seret ke sana ke mari?”
Lantas Hanzhalah turun dari kudanya, mengeluarkan pedang dari sarungnya, dan menyerbu mereka, sambil menjerit, “Duhai Tuanku, sama sekali tidak ada kebaikan dalam hidupku sepeninggalmu!” Ia terus bertempur melawan mereka. Hasilnya, empat orang dari mereka terbunuh. Ia akhirnya dikepung dari berbagai penjuru dan dijemput kesyahidan. Mereka lalu mengikat kakinya dan menyeret jasadnya sampai ke alun-alun Kunasah di Kufah dan dibiarkan tergeletak di sana.

ISTERI MAITSAM AL-TAMMAR YANG GAGAH BERANI

Maitsam al-Tammar ialah salah seorang sahabat Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ia ialah sosok yang amat mulia dan gagah berani. Atas perintah Ibnu Ziyad, sepuluh hari menjelang kedatangan Sayyidina Husain ke Karbala, ia dibunuh dan digantung. Ia mempunyai seorang isteri pemberani dan teramat tegar di jalan Islam. Inilah cuplikan bagian keberaniannya.
Sesuai perintah Ibnu Ziyad, jenazah Muslim bin Aqil, Hani bin Urwah dan Hanzhalah bin Murrah tanpa dimandikan dan dikafani dibiarkan tergeletak di alun-alun Kunasah di Kufah. Tidak seorang pun yang berani mengambil dan menguburkan jasad mereka.
Isteri Maitsam yang pemberani itu, mengambil keputusan menguburkan mereka. Di tengah malam, tatkala orang-orang tengah tidur terlelap, diam-diam ia membawa ketiga jenazah itu ke rumahnya. Malam itu juga, jenazah-jenazah itu di bawa ke samping Masjid Agung Kufah. Di situ, ia menguburkan mereka dalam kondisi bersimbah darah suci. Tidak seorang pun yang mengetahui kejadian ini selain tetangganya, yaitu isteri Hani bin Urwah.
Betapa mulia perempuan pemberani itu. Ia sungguh-sungguh layak jadi isteri Maitsam. Ya, pribadi semacam Maitsam, selayaknya mempunyai isteri yang punya keberanian semacam itu. Inilah hasil dari usaha keras sang suami dalam membina, mendidik dan menjadikan isterinya begitu jenius dan bertanggung jawab.

TAUHID MURNI

Suatu hari, Nabi Saw bersabda kpd sekumpulan orang, “Barangsiapa berjumpa dengan Allah, dengan ikhlas mengakui keesaan-Nya, dan kesaksiannya atas keesaan Allah itu tak dicampuri dengan yang lain, pasti akan masuk surga.”
Sayyidina Ali kw berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah! Ayah dan ibuku selaku tebusanmu. Bagaimanakah mengucapkan kalimat ‘tiada Tuhan selain Allah (la ilaha illallah)’ secara murni? Dan bersaksi atas keesaan Allah tanpa dicampuri sesuatupun? Jelaskanlah kpd kami, supaya kami mengetahuinya.”
Nabi Saw bersabda, “Benar, kalau hatinya terikat dengan dunia, manusia memperolehnya (dunia) dengan jalan yang tak dibenarkan syariat. Perbincangan mereka ialah pembahasan orang-orang yang luhur, tapi perbuatan dan perilaku mereka, seperti perilaku orang-orang zalim, dan bila seorang yang bersaksi atas keesaan Allah (dengan mengucapkan la ilaha illallah) sementara berbagai perkara tersebut – terikat dengan dunia, memperoleh dunia dengan cara menabrak syariat, berperilaku  sebagaimana perilaku orang-orang zalim – tidak ada pada dirinya, maka ia layak memperoleh surga.”

NILAI MENCINTAI DAN MENELADANI AHLUL BAIT RASULULLAH SAW

Muyassir bin Abdul Aziz (seorang pecinta setia Ahlul Bait yang tulus dan murni) menjelaskan bahwa dirinya menemui Imam Ja’far al-Shadiq sambil berkata, “Di kisaran rumah saya, ada seorang pria yang sebab menguping suaranya, saya terbangun di malam buta untuk menunaikan shalat malam, terkadang ia membaca Al-Quran dan mengulang-ulang bacaan ayat-ayat Al-Quran sambil menangis, dan adakalanya memanjatkan doa diringi rintihan. Saya ingin sekali mengetahui keadaannya. Orang-orang menjelaskan bahwa ia sama sekali tak melaksanakan dosa apapun (alhasil saya mempunyai seorang tetangga yang amat bertakwa).”
Imam  ja’far Shadiq menanyakan, “Apakah ia juga menerima apa yang engkau yakini (mencintai Ahlul Bait)?”
Muyassir menjawab, “Saya tak menyelidikinya, Allah yang tahu.” sesudah perjumpaan itu, waktu terus bergulir sampai tibalah musim haji di tahun seterusnya.
Sebelum berangkat ke Mekah, ia menyelidiki kondisi tetangganya itu. Ternyata, tetangganya itu tak mencintai Ahlul Bait. Lalu ia berangkat menunaikan haji. Sesampainya di Mekah, ia menemui Imam Ja’far Shadiq.
sesudah menanyakan kondisi beliau, ia menceritakan kembali kondisi tetangganya itu yang selalu membaca Al-Quran dan berdoa sambil menangis dan merintih. Imam lagi-lagi menanyakan, “Apakah ia meyakini apa yang engkau yakini?” saya menjawab, “Ndak.”
Imam berkata, “Wahai Muyassir! Tanah manakah yang paling dimuliakan?”
Saya menjawab, “Allah dan Rasul-Nya, serta keturunannya yang tahu.” Beliau berkata, “Tanah paling mulia ialah tanah yang terletak antara rukn dan maqam (antara Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim). Tanah itu merupakan taman dari taman surga. Begitu pula tanah di antara kubur Nabi Saw dan mimbar beliau SAW, juga merupakan taman dari taman surga.”
“Untuk Allah, jikalau seseorang berumur panjang dan beribadah selama seribu tahun di antara rukn dan maqam dan di antara kubur dan mimbar Nabi Saw, lalu dibantai secara zalim dan tanpa dosa di tempat tidurnya, dan dalam kondisi itu ia berjumpa dengan Allah, tapi tak mencintai dan meneladani kami, Ahlul Bait, maka layak bagi Allah untuk memasukkannya ke neraka jahanam.”

Jasa Website Alhadiy

You might like

About the Author: admin

28 Comments

  1. yang membenci sahabat Rasulullah SAW, selamat deh anda telah mendapatkan tempat di Neraka
    yang membenci Ahlul Bayt Rasulullah SAW, selamat juga anda telah mendapatkan tempat di Neraka.
    yang mencintai Ahlul Bayt & Sahabat Rasulullah SAW, semoga kita dipertemukan dengan Ahlul Bayt Rasulullah SAW, Sahabat Rasulullah SAW & juga dengan Rasulullah SAW di Surga..
    aamiin..
    *kalau mau berbicara dengan dalil, jangan lihat teks & langsung menafsirkan sendiri yah, ilmu anda masih dangkal. pakai tafsir ulama salaf & khalaf, mau pakai tafsir apa? monggo, kita ahlussunnuah wal jama’ah punya kitab tafsirnya yang masih asli belum diedit / diacak2 oleh kaum wahabi / kaum syiah.

  2. yg jelas, wujud dlm mencintai Rasulullah Saw harus jg mencintai apa yg dicintai oleh Rasulullah Saw.
    Rasulullah Saw mencintai cucu2nya…termasuk mencintai Imam Hasan Ra dan Imam Husein Ra, maka kita harus mencintai cucu2 Rasulullah Saw tsb. Kt bayangkan jk Rasulullah Saw hidup dan melihat dg mata kepala beliau bagaimana tubuh cucu2nya itu dianiaya oleh sesama muslim pd peristiwa Karbala…tentunya beliau akan menangis, sebagaimana beliau Saw menangis pd saat putranya yg bernama Ibrahim wafat, atau pd saat pamannya yg bernama Hamzah wafat dlm medan peperangan.
    maka apakah kt tidK memiliki hati nurani, tidak memendam kesedihan thdp peristiwa tragis kedua Imam tsb, malah membela musuhnya. dimana logika kt bicara…

  3. kenapa masalah ahlul bait ini jd ribet ya?
    kalau sy pribadi, di mata sy Imam Hasan Ra dan Imam Husein Ra adalah manusia2 mulia. selain karena mrk memiliki hubungan darah yg cukup dekat dg Rasulullah Saw, mrk jg memiliki akhlak dan keimanan yg luar biasa. maka sepatutnya kita mencintai dan menghormati mrk.
    jk ada org yg bilang mrk bukan pewaris tahta ahlul bait Nabi, biarkan saja….krn kenyataannya mrk adalah keturunan dr Nabi Muhammad Saw, keturunan dr Nabi Ismail As, keturunan dr Nabi Ibrahim As, dst…

  4. APAKAH ADA KETURUNAN AHLUL BAIT?
    Dlm Al Quran yang menyebut ‘ahlulbait’, rasanya ada 3 (tiga) ayat dan 3 surat.
    1. QS. 11:73: Para Malaikat itu berkata: “Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, hai ahlulbait. Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah”.
    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah terdiri dari isteri dari Nabi Ibrahim.
    2. QS. 28:12: Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusukan(nya) sebelum itu; maka berkatalah Saudara Musa: ‘Maukahkamu aku tunjukkan kepadamu ‘ahlulbait’ yang akan memeliharanya untukmu, dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?
    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya, maka makna ‘ahlulbait’ adalah meliputi Ibu kandung Nabi Musa As. atau ya Saudara kandung Nabi Musa As.
    3. QS. 33:33: “…Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu ‘ahlulbait’ dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.
    Ayat ini jika dikaitkan dengan ayat sebelumnya QS. 33: 28, 30 dan 32, maka makna para ahlulbait adalah para isteri Nabi Muhammad SAW.
    Sedangkan ditinjau dari sesudah ayat 33 yakni QS. 33:34, 37 dan 40 maka penggambaran ahlulbaitnya mencakup keluarga besar Nabi Muhammad SAW. para isteri dan anak-anak beliau.
    Jika kita kaitkan dengan makna ketiga ayat di atas dan bukan hanya QS. 33:33, maka lingkup ahlul bait tersebut sifatnya menjadi universal terdiri dari:
    1. Kedua orang tua Saidina Muhammad SAW, sayangnya kedua orang tua beliau ini disaat Saidina Muhammad SAW diangkat sbg ‘nabi’ dan rasul sudah meninggal terlebih dahulu.
    2. Saudara kandung Saidina Muhammad SAW, tapi sayangnya saudara kandung beliau ini, tak ada karena beliau ‘anak tunggal’ dari Bapak Abdullah dengan Ibu Aminah.
    3. Isteri-isteri beliau.
    4. Anak-anak beliau baik perempuan maupun laki-laki. Khusus anak lelaki beliau yang berhak menurunkan ‘nasab’-nya, sayangnya tak ada yang hidup sampai anaknya dewasa, sehingga anak lelakinya tak meninggalkan keturunan.
    Bagaimana tentang pewaris tahta ‘ahlul bait’ dari Bunda Fatimah?. Ya jika merujuk pada QS. 33:4-5, jelas bahwa Islam tidaklah mengambil garis nasab dari perempuan kecuali bagi Nabi Isa Al Masih yakni bin Maryam.
    Lalu, apakah anak-anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali boleh kita anggap bernasabkan kepada nasabnya Bunda Fatimah?. ya jika merujuk pada Al Quran maka anak Bunda Fatimah dengan Saidina Ali tidaklah bisa mewariskan nasab Saidina Muhammad SAW.
    Kalaupun kita paksakan, bahwa anak Bunda Fatimah juga ahlul bait, karena kita mau mengambil garis dari perempuannya (Bunda Fatimah), maka untuk selanjutnya yang seharusnya pemegang waris tahta ahlul bait diambil dari anak perempuannya seperti Fatimah dan juga Zainab, bukan Hasan dan Husein sbg penerima warisnya.
    Dengan demikian sistim nasab yang diterapkan itu tidan sistim nasab berzigzag, setelah nasab perempuan lalu lari atau kembali lagi ke nasab laki-laki, ya seharusnya diambil dari nasab perempuan seterusnya.
    Bagaimana Saidina Ali bin Abi Thalib, anak paman Saidina Muhammad SAW, ya jika merujuk pada ayat-ayat ahlul bait pastilah beliau bukan termasuk kelompok ahlul bait. Jadi, anak Saidina Ali bin Abi Thalib baik anak lelakinya mapun perempuan, otomatis tidaklah dapat mewarisi tahta ‘ahlul bait’.
    Kesimpulan dari tulisan di atas, maka pewaris tahta ‘ahlul bait’ yang terakhir hanya tinggal bunda Fatimah. Berarti anaknya Saidina Hasan dan Husein bukanlah pewaris tahta AHLUL BAIT.

  5. Mereka wahhabi, diakui atau tidak sudah ketahuan bencinya sama Ahlul bait dan keturunannya, kalau boleh cerita,dari apa yang kami pelajari kesimpulan dari sudut pandang kami, dulu Sewaktu Nabi Muhammad sebelum menjadi besar, keluarga yang berkuasa di mekah adalah keluarga Abu sufyan, sehingga sewaktu kepemimpinan di Pegang Nabi , mereka kalah. Namun setelah Nabi wafat dan di lanjutkan kepemimpinan Sahabat utama sampai Sahabat Ali Kwh. Dan sejarah mencatat ketika keluarga abu sufyan mempunyai kekuasaan dan pengikut yang besar, sehingga sewaktu Khalifah Ali mulai terjadi perbedaan dalam perebutan kekuasaan dimana Bani abu Sufyan mungkin merasa yang berhak memimpin bangsa arab adalah keluarga dari abu sufyan ( motifasi dunia ), dan tidak mengakui kalau bangsa arab dipimpin dari Keluarga Nabi. Jadi yang dijadikan dasar hanyalah soal Kekuasaan. jadi silakan pelajari sejarah……
    demikian analisa dari kami kalau benar datangnya dari Alloh SWT , kalau salah datangnya dari diri kami sendiri…….Matur suwun.

  6. Syiah? hahaha… mana ada syariat islam dilandasi dengan statement sebuah keluarga Nabi SAW? Para Habaib cocoknye adalah keturunan Sayidina Ali, Eh… Bib, kalau ente2 ngaku keturunan Nabi SAW berarti Abu Jahal bisa pantes dipanggil Habib juga dong…?

    1. Mustafa Linglung@
      Abu Jahal bukan ketrunannya nabi… keturunannya nabi adalah anak dan cucu2 nya,,,, dasar guoblok,,, pergi sana o’on….

  7. Assalamu’alaikum…
    Maaf, setahu saya, para ‘ulama aswaja selalu berusaha mengubur dalam-dalam peristiwa karbala. Biarlah kesyahidan Sayyidina Husain r.a menjadi hikmah untuk persatuan ummat, dan hal itu akan sia2 jika kita terus berkutat membahasnya. Para missionaris begitu lihai membenturkan sesama umat Islam untuk terus dan terus saling gontok-gontokkan, sehingga kita lupa bagaimana menjadikan Islam yg rahmatan lil ‘alamin, perselisihan ini akan terus dimanfaatkan musuh Islam agar kita lalai dng keluasan Ilmu Islam yg bermanfa’at untuk diri sendiri dan lingkungan.
    Terus terang, sayapun masih belajar apa dan bagaimana menjadi umat Islam. Entah dengan cara bagaimana sy harus mencintaimu Yaa Rasulullah,,, entah dengan cara bagaimana kami menjadi golongan umatmu Yaa Sayyidy, Yaa Habiby Yaa Rasulullah,,,

  8. Kalau Wahhaby menuduh kaum muslimin selain mereka menyembah kuburan, biarkan saja, nanti kalau mereka melihat orang salat menghadap ka’bah mungkin akan dituduh menyembah ka’bah, ada orang salat di belakang dinding masjid akan dituduh menyembah dinding.
    Biarkan orang gila mengigau, yang penting yang pada waras memberi jarak agar selamat dari bahayanya.

  9. Aqidah Wahabi/Salafi menyebabkan mereka mudah mencela sesama muslim
    Aqidah Syi`ah menyebabkan mereka mudah mencela Sahabat Nabi SAW.
    Aqidah Ahlu Sunnah menyebabkan mereka mencintai sesama muslim dan mencintai Sahabat Nabi SAW.

      1. Ronggo lawe linglung @
        Wahabi/Salafi tuh ngacak-ngacak ummat ko dibilang mo memperbaiki ? lagi pula Aqidah wahabi/salafi itu Rusak gi mana mo bisa memperbaiki Ummat ? benerin aja dulu aqidah yang Bid`ahnya itu dulu

  10. Kasihan yg menggunakan label salafi. Hidupnya sempit, nafasnya sesak, ketika non-muslim mengambil hikmah dari syahidnya Imam Husain, tapi mereka membanggakan Umar bin Saad dan Yazid bin Muawiyah.

  11. Sesungguhnya menuduh seorang muslim menyembah kubur itu sama saja menuduhnya musyrik atau kafir. Karena menyembah kubur merupakan bentuk kemusyrikan dan kekufuran yang nyata. Apabila tuduhan itu tak terbukti atau hanya fitnah, maka tuduhan itu akan kembali kepada pihak penuduh.

  12. Wahabi Haram Jaddah …. Mengaku ummat Rasul tapi sinis terhadap keluarganya & keturunannya …
    @ Wijhatul Haqi
    Yang nyembah kuburan siapa coy ?? kayaknya ente salah forum !!

  13. Wijhatul Haqi@
    Anda bisa jelaskan kenapa Salafy Wahabi itu menyembah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhhab, Syaikh Utsaimin, Syakh bin Baz, dan Syaik-syaikh Wahabi yang lain? Silahkan dijelaskan supaya lebih jelas lagi.
    Selain itu apakah pengikut Wahabi berhak mencium bau surga karena benci dan sinis kepada Keluarga Nabi? Silahkan dijawab, Mas terimakasih….

KOLOM KOMENTAR ANDA :