Mengenal Kemungkinan besar Pasar Iran (8)

Mengenal Potensi Pasar Iran (8)

Mengenal Kemungkinan besar Pasar Iran (8)

Industri kulit termasuk industri terlama dunia. menurut temuan sejarah, insan purba memanfaatkan kulit binatang untuk menjaga badan mereka dari panas dan dingin. Seiring dengan berlalunya waktu, insan belajar bagaimana mengubah kulit binatang (kulit mentah) jadi produk kulit melalui samak dan proses kimia serta lalu produk baru tersebut mereka gunakan.

Berbagai peninggalan bersejarah dan kuno yang ditemukan seperti patung dan lukisan memperlihatkan bahwa produk kulit binatang tidak sedikit dipakai oleh warga.

 

Sejarah 3 ribu tahun industri kulit Iran mengindikasikan bahwa para buruh dan pengusaha Iran memanfaatkan kulit untuk pakaian, khususnya sepatu serta membikin berbagai peralatan dan tali untuk binatang. Sejumlah petualang dan wisawatan dunia seperti Engelbert Kaempfer (1651-1716) dan Jean Chardin (1643-1713) yang berkunjung ke Iran di era Dinasti Safawiyah (1502-1722) di catatan perjalanannya (travelogue) mengisyaratkan maraknya produk kulit di Iran.

 

Chardin menyebut bangsa Iran lebih unggul dari bangsa lain di bidang penyamakan kulit. Di catatan perjalanannya, Chardin berbicara secara detail mengenai produksi kulit shagreen Iran waktu itu (1665) yang diekspor ke India dan Timur Dekat. Kulit Shagreen ialah produk olahan kulit yang diproduksi kota Tabriz di era Dinasti Safawiyah. Kulit kategori ini biasanya dipakai untuk memproduksi sepatu dan sepatu bot, khususnya untuk orang-orang kaya dan elit politik di era tersebut.

Produk Kulit

 

Kulit juga dimanfaatkan di seni kerajinan tangan. Penjilidan buku, seni dekorasi kulit, ukiran di atas kulit, lukisan di atas kulit termasuk kerajinan tangan yang bahan baku utamanya ialah kulit. Sejauh sejarah industri kulit di Iran, sejumlah kota seperti Tabriz, Hamedan dan Shiraz dikenal selaku pusat produksi industri ini. Di era Dinasti Qajar (1779-1925), kota Hamedan dikenal selaku pintu sejarah Irand an ibukota sejarah-peradaban Iran serta pusat produksi kulit (kulit Hamedan).

 

Kulit Hamedan terbuat dari bahan baku kulit kambing. Di era Qajar kebanyakan kota di Iran seperti Isfahan, Tabriz dan Hamedan mengekspor produk mereka ke Rusia, Ottoman (Turki waktu ini) dan India.

 

Kulit dibagi jadi 3 bagian, ringan, semi ringan dan berat. Kulit ringan ialah kulit yang bahan bakunya dari binatang seperti kambing dan domba. Kulit ini amat tipis dan dengan seperti ini kulit ini dijadikan bahan baku pembuatan produk seperti sarung tangan, baju dan juga sepatu. Adapaun kulit semi berat ialah kulit dari binatang seperti buaya dan mengingat kelangkaan serta harganya yang mahal, maka kulit kategori ini dipakai selaku bahan baku pembuatan produk mewah. Sementara kulit berat ialah kulit dari binatang seperti sapi, lembu, unta dan lain-lain.

 

Kulit berat mengingat daya tahannya yang tinggi dan kekokohannya dipakai untuk membikin baju perang, bagian atas sepatu, dompet serta ikatan simpul mesin industri. Di antara kulit kategori ini, kulit sapi sebab lebih halus dibandingkan kulit kerbau serta ketebalannya dibandingkan dengan kulit kambing, lebih tidak sedikit dimanfaatkan untuk industri kerajinan kulit.

 

walau sejarah industri kulit lebih lama dari industri pemintalan dan tenun, akan tetapi metode dan teknologi kerajinan kulit sampai dua dekade lalu tak mengalami kemajuan artinya. Pelaku industri ini sesudah melewati berbagai fase dan dengan sokongan bahan kimia, mulai mengolah kulit dari awal sampai siap produk.

 

Proses pengolahan kulit dari awal disebut dengan penyamakan.  Penyamakan kulit ialah suatu proses mengubah kulit mentah jadi kulit tersamak (leather). Penyamakan kulit biasanya dipakai pada hampir seluruh kategori ternak antara lain kulit sapi, kerbau, kambing, kelinci, domba, ikan pari dll, bahkan banyak binatang ekstrim diantaranya ular, harimau dan buaya.

 

Penyamakan kulit merupakan cara untuk mengubah kulit yang bersifat labil dan mudah rusak oleh pengaruh fisik, kimia dan biologi jadi kulit yang stabil kepada pengaruh tersebut. Kulit samak mempunyai sifat spesial yang amat tak sama dengan kulit mentahnya, baik sifat fisis maupun sifat khemisnya. Kulit mentah mudah membusuk dalam kondisi kering, keras, dan kaku. Sedangkan kulit tersamak mempunyai sifat yang awet dan mudah dibentuk jadi segala kategori kerajinan diantaranya tas, jaket, sabuk atau gesper, gantungan kunci, cover buku, dompet dan kerajinan lainnya.

 

Teknik mengolah kulit mentah jadi kulit samak disebut penyamakan. Dengan seperti ini, kulit binatang yang mudah busuk dapat jadi tahan kepada serbuan mikroorganisme. Prinsip mekanisme penyamakan kulit ialah memasukkan bahan penyamak ke dalam jaringan serat kulit sehingga jadi ikatan kimia antara bahan penyamak dan kulit didalam serat kulit.

 

Dalam proses penyamakan dikenal adanya sistem penyamakan berbulu dan tak berbulu. Sistem penyamakan berbulu tentunya ditujukan untuk mempertahankan keindahan bulunya sedangkan penyamakan tak berbulu tentunya sengaja ditujukan untuk menghilangkan bulu. Sekilas yang membedakan kedua proses ini ialah dilakukannya proses pengapuran pada sistem penyamakan tak berbulu dengan maksud supaya mempermudah dalam menghilangkan bulunya.

Proses penyamakan kulit

 

Terdapat 3 tahapan pokok dalam industri penyamakan kulit yaitu : Pertama: Pretanning atau Pengerjaan basah (Beamhouse). Aktifitas ini bermaksud untuk mengawetkan kulit mentah supaya dapat bertahan sampai penyamakan sesungguhnya dikerjakan. Aktifitas ini dinamakan dengan pengerjaan basah yang meliputi proses perendaman (Soaking), pengapuran (Liming), pembuangan kapur (Deliming), baitsen (Bating), dan pengasaman (Pickling).

 

Adapun maksud dari masing-masing aktifitas yaitu : Perendaman bermaksud untuk mengubah keadaan kulit kering jadi lemas dan lunak. Pengapuran bermaksud untuk menghilangkan bulu dan epidermis, kelenjar keringat dan lemak, zat-zat yang tak diperlukan, memudahkan pelepasan subcutis, dsb. Pembuangan kapur bermaksud untuk menghilangkan kapur yang terkandung dalam kulit, sebab penyamakan dikerjakan dalam keadaan asam sehingga mesti terbebas dari kapur yang bersifat basa. Adapun Bating merupakan proses penghilangan zat-zat non kolagen. Pengasaman bermaksud membikin kulit bersifat asam (pH 3,0 – 35), supaya kulit tak bengkak bila bereaksi dengan obat penyamaknya.

 

Kedua: Penyamakan (tanning), kulit pickle direndam pada bahan penyamak, yang proses penyamakannya terdiri dari penyamakan nabati, penyamakan krom, penyamakan kombinasi, dan penyamakan sintesis. Tahapan proses penyamakan disesuaikan dengan kategori kulit. Kulit dibagi atas 2 golongan yaitu hide (untuk kulit dari binatang besar seperti kulit sapi, kerbau, kuda dan lain-lain), dan skin(untuk kulit domba, kambing, binatang melata dan lain-lain). Kategori zat penyamak yang dipakai mempengaruhi hasil akhir yang diperolah. Penyamak nabati (tannin) memberikan warna coklat muda atau kemerahan, bersifat agak kaku tapi empuk, kurang tahan kepada panas. Penyamak mineral paling umum mempergunakan krom. Penyamakan krom menghasilkan kulit yang lebih halus / lemas, dan lebih tahan kepada panas.

 

Ketiga:Penyelesaian akhir (finishing), prosesnya terdiri dari pengetaman (shaving), pemucatan (bleaching), penetralan (neutralizing), pengecatan dasar, peminyakan (fat liquoring), penggemukan (oiling), pengeringan, pelembaban, dan perenggangan. Aktifitas sesudah penyamakan kulit terdiri atas pengetaman (shaving), pemucatan (bleaching), penetralan (neutralizing), pengecatan dasar, peminyakan (fat liquoring), penggemukan (oiling), pengeringan, pelembaban, dan perenggangan.

 

sesudah proses penyamakan selesai, tiba giliran pewarnaan. Di zaman kuno, proses pewarnaan kulit yang sudah disamak dikerjakan dengan mengguanakan bahan-bahan alami. Namun sekarang berbagai zat pewarna kimia marak di pasar dan dipakai untuk mewarnai kulit yang sudah disamak. Di sisi lain, para maestro industri ini masih berkeyakinan bahwa pewarna alami lebih unggul dan tetap sanggup mempertahankan keaslian kulit. sesudah diwarnai, kulit lalu dikeringkan dan dihalusnya dengan batu sampai mengkilap.

Image Caption

 

Kulit berkualitas dan disamak dengan baik tak mudah terbakar dan waktu terbakar akan memberikan aroma rambut yang terbakar. Sementara waktu basah, tak akan mengeluarkan bau busuk, tak mengeras, tak mudah berjamur, tak menyerap bau badan serta tak memerlukan perawatan spesial dan awet selama bertahun-tahun.

 

Di Iran dan di awal tahun-tahun abad ke-20 serta seiring dengan pengoperasian pabrik kulit di kota Tabriz dan Hamedan, untuk pertama kalinya di sejarah industri kulit Iran, proses pengolahan kulit mentah jadi kulit jadi tak lagi mempergunakan cara tradisional. Seiring dengan berlalunya waktu, pabrik industri kulit di Iran terus bertambah. Saat ini diberbagai kota Iran seperti Tehran, Tabriz, Mashad, Hamedon serta berbagai kota lainnya, pabrik pengolahan kulit dapat ditemukan.

 

Iran sekarang tercatat selaku 3 negara utama produsen kulit ringan (kulit kambing dan domba). Semenjak dulu sampai sekarang tidak sedikit diminati mengingat kualitasnya yang unggul. Dengan seperti ini Iran tercatat selaku penyuplai terbesar industri penyamakan dunia untuk kulit kambing dan domba baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Tiap-tiap tahun Iran memproduksi lebih dari 22 juta lembar kulit domba dan 80 persennya diekspor ke luar negeri.

 

 

Source by Hakim Abdul

You might like

About the Author: Hakim Abdul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.