Mengenal Kemungkinan besar Pasar Iran (6)

Mengenal Kemungkinan besar Pasar Iran (6)

Industri permadani Iran mempunyai sejarah ribuan tahun. Kehalusan dan keindahan desain yang dipakai demi produk ini selama bertahun-tahun terus mengalami penyempurnaan. Maha karya Iran ini selama bertahun-tahun mengalami pasang surut, tapi beginilah karya dan seni bangsa Iran ini masih tetap bertahan sampai ketika ini.

Shirin Souresrafil, desainer permadani sekaligus penulis Iran menjelaskan, “Desain utama permadani Iran ndak bakal pernah luntur, pasalnya desain ini berhubungan erat dengan sejarah, budaya dan seluruh seni tradisional bangsa Iran. Sama seperti lukisan dan desain kubah firoze (turquoise domes) Masjid Jami’ Isfahan, desain prasasti batu dan tiang Persepolis dan lukisan tradisional (miniatur) Reza Abbasi ndak pernah pudar.”

Transformasi sejarah, karakteristik iklim, inovasi dan kreativitas termasuk faktor dan prestasi yang dihasilkan para seniman Iran dalam menciptakan karyanya termasuk permadani. Ada empat sisi unggul di permadani Iran, desain kuno dan tradisional, pemanfaatan zat pewarna alami, kategori dan dipertahankannya teknik-teknik serta ketekunan dan ketepatan ketika menenun.

Permadani Iran

Sampai awal abad ke-20, proses pewarnaan permadani Iran cuma dengan mempergunakan pewarna alami. Hal ini sebab iklim berbagai wilayah Iran memungkinkan beragam bunga tumbuh dengan baik serta berbagai spesies binatang juga hidup di berbagai wilayah negara ini. Di samping itu, kekayaan alam seperti tambang di Iran memungkinkan para seniman negara ini memanfaatkan dengan baik kekayaan alam ini dan mempersiapkan pewarna terbaik. Tidak diragukan lagi bagian faktor kualitas ialah keindahan dan ketahanan permadani Iran yang dapat ditelusuri dari ketelitian dalam proses pewarnaan.

menurut bukti dan kesaksian maestro bidang ini, semenjak dulu sampai sekarang sudah sukses disusun 3 ribu masyarakat dengan metode tradisional di Iran. Di berbagai kota di Iran seperti Yazd, Kashan dan Isfahan tidak sedikit ditemukan pabrik pewarnaan. Uniknya meski sudah ditemukan zat pewarna kimia, tapi para seniman permadani di Iran masih cenderung mempergunakan zat pewarna alami dan pengolahannya secara tradisional.

Karakteristik unggul lain permadani Iran ialah desain dan lukisan yang dipakai. Sejumlah pengamat di industri permadani membagi perdamadi Iran sebagai 19 kubu berdasarkan desain dan lukisannya. Pola Shah Abbasi, Aslimi, Ladang perburuan, Ilitai, Geometri dan pola-pola kuno serta peninggalan bersejarah termasuk desain permadani Iran.

Terkadang di sebuah karya permadani dipakai banyak desain, misalnya pola Shah Abbasi yang mempunyai banyak ragam seperti pola bunga. Pola bunga ini biasanya digabungnya dengan pola lain seperti Aslimi dan Khatai serta berbagai pola lain yang kerap dimanfaatkan di Iran. Pola Khatani, pola lain di permadani Iran dan contoh dari pola bunga. walau pola Khatani dan Aslimi mempunyai kesamaan, akan tetapi para ahli menyebut pola Aslimi cenderung lebih kuat dan keras, sementara pola Khatani lebih halus.

Pola lain di permadani Iran ialah pola Ilyati. Permadani dengan pola ini mempergunakan anasir alami seperti bunga dan gambar binatang. Bagian karakteristik dari pola Ilyati ialah sisi geomatrisnya dalam bentuk bunga dan binatang. Ini termasuk pola paling kuno di permadani Iran dan sampai ketika ini masih tetap dipakai di antara masyarakat pedesaan khususnya berbagai etnis di Iran.

Pola Ilyati merupakan hasil dari renungan dan kecenderungan penenun dari berbagai suku nomaden dan tanpa desain sebelumnya. Permadani ini ditenun cuma dengan mengandalkan kemungkinan besar para penenun. Permadani ini termasuk tenunan asli dan tradisional serta tidak sedikit digemari di dunia. Permadani dengan pola Ilyati diproduksi oleh etnis Turkman, Qashqai, Bakhtiari, Lurs dan Kurdi Iran.

Pola lain yang tidak sedikit dipakai oleh penenun permadani Iran ialah pola bangunan, hiasan dan ubin. Terkadang para penenun mengubah pola ini sesuai dengan seleranya, akan tetapi pola yang dihasilkan masih mempunyai kesamaan dengan bangunan asli. Permadani paling terkenal dari pola ini ialah permadani dengan pola kubah masjid Sheikh Lotfollah di Isfahan, Masjid Emam di Isfahan, Perspolis di Shiraz dan kubah Imamzadeh Mahroq di Nishabur.

Loading...
loading...

Penduduk Iran yang akrab dengan tenunan permadani biasanya menyebut permadani berdasarkan pola tenunannya. Sementara itu di dunia, pola Iran dikenal dengan asal permadani tersebut. Seperti permadani Duydukh yang diproduksi di desa Duydukh, di Provinsi Khorasan Utara oleh suku Turkman. Wilayah ini selain mempunyai kuda Turkman, juga menghasilkan permadani indah karya masyarakat setempat serta tidak sedikit diminati di dunia.

Permadani Iran

Di antara karakteristik tenunan permadani Duydukh selain kualitas, teknik dan keanggunannya ialah subjektivitas selaku besar desainnya. Permadani yang mempergunakan benang sutra dari dua sisinya ini diwariskan dari generasi ke generasi gadis dan wanita Turkman. Permadani ini mempunyai konsumen esklusif dan cuma dalam bentuk pesanan. Negara-negara konsumen permadani Duydukh ialah Kanada, Jerman, Austria, Italia, Lebanon, Rusia dan Jepang.

hingga ketika ini berbagai wilayah penghasil tenunan permadani di Iran sudah dicatat oleh Organisasi Hak atas Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO). Kota-kota tersebut ialah Tabriz, Heris, Khoy, Isfahan, Qom, Mashad, Hamedan, Kashmar, Kashan, Kerman, Nain, Saruq (Arak), Yazd, Ardabil, Turkman (Golestan).

Di antara kota-kota tersebut, Tabriz yang mempunyai museum, lokakarya seni dan budaya, peninggalan bersejarah dan Islam, tuan rumah berbagai festival seperti produk pertanian, industri handmade (kerajinan tangan) serta produk suku nomaden terpilih selaku ibukota pariwisata negara-negara Islam di tahun 2018. Kota Tabriz juga meraih gelar Kota Dunia Tenun Permadani dari Dewan Dunia Industri Handmade (World Crafts Council). Keberadaan museum permadani dan pasar bersejarah Mozaffarieh selaku bagian pusat penting reparasi karya permadani membikin kota ini terpilih selaku Kota Dunia Tenun Permadani.

Di Iran tidak sedikit lembaga yang bergerak demi mempromosikan dan meningkatkan kuantitas serta kualitas industri permadani. Di antara lembaga tersebut ialah Pusat Permadani Nasional Iran yang memulai aktivitasnya semenjak tahun 2003 demi mempromosikan tenunan permadani Iran baik di dalam maupun luar negeri, menyokong produsen permadani serta meningkatkan ekspor produk ini.

Pusat Nasional Permadani Iran sampai ketika ini sudah menggelar berbagai pameran di dalam negeri. Lembaga ini juga menfasilitasi para produsen dan pengrajin tenun permadani demi berpartisipasi di berbagai pameran internasional. Selama pameran internasional tenun permadani ke-25 yang dihelat di Tehran, Iran, diluncurkan situs internet berbahasa Inggris terkait ensiklopedia permadani dengan alamat www.wikicarpet.com. Ensiklopedia memperoleh sambutan besar dari pecinta permadani Iran.

Selama banyak tahun terakhir sejumlah negara yang aktif di industri permadani seperti India, Pakistan, Afghanistan, Cina, Mesir, Rumania dan berbagai negara lain memproduksi permadaninya menyebutnya produksi Iran atau menjiplak pola serta desain permadani Iran dan memasarkannya di pasar dunia. Tapi kerajinan tenun permadani Iran masih menduduki posisi pertama dunia dan diminati oleh berbagai pecinta permadani di dunia.

Permadani Iran

Baru-baru ini Iran mengikuti Pekan Raya “One Commune One Product” (OCOP) di Provinsi Quang Ninh, timur laut Vietnam. Di pekan raya ini, Iran memamerkan berbagai produk dan kerajinan tangan termasuk permadani selaku usaha demi memperkenalkan sebagian dari kapasitas ekonomi Iran di negara Asia Tenggara itu.

Ketua Majelis Nasional Vietnam, Nguyen Thi Kim Ngan waktu singgah di stan Iran di tempat Pekan Raya OCOP, mengumumkan ketertarikan dengan produk Iran yang beredar di pasar Vietnam. Dia juga memuji para seniman Iran dalam menenun permadani dan memproduksi kerajinan tangan, serta menekankan perlunya memberikan akses yang lebih luas sehingga warga Vietnam dapat mengenal kapasitas budaya Iran.

Loading...

Source by Hakim Abdul

loading...

You might like

About the Author: Hakim Abdul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *