Mengenal Habib yang Berani Kritik Habib Rizieq Shihab

Jakarta Munculnya sosok Habib Rizieq Shihab sang imam besar Front Pembela Islam (FPI) yang kontroversial di tengah-tengah ummat Islam dan penduduk Indonesia mencuatkan respon beragam atas penyandang gelar habib (anak cucu Nabi Muhammad saw) secara keseluruhan.

Akibat pandangan dan tindakan Habib Rizieq yang kontroversial, tak jarang berbagai penilaian yang mengarah ke gelar habib bahwa saban habib sebagaimana Habib Rizieq. Akibatnya ada stigma buruk yang dialamatkan ke penyandang gelar habib. Di sisi lain, kalangan habaibnya ada yang merasa galau dengan apa yang dilaksanakan Habib Rizieq dan pandangan-pandangan Habib Rizieq soal Islam dan keindonesiannya dan ada pula yang setia menyokong Imam besar FPI itu.

Bagian habib yang merasakan kegelisahan itu ialah Habib Husein Al Muhdhor atau lebih sering dipanggil Acin Muhdhor. Dirinya merasakan kegelisahan itu dengan mecatat surat terbuka untuk Habib Rizieq di websitenya yang diberi judul Surat Terbuka dari Habib ke Habib.

Acin menerangkan, surat terbukanya itu ditanggapi dengan komentar beragam. Beberapa yang mengkritiknya bahkan mengecamnya, dan beberapa pula yang membelanya. menurutnya, kebanyakan yang mengkritik dan mengecamnya bahkan dari kalangan habaib.

Terkait dengan surat terbuka yang pro dan kontra itu, Satu Islam mewawancarai Acin Muhdor. Berikut wawancaranya:

Apa yang melatarbelakangi anda mecatat surat terbuka untuk Habib Rizieq?

Itu muncul karena sebuah kekecewaan ke sikap berbagai orang yang mendiskreditkan gelar habib karena ulah satu sosok atau berbagai orang yang mempergunakan nama habib kemudian gelar habib selaku sasaran. Seakan-akan gelar habib cuma direpresentasi oleh satu sosok atau beberapa orang saja. Itu yang pertama.

Yang kedua, saya wajib menerangkan hal ini.

Kenapa kok wajib?

Saya mewakili beberapa habib. Ada berbagai orang yang berpandangan sebagaimana saya, baik itu dari kalangan habaib atau tak. Ada pun beberapa orang pecinta habib yang tersinggung atas caci makian ke habib. Begini mas, waktu berada di posisi netral tentu gak melaksanakan apa-apa. Kan ada dua sikap, pertama ikut mencela, ikut mencaci maki juga, berada di barisan para hater. Yang kedua berada di posisi yang mengkritik yang memberikan sebuah gagasan bahwa habib tidak direpresentasi oleh satu sosok. Walaupun sebagian orang yang krisis pikiran mencerna kritikan selaku penghinaan. Tentunya itu tak problem saya.

Ada juga habib model begini, ada juga habib yang model kayak gitu. Ada habib yang keras, ada habib yang halus, ada habib yang pake sorban, pake jubah, bahkan ada habib pake jins. Macam-macam habib itu.

Kenapa anda menilai apa yang dikerjakan Habib Rizieq meresahkan habib secara keseluruhan, bukankah habib yang sepandangan dengan Habib Rizieq juga ada?

Habib yang sepandangan dengan Habib Rizieq beberapa. Habib yang tidak sama pandangan dengan Habib Rizieq pun beberapa. Habib tidak wajib dikelompokkan waktu anda habib, anda wajib yang sepandangan dengan habib Rizieq, tidak seperti itu. Yang perlu saya tegaskan ialah saya memperoleh kritikan, saya memperoleh serbuan dengan menjelaskan apa yang saya tulis itu bermuatan politis. Dianggapnya apa yang saya tulis itu berhubungan dengan Ahok (Basuki Tjahaja Purnama). Gak ada hubungan sama sekali dengan Ahok wa la pemilu, wa la apa. Sama sekali gak ada hubungan dengan itu seluruh.

Surat terbuka yang saya lontarkan sesungguhnya tak kritik private untuk Habib Rizieq semata, tapi itu kritik untuk seluruh habib, untuk seluruh orang yang menyandang gelar habib. Dan kemudian mempergunakan gelar habib untuk kepentingannya sendiri yang kalau dibiarkan jadi resistensi bagi yang menyandang gelar habib.

Anda mengumumkan kritik ke habib bila dikerjakan bukan habib dicurigai tendensius, Sanggup dijelaskan?

Ya sanggup dinilai seperti ini. Ya bakal dicurigai tendensius. Kenapa? Karena sanggup muncul pernyataan kamu ini tak habib mengkritik habib, sudahlah habib itu hormati saja. Saya yang habib ini waktu membikin surat terbuka untuk Habib Rizieq, dinilai kehabiban saya palsu kok, apalagi yang tak habib. Saya dinilai kehabiban saya palsu. Bahkan ada yang bilang kehabiban saya gantungan kunci hehehe, padahal sama sekali saya gak menghina Habib Rizieq. Sanggup dibayangkan gak saya yang habib mengkritik Habib Rizieq saya dibilang kehabiban saya gantungan kunci. Bayangkan kalau tak habib yang mengkritik.

Kritik saya yang tidak menghina yang tidak menyudutkan Habib Rizieq bahkan saya memanggil beliau dengan wahai saudaraku Habib Rizieq Sihab, saya memberikan saran saya pun memuji di dalam surat terbuka itu dan ada indikasi tulisan saya yang mempertunjukkan sikap respek saya ke beliau, saya dituduh melaksanakan diskriminasi melalui tulisan ke Habib Rizieq. Digugat kehabiban saya. Dikatakan kehabiban saya palsu. Bagaimana kalo tak habib yang mengkritik?

Sanggup dijelaskan efek buruk lainnya atas tindakan Habib Rizieq?

Dengan menghina penyandang gelar habib karena perilaku Habib Rizieq ya pasti ada efek negatifnya. Beberapa habib yang gak tau mengenai sepak terjang FPI (Front Pembela Islam). Bahkan beberapa habib yang gak faham persoalan pilgub, politik dan persoalan kebangsaan. Namun mereka wajib menerima stigma buruk bahwa habib itu identik dengan anarkisme.

Efek buruk tulisan saya itu ya terang ada, ke saya pribadi. Saya dibenci oleh beberapa habib karena dinilai memerangi habib dan dinilai tidak berada di barisan yang sama dengan Habib Rizieq. Padahal tulisan saya tak semata mengkritik Habib Rizieq atau soal keberpihakan atau ketidak berpihakan. Sebagian orang menuntut saya untuk mendatangi Habib Rizieq. Waktu itu konteksnya personal saya berbicara dengan Habib Rizieq secara langsung, ya gak jadi hikmah buat semuanya.

Tujuannya untuk menyadarkan seluruh orang termasuk saya, bahkan yang tak habib wajib tau bahwa habib tidak direpresentasi oleh satu sosok habib. Akan tetapi sebagian orang menuduh apa yang saya lakukan sebab saya pengecut. Berbagai yang datang ke saya ingin menjembatani perjumpaan saya dengan Habib Rizieq, padahal saya kapan pun sanggup mendatangi Habib Rizieq.

Sebagian orang ada yang menilai saat menjelang pilkada, pemilu dan pemilihan presiden, habaib ditarik-tarik ke persoalan politik kekuasaan. Apa pandangan anda?

Saya menilai itu terjadi karena ada habib yang memang semenjak awal mempunyai kecenderungan melibatkan diri ke persoalan politik kekuasaan. Terkait pernyataan Habib Rizieq menjelang pilkada DKI misalnya, karena statemen-statemen itu menggiring opini tiap-tiap orang bahwa gerakan Habib Rizieq itu gerakan politik, tak gerakan membela agama. Itu yang saya khawatirkan.

Saya gak ingin kejadian masa lalu menjelang pesta demokrasi terus lantas habib ditarik ke persoalan politik kekuasaan dihubungkan dengan surat terbuka saya. Dan saya kuatir pembelaan orang ke Habib Riziq malah merugikan Habib Rizieq sendiri. Saya sudah ingatkan di dalam surat terbuka saya waspadai penyusup yang melaksanakan pembusukan dari dalam.

Kabarnya ada beberapa habaib di Madura yang ikut-ikut melaksanakan unjuk rasa pada 4 November yang akan datang, menurut anda bagaimana?

Memang ada habib yang mempunyai kecenderungan politik kekuasaan dan ada juga yang tak. Ada habib yang menegur Habib Riziq karena menentang Ahok dan ada habib yang menegur Habib rizieq mengapa tidak menyokong Ahok.

Anda menduga habaib Madura yang ikut-ikut unjuk rasa 4 November itu mempunyai kepentingan politik?

Layak dipertanyakan ke mereka mengapa mereka tak penduduk DKI, mereka penduduk Madura kok unjuk rasa menolak Ahok? Sanggup jadi mereka memang membela kitab suci tapi pun gak salah waktu ada yang menganggapnya bermuatan politis.

Persoalan surat Al Maidah yang diributkan itu masih ikhtilaf tafsirnya dan video Ahok itu pun sanggup ditafsirkan macam-macam. Persoalan kitab suci itu rumit, ada kajian sendiri soal tafsir dan melibatkan para ahli tafsir. Persoalan video Ahok itu kan masih dalam proses hukum. Belum ada keputusan hukum apakah Ahok menghina Alquran atau tak.

Terimah kasih atas wawancaranya.

Sama-sama. Oh iya, selaku penutup dari wawancara ini, yang perlu digaris bawahi ialah habib tidak direpresentasi oleh satu sosok atau beberapa sosok. Habib itu bermacam-macam kategori, karakter, pandangan, dan tingkat intelektualnya. Ada habib konservatif, ada habib liberal, ada habib moderat. Habib yang radikal dan anarkis pun ada. Habib yang sufi beberapa.

Habib itu beraneka macam. Dengan kondisi yang seperti ini jangan menghujat habib cuma karena ulah satu orang atau beberpa orang habib.

Silahkan mau menyokong Ahok atau menentang Ahok. Silahkan menyokong Habib Rizieq atau menentang Habib Rizieq. Itu gak ada hubungannnya dengan gelar habib. Dan gak ada keharusan mengikuti habib, karena habib itu relatif alias gak mutlak. Habib itu bukan kemuliaan dan standar kebenaran.

Habib sanggup salah dan sanggup benar. Habib sanggup mempunyai maksud mulia atau tidak mulia. Ini bukan kritik secara personal ke Habib Rizieq, ini kritik juga ke seluruh penyandang gelar habib dan kritik ke pecinta habib maupun pembenci habib.

Saya membikin surat terbuka supaya seluruh orang sanggup baca. Kalau saya mengkritik Habib Rizieq dengan mendatangi beliau ya selesai persoalannya dan cuma saya dan beliau saja yang tau. Yang terpenting bagi saya surat terbuka itu pesannya sampai ke beberapa orang. [SI]

You might like

About the Author: admin

KOLOM KOMENTAR ANDA :