Mengakui Aksi anarkis dalam Islam

Mengakui Aksi anarkis dalam Islam

Ilustrasi (Foto: Google Image)

Aksi terorisme kembali terjadi. Kali ini, kebiadaban tersebut berlangsung di 3 gereja di Surabaya dan mematikan puluhan orang . Semirip aksi-aksi serupa yang pernah sebelumnya terjadi, aksi anarkis tersebut disinyalir didasari oleh ideologi keagamaan yang menekankan perlunya jihad dan indahnya mati syahid.

Realitas tersebut sering kali memanen perdebatan panjang di media cetak, elektronik, maupun media sosial. Di satu sisi, cendekiawan Muslim enggak henti-hentinya mengutuk segala tindak aksi anarkis dan menekankan Islam selaku agama damai. Di lain sisi, sejumlah tokoh mempersoalkan kedamaian Islam yang selama ini diumbar. Mereka beranggapan bahwa bakal jauh lebih bagus kalau para ulama dan cendekiawan Muslim mengakui keberadaan akar aksi anarkis dalam ajaran Islam sehingga jalan penyelesaian teologis dapat lebih mudah dicari.

Perdebatan Islam dan relasinya dengan kedamaian/aksi anarkis ialah bahasan menarik. Akan tetapi sepertinya ada pertanyaan mendasar yang luput dari wacana tersebut yang sesungguhnya amat penting guna ditilik ulang. Sepertinya kedua belah pihak percaya bahwa aksi anarkis ialah sebuah fenomena yang bisa dan wajib dihilangkan untuk memfasilitasi terciptanya kedamaian. Logikanya ialah kalau aksi anarkis lenyap, maka kedamaian muncul. Pertanyaannya lalu ialah mengenai konsep “damai” dan keboleh-jadian realisasinya. Apakah bisa jadi kedamaian selaku sebuah kondisi terwujud? Apakah bisa jadi insan di dunia sanggup melenyapkan aksi anarkis dari kehidupan?

Aksi anarkis ialah sebuah realitas yang bakal senantiasa diperlukan dalam kehidupan insan. Sejumlah filsuf bahasa, misalnya, menerangkan betapa bahasa insan ialah sebuah tindak aksi anarkis. Bagus dalam suara yang memecah keheningan, torehan tinta yang melukai kertas, maupun dalam fungsi deiktik bahasa yang membentuk subjek diskursus. Aksi anarkis pada alam pun terjadi pada ketika insan membabat hutan untuk mengolah perkebunan. Atau pada penebangan hutan guna membangun tempat tinggal dan infrastruktur. Agama-agama samawi-pun diawali dengan momen aksi anarkis, dengan perusakan kepada patung-patung berhala kaum politeis. Negara-Bangsa, selaku pemegang monopoli aksi anarkis pun bakal senantiasa mempergunakan tindak aksi anarkis bagus dalam mendisiplinkan masyarakat negara, maupun menjaga teritori dari ancaman eksternal.

Kalau beginilah, apakah kedamaian selaku sebuah kondisi bisa terwujud? Kalau kedamaian didefinisikan selaku ketiadaan aksi anarkis (absence of violence), maka jawabannya bukan. Insan dan dunianya takkan pernah luput dari aksi anarkis. Bisa jadi, kedamaian ialah sebuah konsep aspiratif. Sebuah impian dan harapan atas masa depan yang lebih cerah. Bisa jadi kedamaian enggak bakal pernah bisa direalisasikan, sebab ia sebatas sebuah tamsilan kebahagiaan.

Kedamaian bisa jadi enggak bakal pernah diaktualisasi, tetapi selaku sebuah visi, ia mempunyai fungsi. Fungsi kedamaian ialah selaku sebuah aspirasi, suatu impian yang senantiasa “bakal datang”. Semirip halnya demokrasi murni yang menurut filsuf Jacques Derrida ialah sesuatu “yang bakal datang” (to come) tanpa pernah datang. Selaku sebuah aspirasi, kedamaian mempunyai fungsi selaku wacana regulatif yang mencoba mengatur interaksi insan dalam sebuah formasi sosial. Aspirasi inilah yang senantiasa tersuarakan dan terdengar pada ketika tiap Muslim mengucapkan salam pada sesama sambil mengharapkan balasan.

Ada sejumlah implikasi penting dalam memaknai aksi anarkis selaku realitas kehidupan insan dan kedamaian selaku sebuah aspirasi. Pertama, aksi anarkis tidak fenomena sui generis yang wajib serta-merta diserang dan dihilangkan. Menyerbu dan menghilangkan aksi anarkis pun sebuah aksi aksi anarkis. Ada tidak sedikit bentuk aksi anarkis konstruktif yang wajib tetap terwujud dalam kelangsungan kehidupan insan. Terdapat pun aksi anarkis seremonial, semisal penyembelihan binatang qurban, yang sebagai bagian penting dari agama.

Dengan beginilah, bukan ada yang salah dengan menyebut Islam selaku agama yang mempunyai elemen aksi anarkis sebab bukan seluruhnya bentuk aksi anarkis serta merta buruk. Kalau para cendekiawan Muslim berhenti mengumbar kedamaian Islam dan mengakui adanya elemen aksi anarkis dalam agamanya, maka mereka bakal ada di posisi yang lebih bagus guna meregulasi bentuk-bentuk aksi anarkis yang otoritatif dan yang bukan. Menolak elemen aksi anarkis dalam agama bukan bakal membantu penyelesaian problem. Penolakan tersebut cuma sebuah bentuk pelarian dari problem.

Kedua, bahwa kedamaian ialah sebuah aspirasi tanpa aktualitas bakal membantu kita guna senantiasa menginginkan kebaikan di masa depan. Kedamaian selaku aspirasi pun bakal menyembuhkan banyak tendensi pesimistis yang kerap muncul di tengah warga. Aksi terorisme enggak membuktikan ketiadaan kedamaian. Ia cuma sebuah pengingat bahwa kita tetap wajib bekerja lebih keras untuk mencapai impian tersebut, walaupun pada akhirnya kedamaian sempurna enggak bakal pernah tercipta. Yang cuma bisa jadi digapai ialah minimalisasi aksi anarkis.

Ketiga, selaku perangkat regulatif, aksi anarkis dan kedamaian wajib senantiasa ada. Keduanya mewujudkan etika konflik. Keberadaan integral aksi anarkis menjadikan kita lebih berhati-hati dalam memilah aksi anarkis yang positif dan buruk. Kedamaian selaku aspirasi menjadikan kita terus bertahan dalam optimisme di tengah deru konflik yang bakal senantiasa terjadi. Keduanya mempunyai kemungkinan besar guna mengubah konflik antagonistik antar insan dan kubu sebagai apa yang disebut Chantal Mouffe selaku “konflik agonistik”. Agonisme mengakui keberadaan permanen konflik dalam ranah kehidupan, dan mengakui aspek-aspek positif konflik (yang terkontrol) dalam mewujudkan formasi sosial yang lebih dinamis dan terbebas dari pemaksaan dan penyeragaman.

Kutukan kepada aksi anarkis kerap dilontarkan dan sepertinya bukan membuahkan hasil konkret. Bisa jadi telah saatnya aksi terorisme baru-baru ini dijadikan sebuah momen untuk menilik kembali pemahaman kita soal aksi anarkis dan kedamaian. Tidak cukup tepat mendudukkan aksi anarkis dan kedamaian dalam kerangka oposisi biner. Aksi anarkis ialah sebuah keniscayaan, sedangkan kedamaian ialah sebuah aspirasi. Selaku realita dan aspirasi, keduanya mempunyai fungsi penting dalam meregulasi aksi anarkis, membentuk etika konflik, dan menumbuhkan kedewasaan publik dan politik.

Ismail Fajrie Alatas

(tirto.id/ suaraislam)

You might like

About the Author: Ahmad Zaini

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.