Jasa Web Alhadiy
Inspirasi Islam

Mengaku Tak Bermazhab Itu Keblinger

Mengaku Tidak Bermazhab Itu Keblinger – Beberapa tahun yang lalu, sekitar tahun 2004, saya pernah terlibat semacam debat kusir dengan seorang teman kerja. Lumayan alot dan tanpa ujung-pangkal, sebab berlangsung beberapa hari di sela-sela kegiatan kerja kami. Garis besar masalah yang kami ‘debatkan’ adalah mengenai perlu tidaknya bermazhab bagi seorang muslim yang masih awam seperti kami waktu itu. Dia bilang bahwa saya taklid buta karena bermazhab. Karena itu dia menyarankan dan mengajak saya untuk ikut dengannya mengaji kepada gurunya.

Saya akui terus terang kepadanya tanpa keraguan bahwa mazhab saya Syafi’i. Tapi jangan salah sangka bahwa saya fanatik mazhab. Sebab saya juga  sangat toleran dengan apa yang ada di mazhab Maliki, Hambali dan Hanafi. Justru saya merasa harus bermazhab, sebab dari mana kita mengetahui ilmu agama ini kalau tidak melalui bermazhab? Memangnya kita mampu menggali sendiri ilmu-ilmu yang ada di Al-Qur’an dan Hadis tanpa ‘jalan mazhab’? Bagaimana akan menggali sendiri mengingat syarat berijtihad yang begitu sulit dan berat? Saya bertanya kepada teman saya; adakah ulama-ulama zaman ini yang mampu memenuhi syaratnya? Tentunya ada, tapi tentunya sangat sedikit sekali. Yang jelas mereka termasuk orang berilmu ‘selangit’,  bukan seperti  kita yang masih tergolong awam!

Jadi sudah sepatutnya jika saya dalam beragama ini harus bermazhab. Bahkan Para Imam sekaliber Ibnu Hajar Al-Asqalani bangga mengaku bermazhab Syafi’i. Begitu juga Imam Nawawi, Imam Suyuti mereka mengaku bermazhab syafi’i dan masih banyak lagi. Apalagi saya, yang memiliki ilmu tidak ada seujung kukunya  ilmu para Imam itu. Jika para Imam yang memiliki syarat-syarat berijtihad saja bermazhab, lantas kenapa saya tidak boleh bermazhab? Betapa tidak relevan istilah ‘taklid buta‘  yang dialamatkan kepada orang-orang yang bermazhab.

Ketika terjadi ‘perdebatan kusir’ itu saya sering sekali mendengar dia menyebut nama Syeh Nasirudin Albani, Syeh Usaimin dan Syeh Bin Baz.  Begitu sering dia menyebutnya, sehingga telinga saya menjadi familiar dengannya. Padahal sebelumnya saya sangat asing dengan nama-nama mereka. Asal muasal terjadinya ‘perdebatan’ kami dipicu oleh tegurannya yang keras, bahwa shalat saya tidak syah karena saya shalat di atas kuburan! Ya, di sekitar Masjid Betawi biasanya ada makam para tokoh pendiri masjid. Tapi di mana relevansinya dengan syarat syah Shalat kita?

Begitulah debat kusir itu terus berlangsung berhari-hari, melebar kesana kemari. Jika tidak saya tanggapi, ‘ceramah’-nya makin menjadi-jadi.  Saat itu saya sering mendengar dia suka mencela Imam Gozali, Imam Syadzili, Imam Bushiri, Ibnu Atho’llah. Orang-orang saleh yang saya kagumi itu dibilangnya sesat dengan kesufiannya. O, lala…. Benar-benar keblinger temanku yang mengaku tak bermazhab ini. Ketika itu saya membatin: gurumu ‘siapa’ kok nyuruh aku ngaji kepada gurumu?  Di sisi lain dia begitu mengagungkan nama tokoh-tokoh idola yang sering disebutnya. Seperti Syeh Albani, Usaimin, dan Bin Baz.  Di matanya, syeh-syeh itu begitu sempurna, sehingga ketika saya sempat menyanggah illustrasinya mengenai salah seorang syeh-syeh tersbut dia membentak: “Goblok! Makanya ngaji!”  Nah lho, galaknya muncrat kan?

Demikianlah…. Akhirnya beberapa bulan kemudian kami berpisah,  karena saya membangun usaha sendiri di rumah.

*****

Sebagai Muslim yang awam, sudah selayaknya kita berhati-hati jangan terlalu mudah mencela, apalagi mencela ulama-ulama  yang terkenal keshalihanannya di dunia Islam. Kita adalah orang awam, demikian ketika itu saya katakan kepada teman saya.  Sekarang saya tahu bahwa Syaikh Nasirudin Al-Albani menurut para ulama,  fatwa-fatwa yang dikeluarkannnya tentu ada benarnya tapi ternyata  juga ada banyak salahnya. Yah, namanya juga ulama belakangan? Tentunya bebeda dengan Para Imam generasi awal yang rata-rata jenius, dan kwalitas keilmuan kita sebagai orang yang awam ibaratnya tidak ada seujung kukunya para ulama generasi awal, semisal Imam syafi’i.

Kalau ada dua pilihan, misalnya pendapat Imam As-Syafi’i dan Syaikh al-Albani, jujur saja saya lebih yakin memilih pendapatnya Imam As-Syafi’i. Apa pasalnya, karena Imam Syafi’i punya sanad guru yang jelas, kredible dan bonavide. Sedangkan Al-Albani menurut biografi yang saya pernah baca, beliau belajar Ilmu Hadis secara ototidak. Berkunjunglah di Wikipedia, Anda akan melihat siapakah Al-Albani. Dan Imam Syafi’i adalah Ulama besar sepanjang zaman, beliau punya sanad guru yang jelas, maka lebih layak diikuti. Itulah kenapa Saya sangat pede mengakui beliau sebagai Imam Mazhab saya.

Orang-orang yang belajar dengan guru saja kadang ada salahnya, apalagi yang belajar hanya dari membaca buku. Jika orang belajar dari buku bersama guru, maka ada penjelasan dari sang guru. Murid bisa melihat secara realtime dengan praktek dari gurunya.  Gurunya memperoleh dari gurunya, gurunya dari gurunya, dan seterusnya (bersanad). Sedangkan orang yang belajar dari buku hanya tahu secara leterlek tanpa ada penjelasan yang lebih rinci.  Begitu lho maksud saya kenapa saya memilih Imam Syafi’i, bukan Syeh Albani.

Intinya begini: kalau ada masalah atau perbedaaan pendapat ulama, saya lebih yakin merujuk pada Imam yang empat,  khususnya Imam Syafi’i. Mengapa Imam Syafi’i, karena mazhab saya mazhab syafi’i.

Dan bermazhab itu tidak tercela bagi orang awam. Dan saya kira orang-orang zaman sekarang ini mayoritas masih awam. Jadi lebih afdhol taklid kepada salah satu Imam, daripada menggali sendiri ilmu-ilmu keislaman. Orang yang tidak taklid itu orang yang berilmu semisal Imam Ahmad, beliau tidak bertaklid kepada gurunya Imam Syafi’i. Karena ia orang berilmu mumpuni, Ahli Hadis, hafal Al-Quran dan mengetahui tafsirnya, menguasai ilmu fiqih, ilmu ushul fiqih,  dan lain-lain ilmu yang menjadi syarat sebagai mujtahid.

Benarkah mereka benar-benar tidak bermazhab?

Bertanyalah kepada diri sendiri, berapa surat Al-Qur’an yang kita hafal, berapa Al-Hadis yang kita tahu? Jadi kalau ada firqah Ummat Islam yang mengkalim bahwa mereka tidak bermazhab, tidak taklid di zaman ini, lantas bagaimana cara mereka mendapatkan  ilmu Islam?  Apakah bikin sendiri? Atau mengarang sendiri? Apakah setiap orang dari mereka mampu mnggali sendiri langsung dari Al-Qur’an dan Al-Hadis? Atau tiba-tiba mereka tahu segala macam ilmu agama yang sedemikian luas dari wangsit? Jelas tidak demikian, bukan? Nah, begitulah faktanya. Diakui atau tidak, sesungguhnya Ilmu agama ini  diperoleh secara turun temurun, dari guru-guru agama kita.  Jika dilacak ke atas maka akan bertemulah  kepada tokoh perintisnya. Itulah jalan mazhab. Dan masing-masing mazhab punya ciri khasnya, di mana  guru-guru kita mengajarkan untuk bersikap toleran kepada orang yang berbada mazhab dengan kita.

Untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin bertanya: realistiskah jika ada firqah Ummat Islam yang mengklaim bahwa mereka tidak bermazhab? Saya jawab, itu nggak real, tidak sesuai faktanya. Sebab, orang-orang yang mengaku tidak bermazhab itu hakekatnya memiliki mazhab juga. Mazhabnya adalah  “Tidak Bermazhab” itu sendiri. Dari pengakuan atau klaim Tidak Bermazhab ini ada sesuatu yang tersirat, mereka tidak pede mengakui mazhabnya. Ada misteri apa gerangan di balik mazhab “Tidak Bermazhab” ini? Jika dilacak ke atas maka akan bertemulah siapa perintisnya, tidak lain adalah beliau Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab. Mungkinkah  nama  tokoh yang berlumuran darah ratusan ribu kaum muslimin ini yang membuat mereka tidak pede menyandang namanya sebagai mazhab? Wallahu a’lam.

Oleh: Qodrat Arispati

Simpan

Jasa Web Alhadiy
Tags

Related Articles

46 Comments

  1. saudaraku seiman marilah kita jalin ukhuwah islamiah jangan saling menghujat jangan saling mencela kalau ada perbedaan kita kembalikan kepada Al Quran dan Al Hadits perbedaan pendapat itu hal yang biasa…sekali lagi kita saudara seiman jangan gara2 berbeda pendapat kita bercerai berai dan itu akan melemahkan umat Islam itu sendiri musuh kita adalah Yahudi dan Nasrani

  2. Menurut saya apa yang disampaikan dalam tulisan ini adalah suatu pengungkapan realita yang terjadi ditengah-tengah kehidupan kaum muslimin yang dialami oleh sang penulis yang mungkin juga pernah dialami oleh muslim yang lain.Yaitu yang dilakukan oleh kelompok yang menamakan dirinya dengan Salafi dan mengklaim mengikuti Salafus Shaleh…

    Tapi apakah memang pengakuan mereka ‘para salafy’ ini sesuai dengan kenyataan yang ada apabila dilihat dari cara mereka menafsirkan Al-Quran dan Hadist dibandingkan dengan Para Imam Mazhab dan Ulama-Ulama terdahulu,maka hal ini adalah sesuatu yang harus diteliti kembali, dan juga yang nggak kalah penting adalah keorisinilan/keaslian isi kitab ulama terdahulu yang mereka cetak ulang (di Saudi) dan mereka jadikan dalil atau pembenaran dari ajaran mereka yang penuh dengan kontraversi dengan mayoritas Ulama-Ulama Ahlussunnah Waljama’ah tersebut.

    Maka hal ini perlu menjadi kehati-hatian dari kaum Muslimin yang awam ,tapi mempunyai ghirah yang tinggi dalam menuntut ilmu Agama. Karena bisa saja mereka terjatuh kedalam pemahaman atau majelis-majelis kelompok yang menamakan dirinya dengan ‘Salafi’ ini. Menuntut ilmu agama adalah suatu yang hal sangat penting, dan yang tak kalah pentingnya adalah memastikan sanad ilmu yang akan kita tuntut tersebut, apakah tersambung kepada Rasulullah dan para sahabat. Kalau tidak, Al-Quran dan Hadist yang dipakai boleh sama …tapi akan berbeda cara penafsiranya dam pemahaman dalam pengamalanya, bahkan kadang-kadang sampai pada tahap menyalahkan ajaran yang telah dihasilkan oleh Ulama-Ulama dan Imam-Imam Ahlussunnah Waljama’ah terdahulu.

  3. Assalamu’alaikum Wr.Wb
    saya mengalami hal serupa dengan penulis tulisan ini. ini realita, setiap saya ngobrol bareng di kampus mereka cenderung dominan dalam menjelaskan dan tidak mau menerima penjelasan orang lain.

  4. TAQLID:
    ”Satu perbuatan yang didasarkan oleh satu perkataan tanpa hujjah” [Irsyaadul-Fuhuul oleh Asy-Syaukani] (dapet copas hi hi).
    atau sederhananya kita menerima satu hal tanpa tahu darimana mengambil dalilnya dan bagaimana cara istinbatulahkamnya.

    Saat belajar sholat sy bertaqlid kepada yang mengajarkan. Dalam artian saya tidak menanyakan dalilnya takbirotulihram, dalilnya membaca al-fatihah, dsb.

    Tapi Islam telah mewajibkan tholabul ilmi. Nah kita yg mukallaf ini jadi berdosa jika tidak menuntut ilmu (Mudah-mudahan Alloh menerima iman dan amal ibadah
    orangtua kita yg telah bersusah payah menyekolahkan dan mendidik dan yg menanamkan nilai agama-amin)

    So … secara berangsur-angsur kita yang tadinya TAQLID menjadi I’TIBA terhadap pengetahuan yang sampai kepada kita. Menurut sy, perbedaan TAQLID dan I’TIBA adalah dalam hal ilmu, TAQLID=menerima TIDAK dengan ilmu, I’TIBA=menerima dengan ilmu.

    Ternyata yg namanya ilmu semakin kita masuk semakin luas bahtera ilmu. Orang sudah punya peralatan canggih dia bisa menjelajah lautan dan isinya, sy mungkin baru pakai kacamata selam doang second hand lagi …hi hi. Tapi lumayanlah nggak cuman di pinggir pantai.

    Sy berpendapat, mereka yg selalu menyandarkan pendapatnya kepada Syeh Albani, Usaimin, dan Bin Baz juga sebetulnya bermazhab kepadanya juga kadang taqlid kepadanya. (silakan dikomplain!)

    Pertanyaan to admin
    1. Kenapa pakai istilah TAQLID tidak pakai istilah I’TIBA?
    2. Karena yg terjadi byk yg taqlid kepada GURU daripada kepada Imam Mazhab. Contoh dalam kitab Fathul Qorib (syarah taqrib) ada disebutkan fatihah dalam sholat boleh diganti dengan terjemahannya.Nah apakah ini juga pendapatnya imam Syafi’i?

    Jazakallohu khoiran katsiro ….

  5. Bermazhab dalam Islam itu bukan kewajiban tapi yang wajib adalah kita meneladani Rasulullah, mengikuti dan mentaati ajaran2 nya, masalah ilmu jalan nya bisa dari mana saja yang penting kita punya pedomannya ( Quran sunnah )jangan sampai kita terjebak pada satu mazhab yang belum tentu benar dan salahnya apalagi kalau kita cuma taqlid kita harus tahu ilmunya ( quran surat Al Isra : 36 )

    kebenaran pendapat seseorang kecualiRasulullah adalah nisbi (belum tentu benarnya)
    sementara kebenaran dalil (quran Sunnah ) adalah haq (kebenaran mutlaq) dengan catatan untuk Sunnah kita harus hati2 terhadap hadits palsu dan dhaifnya (hrus tahu kebenaranya )

    maka dengan ini saya mengajak marilah kita berimam pada Quran dan Sunnah Rasulullah maka kita dijamin tidak tersesat selama-lamanya.

    1. Bermazhab itu tidak wajib saya simpulkan dengan melihat bagaimana Imam Mazhab sendiri, begini

      Imam Syafi’i (maaf kalau salah tulis mohon dibetulkan) berguru kepada Imam maliki tapi beliau tidak bermazhab Maliki, kemudian Imam Ahmad bin Hambali berguru kepada Imam Syafi’i tapi beliau tidak bermazhab Syafi’i, bmenurut saya begitulah ulama yang benar2 berilmu , beliau2 semua tidak semata-mata taqlid kpada guru tapi ittiba kepada Rasulullah , beliau2 adalah contoh dan teladan bagi kita sekarang bagaimana seharusnya berilmu dan mencari ilmu dalam Islam. Antara guru dan murid bisa saling koreksi dan saling bagi ilmu yang penting sesuai tuntunan Rasulullah, beliau2 lebih utamakan hadits Rasulullah dari pada pendapat sendiri. sang guru dengan ikhlas meralat ucapan dan pendapatnya sendiri kalau ada muridnya yang membawa pendapat yang lebih kuat, apalagi bila yang dibawa Hadits Rasulullah yang sahih.

      Beliau2 mengatakan bahwa setiap hadits sahih adalah mazhabku berarti mazhab mereka sama yaitu ittiba pada rasulullah (Mazhab Quran Sunnah)

      Kalau bermazhab itu wajib seperti orang sekarang katakan maka wajib bagi Imam Syafi’i bermazhab Maliki dan imam Hambali wajib bermazhab Syafi’i bukan bukan bikin mazhab lagi. Merekalah ahli Ilmu Sejati para pengikutnyalah yang banyak sesat dan menyesatkan.

      Beda dengan orang2 di zaman sekarang yang main lahap dan fanatik terhadap gurunya tanpa melihat apa sesuai tidaknya dengan yang di ajarkan Rasulullah , gurunya sesat maka muridnya pun lebih sesat lagi.

  6. @abu hnin

    dapat antum terangkan literaturnya dsb…,
    apakah derajat ilmu hadistnya smp dengan derajat imam,al-hakim,hujjatul apa alhafidh,beserta sanad dan matannya?
    terangkan ttg beliau biar dapat kita chek begitu….

    1. terima kasih sudah di koreksi

      oh ya bagi semuanya saudara-saudara saya marilah cari kebenaran bukan cari siapa yang paling benar

      mari saling berwasiat dalam kebenaran dan kesabaran, kalau saya salah mohon di koreksi, saya tunggu saudara semua untuk bangkitkan Islam yang Mulia di jagat ini jangan saling hujat dan saling mencaci hanya karena beda mari dari perbedaan itu cari kebenaranya.

      Pendapat siapapun bisa benar bisa salah.

  7. ALHAMDULILLAH,syukron kepada para ikhwan yg telah memberikan komentarnya,ana sendiri tdk mau berargumen baik itu ttg wahabi,sufi atau yg lainnya sblm kita mengetahuinya lbh dalam.mudah mudahan Allah senantiasa memberikan hidayahNya kpd kita.

  8. Buat semuanya saya tunggu untuk saling berbagi ilmu,artikel atau perbedaan silahkan kirim ke

    aria_andistar@yahoo.co.id

    salam persahabatan Islam

    secara terbuka saya tunggu marilah berjuang demi Islam jangan demi mazhab atau golongan apalagi partai tertentu, yang penting kebenarannya.

  9. @aria

    antum say,
    Kalau bermazhab itu wajib seperti orang sekarang katakan maka wajib bagi Imam Syafi’i bermazhab Maliki dan imam Hambali wajib bermazhab Syafi’i bukan bukan bikin mazhab lagi. Merekalah ahli Ilmu Sejati para pengikutnyalah yang banyak sesat dan menyesatkan.

    bukan bgt masalahnya,pd masa itu masa gemilangnya raja para hadist dan bersanad,hingga derajat mereka pun di ketahui..
    mereka mujtahid mutlak,yg kemampuan nya di akui semua ahli hadist/ulama dan di akui keilmuanya,..

    tuk masa saat ini,yang tingkatan al-hafidh aja sdh susah….,
    imam bukhari aja raja nya hadist,cobalah bermazhab apa?
    knp ia masih bermadzhab,apa kurang nya beliau?
    kita semua malah mengambil hadist dr beliau,eh malahan masa kini sok2 an orang malah merasa lebih pintar lebih alim atau lebih tahu dari beliau x ya…

    coba antum renungkan,belum lagi yg lainnya…abu daud,tirmidzi,dll

  10. @aria
    antum juga say..

    Merekalah ahli Ilmu Sejati para pengikutnyalah yang banyak sesat dan menyesatkan.
    ————————-
    kaya nya antum memang nggak ngerti siapa saja para pengikut mazhab,imam nawawi,imam ibnu hajar atsqolani,imam bukhari,imam ibnu hajar al haitsami dll
    di antara yg bermazhab syafii,antum mau bilang apa beliau2 ini….
    kok antum yg ilmunya jauh dr mereka ,ilmu masih cetek hidup akhir zaman…berani bener bilang begitu….

    jadi kira2 perkataan antum itu berbalik pada antum sendiri…
    ———————
    Beda dengan orang2 di zaman sekarang yang main lahap dan fanatik terhadap gurunya tanpa melihat apa sesuai tidaknya dengan yang di ajarkan Rasulullah , gurunya sesat maka muridnya pun lebih sesat lagi.
    ———————
    seperti nya fanatik nya orang bermadzhab tak terlalu spt yg antum bilang,..
    sbb dlm satu mazhabpun ada yg beda pendapat,dan ini sah2 aja…
    dan mereka kebanyakan mempunyai urutan ajaran smp ke rasul/bersanad,dari guru a,ke guru b,ke c ke d…nggak mentok nyampe kitab/buku…
    dan mereka nggak ngajari tuh sesat menyesatkan/nggak sembarangan omong begitu…

    1. Saya Aria terim kasih atas penjelasan dan koreksinya mas prass, saya akui saya kurang lengkap menjelaskan dan ada benarnya atas yang mas katakan maklum saya masih belajar, tapi saya ingin kejelasan sebab banyak orang (khususnya orang awam) yang fanatik mazhab dan anti terhadap mazhab lain tanpa melihat isinya.

      saya mengatakan bermazhab tidak wajib memang kenyataan tidak ada dalil satupun wajib bermazhab kecuali dari perkataan para ulama tertentu. Dan saya tidak anti mazhab dan tidak bermaksud mengecilkan para ulama tapi saya melihat bahwa kita diperintah untuk meneladani Rasulullah dengan mengambil ilmu dari para Ulama tanpa melihat mazhab.

      mungkin mas prass salah paham dengan penjelasan saya yang masih kurang, yang saya maksud pengikut para imam sesat menyesatkan yaitu ada di antara pengikut mazhab (khususnya di zaman sekarang ) contoh yang mengaku bermazhab Syafi’i tapi dalam prakteknya berbeda dengan apa yang ditentukan oleh Imam Syafi’i malahan bertolak belakang, dan saya berkomentar disini karena banyak dikalangan masyarakat yang saling menyalahkan/memvonis keliru terhadap gol lain /mazhab lain/kelompok lain tanpa tahu yang sebenarnya. Dan yang menimbulkan hal ini adalah para ulamanya sendiri(ulama dikalangan mereka) yang mana seolah-olah dalam praktek dimasyarakat dibuat fanatik terhadap mazhab tertentu dan di cegah untuk tahu bagaimana mazhab yang lain/pendapat lain, padahal Ilmu Islam itu luas dan bisa datang dari mana saja, dari mazhab mana saja asalkan landasan utamanya Qur’an dan Sunnah Rasul, masyarakat dibuat anti terhadap pendapat yang berbeda tanpa tahu kebenaranya bagaimana. Tanpa tahu sumber asalnya dari mana (taqlid buta) seolah-olah masyarakat dibuat bodoh (tidak mau berpikir dan mencari tahu) bagaimana Islam yang sebenarnya , tahunya Islam versi mereka sendiri. Padahal dalam Al Qur’an sendiri banyak ayat yang mengharuskan kita banyak berpikir (tafakur) dan menggunakan akal untuk mencari kebenaran, banyak tahu (berilmu) dan Ilmu itu tersebar diseluruh penjuru dunia jangan di batasi oleh gol atau mazhab.

      Jangan sampai di masyarakat banyak bertengkar dan berdebat karena mencari siapa yang paling benar tapi kita harus mencari kebenaran yang sebenar-benarnya (al Haq) yang bersumber dari Allah melalui Rasul-Nya.

      Jangan sampai Islam menjadi terkotak-kotak dengan dasar mazhab, gol, atau organisasi, tapi Islam harus satu mulai dari awal turun sampai di akhir zaman, dan ini terlihat sekali di masyarakat Indonesia khususnya.

      Seharusnya Jangan sampai terbentuk Islam NU, Islam Muhammadiyah, Islam ini atau Islam itu,mazhab ini atau mazhab itu tapi harusnya Islam ya Islam saja , Islam harus satu .Islam yang mengikuti dan meneladani Rasulullah.

      Saya berkata begini karena dalam praktek di masyarakat begitu, bahkan dalam hal tertentu pendapat ulama bisa mengalahkan ketentuan dari Rasulullah, pendapat ulama di sisipkan dalam hadits Rasulullah ( contoh dalam membaca ‘Amin’ setelah Al Fatihah dalam Shalat, jelas-jelas dalam hadits praktek Rasulullah dan para sahabat hanya membaca amin saja, tapi dimasyarakat prakteknya ditambah-tambah menjadi Robbigfirli Wa li Wa li daya amin dan ini jelas-jelas mengubah apa yang ditetapkan Rasulullah) dan inilah contoh bid’ah, saya hargai beda pendapat tapi kalau pendapat seseorang (ulama) manapun tidak bisa di setarakan dengan ketetapan Rasullullah SaW.

      Beda pendapat antara kita,atau antara ulama sah-sah saja, tapi kalu pendapat seseorang lebih diutamakan dari pada sunnah Rasul itu yang keliru dan ini banyak dan dipraktekan oleh masyarakat.

      Saya tidak menyalhkan kita bermazhab hanya saja saya tidak setuju kalau ada yang berpendapat bermazhab adalah wajib,sebab tidak ada dalil dari Rasulullah SAW bahwa bermazhab wajib dan saya akan belajar Islam darimanapun itu berasal baik dari mazhab ini atau mazhab itu (tidak membeda-bedakan mazhab) yang penting dalilnya jelas atau hujahnya tepat

      ================================================
      Prass berkata :

      @aria
      antum juga say..

      Merekalah ahli Ilmu Sejati para pengikutnyalah yang banyak sesat dan menyesatkan.
      ————————-
      kaya nya antum memang nggak ngerti siapa saja para pengikut mazhab,imam nawawi,imam ibnu hajar atsqolani,imam bukhari,imam ibnu hajar al haitsami dll
      di antara yg bermazhab syafii,antum mau bilang apa beliau2 ini….
      kok antum yg ilmunya jauh dr mereka ,ilmu masih cetek hidup akhir zaman…berani bener bilang begitu….

      jadi kira2 perkataan antum itu berbalik pada antum sendiri…
      ———————
      aria:
      saya tidak bermaksud semua pengikut mazhab itu sesat yang saya maksud adlah sebagian dari kita (khususnya sekarang) banyak yang prakteknya berbeda bahkan menyeleweng dari mazhab itu sendiri. Demi Allah saya tidak bermaksud memvonis para Ulama tersebut atau yang lainya. Hanya saja saya geram terhadap yang praktek agamanya menyimpang dari apa yang seharusnya (banyak bid’ah dan hal-hal yang tidak jelasnya).
      ================

      Beda dengan orang2 di zaman sekarang yang main lahap dan fanatik terhadap gurunya tanpa melihat apa sesuai tidaknya dengan yang di ajarkan Rasulullah , gurunya sesat maka muridnya pun lebih sesat lagi.
      ———————
      prass berkata:
      seperti nya fanatik nya orang bermadzhab tak terlalu spt yg antum bilang,..
      sbb dlm satu mazhabpun ada yg beda pendapat,dan ini sah2 aja…
      dan mereka kebanyakan mempunyai urutan ajaran smp ke rasul/bersanad,dari guru a,ke guru b,ke c ke d…nggak mentok nyampe kitab/buku…
      dan mereka nggak ngajari tuh sesat menyesatkan/nggak sembarangan omong begitu…
      ———-
      antum benar beda pendapat sah-sah saja tapi beda dengan Rasulullah itu yang berbahaya, salahsatu yang membuat beda kita dengan Rasulullah adalah BID’AH (tahlilan orang mati ,3 harnya, 7 harinya dst, 4 bln/7 bln orang hamil, dll yang sebenarnya tidak ada dari Rasulullahnya, Islam sudah sempurna kok ditambah-tambah, inilah yang saya perangi.

    1. @abu hanin
      ane tanya sm ente,malah disuruh cari gi google,tak ada apa yg ane tanya semua itu…kan ente yg jawab itu di atas…klo cuma di suruh cari di google mah anak kecil juga bisa…
      …coba ane tanya lagi siapa ulama yg mengatakan Said Bin Musayyab itu keilmuannya lebih tinggi dr 4 imam mazhab,di kitab apa,coba jelaskan..
      jgn asal sebut aja,…ane mau tanya..

      nb.ada juga hadist ttg sebaik2 ummat adalah generasiku….dst,menunjukan keutamaan generasi,bukan yg ane maksud,…

      1. @gondrong
        hadooohhh,,,,,,,,,ente jgn bikin malu habib ente gtu dong, masa Sa’id bin Musayyab aja ga tau?

        Sa’id bin Musayyab itu adalah seorg tabi’in mas, generasi terbaik setelah Sahabat. Nama lengkapnya Sa’id bin al-Musayyab bin Hazan bin Abi Wahhab al-Makh-zumi al-Qurasyi. Dia adalah seorang ahli Fiqih di Madinah. Dia menguasai ilmu hadits, fiqih, zuhud, wara’. Dia orang yang paling hafal hukum-hukum ‘Umar bin Khaththab dan keputusan-keputusannya, wafat di Madinah th. 94 H.
        Seorang Tabiin merdeka, bertipe sangat langka. puasa di siang hari, salat tahajud di waktu malam. Dia sempat menunaikan ibadah haji sebanyak empat puluh kali. Tidak pernah ketinggalan takbiratul Ihram dalam salat jemaah selama empat puluh tahun dan tidak pernah ditemukan melihat tengkuk seseorang pada waktu salat, selama itu juga, karena selalu berada di baris pertama.

        Lebih memilih menikah dengan putri Abu Hurairah ra., meski mampu menikahi wanita Quraisy yang dia kehendaki.

        Sejak kecil telah bernazar untuk mengabdikan dirinya kepada ilmu pengetahuan.

        Banyak menimba ilmu dari istri-istri Nabi dan dari para Sahabat seperti Abdullah bin Abbas, Zaid bin Sabit, Abdullah bin Umar, Usman, Ali, dan Shuhaib r.ahum.

        Mempunyai etika dan tingkah laku seperti yang dicontohkan oleh para sahabat.

        Orang yang paling zuhud terhadap kehidupan. Pernah suatu ketika dia menolak lamaran putra mahkota, Walid bin Abdul Malik, putra khalifah, Abdul Malik bin Marwan untuk menikahi putrinya. Dia malah menikahi putrinya itu dengan seorang penuntut ilmu bernama Abu Wada‘ah.

        Ketika banyak yang menyayangkan hal itu dia malah mengatakan, “Putriku adalah amanat di atas pundakku dan aku mengambil tindakan ini demi kemaslahatannya.”

        Seorang penduduk Madinah mengatakan tentang dirinya, “Dia adalah seorang yang menjadikan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat dan membeli yang abadi dengan yang fana untuk diri dan keluarganya. Demi Allah, dia bukan tidak mau menikahkan putrinya dengan putra khalifah, atau memandangnya tidak berimbang, tetapi hanya khawatir putrinya akan tertimpa fitnah keduniaan.

        Ayahnya adalah Musayyab bin Hazen bin Abu Wahab bin Amru Al-Makhzumi Al-Qurasyi, seorang sahabat yang ikut dalam peristiwa Baiat Ridwan bersama Rasulullah.

        1. @king abdul aziz

          bukan itu yg ane maksud,itu jg banyak di tulis…di berbagai blog..gampang di copas aja,byk kok entah ada berapa byk…
          coba lihat…lagi ptanyaan ane,

          a.apakah derajat ilmu hadistnya smp dengan derajat imam,al-hakim,hujjatul apa alhafidh,beserta sanad dan matannya?
          terangkan ttg beliau biar dapat kita chek begitu….

          b.coba ane tanya lagi siapa ulama yg mengatakan Said Bin Musayyab itu keilmuannya lebih tinggi dr 4 imam mazhab,di kitab apa,coba jelaskan..
          jgn asal sebut aja,…ane mau tanya..

          nb.ada juga hadist ttg sebaik2 ummat adalah generasiku….dst,menunjukan keutamaan generasi,bukan yg ane maksud,…

          nah yg bawah itu seharusnya ente dah ngerti maksud ane,siape die itu ane dah tahu…(di nb)

          1. “Dan tidak boleh bagi si awam itu bermazhab dengan mazhab salah seorang daripada imam-imam di kalangan para sahabat r.anhum dan selain daripada mereka daripada generasi-generasi yang terawal, walaupun mereka lebih alim dan lebih tinggi darjatnya berbanding dengan (ulama’) selepas mereka; ini adalah kerena mereka tidak meluangkan masa sepenuhnya untuk mengarang ilmu dan meletakkan prinsip-prinsip asas dan furu’nya. Maka tidak ada bagi salah seorang daripada mereka sebuah mazhab yang telah dihalusi, dianalisis dan diperakui. Hanyasanya, (ulama’2) yang datang selepas mereka yang merupakan pendokong mazhab para sahabat dan tabien lah yang melakukan usaha meletakkan hukum-hukum sebelum berlakunya perkara tersebut; yang bangkit menerangkan prinsip-prinsip asas dan furu’ mereka seperti (Imam) Malik dan (Imam) Abu Hanifah dan selain dari mereka berdua.”

            (Imam al-Nawawi dalam kitab al-Majmu’)

  11. @aria

    ane jg orang yg awam kang,sama2 yaa…
    mengenai tahlilan sehabis wafatnya seseorang,coba antum cari saja dr riwayat thawus yamani…
    klo mengenai 4 / 7 bulan orang hamil,nggak mesti harus di lakukan..,
    yg ane tahu itu hanya rasa syukur orang tua yg menanti buah kasihnya dan di doakan orang banyak,sambil bersedekah makanan alakadarnya yg bertujuan agar anak itu sholeh,baik dsb…
    mengenai bulan nya knp 4/7 dll pernah jg ane tanya itu ke para ibu2..,jwbnya hanya biar mudah saja waktunya, kadang hanya namanya saja,nujuh bulan padahal anak nya tsb telah 8 bulan ada yg pas ada yg nggak, jd nggak mesti itu semua, hanya do,a dan yg lainnya hanya penamaan saja,…
    contoh lain penamaan saja yg ada di masyarakat kita, spt lebaran anak yatim,lebaran haji…

    ada makna lain dr hal tsb dr para ibu yaitu untuk mengingatkan yang akan bersuka cita akan dtng nya buah hati saudara/kawannya tsb bahwa tinggal 2,3 bulan lagi si jabang bayi lahir,jd ia telah siap2 hadiah/kado/sedekah apa yg akan di berikannya nanti tuk meringankan beban nya,atau atas suka cita nya,jd sdh punya rencana kedepannya…

    wallahu a,lam..

  12. klo mnrut sy,hukum bermahzab blh bkn wjib,n ulama ulma mahzab ato ulama2 non mahzab,prlu skli ntk org islam,aslkn ulama yg btl2 mengamalkan sunnah rasulullah saw.krn tnpa mereka2 ini,mka kita g akan tau ajaran2 islam. jadi yg salah adlh pengikut2 mahzab yg mgtakan wajib bermahzab,itu brrti tdk brmahzab dosa,sdgkan sluruh dunia banyak skali orang yg tdk bermahzab,brrti org smua itu dia anggap berdosa,naudzubillah. sdgkn yg ada dlm ajaran islam adlh wajib brtanya kpd yg mgetahui,sdgkn tdk ada satupun ulama mahzab ato ulama non mahzab yg mgtahui semua hadist,jd klo kita tdk mgtahui ssuatu dlm islam,mka wajib hukumnya bertnya kpd yg mgtahui,yaa yg psti kpd para ulama yg sdh jls mgikuti sunnah rasul,jgn brtanya hanya kpd satu ulama saja,krn mgkin ulama trsbut blm mnjumpai hadist trsbut,sdgkn mgkin ulama yg satu sdh mnjumpai hdist trsbut,krn hadist banyak.

  13. Kalau kita simak, si penulis memang tidak menyatakan bahwa bermadzhab itu wajib.
    Dan memang bermadzhab itu tidak wajib. Tulisan tsb sptnya merupakan jawaban terhadap pertanyaan : “Kenapa harus bermadzhab?”.Jadi bagi yang menyatakan dirinya tidak bermadzhab,
    ya silakan saja. Cuma kalau difikir lebih dalam, sebenarnya banyak sekali orang yg tidak bermaksud bermadzhab namun secara tidak sadar ternyata ia mengaplikasikan satu atau lebih madzhab dalam amaliyahnya.

  14. emang begitulah yang bisa saya tangkap dari artikel di atas. Anak-anak Wahabi semacam Abdullah di atas kalau komentar memang suka gak nyambung, karena belum baca secara keseluruhan sudah komentar.

    Memang bermazhab itu hukumnya tidak wajib, tetapi bagaimana tidak mau bermazhab bagi orang-orang awam? Mau ijtihad sendiri? Itulah petanyaan penulis di atas, sedangkan para Imam semacam Ibnu Hajar, Imam, Suyuti, Imam Gozali, Imam Nawawi saja pada bermazhab kepada Imam Syafi’i?

    Qodrat Arispati sebagai penulisnya, sudah menulis dengan cukup bagus dengan pertanyaan2 kritis kepada orang-orang yang melarang orang lain bermazhab. Seharusnya Anak-anak Wahabi itu bisa sadar, jalan pikiran mereka itu sesungguhnya kacau balau tetapi merasa paling benar. Dan ini memang sudah karak ter mereka karena mengambil ilmu dari-ustaz2 yang juga berkarakter lebih parah dari itu. Tidak mau dengar penjelasan lawan diskusi karena merasa sudah berada dalam rell AlQur’an dan Sunnah. Wallohu a’lam…..

  15. Secara bahasa arti madzhab adalah tempat untuk pergi. Berasal dari kata dzahaba – yadzhabu – dzihaaban . Madzhab adalah isim makan dan isim zaman dari akar kata tersebut.

    Sedangkan secara istilah, madzhab adalah sebuah metodologi ilmiyah dalam mengambil kesimpulan hukum dari kitabullah (Al-Quran) dan Sunnah Nabawiyah. Madzhab yang kita maksudnya di sini adalah madzhab fiqih.

    Mazhab Tidak Hanya Empat Saja

    Sesungguhnya madzhab fiqih itu bukan hanya ada 4 saja, tetapi masih ada banyak lagi yang lainnya. Bahkan jumlahnya bisa mencapai puluhan. Namun yang terkenal hingga sekarang ini memang hanya 4 saja dan itulah yang mu`tabarah.
    4 madzhab sekarang ini (Hanafi, Maliki, Syafi`i dan Hambali) dianggap mu`tabarah adalah karena keempatnya merupakan madzhab yang telah terbukti sepanjang zaman bisa tetap bertahan, padahal usianya sudah lebih dari 1.000 tahun.

    Bermadzhab itu wajib hukumnya, karena kaidah syariah adalah “Maa yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib,” yaitu apa yang harus ada sebagai perantara untuk mencapai hal yang wajib, maka hal itu menjadi wajib hukumnya.

    Misalnya kita membeli air, apa hukumnya? Tentunya mubah saja. Namun bila kita akan shalat fardhu tetapi tidak ada air, dan yang ada hanyalah air yang harus dibeli, dan kita punya uang, maka apa hukumnya membeli air? Dari mubah berubah menjadi wajib tentunya, karena perlu untuk shalat yang wajib.

    Karena kita tidak bisa beribadah hal-hal yg fardhu/wajib kecuali dengan mengikuti salah satu madzhab itu, maka bermadzhab menjadi wajib hukumnya. Wallahu a`lam. (www.madinatulilmi.com)

  16. Ana orang awam. Dari buku “Biografi Empat Serangkai Imam Madzhab” Karya K.H. munawar Khalil disebutkan :
    1. Diriwayatkan, bahwa Imam Hanafy pernah ditanya “Apabila engkau telah berkata, padahal menyalahi Kitab Allah, bagaimana?”.Beliau menjawab, “tinggalkanlah perkataanku, ikutlah Kitab Allah”. Ditanya lagi “Apabila menyalahi Khabar (hadits) Rasulullah SAW?”. Beliau menjawab “Tinggalkanlah perkataanku, ikutilah khabar dari Rasulullah SAW”. Lalu ditanya pula ” Apabila menyalahi perkataan para Sahabat Nabi?”. Beliau menjawab “Tinggalkanlah perkataanku. dan ikutlah para Sahabt Nabi”.
    2. Imam Maliky berkata “Saya ini tidak lain melainkan manusia, boleh jadi benar, boleh jadi salah. Maka sebab itu lihatlah dan fikirlah baik-baik pendapat saya. Tiap-tiap apa yg sesuai dg Kitab (Qur’an) dan Sunnah (Hadits), mk ambillah ia, dan tiap-tiap apa yg tdk sesuai dg Kitab dan Sunnah, mk tingglkanlah ia”.
    3.Imam Syafi’i berkata “Tiap-tiap apa yg telah aku katakan, padahal sabda Rasulullah SAW yg sahih itulah yg lebih utama diturut, dan janganlah engkau bertaqlid kepadaku”.
    Imam Ar-Rabi’ berkata “Aku pernah mendengar Imam Syafi’i berkata. Tiap-tiap masalah yg telah aku bicarakan, yg padanya ada hadits yg sahih dr Nabi SAW, menurut pandangan ahli hadits, padahal bersalahan dg apa yg telah aku katakan, maka aku ruju’ (kembali) daripadanya, baik diwaktu hidupku maupun sesudah matiku”.
    4. Imam Hambali berkata “Janganlah kamu mengikut dalam urusan agamamu kpd seseorang. Apa-apa yg datang dr Nabi SAW dan para sahabatnya, hendaklah kamu ambildan pegang kokoh dg sesungguhnya”.

    Dari perkataan para Imam Madzhab ini, ana ingin bertanya kepada yg ahli, apakah madzhab mereka?

  17. Buat orang luas ilmu agamanya setingkat Imam 4 tidak wajib bermadzhab, Bermadzhab wajib hanya untuk orang yang sempit ilmu agamanya. Bagaimana bisa seseorang mengambil hukum dari Quran Hadist secara langsung bila ilmu Quran dan Hadisnya orang yang belajar dan yang mengajar hanya pas-pasan apalagi hanya dari terjemaahan bisa sesat dan menyesatkan karena kesempitan ilmunya. bandingkan dengan Imam Ahmad bin Hambal yang hapal 1 juta Hadist sanad dengan matan, disamping Hafizh Al Quran sudahg pasti beliau tidak akan serampangan mengambil hukum karena keluasan ilmunya itu.begitu dengan Imam maliki, Hanafi dan Syafi’i. Jaman Sekarang Hadist 2 hanya tinggal 100 ribuan hadist, Imam Ahmad yang hapal 1juta hadist hanya sempat menulis 20 ribuan, Imam bukhari rajanya Muhaddist hanya sempat menulis 7rban hadist. bayangkan ulama jaman sekarang mengambil hukum dari sisa sisa hadist yang jutaan tsb kalau kita hati-hati pasti kita akan mengikuti hukum22 yg sudah di syarah oleh imam 4 yang sangat luas ilmunya hadist dll tsb dari pada mengikuti ajakan orang belajar bersama langsung mengambil hukum dari quran hadist dengan ilmu paspasan.

  18. Maaf mas zainalm, sedikit koreksi.

    Semula antum tulis : “Madzhab Tidak Hanya Empat saja” (koment tgl 28 Okt).
    Berikutnya antum tulis :”Buat orang luas ilmu agamanya setingkat Imam 4 tidak wajib bermadzhab” (koment tgl 29 Okt)
    Mungkin maksudnya : Buat …. setingkat Imam madzhab fiqih, baik Imam yang 4 maupun yang lainnya tidak wajib bermadzhab.

    Komentar antum yang menyatakan bhw bermadzhab hukumnya wajib dengan kaidah syari’ah : maa yatimmul waajib illaa bihii fahuwa waajib (yang begini adalah khas pesantren), membuat saya tersenyum. Diskusinya bisa jadi rame nih.

    1. Terima Kasih , Koreksinya Mas Ibnu Siddiq. Betul Mas itu yang saya Maksud.. .
      saya hanya berusaha mengajak buka wawasan tentang madzhab kepada saudara2 yang mungkin mempunyai pendapat lain tentang madzhab, megajak berpikir realistis bahwa semua hukum yang khilafiah sekarang semua sudah di syarah oleh imam-imam Madzhab. Imam2 terdahulu tsb dalam mensyarah fikih atau lainnya menggunakan pengetahuan hadist yang ratusan ribu(Imam menguasai hadist dengan matannya lebih dari 600ribu), hafizh Alquran dan beserta ilmu lain-lainnya sehingga dipastikan akan lebih aman mengikuti pendapat mereka dari pada mengikuti pendapat/mensyarah sendiri atau mensyarah bersama dengan keterbatasan ilmu selain itu jumlah hadist sekarang sangat sedikit dibanding dulu.Karena itu Syari’ah mewajibkan bermadzhab kepada orang yang sempit ilmu agamanya seperti saya.
      Imam Nawawi saja masih bermadzhab Syafi’i padahal beliau yang mensyarah hadist2 Imam Muslim, hafiz Alquran. itu bisa menggambarkan bagaimana kebesaran ilmunya para Imam-imam Madzhab.

  19. Kalau ada yg ngaku tidak bermadzhab maksudnya adalah bahwa orang-orang tersebut bermadzhab Wahabisme. Apa yg jadi pembicaraan mereka di forum-forum mereka tidak lain ya Wahabisme itu, tidak yang lain.

    Nah, Madzhab Wahabisme yg digunakan di sekte Wahabi ini banyak sekali kontradiksi yang mnegindikasikan bahwa sekte Wahabi dan Wahabisme-nya adalah golongan yang tersesat jalan, juga disebabkan mereka memisahkan diri dari Madzhab Mu’tabar.

  20. Dengan lisan kita takk kan menang melawan salafier binti wahabi…dengan pedang aja mass…gatal nih tangan buat nebas batang leher mereka…

    1. Sabar to Mas Wahyu, ada kemungkinan mereka bertobat kok? Jangan terburu-buru nanti bisa salah tebas batang leher orang yg sudah bersahadatain malah kita berdosa besar, he he he……

  21. Madzhab mereka adalah wahhabiyah. Istilah wahhabiyyah ini yg dipilih ulama utk madzhab yg satu ini, dan bukannya muhammadiyyah. karena tidak lazim menamakan suatu golongan dengan nama ahmadiyyah atau muhammadiyyah, kecuali jika golongan itu sendiri yg menamakannya begitu, dan tentunya golongan itu tidak tau diri.

    Kita tau bahwa pendiri madzhab hanbali adalah Imam Ahmad ibnu Hanbal. Mengapa madzhabnya tidak disebut madzhab Ahmadiy atau Ahmadiyyah dan malah Hanbaliy?

    Nah, Madzhab wahhabiyyah ini, mujtahid2nya diantaranya adalah Al-Muhaddits Nashiruddin al-Albani. Kenapa dikatakan Al-Muhaddits? Karena beliau telah menghafal 00000 hadits yg beliau dapatkan secara sambung menyambung dari guru ke guru hingga ke Rasul. (alesannya nyambung ga seh….?) :mrgreen:

    Jadi, saya setuju dengan admin bahwa mengaku tak bermazhab itu keblinger… BANGET!!
    Keblinger gella… :mrgreen:

    Saran saya untuk para wahhabiyyun: Jangan suka mengolok-olok, mencaci, dan memvonis golongan lain sebagai ahli bid’ah, musyrik, kafir dsb. Kalo diliat orang di luar Islam ‘kan ga enak. Ummat Islam berbeda pendapat dah dari dulu, tapi tetep indah dan adem. Baru panas ketika muncul fitnah besar dari Nejd.

    1. @ ustadz AI
      Jadi al bani hapal 00000 hadits ya ?? banyak banget nolnya… kayak hujjatul islam aja yang hapal 300.000 hadits…. tapi ada ” 3 ” di depan nol… kalo al bani gada angkanya..he..he.. pantesan pengikutnya bisanya COPAS doang, hapalnya cuma 0 doang sih….

  22. artikelislamii@

    Ustadz AI, jadi Syaikh Alabani itu sudah hafal 00000 hadits? itu hadits shahih semua atau hadits maudlhu’ semua ya?

    Hm…, nyambung banget…. :mrgreen:

  23. Taqlid ama al-albani aja. Enak. Bisa ngejudge golongan lain. Kalo taqlid ama imam hanbali, imam syafi’i, imam hanafi, atau imam malik, ga diajarin ngejudge. Beda pendapat malah dibiarin aja, bukannya divonis bid’ah, sesat dsb.

Jika ada ditemukan artikel yang salah, dan lain-lannya, silahkan tinggalkan komentar. Terima kasih.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker
%d blogger menyukai ini: