Meneladani Spiritualitas Sarah dan Hajar (Bag. 2 Habis)

Meneladani Spiritualitas Sarah dan Hajar (Bag. 2 Habis)

Meneladani Spiritualitas Sarah dan Hajar (Bag. 2 Habis)


Keteladanan seterusnya ialah soal sabar dan tawakkal. Kesabaran Sarah bertahun-tahun yang tidak kunjung dikaruniai anak cucu dari rahimnya, sehingga ia rela menghadiahkan budaknya untuk dinikahi oleh suaminya tercinta. Di sisi lain kelihatan kesabaran Hajar ditinggal oleh suaminya di lembah tandus berbarengan anaknya. Seluruh itu mereka jalani cuma untuk mengharap keridhaan-Nya.

Nggak mudah bagi seorang wanita untuk mampu ‘membagi’ suaminya dengan wanita lain. Akan tetapi, Sarah berusaha sabar dan tegar untuk mengalahkan keegoisannya. Bahkan ia sendiri yang memilihkan calon istri untuk suaminya, walaupun pada akhirnya muncul kecemburuan sesudah istri yang dipilihkan untuk suaminya dikaruniai seorang anak dari rahimnya.

Kecemburuan seperti ini sangatlah wajar. Kecemburuan tersebut ia olah sedemikian rupa, sehingga ndak menjadikannya cemburu buta yang mengegelapkan hati dan akalnya. Ia cuma ingin menghilangkan kecemburuan tersebut dengan menghindari sumber kecemburuan tersebut ialah ndak menyaksikan Hajar dan anaknya.

Sering sekali wanita yang ndak sanggup menguasai kecemburuannya, menghalalkan segala cara dengan menzalimi saingannya. Hal tersebut menyebabkan munculnya ghibah (menggunjing), namimah (menfitnah dan mengadu domba), atau menghasut dan menceritakan keburukannya.

Kecemburuan yang seperti ini telah melampaui batas dan mengarah ke hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT.

Akhirnya, berkat kesabaran Sarah menahan rasa cemburunya untuk ndak berbuat dzalim pada Hajar dan anaknya, maka Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menjauhkan Hajar dan anaknya dari depan Sarah dengan hijrah ke luar Palestina ke Yaman. Nggak cuma itu, bahkan Allah juga akhirnya menganugerahkan anak cucu dari rahim Sarah dengan lahirnya Nabi Ishaq.

Begitupun dengan Hajar, Ia amat percaya bahwa kepatuhan kepada suaminya ndak akan membikin Allah menyia-nyiakan hidupnya. Waktu ia ditinggal oleh Nabi Ibrahim di tengah padang pasir tandus, ia cuma menanyakan “apakah Allah yang menyuruhmu melaksanakan ini wahai suamiku?”

Loading...
loading...

sesudah Nabi Ibrahim menjawab bahwa memang Allah lah yang memerintahkan hal tersebut, maka Hajar jadi percaya dan tawakkal bahwa skenario Allah, yang membuatnya wajib tinggal sendirian di tengah gurun gersang, pasti mengandung hikmah besar di dalamnya.

Terbukti sesudah itu, gurun gersang nan sepi tersebut lambat laun jadi kota yang senantiasa diidam-idamkan oleh kaum muslimin dari segala penjuru dunia untuk diziarahi. Bahkan, Hajar dengan ketangguhannya, sifat pantang menyerah dan tidak kenal putus asa waktu berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah untuk mencari air bagi Ismail akhirnya diabadikan jadi bagian bagian dari manasik haji, ialah sa’i.

Dari sini, mampu kita bayangkan betapa luhur derajat Hajar di depan Allah SWT. Sifat-sifat yang ada dalam diri Hajar pula lah yang membuatnya wajar dikaruniai putra yang nantinya jadi seorang nabi.

Hajar dengan keimanannya yang kuat disiapkan Allah selaku al-madrasah al-ula (pendidikan pertama) bagi Nabi Ismail. Nilai-nilai keilahian sudah ia tanamkan dalam diri Nabi Ismail semenjak kecil, sehingga waktu suatu waktu ayahnya ialah Nabi Ibrahim datang sembari memberitahukannya soal perintah Allah untuk menyembelihnya, maka dengan keimanan yang kuat Ismail menerima perintah tersebut.

Bahkan, Ismail lah yang menenangkan hati ayahnya yang sedih waktu akan melakukan perintah Allah tersebut, ia berkata, “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang sudah diperintahkan Allah kepadamu. Engkau akan mendapatiku insyaallah selaku seorang yang sabar dan patuh ke perintah” (QS. al-Shaffat: 102).

Demikianlah cerita ibunda Sarah dan Hajar. Sebenarnya, penyelenggaraan Hari Raya Idul Adhah/Hari Raya Kurban di tahun sekarang jadi Kesempatan Emas bagi kita—khususnya para wanita—untuk mengevaluasi diri masing-masing.

Cerita teladan ibunda Sarah dan Hajar tersebut semoga dapat jadi inspirasi dan motivasi bagi kita untuk jadi pribadi yang ta’at, sabar, tegar dan tawakkal untuk mengharap ridha Allah SWT.

Wallahu a’lam.

Baca tulisan sebelumnya.

Tulisan ini sebelumnya sudah dimuat di Majalah Nabawi.

Loading...

Source by Ahmad Naufal

loading...

You might like

About the Author: Ahmad Naufal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *