Home / Berita Indonesia / Membongkar Bisnis E-Hate (Kebencian Online) Jonru Ginting

Membongkar Bisnis E-Hate (Kebencian Online) Jonru Ginting

Abu Janda Al-Boliwudi Bongkar Bisnis E-Hate (Kebencian Online) Kader PKS Jonru Ginting

Para Haters menjadi BULAN-BULANAN manipulasi dan gorengan para Koki E-Hate yang meraup untung semakin banyak orang membenci semakin banyak uang yang ia dapat, tanpa peduli EFEK SOSIAL yang mungkin ditimbulkan, yang bisa menjurus ke konflik horisontal yang memecah belah bangsa.

 

 

Islam-Institute, JAKARTA  – Pagi ini Ustad mau menanggapi sedikit status yang dibuat Jonru tadi malam.. Ketika sebagian besar dari kita Lega atas terbitnya Surat Edaran KAPOLRI No. SE/06/X/2015 soal “Hate Speech” (penebaran kebencian).

Bang Jonru malah menanggapi sinis niat baik Polri tersebut seolah-olah adalah sebuah upaya pemerintah memberangus “freedom of speech” (kebebasan berpendapat). Namun yang bang Jonru selalu gagal untuk mengakui secara sportif adalah “kebebasan berpendapat” dan “AD HOMINEM” (menghina) adalah dua hal yang berbeda.

Kita hidup di era internet ketika Hate Speech (Ujaran Kebencian) bisa mendatangkan uang. Bisnis meraup keuntungan melalui provokasi dan menebar kebencian di dunia maya melalui media sosial, website/blog ini bahkan sudah memiliki nama tersendiri yang dikenal dengan “Bisnis E-Hate” (bisnis kebencian online).

Bisnis E-Hate dilakukan secara online dengan cara menarget/menyasar kepada seseorang atau institusi untuk mengakomodir pengguna internet yang tersegmentasi memang membenci orang/ institusi yang disasar tersebut. Dengan membully Target E-Hate, pelaku memuaskan “uneg-uneg” para Haters (pembenci) yang timbal baliknya ia mendapat banyak Follower yang membuat akun sang pelaku bisa menerima Iklan yang mendatangkan uang.

Ustad tidak bilang Jonru sedang melakukan Bisnis E-Hate, namun page Jonru memang punya kecenderungan untuk melakukan AD HOMINEM (menghina) daripada berpendapat, dan cenderung untuk “black campaign” (kampanye hitam) daripada kritik membangun.

Topik Politik dan Agama selalu menjadi pilihan mainstream karena kedua topik tersebut dapat dengan mudah meledakkan amarah dan benci di dalam diri HATERS hanya dengan menyulut api kecil. Konyolnya lagi KEBENCIAN BUTA telah membuat para Haters untuk menelan bulat-bulat informasi hasil “gorengan” pelaku Bisnis E-Hate tanpa peduli untuk “Tabayun” (CEK dan RICEK), mempercayai HOAX sebagai sebuah fakta.

Para Haters menjadi BULAN-BULANAN manipulasi dan gorengan para Koki E-Hate yang meraup untung semakin banyak orang membenci semakin banyak uang yang ia dapat, tanpa peduli EFEK SOSIAL yang mungkin ditimbulkan, yang bisa menjurus ke konflik horisontal yang memecah belah bangsa.

Oleh sebab inilah, POLRI memutuskan untuk meregulasi kegiatan Bisnis E-Hate ini agar kegiatan penebaran Ujaran Kebencian ini tidak dilakukan secara OVER (berlebihan) demi meminimalisir RESIKO kemungkinan terjadinya efek sosial yang tidak diharapkan.

TIDAK ADA sama sekali hal yang buruk dari niat pak Kapolri menerbitkan kebijakan untuk mempidanakan penebar Ujaran Kebencian. Karena apabila bang Jonru memang hanya berpendapat BUKAN Ad Hominem (menghina), bila hanya mengkritik BUKAN kampanye hitam, seharusnya tidak ada yang perlu DITAKUTKAN.

KECUALI bila bang Jonru memang melakukan Ad Hominem dan black campaign, wajar bila dia merasa TAKUT. Oleh sebab itu, berpendapatlah yang sehat.. mengkritik lah yang membangun bang! Sebuah KLAIM yang spektakuler membutuhkan BUKTI yang spektakuler juga. KECUALI HOAX. Hoax tidak membutuhkan penyertaan sumber valid dari media kredibel. (AL/ARN/MM)

Sumber: Akun Facebook Abu Janda al-Boliwudi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

x

Check Also

Abuya Muhtadi Dimyathi Banten dan Masyarakat Banten Minta HTI Diusir dari Indonesia

Abuya Muhtadi Dimyathi Banten dan Masyarakat Banten Minta HTI Diusir dari Indonesia. Ratusan mahasiswa dan ...